my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 55



Episode 55


Dalamnya cinta tidak dapat di ukur dari seberapa kuat rasa sayang, sebanyak apa perhatian yang di berikan, momen-momen indah yang pernah tercipta


Semua akan terlihat nyata jika waktu sudah berbicara, semua akan terjawab seiring waktu berjalan, tidak ada yang akan bisa mencegah, menutupi bahkan menyembunyikan jika waktu sudah berbicara.


Malam dingin, rintik hujan jatuh perlahan-lahan, badai besar dalam hati seakan mulai menunjukan dirinya, menyiksa setiap jengkal perasaan yang tercipta, membuat luka yang teramat perih.


“ gel, aku tidak mau setelah hari ini kita menjaga jarak, aku tidak menolakmu, aku juga tidak bilang kalau aku tidak sayang sama kamu, aku hanya tidak mau kita menikah muda dan menyesal di belakang, kamu paham kan apa yang aku omongin?” ucap mila pelan menyentuh bahu angelo, setelah mereka berdua sama-sama terdiam satu sama lain


Angelo diam, tidak menjawab ucapan mila, ia masih terus menatap langit-langit diatasnya dengan sejuta fikiran yang masih membanjiri kepalanya.


“ gel, kamu marah yah sama aku?”


“ lihat aku sekali lagi, pahamilah aku” imbuhnya lagi, suaranya mulai serak tertunduk


Angelo menoleh perlahan, “ hmmm, aku


mengerti kok sayang, tenang aja aku gak bakal ngejauhin kamu” ucapnya pelan mengusap rambut mila


Mila mengangguk, meski mendengar perkataan seperti itu, tapi mila tau hati angelo masih tidak tenang, semua tergambar jelas pada sepasang manik kelam miliknya, meski wajahnya tersenyum lembut padanya.


Ring…..ring….ring, ponsel dari saku celana angelo mengalihkan pandangan matanya dari mila, ia langsung mengambil ponselnya melihat siapa yang menelponnya pada jam segini, angelo menghela nafas memandangi layar ponsel tanpa menyentuhnya


“ siapa yang telepon? Kenapa tidak di angkat aja gel?” tanya mila penasaran


Angelo menoleh, “ bang dimas “ ucapnya lemas


“ aku gak tau yah kamu lagi ada masalah apa sama keluargamu, tapi aku mohon sama kamu gel, jawab teleponnya kak dimas ya, dia pasti cemas sama kamu apalagi bunda “ mila menatap angelo penuh harap


“ hmmmm “ angelo mengangguk


Pip….telepon berahir saat angelo baru akan mengangkatnya, tak lama dering ponselnya berbunyi lagi, angelo menoleh ke samping menatap kekasihnya yang tersenyum sembari mengangguk meyakinkan agar ia segera menjawab teleponnya


Tut….angelo mendekatkan ponselnya pada telinga


“ hallo, fyuhh, ahirnya lo jawab telepon gue gel, lo dimana sekarang? Pulang ya sekarang, abang jemput, bunda sakit gel gak mau makan sebelum ketemu sama lo” ucap suara dari ujung telepon tanpa jeda


“ maaf bang, gue gak bisa balik sekarang, ayah masih di rumah kan?”


“ mmmm, tapi ayah udah nyesel kayaknya kamu kabur dari rumah, beliau juga terlihat sangat sedih sama dengan bunda, mereka hanya diam sepanjang hari, apa lo gak kasian sama bunda gel? Kalo lo marah sama ayah gue gak ngelarang, tapi tolong pikirin perasaan bunda”


Angelo terdiam mendengar ucapan dimas, ia menoleh ke samping melihat wajah mila yang masih menatapnya dengan tatapan penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh seseorang di ujung telepon itu.


“ gue musti gimana bang? Gue gak tau musti ngapain lagi sekarang”


“ lo pulang aja yah, gue jemput, kita bicarakan semuanya sama-sama biar jelas, gue mohon sebagai abangmu buat bunda, dimana lo sekarang?”


