my love is a bad boy

my love is a bad boy
Episode 74



Episode 74


Suara burung bersahut-sahutan, menandakan pagi telah datang, sang mentari pun sudah mulai menampakan senyum hangatnya.


Mila masih bergemul di dalam selimut tebalnya, sebelum alarm di ponselnya mengacaukan mimpi indahnya, tangannya menggapai-gapai mencari benda bising yang menganggunya.


Tut……, ia menekan tombol berhenti pada ponselnya, lalu mengucek matanya secara perlahan.


Kembali ke kenyataan, dirinya sudah membuka kedua matanya sambil menatap langit-langit kamarnya, ia diam tak bersuara selain hanya menikmati kicauan burung yang bersahut-sahutan seakan mengajaknya untuk bangkit dari tidurnya.


Mila menghela nafas pelan, ia mengingat memori semalam saat dirinya bersama dengan adit dan ayahnya di meja makan, ketika dirinya meminta izin untuk pergi berlibur dengan angelo dan yang lainnya, pak maman hanya diam tak memberi reaksi apa pun selain mengalihkan topik pembicaraan, tapi mila merasa ayahnya tidak memberikan izin untuk dirinya, ia tak menyalahkan ayahnya karena itu, pantas saja jika ayahnya melarang, sebab dia anak perempuan dan berpacaran dengan anak majikannya, jika di fikir secara logika, majikan mana yang akan membiarkan anaknya bepergian bersama dengan anak pembantunya, mungkin saja salah satu diantara mereka tidak keberatan tapi siapa yang tau satu diantaranya juga sama seperti itu?


Ah sudahlah memikirkan itu hanya membuat kepala mila terasa sakit padahal ia baru saja bangun dari mimpinya tetapi sudah merasa sakit kepala akibat fikiran-fikiran aneh yang terus menganggunya.


“ aishhh, masih pagi juga, udah pusing, bangun mil bangun” gumamnya pada diri sendiri


Ia merentangkan kedua tangannya, bangkit dari posisi tidurnya, menyibak selimut yang masih melilit tubuhnya, lantas berjalan menuju jendela kamarnya untuk membuka gorden yang masih menutupi jendelanya itu.


Srak……cahaya matahari pagi yang lembut langsung masuk ke dalam kamar sederhana miliknya, begitu juga pada kedua indera penglihatannya, tangannya langsung otomatis menutup indera penglihatannya


Pagi yang sangat indah, sayangnya tidak dengan harinya, ia berusaha tidak terlalu memikirkan apa yang sudah menganggu pagi harinya dengan menatap ke samping kanan dan kiri untuk melihat setiap aktifitas yang terjadi di luar rumahnya.


Tok….tok….tok, ketukan pintu dari arah luar kamarnya membuatnya tersadar dari lamunan, ia menoleh ke samping.


“ masuk aja tidak di kunci” ucapnya dengan sedikit lantang


Ceklek….., pintu terbuka, terlihat pak maman berdiri di sana menatap ke arahnya tanpa ekspresi tergambar di wajahnya.


“ masuk saja pak “ ucap mila pelan mengulangi kata-katanya


Pak maman diam, tetapi kakinya melangkah masuk ke dalam kamar puterinya.


“ ada yang mau bapak bicarakan sama kamu nak” ucapnya pelan


“ hmmmm” mila mengangguk


“ sini dulu nak duduk di samping bapak”


Mila merasa ada sesuatu yang tidak beres jika ayahnya sudah berkata seperti itu, pasti pembicaraan yang serius tanpa bercanda akan berlangsung sebentar lagi meski begitu mila tidak menolak ucapan pak maman dan dengan patuh ia berjalan menuju ranjang tempat tidurnya, dimana ada pak maman disana


“ada apa pak, sepertinya ada yang sangat penting sampai bapak pagi-pagi datang ke kamar mila” ucapnya sembari duduk di samping pak maman


Pak maman menghela nafas pelan, “ mengenai pembicaraan kita semalam di meja makan, bapak sudah memikirkannya, pasti kamu sudah menunggu kan jawaban bapak, bukan bapak tidak mau menjawab tadi malam, kamu pasti berfikiran yang tidak-tidak bukan? Maafkan bapak sudah membuatmu berfikir yang bukan-bukan”


