
Pada hari itu, semua siswa memasuki kelas bakatnya masing-masing dan diberi kebebasan untuk memamerkan kebolehannya kepada para orang tua.
Hari itu, Elea memutuskan untuk melukis. Ia ingin mendedikasikan lukisannya itu untuk dirinya sendiri yang telah berjuang keras hari itu.
“El, ortu lo ngga dateng?” tanya Samuel.
“Ngga, mereka –“
Erlita tiba-tiba saja datang dan memotong penjelasan Elea. “Mereka sudah meninggal, jadi anak seperti Elea pasti sulit menghadapi hari-hari seperti ini.”
“Apa Bu Lita juga merasa seperti itu? Bukankah kedua orang tua ibu juga sudah meninggal dunia sejak ibu kecil?” balas Elea.
“Ehem.. “Erlita berdehem dan membenahi suaranya, “Maksud kamu apa?”
“Ngga ada, hanya mengkonfirmasi.” Jawab Elea santai sembari kembali melanjutkan lukisannya.
Para orang tua yang anak-anaknya ada di kelas lukis mulai memasuki ruangan dan melihat karya lukis anak-anak mereka. Hanya Elea yang tetap seorang diri di kursinya. Ia tidak mau terpengaruh dan tetap fokus menyelesaikan lukisannya.
“Sam, mama ngga nyangka kamu punya bakat sehebat ini, nak. Mama bangga sama kamu.”
Elea mendengar mama Samuel memuji anaknya.
“Sasa, lukisan kamu bagus banget, Nak. Papa akan pasang lukisan kamu ini di lobi kantor papa. Biar papa bisa tunjukin ke semua orang dengan bangga.” Ujar papa Sasa kepada Sasa yang duduk di dekat Elea.
Elea menggenggam kuas legendaris yang diterimanya sebagai hadiah dari Alfa. Ia tidak boleh goyah dan menyerah begitu saja.
Elea menambahkan cat ke dalam paletnya tapi tiba-tiba saja air matanya menetes dan membuat catnya semakin encer. Elea kembali menambahkan cat sehingga paletnya sampai semua cat keluar dari kemasannya.
Ia kembali melanjutkan lukisannya tapi warnanya jadi sangat tidak rapi karena terlalu banyak cat yang menempel di kuas. Elea mulai frustasi.
Alfa hendak mendekati Elea tapi Erlita mencegahnya. “Apa dia akan selalu mengandalkan kamu, Al?”
Tak lama kemudian orang tua Sasa dan Samuel melihat lukisan Elea dan mereka dibuat kagum dengan keindahan lukisan itu.
“Kamu luar biasa, Nak. Siapa nama kamu?”
“Elea, om.”
“El memang pintar, Pa. Lukisan pertamanya di SH berhasil di lelang dengan harga mahal.” Puji Sasa.
“Bener, Ma. Elea memang sangat berbakat. Mama lihat aja, dia tadi datang dengan kanvas kosong dan sekarang kanvas ini sudah berubah menjadi maha karya.” Imbuh Samuel.
“Bener, Sam. Ini bagus banget.” Puji mamanya Samuel. “Apa kamu berniat menjualnya, El?”
“Oh ngga tante. Belum ada rencana. Saya hanya ingin menyelesaikannya saja.”
“Orang tua kamu pasti sangat bangga, El.”
“Makasih, tante.”
Alfa tersenyum melihat Elea dipuji oleh para orang tua murid yang lain, “Bagaimana Ma? Apa mama masih belum bisa melihat bahwa Elea sama sekali ngga bergantung sama Al? Justru Al lah yang membutuhkan Elea, Ma.”
Erlita melonggarkan cengkeramannya dan membiarkan Alfa menghampiri Elea. Mendengar kepandaian Alfa berbicara juga ketampanannya yang sangat ramah saat tersenyum membuat para wali murid berkumpul mengerubungi Elea dan juga Alfa.
“Jadi ananda Elea ini siapanya Pak Al?”
“Dia is –“
“Dia sepupunya Alfa. Dan Alfa ini anak sulung saya.” Erlita tiba-tiba muncul.
“Oh, Bu Erlita. Jadi ini anak dan keponakan anda? Pantas mereka kompak dan sama-sama cerdas.”
