
Tadi lo sama Al darimana, El?”
Elea menceritakan kejadian yang tadi dialaminya dan juga tentang siapa Davian.
“Apa? Jadi lo pacaran sama Davian? Dan Alfa tahu?”
Elea menggeleng. “Aku nolak dia kok. Dan aku ngga pernah cerita juga sama Kak Al soal Davian. Dia Cuma tahu kalau kami pernah janjian kencan tapi batal gara-gara dia ngga jadi dateng.”
“Al marah?”
Tiba-tiba saja Tara ingat ketika Alfa tiba-tiba saja datang ke rumahnya, tidur sebentar di sofa, lalu tiba-tiba saja pergi lagi tanpa mengatakan apapun.
“Nggak. Mas Al ngga marah. Tadi dia malah ngajak aku nemuin Davian dan tunangannya.”
“Al ngajak lo ke acara formal itu?”
Elea mengangguk.
“Siapa saja yang ngeliat kalian berdua?”
“Entahlah, emang kenapa, Kak?”
Tara menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat mulut.
“Oke ngga papa. Pelajaran harus segera dimulai.”
“Pelajaran?”
“Lo tahu kan apa tugas utama sebagai seorang istri?”
“Istri?”
“3M alias Masak, Macak (berdandan) dan Manak (melahirkan).”
“Hah?”
“Kita akan mulai dari pelajaran pertama.”
Tara mengambil beberapa buku resep masakan yang sudah dicorat-coretnya.
“Meskipun Alfa pandai memasak karena sudah lama tinggal sendiri, tapi sebagai wanita dan sebagai istri, kita wajib bisa memasak. Tidak perlu yang rumit-rumit. Cukup menguasai menu yang disukai suami kita.”
“Apa lo tahu apa makanan favorit Alfa?”
Elea menggeleng.
“Tunggu! Kalau minuman favorit?”
Elea menggeleng.
“Warna favorit?”
Elea menggeleng.
“Hobi?”
Lagi-lagi Elea menggeleng.
“Kebiasaan Alfa saat tidur?”
Seperti sebelum-sebelumnya, lagi-lagi Elea menggeleng.
“Jadi lo ngga tahu apapun soal suami lo?”
“Kak selama ini kami hanya tinggal bersama. Tapi kami tidak sedekat itu sampai tahu apa kesukaan masing-masing.”
“Apa lo yakin?”
Elea mengangguk meskipun sedikit ragu.
“Lo tunggu disini.” Tara menyuruh Elea menunggu di depan pintu kamar tamu sementara ia masuk menemui Alfa dan suaminya di dalam.
“Al! Lo tahu ngga makanan kesukaan Elea?”
“Ayam oven buatan ayahnya. Kenapa lo tiba-tiba nanya?”
“Yah, gue penasaran aja sih. Makin kesini gue makin ngerasa ngga tahu apa-apa soal tu anak. Kalau minuman favoritnya?”
“Es krim.”
“Warna favoritnya?”
“Pastel.”
“Darimana lo tahu?”
“Dia suka melukis dan dia sering memilih warna-warna pastel untuk lukisannya.”
“Oh, jadi tu anak suka ngelukis.”
Alfa mengangguk.
“Emang tu anak punya kebiasaan buruk juga kaya elo?”
“Kalaupun ada gue ngga bakal kasih tahu elo, Tar.”
“Dia bakal insomnia akut kalau minum kopi.”
“Segitunya! Gue juga sering kale kalau cuma insomnia doang mah."
“Kalau dia ngga bisa tidur itu artinya semua orang juga ngga bakal bisa tidur. Itu masalahnya!”
Tara tampak berfikir sejenak lalu melangkah keluar dari kamar tamu. "I got it."
“Gimana? Apa lo masih mau bilang kalau kalian tidak cukup dekat untuk saling mengenal satu sama lain?”
Elea diam saja tidak berani menjawab. Ia juga tidak menyangka jika Alfa akan tahu semua tentangnya.
“Alfa bukan orang yang perhatian dan peduli dengan orang lain. Dia bahkan mengacuhkan keluarganya dan memilih untuk tinggal sendiri. Tapi dia hafal semua hal tentang elo. Apa lo pikir itu Cuma kebetulan atau rekayasa?”
Elea masih bergeming.
“El, sekarang gue mau tanya sama elo. Tolong jawab dengan jujur! Gimana perasaan lo sama Alfa?”
“Apa?”
“Kalian sudah menikah. Sudah seharusnya lo tahu perasaan lo buat suami lo. Itu penting untuk menentukan arah pernikahan kalian ke depannya.”