“ tidak apa-apa pak, mila bisa paham kok, mila juga minta maaf sudah membuat bapak kepikiran, pasti bapak tidak bisa tidur ya semalaman gara-gara mila”


“ hmmm, anak bapak emang anak yang baik sudah menghawatirkan bapak, begini sebetulnya bapak tidak melarang mila untuk pergi jalan-jalan bersama dengan den angelo, hanya saja bapak merasa tidak enak dengan nyonya Sabrina, beliau memang orang yang sangat baik, namun bapak tetap merasa tidak enak, apalagi bapak sudah lama bekerja bersama mereka, ada banyak pekerja di dalam rumahnya kalau mereka tau, pasti akan menimbulkan gosip yang tidak enak untuk keluarga nyonya sabrina, bapak tidak mau itu nak, bukan bapak tidak mengizinkan kamu bersama adit pergi berlibur…..” ucapnya menghela nafas pelan


“ hmmm, ia pak mila mengerti kondisi bapak, maafin mila yang sudah tidak memikirkan situasi bapak”


“ bapak juga minta maaf nak, bapak tidak bisa membuatmu bahagia, andai saja keluarga kita sepadan dengan keluarga tuan William dan nyonya Sabrina pasti kamu dan adit tidak harus menderita seperti sekarang, bapak bersyukur kalian tumbuh menjadi anak yang baik dan berbudi luhur” ucapnya pelan, matanya tampak berkaca-kaca


“ pak, bapak jangan bicara seperti itu, mila dan adit sudah sangat bahagia menjadi anaknya bapak, kita bisa terus bersama setiap hari dan bisa makan-makanan enak itu sudah sangat membahagiakan bagi mila dan adit, mila mohon, bapak jangan berfikir seperti itu, mila dan adit sayang bapak” ucap mila, matanya juga berkaca-kaca


Pak maman memeluk mila, mereka berdua terdiam satu sama lain dengan perasaan masing-masing.


🍂🍂🍂🍂🍂


Di rumah sakit,


Angelo sudah berkemas sedari jam masih menunjukan pukul 04.00 WIB, dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul 06.00 WIB, masih pagi memang tapi bagi angelo yang hari ini sudah boleh keluar dari rumah sakit rasanya hari sudah sangat siang, terlihat ia menghela nafas beberapa kali sembari melipat bajunya, andi dan rio sudah pulang sejak pukul 05.00WIB


Sedangkan dani tengah mencari sarapan untuk dirinya di kantin rumah sakit dan belum kembali ke ruangan angelo sampai saat ini.


Ceklek…..pintu ruangan angelo terbuka, angelo menoleh ke samping untuk melihat siapa yang datang ke ruang kamarnya, terlihat dimas disana


“ wuihhh, adek abang udah ganteng aja, udah gak sabar yah keluar dari sini” ledeknya


“ apaan sih bang, gue emang selalu ganteng kali gak hari ini doang” jawabnya songong


“ iya tau deh tau, anaknya bunda mana ada yang jelek. Hehehe”


Angelo tertawa kecil mendengar ucapan dimas.


“ lo udah beres-beres ransel, emang udah sarapan?” tanyanya


“ belum sih bang, bang dimas bawa makanan yah” ucap angelo, berjalan mendekat ke arah dimas yang saat ini meletakan kantung kresek berukuran sedang di atas meja depan sofa


“ jelas dong, mana tega abang ngebiarin adek abang kelaparan, nih abang bawain bubur ayam, siomay sama buah, kasian gue sama lo, tiap hari makannya buah sama makanan dari rumah sakit, sekarang udah sembuh jadi pelan-pelan aja makannya, nanti kalo udah sembuh banget abang traktir ayam goreng deh sekalian mila di ajak”


“ serius bang? Uhhhh, memang bang dimas paling baik deh, ganteng lagi” ucap angelo tersenyum menggoda


“ hiiyy, jangan gitu ah gel, gak cocok sama imej garang lo tau, kalo mau jadi preman ya preman aja gak usah setengah-setengah”


