my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 11



hembusan angin malam yang dingin tidak mempengaruhi mila sedikit pun, meski keringatnya mulai menghiasi keningnya, nafas yang memburu berpacu dengan waktu, kakinya terus berlari dengan kencang seakan tidak peduli dengan suasana di sekitar


pikirannya hanya satu untuk segera sampai ke rumahnya, sakit kepala serta perasaan tidak enak yang menyerang tubuhnya sedari di rumah sakit hilang dengan sekejap di gantikan dengan kecemasan


hati kecilnya terus berdoa sembari ia berlari, ia berharap mobil yang di lihatnya di depan komplek itu adalah mobil angelo yang sudah seharian ia pikirkan


hosh....hosh.....hosh nafas mila memburu ketika dirinya sampai di halaman depan rumahnya, rumah sederhana miliknya sudah terlihat dari arahnya berdiri, mila berhenti sebentar untuk mengatur pernafasannya kembali normal


kemudian melangkahkan kakinya memasuki halaman depan rumah, memang teras depan rumah mila di biarkan gelap begitu saja, karena menurut mila lampu teras tidak terlalu penting apalagi kondisi keuangan mila saat ini kurang baik sebab harus membayar biaya rumah sakit adit, pandangan mila menyapu teras depan rumahnya


hanya gelap tidak terlihat apa pun, cahaya remang dari dalam ruang tamunya pun tidak membatu pandangannya sedikit pun


mila semakin melangkahkan kaki menuju teras depan rumahnya


ia berhenti tepat di depan pintu rumahnya, indera pendengarannya seperti menangkap sesuatu, suara itu sangat samar jika tidak di dengarkan dengan seksama bisa saja kalah dengan suara angin malam ini, mila menahan nafasnya sembari mendengarkan sesuatu yang baru saja melintas di indera pendengarannya, tidak salah lagi, indera pendengarannya menangkap suara nafas yang terengah-engah namun dalam suara yang semakin melemah


mila segera mengambil ponsel di dalam tasnya, membuka aplikasi senter di sana


senter dari ponsel menyala menangkap sesosok tubuh yang tergeletak tak jauh darinya berdiri, sesosok yang begitu ia kenal di matanya, tergeletak dengan luka yang cukup parah, mila segera menghampiri tubuh itu, ia bersimpuh di sampingnya


tangannya gemetar menyentuh tubuh itu, bagaimana tidak di lihatnya sesosok itu penuh luka di sekujur lengannya, ada bekas darah di sana, wajahnya juga sudah lebam di mana-mana, serta noda darah di baju dan sudut bibirnya, iya itu angelo yang mila cari-cari sepanjang hari, tergeletak dengan nafas yang mulai melemah, mila berusaha mengontrol tubuhnya agar tidak bergetar,


mila menyentuh wajah angelo perlahan, masih hangat, tangannya tapi sudah dingin mungkin karena ia sudah lama di luar


"angelo, angelo lo denger gue" mila menepuk-nepuk dada bidang angelo


"aduh jangan mati di sini gel, bangun gue bilang, kalo lo berani mati di sini gue putusin lo sekarang" ancam mila


namun angelo diam tak bereaksi dengan ucapan mila, mila mulai panik di buatnya, hanya satu yang ada di fikirannya saat ini ia harus segera membawa angelo ke rumah sakit, namun ia bingung bagaimana caranya membawa tubuh angelo, tubuhnya lebih besar darinya tidak mungkin mila kuat membawa angelo sendirian


tapi mila tidak menyerah begitu saja, dengan penuh keyakinan ia coba sekali lagi untuk menyadarkan angelo


"angelo bangun gue bilang, gue bakalan nuruti semua permintaan lo kalo lo bangun sekarang, terus gue juga mau ngaku sama lo selama seharian ini lo gak nemuin gue, gue sedih tau, lo seneng kan buat gue sedih, gue gak tau kenapa dengan perasaan gue, tapi gue bener-bener kehilangan lo, kayaknya gue suka sama lo gel, jadi jangan coba-coba lo mati sekarang, lo matinya kalo gue udah bosen sama lo aja ya" oceh mila sembari tangannya menepuk-nepuk dada bidang angelo, air matanya jatuh di tengah-tengah emosi yang seperti memainkan dirinya saat ini


"uhuk, uhuk apaan sih berisik amat, ganggu gue lagi tidur aja, beneran nih lo bakal nuruti semua ucapan gue? lagian siapa juga yang mau mati sekarang, ngelawak aja" ucap angelo masih berbaring di depan mila, matanya sudah terbuka dengan lebar melihat gadis miliknya bersimpuh di sampingnya


mila memukul-mukul pundak angelo tanpa tenaga, ia menangis tersedu-sedu


"lo jahat gel, lo jahat, lo permainin perasaan gue, lo seneng kan. huhuhu" mila terisak


angelo menahan tangan mila yang mengepal mendaratkan tinju di pundaknya, ia beranjak dari posisinya, memegang kedua tangan mila menatap ke arahnya


