
Karena ujian akhir nasional sudah semakin dekat, Elea jadi sangat sibuk belajar akhir-akhir ini dan itu membuatnya merasa sangat jenuh. Ia merasa perlu meyegarkan otaknya meskipun hanya sesaat sebelum benar-benar berperang di meja ujian.
“Mas, nanti kita latihan renang lagi kan?”
“Ngga El. Nanti aku ada undangan dari kenalan. Jadi renangnya kita tunda dulu yah?”
“Undangan apa sih, Mas?”
“Rekan bisnis. Ulang tahun anaknya pemilik Yusar Group. Itu loh produsen mi instan yang sering kamu makan.”
“Oh..”
“Kamu di rumah aja yah? Kalau ikut kamu pasti bosen banget karena ini acara formal dan yang dateng orang tua-tua semua.”
Alfa berbohong. Sebenarnya ia memang tidak ingin Elea ada di sana karena alasan lain.
Elea mengangguk lalu kembali ke kamarnya.
“Aku pergi dulu ya, El?”
***
Karena gabut, Elea membongkar tasnya untuk mencari pewarna yang tadi baru dibelinya. Sebuah undangan jatuh dari dalam tas Elea.
Sebuah undangan ulang tahun Davian yang ke sembilan belas tahun.
“Kapan Kak Davian naruh ini di tas aku?”
Elea membaca waktu dan tempatnya.
“Apa? hari ini? Jam tujuh malam?”
Elea melihat jam di dinding. Masih ada satu jam lagi untuknya bersiap-siap dan pergi ke rumah Davian. Elea tidak ingin Davian kecewa karena ia mengabaikan undangan itu.
***
Elea tiba di sebuah rumah mewah yang sudah dipenuhi tamu undangan. Puluhan mobil mewah berderet memenuhi lahan parkir di sekitar rumah itu.
Elea yang datang mengenakan mini dress one shoulder off berwarna hitam dengan ikat pinggang rantai berwarna emas yang diberikan Davian memasuki ruangan pesta yang lebih mirip pesta pernikahan daripada ulang tahun.
Dari kejauhan Elea melihat Davian yang sangat gagah mengenakan setelan jas berwarna metalik. Tapi Erika berdiri di sebelahnya sembari menggandeng tangan Davian.
Seorang petugas keamanan mendatangi Elea.
“Maaf, Nona. Bisa anda tunjukkan undangan anda?”
“Undangan? Maaf, tapi saya tidak membawanya. Saya tidak tahu bahwa undangan itu harus dibawa.”
“Kalau begitu anda tidak bisa berada di sini.”
“Tapi, Pak –“
“Maaf, Pak. Dia datang bersama saya.” Alfa menyerahkan undangannya kepada petugas keamanan itu.
“Kamu kenapa ada disini, El?”
“Tadi aku nemuin undangan kaya gitu di tas aku. Jadi aku dateng buat ngucapin selamat.”
“Apa kamu yakin?”
Elea mengangguk, "Mas Al sendiri ngapain disini? Apa ini pesta Yusar Group yang Mas Al bilang?"
Sekarang giliran Alfa yang mengangguk.
"Jadi kak Davian itu -"
"Putra bungsu pemilik Yusar Group, perusahaan mi instan terbesar di ibukota."
Elea masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya tapi MC kemudian membuka acara dan mengatakan bahwa malam itu mereka akan merayakan pesta pertunangan Davian dengan Erika.
“Apa?!” Elea kembali terperanjat untuk kedua kalinya.
“Jadi kamu belum tahu?”
Elea berniat pergi meninggalkan ruangan pesta itu. Alfa berusaha mencegahnya tapi sia-sia. Elea tetap bersikeras untuk pergi sampai tidak menyadari bahwa ikat pinggangnya terlepas dan jatuh.
Alfa memeluk Elea sambil berbisik, “Apa kamu kecewa karena Davian lebih memilih Erika daripada kamu? Apa kamu merasa sakit hati karena dikhianati? Apa kamu benar-benar mencintai Davian?”
Elea melepaskan pelukan Alfa, “Entahlah...”
Alfa terlihat sedikit kecewa. Ia kemudian melepas jasnya dan memakaikannya kepada Elea. “Apa kau merasa lebih baik?”
Elea mengangguk.
“Aku mau berpamitan dulu sebelum pulang? Mau ikut?” tawar Alfa.
Melihat Elea memilih diam dan tidak merespon, Alfa memutuskan untuk kembali masuk sendiri untuk berpamitan kepada ayah Davian.
Namun tak lama kemudian Elea menyusulnya masuk. “Tunggu, Mas! Aku ikut.”
Alfa kemudian menggandeng tangan Elea dan berjalan bersamanya.
Alfa menyentuh dadanya yang berdegup tak karuan hanya dengan menggenggam erat tangan Elea seperti itu.
*****
Apa kau lihat wajah Davian tadi?”
“Heem, dia seperti baru saja melihat hantu.”
“Apa kau yakin Davian yang meletakkan undangan itu di tasmu? Dia tidak terlihat seperti orang yang sengaja mengundangmu.”
“Mas Al bener. Aku juga heran kenapa Kak Davian kaget melihat aku datang. Kalau bukan dia lalu siapa?”
“Erika, mungkin?”
“Bisa jadi. Tapi ngga penting lagi siapa yang naruh undangan itu di tas aku. Btw, makasih ya, Mas. Udah nolongin aku tadi. Kalau aja ngga ada Mas Al, mungkin aku sudah diusir sama satpam tadi. Hahaha..”
“Makasih juga sudah mau nemenin aku pamitan.”
“He’em.”
‘Berkat kamu, mereka tidak lagi meledekku karena selalu datang sendiri ke pesta mereka.’
“Oh ya, Mas. Ini kan malam minggu. Gimana kalau kita tidur di rumah Kak Han?”
“Kamu yakin?”
“Aku penasaran aja sih, kira-kira Kak Tata mau ngapain?”
****
Empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di rumah Handoyo dan Tara.
“Welcome home, pasutri geje!” sambut Tara penuh semangat. “Gue seneng kalian akhirnya mengambil keputusan yang tepat!”
“Gue mau langsung tidur aja boleh ngga, Tar? Gue ngantuk banget!” kata Alfa dengan tampang ogah berurusan dengan Tara.
“Boleh, lo tidur di kamar tamu sama Mas Han. Malam ini Elea bakal tidur di kamar gue.”
“Bini lo mo ngapain lagi sih, Bro?”
“Udah, iyain aja daripada makin panjang urusannya. Lagian lo ngapain sih kesini? Ganggu senggama gue aja?”
“Apa?! Jadi tadi lo?”
“Belum, baru mau. Tapi batal gara-gara lo berdua.”
“Hahahaha... sabar ya cil?”
“Sialan!”
***