“ hmmmm, ya udah deh gue tarik kata-kata gue barusan, abang macam apa yang ngasih nasehat kaya gitu” ucapnya mendengus sebal


“ hehehe, ya abang ganteng dong, udah ah, nih makan dulu, keburu dingin buburnya gak enak”


“ cihh, tapi thank’s loh bang serius kali ini, udah repot-repot bawain bubur ayam segala plus siomay juga”


“ he’eh “ jawab dimas sekenanya


Angelo tidak peduli dengan jawaban sekenanya dari dimas, tangannya sudah sibuk membuka kantung kresek di depannya, mengeluarkan isinya satu persatu, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah seperti itu juga angelo saat ini


Dimas menggelengkan kepalanya sambil tersenyum memperhatikan tingkah laku adiknya yang jarang ia lihat, ingin rasanya merekam tapi ia tau akibatnya jika berbuat hal yang jail, alamat gantian di rawat di rumah sakit. Dimas terkekeh dengan pemikirannya sendiri


Angelo menoleh melihat dimas yang tertawa sendiri, “ gi*a yah bang, kelamaan nungguin gue di mari” ucap angelo


“ aishhh, sembarangan lo ngomongnya gel”


“ lah lagian ngapa ketawa sendiri bang”


“ gak papa, lucu aja. Hahaha”


“ ishhh, bener-bener perlu di periksa nih otak abang, udahlah bodo amat, abang gak mau nih bang buburnya?”


“ hiiiyy, apaan sih bang, tadi nyuruh gue buat gak bertingkah kegitu sekarang abang sendiri yang kaya gitu, makan sendiri lah, gue gak mau nyuapin lo bang”


“ aishhh ya ampun angelo jahat banget, padahal dulu waktu kecil….”


“ stttt….sttttt, gak usah bawa-bawa masa kecil deh bang, gue udah lupa, nyesel juga dulu kaya gitu ke lo”


“ ya ampun tega banget sih lo gel sama abang”


“ husttt, ya, ya deh, nih aaaa, gue suapin, tapi cuma sekali loh yah abis itu makan sendiri, cepet nih buruan” ucap angelo mengacungkan sendoknya ke depan wajah dimas


Dimas tertawa, lantas membuka mulutnya menerima suapan dari angelo.


Ceklek…….,pintu ruangan angelo terbuka lagi, kini giliran dani yang datang setelah menyantap sarapan di kantin rumah sakit, begitu pintu ruangan angelo terbuka, ia langsung di suguhkan dengan adegan harmonis sepasang kakak beradik


Dani menutup mulutnya, menggelengkan kepala menatap ke depan, nampaknya angelo menyadari keberadaanya


“ ck, apaan sih be*o diem disitu, pake acara nutup mulut segala lagi, bikin gedeg aja” ucap angelo masih sambil menikmati acara makannya


“ck,ck,ck, bener-bener langka, lo pelet angelo yah bang, sampe dia mau aja nyuapin lo”


“ hahaha” dimas tertawa menimpali ucapan dani


“ apaan sih dasar be*o, udah biasa kali gue kaya gitu ke bang dimas, cuma lo gak tau aja, ya gak bang” ucapnya mencari bantuan, ia tidak mau rasa malunya di pergoki oleh dani


Bang dimas mengangkat kedua bahunya


“ hahahha, ya kan, udah gue duga, bang dimas aja reaksinya kaya gitu, aishhh, nyesel


deh gue gak rekam tadi “


“ apaan sih, lebay banget deh lo jadi orang”


Dani tertawa menjawab ucapan angelo, ia sudah ikut bergabung dengan dimas dan angelo


“ eh, mengenai acara liburan kita gimana? Jadi gak?” tanya dani setelah bercandanya terasa cukup


“ tau tuh bang dimas, gue kan yang ngasih ide, urusan bang dimas buat yang lainnya dong, masa gue mulu”


“ iya, iya, gue belum izin sama ayah, tapi udah izin sama bunda kok, boleh sama bunda tenang aja” jawab dimas sembari bersiap menggigit gorengan di tangannya


“ udah gue duga sih, pasti bunda bakal ngebolehin, yang susah tuh ayah” timpal angelo