Alfa tahu bahwa Mamanya ingin mencegahnya mengakui status Elea. Jadi Alfa membawa Elea dan lukisannya keluar meninggalkan kerumunan yang mulai mengelilingi mamanya.
******
Hari itu, manajer toko tiba-tiba saja memanggil Elea.
“Ada apa, Bu?”
“Soal apa, Bu?”
Nita menyerahkan surat pemutusan hubungan kerja kepada Elea. “Kami mengalami beberapa penurunan penjualan akhir-akhir ini yang berdampak pada adanya kebijakan efisiensi karyawan –“
“Baik, Bu. saya paham.” Elea melepas id card-nya dan menyerahkannya kepada Nita. “Terima kasih atas bimbingan ibu selama ini.”
Nita merasa bersalah jadi ia menahan Elea yang hendak meninggalkan ruangannya, “Kalau ada waktu, saya pengen ngobrol banyak sama kamu malam ini.”
Sebuah pesan masuk ke ponsel Elea berisi alamat sebuah kafe tidak jauh dari tempat kerjanya.
******
“Kenapa Bu Nita minta kita ketemu disini?”
“Sebenarnya, saya merasa ada yang janggal dengan keputusan pemecatan kamu kali ini. meskipun tidak dapat dikatakan berdedikasi tinggi karena sering terlambat dan bolos, tapi kamu cukup baik dalam menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab kamu. Saya juga hampir tidak bisa menemukan kesalahan yang membuat kamu harus diberhentikan seperti ini.”
Nita meminum jus pesanannya lalu kembali melanjutkan, “Bu Dirut hanya mengatakan bahwa saya harus melakukan efisiensi dan memecat kamu. Padahal kalau mau jujur, masih banyak pekerja lain yang kinerjanya lebih buruk dari kamu.”
“Bu Dirut?”
Nita mengangguk. “Erlita Susbihardayan. Apa kamu punya masalah dengan mereka?”
“Oh, jadi mall ini juga punya mereka?” tanya Elea terkejut.
Elea kemudian menertawakan kebodohannya sendiri yang selalu terlambat menyadari hal-hal yang terlihat nyata di depan mata.
“Jadi dugaan saya benar?” tanya Nita memastikan.
Elea tidak menjawab. Ia hanya meminum jus buah yang ada di depannya.
“Alfa atau Arka?” tanya Nita lagi.
Elea menatap Nita, “Bu Nita kenal mereka?”
Nita mengangguk, “Tapi mereka tidak mengenali saya. keterlaluan!”
“Maksud Bu Nita?”
“Jadi, dulu saya, Alfa, Arka dan Nasya teman baik saat masih kecil.”
“Tunggu! Apa Bu Nita ini anaknya Bu Santi?”
“Kok kamu tahu?”
“Oh, jadi Bu Nita ini teman yang naksir Mas Al dari kecil?”
“Siapa yang menceritakan kebohongan sebodoh itu?”
“Bu Santi.” Elea tertawa senang.
“Ngga kaya gitu, El. Itu fitnah.” Elak Nita kesal.
“Jadi Mas Al ngga tahu kalau Bu Nita ini teman masa kecilnya?”
Sekarang giliran Nita membisu dan hanya menyeruput jus yang ada di depannya.
“Beberapa waktu lalu, Mas Al dateng ke rumah Bu Santi dan menitipkan kartu namanya. Dia minta Bu Nita menghubunginya kalau kebetulan ke kota. Jadi Mas Al pasti ngga bener-bener ngelupain Bu Nita. Mungkin dia hanya ngga nyadar dengan perubahan Bu Nita yang sangat pesat dan membuat pangling.”
“Ngga mungkin. Aku tahu betul Alfa orang macem apa.” Nita meminum jusnya lagi. “Apa hubungan kalian?”
“Hah?”
“Kamu sama Alfa. Beberapa waktu lalu dia datang ke toko buat nemuin aku dan minta ijin karena kamu dan Niken datang terlambat. Dia menjelaskan alasan panjang lebar yang membuat aku terpaksa tutup mata.”
“Oh hari itu? iya aku ingat.”
“Aku tahu Al ngga bakalan ngelakuin hal itu buat sembarang orang. Jadi kamu ini siapanya Al?”