"lo liat gue sekarang, liat mil, gue gak pernah niat mainin perasaan lo sama sekali, gue awalnya juga bingung sama perasaan gue waktu pertama kali gue liat lo, gue langsung tertarik sama lo, awalnya gue cuma iseng jadiin lo pacar gue tapi lama-lama gue beneran suka sama lo" angelo terdiam, wajahnya memerah, ia seperti orang bodoh yang sedang bernarasi tentang dirinya kepada khalayak umum, bukan tipe dia seperti itu, tapi entah kenapa malam ini dalam suasana gelap suaranya seperti keluar dengan sendirinya tanpa bisa di cegah


mila terdiam menunduk mendengar ucapan angelo, ia diam dari tangisnya menyisakan suara sesegukan beberapa kali


grep..... angelo memeluk tubuh mila, ia mengusap-usap lembut rambut mila, seorang ketua geng xtc telah di taklukan hatinya oleh seorang gadis biasa yang tidak pernah bergaul di sekolah dan hanya memiliki satu orang teman setia di dalam hidupnya, angelo merasa malu telah mengakui dirinya di depan mila bukan dirinya banget melakukan hal itu namun satu yang tidak bisa angelo bantah, perasaanya menjadi lega, lebih lega dari sebelumnya


"maafin gue mil, bikin lo nangis" ucap angelo kemudian


"lo gak seharusnya kaya gini gel sama gue, gue beneran panik liat lo tergeletak kaya gitu" ujar mila masih di dalam pelukan angelo


kini mila sudah tidak memberontak lagi saat angelo menyentuh tubuhnya bahkan mila merasa lega mengetahui angelo baik-baik saja walaupun tampilannya sangat kacau saat ini, yang jelas mila tidak menyesal telah mengakui perasaanya itu membuat sedikit beban di hatinya mereda setelah beberapa hari ini ia kebingungan dengan perasaannya sendiri


"iya gue tau, gue salah maafin gue sebagai gantinya gue mau ngabulin satu permintaan lo, tapi lo juga harus penuhi kata-kata lo barusan" angelo tersenyum miring, sikap jailnya seperti kembali lagi padanya


buk....mila memukul dada angelo sejak ia melepaskan pelukannya


"auww auww" rintih angelo


"gak usah akting gue tau lo bohong, mana mungkin pukulan tanpa tenaga bisa buat lo merintih kaya gitu, sedangkan noda darah ada di sekujur tubuh lo, lo gak bisa jadi aktor gel gak bakat akting" ucap mila yang sudah berhenti menangis


"yaya gue emang gak niat jadi aktor kok,hehe jadi gimana" angelo mendekatkan wajahnya


"gimana apanya? gue gak ngerti deh ah, kerumah sakit aja yuk"


"gue gak mau ke rumah sakit, gue gak sakit beneran, ini mah cuma luka kecil gak ada apa-apanya, gue masih menunggu loh sama jawaban ucapan lo, jarang-jarang nih gue baik hari ini" angelo tertawa


"ck, emang dasar preman yah, gue gak bakal jawab pertanyaan lo"


"preman aja lo suka, gapapa gue tetep nunggu sabar kok tenang aja" ledek angelo


mila tidak bisa menjawab ucapan angelo hatinya sudah tidak bisa menolak kehadiran angelo lagi, ia hanya terdiam menerima ucapan angelo memang benar yang angelo katakan, angelo preman bahkan ketua geng tapi bisa membuat hati dingin mila tersentuh bahkan jatuh cinta padanya, mungkin berkat kegigihan angelo yang setiap hari merecoki kehidupannya membuat angelo memiliki tempat tersendiri di hatinya


"ck, gue gak bakal bilang apa-apa sama lo, tapi kalo lo gak mau ke rumah sakit ya udah gak masalah, tapi biarin gue obatin luka lo" ucap mila tersipu


"dengan senang hati princess, malam ini tubuh abang buat adek" ledek angelo tertawa


"apasih mesum" mila berdiri dari posisinya, ia membantu angelo berdiri


"lo diem sini, gue ambil handuk sama air hangat bentar" ucap mila berdiri di depan angelo


" oia satu lagi hampir lupa, lo telepon dani bilang sama dia buat jemput lo di rumah gue, dani tadi nyariin lo, dia telepon gue" ujar mila menambahkan


angelo mengangguk-angguk dan tersenyum melihat wajah galak mila yang menurutnya sangat imut di depannya


"gue pinjem hp lo" ucap angelo kemudian


"buat apa?"