“Aku ngga berani menyimpan perasaan apapun buat Mas Al, Kak. Selama ini aku hanya mengagumi Mas Al sebagai dewa penolong yang udah nyelametin hidup dan masa depan aku.”
“Persetan dengan siapa elo dan siapa Al. Sekarang lo lihat mata gue dan bilang sama gue kalau elo ngga punya perasaan apapun sama Al!”
Elea tetap saja menunduk sambil menangis, “Aku takut, Kak!”
Tara memeluk tubuh Elea.
“Aku tahu aku bukan orang yang pantas untuk berada di sisi Mas Al.”
“Jadi lo juga cinta sama Al?”
Tangis Elea kian menjadi.
“Oke, kalau gitu gue yang bakal kasih tau elo. Semua hal tentang Alfasandi Cokrokusumo.”
****
Elea dan Alfa sudah kembali ke apartemen mereka. Dan Elea sedang membaca semua yang dicatatnya tentang Alfa.
Suka sayuran, tidak suka daging kambing dan makanan cepat saji, suka kopi, tidak suka latte, alergi kacang, tidak bisa makan makanan pedas, suka susu hangat. Orangnya cuek, dingin, tidak perhatian, tidak suka ikut campur urusan orang, sensitif dan pemarah, tidak suka mengantri kamar mandi, suka masak, tidak suka dipaksa dan didekte, suka olahraga terutama renang dan golf, sederhana, tidak suka bertele-tele, tidak suka cewek menor, jual mahal dan kegatelan, selalu disiplin dan taat aturan, suka diusap kepalanya kalau mau tidur, tidak suka bising, paling cepat marah tapi juga paling cepat mamaafkan, suka warna cerah dan kontras, setia kawan, juga paling benci ditipu dan dikhianati.
Elea menutup buku catatannya. Sekarang ia sudah mengetahui banyak hal tentang suaminya.
Elea keluar dari kamarnya dan ternyata Al masih membaca beberapa dokumen di meja makan sambil minum segelas susu hangat.
“Belum tidur, Mas?”
“Belum. Masih ada yang mesti dikerjain.”
Elea duduk di samping Alfa. “Mas, pacaran yuk?”
“Uhuk! Uhuk! Hah?”
“Ayo kita pacaran! Mas kan sudah janji kalau aku juga bakal ngerasain jatuh cinta dan pacaran lebih baik dari siswa manapun. Tapi gimana bisa aku ngerasin itu semua kalau aku ngga pacaran sama Mas Al? Kan Mas Al juga bilang kalau aku ngga boleh pacaran sama cowok lain.”
“Jadi kamu pengen kita ngelakuin apa?”
“Semua hal yang orang lakukan saat pacaran.”
“Tapi kenapa tiba-tiba?”
“Kan kita sudah nikah satu tahun lebih, Mas. Aku juga udah tujuh belas tahun dan naik kelas dua. Mau nunggu sampai kapan supaya aku bisa ngerasain indahnya pacaran kaya temen-temen aku?”
“Tunggu, El. Apa ngga aneh kalau kita tiba-tiba pacaran padahal semua orang tahu kamu adik aku.”
“Kalau gitu kita backstreet aja.”
“Apa?! Hahaha..” Alfa tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa Mas Al ketawa? Apa yang lucu?”
“El, backstreet itu sama aja kaya kita sekarang. Nikah diam-diam. Lalu apa bedanya kita pacaran atau ngga?”
“Terserah Mas Al lah, pokoknya aku mau kita pacaran mulai sekarang. Mas Al mau ngga?”
“Kok kamu nembaknya maksa gitu sih, El?”
“Tinggal jawab aja susah banget sih? Kalau ngga mau ngga papa kok. Aku bisa cari pacar lain di sekolah.” Elea berdiri hendak kembali ke kamarnya karena malu.
“Jadi cewek itu jangan terlalu agresif.”
“Jadi Mas Al ngga mau nih?” tanya Elea sambil manyun.
“Masuk sana! Sudah malam.” Alfa menoyor jidat Elea lalu masuk ke kamarnya.
Elea menahan malu setengah mati. Itu adalah kali pertama ia nembak cowok yang diyakininya ngga bakalan nolak. Tapi apa yang baru saja terjadi adalah dia ditolak mentah-mentah.
Elea membenamkan wajahnya ke bantal. Sepertinya dia tidak akan sanggup memperlihatkan wajahnya di hadapan Alfa lagi.