Mila tiba-tiba merebut ponsel angelo, membuatnya terkejut bukan kepalang dan dengan cepat mendekatkan ke telinganya


“ hallo kak, angelo ada di rumahku sekarang” ucapnya dengan posisi satu tangan mencegah tubuh angelo yang berusaha merebut ponsel darinya


“ rumah kamu dimana mil?” tanya dimas terdengar helaan nafas lega darinya


Mila memberitahukan alamat rumahnya pada dimas, sekejap kemudian sambungan telepon terputus, ia meletakan ponsel angelo ke meja di depannya


“ aishhh, beb, ko kamu kaya gitu sih sama aku? “ angelo mengusap belakang kepalanya


“ maafin aku gel, tapi semua demi kebaikan kamu, kamu harus pulang bertemu sama bunda dan kak dimas “ ucapnya sembari menyentuh lembut pipi lebam angelo


Angelo terdiam memandang lurus ke depan, sementara mila mengelus pundaknya dari sampingnya, mereka berdua sama-sama diam kembali, setelah sambungan ponsel berahir.


🍂🍂🍂🍂🍂


Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar rumah mila, ia langsung berdiri membuka pintu


Ceklek…..pintu terbuka, terlihat dimas berdiri di sana mengenakan payung, menyapa mila dengan ramah


“ masuk dulu kak, angelo tuh di dalem” ucap mila menunjuk angelo yang duduk tertunduk di tempatnya tanpa menoleh ke arah dimas dan mila berada


Dimas mengangguk, tersenyum, lantas duduk setelah mila mempersilahkannya, mila tau ia saat ini harus beranjak dari sana dan membiarkan kakak beradik itu berbicara satu sama lain, oleh karena itu ia pamit pada dimas untuk membuatkannya minuman.


“ gel…..” ucap dimas, menatap angelo yang masih tertunduk


Angelo diam tak merespon sedikit pun ucapan dimas


“ gel, gue tau lo marah sama ayah, tapi bisa gak lo jangan marah ke abang juga? Terus ke bunda, gel abang sedih liat lo kaya gini, plis pulang ya, bunda menunggu dari kemarin, apa lo mau sesuatu yang buruk terjadi ke bunda?” lirihnya


Angelo mengangkat wajahnya perlahan, menoleh ke samping menatap mata dimas yang mulai berkaca-kaca


“ kalo lo gak mau kuliah di London gak masalah, abang bisa bantu ngomong ke ayah yakinin dia, lo juga masih satu tahun lagi kan sekolahnya, masih banyak waktu buat berfikir, gue akui omongan ayah memang keterlaluan terahir sebelum lo pergi, tapi ayah lagi emosi gel, gue yakin beliau nyesel”


“ tapi bang….” Ucap angelo pelan


" fyuhhh, gini gel, gue gak bermaksud maksain lo, tapi tolong abang buat kali ini ya, abang mohon gel " ucap dimas dengan suara mulai bergetar


" hmmmm, maafin gue bang "


Dimas beranjak dari duduknya, lantas duduk di dekat angelo, tangannya bergerak mengacak rambut adiknya,


" thank's gel, apa pun yang lo rasain, lo cerita yah ke abang, pasti abang bakal bantuin lo "


" hmmm, tapi gue gak mau bang " angelo menatap wajah dimas, menyunggingkan senyum yang sempat pudar beberapa waktu lalu


dimas tersenyum mengacak kembali rambut angelo, mereka mulai bercanda seperti biasanya, bukan angelo tidak memikirkan apa pun, justru ia hanya ingin lari sebentar dari masalahnya, toh setelah mendengar ucapan permohonan dari dimas hatinya merasa sakit mengetahui bundanya sakit karena dia, ia tak mau seperti itu terus sudah cukup melibatkan perasaan banyak orang pada masalahnya


🍂🍂🍂🍂🍂


Di ruangan rumah sakit,


Tuk…..” ah bisa gila beneran deh gue” ucap dani yang baru saja datang langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di samping ranjang rio