Dani menggut-manggut dengan percakapan angelo dan dimas


“ hmmm, tenang aja deh gel, lo gak usah mikir yang gak-gak boleh pasti lah sama ayah, yang harus lo lakuin sekarang kan mesti belajar ngadepin ujian, kalo nilai lo bagus, malah lebih gampang buat ngebujuk ayah”


“ cakep, gue setuju tuh sama lo bang” ucap dani


“ aishhh, iya deh iya, gue bakal usahain buat dapet nilai yang bagus besok demi kalian loh”


“ heleh, demi, demi pala lo demi, bilang aja lo yang pengen berduaan sama mila, pake acara bawa nama-nama kita, dasar angelo be*o” ucap dani mencibir angelo


Angelo terkekeh mendengar perkataan dani yang memang benar adanya


🍂🍂🍂🍂🍂


Di rumah mila,


Setelah bercakap-cakap dengan ayahnya beberapa waktu lalu, kini mila sudah menyibukan diri dengan bersih-bersih rumahnya, sedangkan pak maman sudah berangkat bekerja satu jam yang lalu, meski sudah berbincang-bincang dengan ayahnya dan dapat mengetahui alasan mengapa ayahnya mengalihkan topik pembicaraan ketika di meja makan, tetapi tetap saja hatinya tidak bisa berbohong, ia merasa sedih dengan itu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan yang membuatnya harus merelakan salah satunya.


Tuk……, adit menepuk bahu mila yang tengah melamun sambil mengelap meja di ruang tamu, hingga membuatnya tersentak, kaget.


“ astaga adit, kalo dateng itu manggil dong jangan kaya gitu, kalo kakak jantungan gimana?” ucapnya sembari mengelus dadanya


“ lah lagian kakak ngapain bengong sambil ngelap meja, aku udah manggil kok tadi dari dapur tapi kakak gak nyahut-nyahut”


“ oh gitu yah, sorry deh dit, ada apaan emang?”


“ gak, anu itu kakak belum masak apa?” tanya adit


“ eh, bukannya bapak udah masak yah? Kakak belum buka tudung saji soalnya jadi gak tau”


“ aishhh, kalo di dalam tudung saji ada makanan mana mungkin aku ngomong ke kakak”


“ hmmm, ya sudah, kamu mau makan apa hari ini?”


“ mmmmm, itu aja deh kak, telor ceplok di kasih rawit boleh lah, kayaknya enak”


“ lah makan gitu doang, sampe ngagetin orang, emang kamu gak bisa bikin sendiri dit?”


“ hehehe, bisa sih, tapi nanti pasti gak enak, jadi kakak aja deh yah yang buat, sebagai gantinya biar adit yang terusin pekerjaan kakak, gimana?”


“ okey, deal, tapi yang bersih loh ya ngelapnya”


“ okey siap, serahin aja sama aku” ucapnya tersenyum


Mila menghela nafas pelan, berbalik badan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu.


“ eh kak, nanti kakak ke rumah sakit lagi gak?” tanya adit kemudian


Mila menghentikan langkah kakinya yang baru satu langkah beranjak dari posisi semula, lantas berbalik badan, “ iya jelas dong, kan hari ini angelo keluar rumah sakit, masa iya kakak gak dateng jenguk bisa-bisa angelo ngambek”


“ iya sih kak, tapi adit gak ikut yah, adit pengen di rumah aja nungguin rumah, masa dari kemaren rumah kita kosong terus”


“ hmmm, terserah kamu aja lah dit, ikut ya ayo, gak ya gapapa, kakak juga biasa sendiri”


“ maaf ya kak. Hehehe”


“ ya udah kalo gitu, kakak buatin kamu telor ceploknya dulu kalo gitu” ucap mila berbalik badan melanjutkan langkahnya kembali menuju dapur.


Sementara mila membuatkan sarapan untuk adit, adit tampaknya menikmati acara bersih-bersihnya, memang mila mengakui, semenjak adiknya keluar dari rumah sakit, sikap sembrononya perlahan menghilang diganti dengan anak yang baik dan penurut, mila bersyukur akan itu dan berharap adiknya akan terus seperti itu.


Tbc…..