
Episode 28
Suasana kantor polisi saat ini cukup ramai, waktu masih menunjukan pukul 4 pagi yang mana biasanya belum ada orang yang berkunjung dengan keperluan mereka, kali ini harus ramai terisi oleh dua anggota geng yang melakukan perkelahian beberapa saat lalu, terhitung ada sekitar 15 orang berhasil di amankan dari kedua geng
Angelo duduk tertunduk di depan petugas polisi yang akan menginterogasinya, sedangkan sendy dan anggota geng fire wolf mereka sudah di tahan akibat membawa senjata api, begitu juga dengan anggota gengnya yang berhasil tertangkap
“ kamu tau, perbuatan kamu sangat berbahaya dan meresakan warga?” ucap petugas di depan angelo
Angelo diam mendapat ceramah dari petugas di depannya, ia tidak mendengarkan sama sekali apa yang di bicarakan petugas di depannya, fikirannya sibuk memikirkan kondisi rio dan andi yang terluka parah
Tuk….tuk….tuk terdengar langkah kaki beberapa orang menuju ke arahnya saat angelo masih mendapat ceramah dari petugas di depannya, angelo menoleh saat bahunya di sentuh, ia melihat dani, rendi dan aan berdiri di sampingnya
“ lo gak usah khawatir sama keadaan rio dan andi, gue udah suruh orang gue buat jaga disana” ucap dani lirih
Angelo mengangguk, petugas polisi segera menyuruh mereka untuk menghubungi wali mereka ketika ia sudah selesai menceramahi mereka bertiga cukup lama
Dani menghubungi pengurus keluarganya pak hadi, sedangkan angelo menghubungi abangnya, berhubung wali aan dan rendi sedang berada di luar negeri mereka hanya bisa percaya pada dani, lantas mereka di bawa ke sel tahanan untuk sementara waktu sembari menunggu wali mereka datang
“ lo gapapa gel, tenang aja kita semua bakal keluar, lo percaya aja sama pengurus keluarga gue” dani menepuk pundak angelo, mereka semua sudah duduk tertunduk berdampingan, aan dan rendi diam satu sama lain
“ iya gue gapapa, gue bodoh dan, gue gak bisa jaga temen-temen, gue gak pantes jadi ketua kalian semua” ucap angelo lirih
“ lo jangan ngomong kaya gitu gel, kita semua sama, sama-sama terdesak, kalau lo di posisi rio terus lo liat gue sebentar lagi tertembak, lo juga pasti bakal berlari nahan tu peluru kan, gue yakin itu, begitu juga dengan kita semua, berhubung rio posisinya paling dekat dengan lo jadi dia sampe duluan daripada gue, kita semua gak ada yang nyesel ko gel berkorban buat geng xtc apalagi buat lo”
Angelo menoleh ke samping memandang tiga orang di sampingnya mereka mengangguk secara bersamaan
“ thank’s gengs, gue beruntung punya kalian”
“ kita juga beruntung punya ketua kaya lo gel, kita gak takut mati buat lo, kalaupun harus mati juga kita akan mati dengan perasaan bangga berkorban untuk lo” timpal aan
Angelo mengangguk memandang tiga orang di sampingnya, ia diam kembali dengan fikirannya sendiri, ia merasa sangat beruntung di kelilingi orang-orang yang sangat menghargainya bahkan begitu menghormatinya, meski ia tidak minta untuk di hormati tapi mereka semua seperti menanamkan rasa itu dalam diri mereka masing-masing, ia juga beruntung memiliki dani di sampingnya meski seseorang menghianati dirinya namun dani tetap kokoh berdiri di sampingnya apa pun yang terjadi, ia juga tidak akan memaksa angelo untuk terbuka dengannya jika ia sedang mempunyai permasalahan sendiri. Meski ia sangat dekat dengan rio,andi, aan dan rendi namun entah mengapa ia hanya merasa nyaman dengan dani, bukan berarti ia membeda-bedakan anggota yang lain, hanya saja ia merasa lebih leluasa jika dengan dani, mungkin karena angelo mengenal dani terlebih dahulu jadi ia merasa seperti itu, anggota yang lain juga memahami itu, hanya andi yang tidak memahaminya hingga membuat ia berhianat dengan angelo dan berahir seperti sekarang
Angelo menghela nafas memandang lurus kedepan, mereka berempat diam dengan fikiran masing-masing
🍂🍂🍂🍂🍂
Seorang petugas polisi membuka sel tahanan mereka, dani segera bangkit dari posisinya di susul rendi dan aan setelah melihat petugas polisi membuka gembok sel tahanan mereka
“ gel lo mau disini terus” ucap dani, ia mengulurkan tangannya mencoba memecahkan suasana hati angelo
Angelo diam menatap ke arahnya lantas menerima uluran tangan dani
Mereka berempat berjalan menuju ke ruang utama kantor kepolisian, terlihat dimas dan seorang pria paruh baya mengenakan setelan rapi duduk di depan petugas polisi
Dimas beranjak dari tempatnya saat melihat angelo, ia segera mendekat ke arah angelo, pandangan matanya sangat khawatir