“ ada apa lagi sih dan, masalah angelo belum kelar-kelar?” rio meletakan buku yang sedang di bacanya


“ hmmmmm”


“ belum ketemu juga si angelo? Lo udah tanya mila belum? Bisa aja dia ke rumah mila lo gak tau”


“ oalah dan, dan, makanya lo tuh harus sabar, mikir yang bener gitu, biar bisa nemu jalan keluarnya, oia besok lo bantu gue keluar rumah sakit kan? “


“ mmmm, bentar gue mau telepon mila dulu”


Rio mengangguk menjawab ucapan dani, dani segera mengambil ponselnya mencari nama mila di sana


Tut….tut….tut, suara telepon tersambung, tut, "hallo” ucap suara di ujung telepon


“ hallo mil, sorry nih gue ganggu udah malem , gue cuma mau nanya, angelo ada ketemu sama lo apa belum?”


“ mmmm, baru aja pulang dia, di jemput kak dimas, emang gak ngabarin lo dan?”


“ aish kampret tuh anak, ya udah kalo gitu, thank’s ya mil udah ngasih tau gue, sorry ganggu “


“ oke, gak masalah, santai aja kali dan”


“ hmmm, ya udah gue tutup ya teleponnya, byee”


Dani memutuskan sambungan teleponnya, lantas memandang rio yang sudah siap menghujaninya dengan banyak pertanyaan tergambar jelas di wajahnya


🍂🍂🍂🍂🍂


Di perjalanan pulang,


Angelo memandang ke sekelilingnya, sudah terlihat sepi meski lampu jalanan menyala sepanjang mobilnya berjalan, rintik hujan masih terlihat bagaikan embun bila tersorot lampu mobilnya, ia menghela nafas pelan meletakan tangan di bawah dagunya


“ lo gak papa gel?” tanya dimas melirik dari kaca kecil di depannya


Angelo menoleh, “ mmmmm, gue oke kok bang”


“ lah terus napa tuh muka lo tekuk-tekuk?Perasaan tadi di rumah mila lo udah biasa aja deh, ko sekarang kaya gitu lagi, kalo ada perasaan yang gak enak ngomong aja sama gue, barang kali gue bisa bantu gel”


Angelo menghela nafas panjang, “ gak papa sih bang, gue cuma masih agak bingung aja sama perasaan gue”


“ emang ada apa? Sebelum gue dateng, lo berantem sama mila?”


“ gak bang, gue cuma gak nyangka aja sih, perkataan mila bisa sama kaya perkataan ayah”


“ hahahha, berarti lo yang belum dewasa gel kalo gitu, terus mau lo sekarang gimana?”


“ apaan sih bang, apa salahnya sih menikah muda? Gue sama mila kan sama-sama suka, mmmm, gue masih bingung mau gimana, sekarang tinggal tersisa dua pilihan untuk masa depan gue bang, pertama gue mau kerja setelah lulus nanti, itu kalo ayah ngijinin, kalo gak ya terpaksa, pilihan ke dua, nurutin ayah kuliah di London, sebenernya gue ogah banget sih bang”


“ aihh, lo gak salah sih gel, menikah juga gak salah, tapi ya kembali lagi sama diri kita masing-masing, lo mau nikah sama mila emang udah siap secara lahir dan batin, menikah bukan cuma sama-sama suka loh, nanti takutnya lo nyesel pas udah nikah, baru tuh masalah dateng satu per satu, cinta lo sama mila bakal di uji dari situ, lo juga bakal tau sifat asli lo, sifat asli mila, semua bakal terbongkar sampe ke akar-akarnya kalo udah nikah, gak ada lagi lo sama gue, yang ada kita bersama, apa pun masalah harus di hadapi bersama, gue gak bela ayah loh yah ngomong gini, cuma ngasih nasehat aja ke adek abang yang ganteng “ dimas terkekeh, melirik angelo