"bentar doang, gue lupa bawa hp"


mila menyerahkan ponselnya kepada angelo, angelo mengetikan sesuatu di sana, mila memperhatikan dari tempatnya


"nih udah selese, udah gue save juga" ucap angelo tersenyum


"katanya lo gak bawa hp, ko di balikin lagi" mila memeriksa ponselnya yang baru saja di terima dari angelo, sayang angelo tertulis di kontak ponsel mila, mila melirik ke arah angelo


"lebay" gerutu mila, sembari mengganti nama pemberian dari angelo untuk kontak nomornya


"kalo lo ganti gue cium" ancam angelo dari posisinya


tangan mila berhenti mengetik, ia mengembalikan seperti semula nama yang angelo berikan untuk kontak nomornya, ia lebih takut dengan ancaman angelo lebih baik ia menurutinya dengan baik, mila berbalik badan meninggalkan angelo yang duduk di sofa ruang tamunya, mila mengambil sebaskom air hangat, handuk bersih dan kotak obat bersamanya


"duduk diem bisa gak" perintah mila yang memperhatikan angelo tidak bisa diam dengan terus menggoyang-goyangkan kakinya, membuat mila merasa risih


"iya ibu dokter cantik" ledek angelo


mila tidak menghiraukan ledekan angelo, ia meletakan baskom di atas meja mengambil handuk dan mulai membersihkan luka di wajah angelo, perlahan mila menyentuh wajah angelo dengan handuk di tangannya, terlihat angelo meringis menahan perih akibat sentuhan air hangat pada kulitnya, mila menyadari ekspresi angelo yang menahan sakit lantas ia mengelap dengan pelan sembari meniup-niup luka di pipinya


deg....deg....deg jantung angelo berdegup dua kali lipat merasakan tiupan mila di tambah aroma khas tubuh mila bulgari rose parfum yang setiap hari mila gunakan, menghiasi indera penciuman angelo membuat dirinya pusing menahan perasaan menggelitik yang hadir memenuhi sekujur tubuhnya


"aish sial" batin angelo


mila tidak menghiraukan ekspresi angelo sama sekali, ia terus melanjutkan membersihkan luka di wajah angelo, setelah selesai mila mengambil plester memasangkannya di sudut bibir angelo serta di bagian pelipis sebelah kanannya


mila tersenyum setelah selesai memasangkan plester pada angelo


angelo merasa tubuhnya terdorong dengan sendiri akibat menahan perasaan menggelitik yang menghantuinya sejak tadi, ia mendorong tubuh mila kini posisi angelo berada di atas mila, matanya menatap mila tanpa ekspresi mila pun sama ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun pada lelaki yang tepat berada di atasnya, wajah angelo mendekat ke arah wajah mila semakin dekat


"ekhm....ekhm" terdengar suara dari arah pintu


angelo menoleh ke sumber suara, suara itu sukses menggagalkan ciuman angelo pada mila padahal jarak antara wajah mereka sudah sangat dekat


terlihat dani berdiri di sana ia menyenderkan badannya di samping pintu dan menyimpulkan kedua tangan di depan dadanya, tersenyum miring menatap angelo yang tidak jadi mencium mila


" Tsk..." angelo berdecak kesal, ia baranjak dari posisinya segera duduk kembali


sedangkan mila wajahnya merah ia malu melihat dani memperhatikan ia dengan angelo entah sejak kapan dani berdiri di sana, mila segera bangkit dari posisinya, ia berdiri menyambut dani dengan wajah merah


"emmm masuk dulu, gue buatin minum" ujar mila sembari berlari meninggalkan dani dan angelo berdua


angelo mengalihkan pandangannya dari dani ia tampak kesal di buatnya, dani tertawa duduk di sampingnya


"hahahaha sorry sorry gue sengaja ngrusak momen lo gel" dani terkekeh


"sial lo dan, awas lo gue bales" ujar angelo menatap marah dani


"hahaha dendaman amat lo jadi anak, eh btw muka lo kenapa bonyok gitu? mana gue hubungi ponsel lo gak nyambung, lo tau bunda lo teleponin gue terus, lu kira gue pengasuh lo apa musti kudu jagain lo 24 jam kudu ngasih tau posisi lo ke bunda terus, ck " dani nyerocos berkepanjangan


"stttt budeg gue kalo di samping lo sumpah dan, bener-bener kaya cewek lu yah crewet banget, untung cewek gue gak crewet, tar gue jelasin di mobil, diem dulu"


"iya iya gue diem" ujar dani


🍁🍁🍁🍁🍁


mila sudah membawa nampan berisi dua gelas minuman untuk angelo dan dani, ia meletakan nampan beserta minuman di atas meja


" terimakasih princess" angelo tersenyum jail dari tempatnya


"pffttt" dani menahan tawanya sembari menutup mulutnya


angelo menoleh ke arah dani melotot, dani langsung paham dengan ekspresi angelo, ia pun diam tapi tetap saja rasanya dani ingin tertawa mendengar panggilan angelo untuk mila, dengan susah payah dani menahan tawanya, wajahnya menjadi merah menahan tawa, mila mencoba bersikap tenang seolah tidak terjadi apa pun padanya bukan karena mila tidak merasakan apa pun jantungnya juga berdegup dengan kencang karena kelakuan angelo tadi, ia juga malu di saksikan dani ia terus menghela nafas beberapa menit lalu di dapurnya sembari menata ekspresi sebelum membawa nampan ke hadapan dani dan angelo....


sampai sini dulu ya, lanjut besok lagi 😘😘😘


jangan lupa berikan dukungan kalian, terimakasih 💙💙💙❤️❤️❤️