“ lo gapapa gel ” tanya dimas, ia memegang kedua bahu angelo, menatapnya lekat-lekat
“ gue gapapa bang, makasih udah dateng, ayah tau gak gue di sini”
“ aishh nih anak masih aja mikirin hal lain, tenang aja bunda sama ayah gak tau, ayah juga belum pulang dari dinasnya”
“ baguslah kalo gitu, lo bantuin gue rahasiain ini ya bang dari mereka”
“ iya gue tau, tapi lo gak boleh mampir kesini lagi, kalo lo sampe kesini lagi, gue gak mau bantu lo lagi gel”
“ iya, iya gue gak bakal kesini lagi”
Dimas mengacak rambut angelo setelah
mendengar ucapannya, ia dan pengurus keluarga dani sudah di beri tahu polisi sebelumnya perihal angelo and the geng di tahan, setelah mendengar permasalahannya, pengurus keluarga dani pak hadi bernegoisasi dengan petugas kepolisian untuk membebaskan mereka yang di tahan kecuali geng fire wolf, mereka mendekam di sel tahanan entah kapan mereka akan keluar pasalnya mereka terbukti membawa senjata api dan dengan sengaja melakukan penembakan terhadap seseorang
Setelah mendapat ceramah cukup lama sebelum pulang, ahirnya angelo sudah berada di dalam mobil yang dimas bawa, dani rendi dan aan ikut dengan mobil mereka, sedangkan pak hadi sudah kembali ke rumah dani beberapa saat lalu
“ jam berapa sekarang bang” tanya angelo di samping dimas
“ masih jam 6 pagi, kenapa? Lo mau sekolah gel?”
“ gak lah, gue mau nganter cewek gue sekolah”
“ck, dasar bego, lo mau anter cewek lo dalam kondisi fisik lo yang kaya gitu? Bisa-bisa cewek lo pingsan kali liat penampilan kacau lo” dimas menggeleng melirik angelo dari kaca kecil di depannya
Dimas menghela nafas mendengar jawaban angelo, ia tidak tau apa yang sedang angelo fikirkan sebenernya, hingga ia hanya menjawab perkataanya dengan singkat
Sedangkan dani, rendi dan aan mereka sempat berbincang sesekali, hanya angelo yang diam setelah bertanya pada dimas, semenjak keluar sel tahanan sikap angelo berubah menjadi sedikit dingin padahal biasanya dia akan menjawab celotehan dani tapi dari semenjak keluar ia tidak menanggapinya, ia seperti sedang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa dirinya dan anggota gengnya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Mobil mereka melaju menuju rumah dani itu juga atas saran dari angelo, padahal awalnya dimas berencana membawa angelo pulang kerumah karena ia sudah semalaman tidak pulang ke rumah, namun ia tau pasti bundanya akan sangat khawatir jika melihat kondisi mereka yang kacau, masih ada noda darah di wajah mereka apalagi angelo yang mendapat pukulan keras dua kali tepat di kepalanya hingga membuat wajahnya di penuhi darah miliknya untung saja angelo tidak tumbang lagi tadi malam, ia berencana untuk membersihkan dirinya di rumah dani beserta dengan aan dan rendi, sedangkan dimas ia akan pulang dan memberikan alasan untuk bundanya sebab angelo tidak pulang, angelo sangat beruntung memiliki kakak seperti dimas yang mau membantunya menyimpan segalanya dari orang tua mereka
Setelah cukup lama mobil angelo melaju dalam suasana keheningan ahirnya mereka memasuki jalan cempaka putih, rumah dani, dimas segera menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah dani
“ gel, abang langsung pulang aja ya, lo jangan lupa nanti pulang, gue udah bantuin lo ngasih alesan ke bunda, awas aja kalo gak pulang” dimas memandang lekat-lekat angelo yang sudah membuka pintu mobilnya
“ hmmm” angelo mengangguk
Brugh…..angelo menutup kembali pintu mobilnya di susul dengan dani, aan dan rendi, mereka berempat sudah berdiri di samping mobil
Greeekkk……dimas membuka kaca mobil di sampingnya
“ ya udah kalo gitu, abang pulang dulu ya”
“ oke, makasih bang udah nganterin kita” ucap dani, aan dan rendi mengangguk menatap dimas
Mobil angelo perlahan meninggalkan halaman rumah dani, segera melaju dengan kecepatan sedang, mereka berempat masih menatap lurus melihat kepergian mobil dimas
“ yuk, masuk, sekalian sarapan “ ajak dani
Mereka bertiga mengangguk bersamaan, lantas mengikuti dani di belakang untuk memasuki rumah mewah milik dani yang masih sepi bersiap membersihkan diri mereka secara bergantian
“ dan, lo nanti sama rendi dan aan ke rumah sakit ya, gue nganterin cewek gue dulu” ucap angelo yang duduk di meja makan menunggu gilirannya membersihkan diri
“ siip, tenang aja gel, tapi lo gapapa kan”
“ gue oke kok, lo tenang aja”