Angelo menghela nafas panjang mendengar ceramah dimas


“ mmmm, kalo masalah lo bingung mau gimana, ya mending lo ikuti apa kata hati lo, misalnya nih lo kan pengen kerja setelah lulus kan gel? Terus lo masih bingung kan ayah gak ngebolehin lo, kalo masalahnya cuma itu, gue bisa bantu ko sama bunda buat ngeyakinin ke ayah, gimana? Tapi lebih baik lo pikir-pikir dulu deh, gue tau banget lo kan anak mamih banget, begajulan cuma di luar doang, gue takut aja lo nangis kalo lulus langsung kerja, kan gak enak gitu “ preman nangis”. Hahahaha” dimas tertawa keras


“ huuh, abang bukannya bikin mood gue enak, malah bikin tambah buruk aja, tau ah gelap, gue mau tidur, bangunin kalo udah sampe “ ucap angelo menyenderkan kepala ke belakang


Dimas tertawa melirik wajah angelo yang terlihat sangat kesal akibat ulahnya yang terlalu banyak menggodanya, memang bukan dimas namanya jika sudah bersama dengan adiknya tidak menggoda sepuas hatinya, pasti ia akan merasa ada yang kurang di dalam hari-harinya, begitu pikirnya sembari menggelengkan kepala terkekeh sendiri melirik kaca kecil di depannya.


🍂🍂🍂🍂🍂


Ruang kamar sederhana tampak masih bercahaya meski cahaya yang tercipta tidak terlalu terang namun cukup untuk memberi tahu bahwa seseorang yang di dalamnya belum larut dalam merajut mimpi, ya, mila tengah sibuk sendiri duduk di meja belajar samping tempat tidurnya, tangannya mencoret-coret buku di depannya.


“ fyuhhh, gue harap masalah angelo cepet selese” begitu ucapnya, ia meletakan bollpoint di tangannya


Kling…..notifikasi ponselnya berbunyi, ia langsung membukanya melihat siapa yang menghubunginya selarut ini, terlihat pesan dari yuda


“ hay mil, udah tidur apa belum? Maaf gue ganggu, boleh gue telepon” ucapnya dalam pesan singkat.


Mila membalasnya dengan santai, beberapa menit kemudian ponselnya berdering, nama yuda tertera disana


“ hallo yud “


“ hmmm, gue ganggu gak mil?”


“ mmmm, gak kok, emang ada apa? Ada sesuatu yang penting banget yah buat di omongin”


“ gak sih, gue cuma pengen telepon lo aja, gimana lo udah ketemu angelo?”


“ mmmmm”


“ hmmm, baguslah kalo gitu, oia mil besok lo ada waktu gak? “


“ kenapa?”


“ gue mau bicarain sesuatu sama lo”


“ gak bisa sekarang aja emang ngomongnya?”


Terdengar helaan nafas dari ujung telepon, “


gak, gue gak bisa ngomongin sekarang, gimana lo ada waktu gak? “


Mila terdiam, “ mmm, apa gue iyain aja yah ajakan yuda, angelo juga belum ngasih kabar ke gue mau ngajakin jalan apa gak? Sepertinya yuda ada sesuatu yang sangat penting buat di omongin.” batin mila


“ hallo, mil, lo masih disana kan?”


“ eh, iya sorry yud, jam berapa emang?”


“ siang boleh, jam 1, gue jemput ke rumah lo ya “


“ mmmm, oke kalo gitu, ya udah gue tutup teleponnya ya, udah malem”


“ hmmmm, oke, selamat malam mil, sampai jumpa besok “


“mmmm”


Mila memutuskan sambungan teleponnya, beranjak dari duduknya lantas berjalan menuju ranjang dan segera menghempaskan tubuhnya ke atasnya, menatap langit-langit kamarnya, sebetulnya hatinya bertanya-tanya dengan apa yang yuda ucapkan, namun ia tidak bisa bertanya padanya selain menunggu hari esok tiba dan berharap semua akan baik-baik saja tidak ada lagi pertengkaran dan fikiran-fikiran negatif bersamanya.


Tbc……