My MicroWife

My MicroWife
Janji di Taman Bermain (2)



Siang harinya Elea kedatangan tamu tak terduga, yaitu Bu Rosita, wali kelasnya yang tumben-tumben datang menjenguk siswanya yang sakit pada hari minggu.


“Oh, silakan masuk, Bu Ros.”


“Terima kasih, Pak Al. El, gimana kabar kamu? Ibu dengar kamu sedang sakit. Jadi kebetulan ibu ada acara di dekat sini sekalian aja mampir buat nengokin kamu.”


“Terima kasih Bu, tapi maaf, kalau boleh tahu, darimana ibu tahu kalau saya sedang sakit?”


“Kakak kamu.”


“Oh, jadi Mas Al yang kasih tahu Bu Rosita?”


“Semalam aku khawatir karena kamu ngga bisa dihubungi dan Hp kamu ngga aktif. Jadi aku tanya barangkali Bu Rosita punya info.”


“Oh.. ya.. ya.. “ Elea mempunya firasat tidak baik tentang kedekatan suami dan wali kelasnya itu.


“Oh, ya, El. Apa kamu nonton penampilan Davian kemarin sore?“


“Penampilan?”


“Jadi kamu ngga tahu kalau kemarin sore band-nya Davian tampil di acara Dies Natalisnya SMA Bina Pemuda? Sampai jam sembilanan malem gitulah.”


Elea menggeleng. ‘Jadi Davian sengaja mengerjaiku?’


“Cuacanya bagus, Pak Al. Gimana kalau kita ngobrol sambil jalan-jalan sebentar di sekitar sini?”


“Ide bagus, mari !”


‘Wow! Sekarang mereka mulai berani jalan berdua di siang bolong? Di hadapan istrinya? Wah! ngga bisa didiemin.’ Rutuk Elea dalam hati.


“Jadi, Bu. Apa ada hal penting yang ingin ibu sampaikan?”


“Jadi gini Pak, nilai matematika Elea termasuk rendah dibanding teman-temannya yang lain. Karena itu saya bermaksud memberi Elea les privat.”


“Apa Elea setuju?”


“Apa? Bukankah anda yang lebih berhak memutuskan?”


Alfa menggeleng. “Elea anak rajin dan bertanggung jawab. Jika ia mengalami kesulitan ia pasti meminta bantuan sejak awal. Tapi jika sampai sekarang ia masih bergeming, itu artinya dia memang tidak tertarik dengan hal itu.”


“Tapi Pak, matematika adalah salah satu mata pelajaran yang akan diujikan di ujian nasional. Dan karena Elea siswa pindahan, dia perlu lebih banyak belajar untuk mengejar ketertinggalan.”


“Saya akan mendukung apapun keputusan Elea. Jika dia meminta ibu untuk membantunya, maka saya harap ibu bersedia. Tapi jika dia merasa baik-baik saja dengan nilai yang diperolehnya, maka saya akan menutup mata.”


“Apa Pak Al tidak merasa malu jika Elea mendapat nilai kurang dalam mata pelajaran matematika?”


Alfa menggeleng dengan yakin.


“Saya hanya akan malu jika Elea berbohong dan berbuat kejahatan yang merugikan orang lain.”


Rosita meneguk botol minuman yang digenggamnya sampai habis. Tiba-tiba saja ia merasa gerah. Usahanya membuka peluang untuk lebih sering bertemu dengan Alfa gagal hanya karena alasan yang sangat klise tapi keren.


****


Keesokan harinya Ruri tiba-tiba saja menghampiri dan menonjok Davian.


“Eh, maksud lo apa ngomong kaya gitu?”


“Pake nanya lagi. Jangan sok suci deh lo? Malu ngakuin kalau lo cemen dan beraninya ngerjain cewek doang? Awas ya lo!”


“Eh, mau kemana lo! Urusan kita belum kelar! Dasar cewek gila!”


“Udah Dav, ngga usah diladenin. Ngga waras tu cewek. PMS kali..” Gilang berusaha menenangkan Davian yang terlihat sangat emosi karena perkataan Ruri.


“Tunggu dia bilang gue ngerjain cewek sampe pingsan. Maksudnya apa ya Lang?”


Gilang mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.


“Gue mesti tanya tu cewek.”


“Tapi Dav, Dav tunggu!”


******


“El, sumpah gue ngga tahu kalau lo nungguin gue di taman bermain. Gue ngga pernah kirim surat apapun ke elo. Gue malah tahu dari Bu Rosita kalau lo ada di taman bermain jadi gue buru-buru kesana habis manggung. Tapi lo-nya ngga ada.”


“Kalau bukan Kak Davian, lalu siapa yang sengaja ngerjain aku? Kenapa surat ini ada di laci aku?”


“Laci? Tunggu! Jadi suratnya ngga langsung dikasiin ke elo?”


“Aku ngga masuk hari rabu itu dan Ruri nemuin ini di laci aku.”


“Hari Rabu? Sial! Ini pasti kerjaan Erika.”


“Kak Dav, tunggu! Mau kemana?”


****


Davian menarik tangan Erika dengan kasar ketika gadis itu sedang asyik nimbrung bersama teman-temannya. Ia melempar surat yang ditemukan di laci Elea.


“Apaan sih Dav? Main tarik-tarik aja.”


“Jangan bilang kalau lo yang sengaja ngeganti tiket konser yang gue minta lo kasih ke Elea sama surat gila kaya gini?!”


“Kalau iya kenapa?”


“Gila ya lo?! Dua kali lo hampir nyelakain Elea. Sadar ngga lo?!”


“Halah, lebay banget tu cewek. Caper tau nggak lo?! Masak gitu doang bikin celaka? Punya otak ngga dia?”


“Erika! Lo udah keterlaluan! Sekarang juga gue minta lo minta maaf sama Elea.”


“Ngga! Gue ngga bakalan pernah minta maaf sama tu cewek.”


“Nyesel gue belain lo waktu itu. harusnya gue biarin aja Pak Al nemuin lo di pengadilan.”


“Davian!”