Cukup lama angelo berbincang dengan dani, meski hanya dani yang sering bertanya, namun dani hanya bisa memahami perasaan angelo yang terasa berbeda dari biasanya
🍂🍂🍂🍂🍂
Dalam keheningan mila duduk sendiri di meja makannya sembari menggigit roti selai nanas yang baru saja selesai ia buat serta satu gelas susu hangat untuk menemani sarapan paginya, pandangan matanya lurus ke depan, ia tidak dapat berkonsentrasi dengan makanan yang ia pegang saat ini, pikiranya memikirkan banyak hal setelah ia pamit pulang kepada yudi orang kepercayaan dani untuk berangkat ke sekolah, sebenarnya mila tidak ingin berangkat ke sekolah namun pagi ini jam pelajaran kedua kelas 2 A yaitu kelasnya akan mengadakan ulangan bahasa inggris, mau tidak mau ia harus berangkat meski hatinya menolak untuk berangkat, tapi ia tidak mau melewatkan pelajaran yang sangat ia sukai sedari SD itu, ia juga tidak mau membolos dan membuat ayahnya khawatir, sudah cukup ayahnya memikirkan adit hingga ia terlihat sangat kurus, mila tidak mau membebani pikiran ayahnya lagi
Dengan susah payah mila menelan roti yang biasanya menurutnya sangat enak apalagi ia bubuhi selai nanas rasa kesukaanya, namun kali ini mila tidak bisa menikmati sarapan paginya akibat fikiran sibuknya sedari dini hari, ia juga tidak cukup tidur akibat itu, ahirnya ia hanya menggigit sampai separuh lantas meletakan kembali di piring, ia menyesap susu hangat di depannya, menghela nafasnya dengan berat
Mila melirik jam di tangannya, ia menghela nafas lagi masih pukul 7 pagi, masih ada waktu sekitar 1 jam untuk di mulainya pembelajaran di SMA venus, walau seperti itu mila segera bergegas menuju kamarnya untuk mengambil tasnya dengan rasa malas dan mata yang seakan terasa berat
Tak lama ia sudah kembali lagi dengan tas yang sudah menempel di tubuhnya, hari ini mila hanya menggerai rambutnya dengan bebas di beri sedikit jepit rambut berwarna hitam polos, bibirnya hanya di beri pewarna pink lembut serta wajahnya ia bubuhi bedak tipis, namun kantung matanya tercetak cukup jelas akibat dirinya yang susah tidur semalaman, mila hanya membiarkannya seperti itu, ia terlalu malas untuk berdandan fresh seperti biasanya.
Ceklek….. mila membuka pintu rumahnya, baru saja ia akan melangkahkan kakinya keluar rumah, padangan matanya menangkap sesosok yang ia rindukan, yang ia cemaskan semalaman sedang berdiri di samping motor ninja berwarna hitam, ia mengenakan jaket kulit, celana jeans hitam, helm full face serta sandal gunung
Mila segera menutup pintu lantas berjalan dengan cepat menuju ke arahnya, meski warna motornya berbeda namun keyakinan hati mila tidak dapat di ganggu hanya dengan perubahan warna motor dan sandal yang di kenakan pemuda di samping motor itu
“ hay, pagi “ ucap mila, ia berusa menyudutkan senyum di bibirnya
Pemuda itu membuka helm full facenya, mila dapat melihat sepasang bola mata berwarna coklat menatapnya dengan sayu, tidak salah lagi pemilik bola mata itu adalah angelo seperti keyakinan hati mila ketika pertama kali matanya menangkapnya berdiri terdiam di samping motor ninja berwarna hitam
Namun kali ini ada yang berbeda dari tatapan mata angelo ia terlihat sedikit dingin tidak seperti biasanya yang akan menyambut mila dengan senyum lebar serta tatapan mata yang berbinar
“ dimana senyuman paginya? Dimana tatapan mata berbinar itu” batin mila, ia masih menatap lekat-lekat sepasang bola mata coklat itu dengan banyak pertanyaan di hatinya, mereka diam satu sama lain
grep….angelo memeluk mila dengan erat, mila tersentak mendapat pelukan dari angelo secara tiba-tiba saat dirinya masih sibuk dengan berbagai pertanyaan di hatinya yang tak kunjung ia tanyakan pada kekasihnya itu akibat dirinya yang terpaku melihat tatapan sayunya itu
“ biarin gue kaya gini sebentar aja” ucapnya lirih
Mila diam, ia dapat merasakan degupan jantung angelo yang cepat juga nafasnya yang sedikit berat, mila tau angelo dalam masa-masa sulitnya kali ini, ia tidak mau bertanya untuk saat ini selain diam dan menenangkan perasaan angelo, meski tidak bertanya mila juga bisa memahami perasaan angelo setelah melihat dua orang temannya yang terluka parah dan harus masuk ke ruang UGD dini hari tadi
Mila mengelus punggung angelo dengan halus, mereka berdua seperti tidak peduli lagi dengan kondisi di sekitarnya, padahal mereka berdua berada di halaman rumah, mila hanya berfikir untuk meredakan sedikit beban yang angelo tanggung meski ia tidak tau apa yang sudah angelo alami semalaman
Tbc……