
Episode 10
Tuk…tuk…tuk….tuk mila mengetuk-ngetukan sepatunya ke lantai, ia menyenderkan tubuhnya di dinding samping kelasnya, pandangannya menyapu lorong kelas serta halaman sma venus yang mulai sepi karena sudah waktunya untuk pulang, linda sahabatnya sudah meningalkannya dari 10 menit yang lalu, bukan karena ia tidak mau memberinya tumpangan, tapi mila menolaknya, linda tau persis sebab mila menolak ajakannya oleh karena itu linda hanya bisa menerima keputusan mila dan meninggalkannya sendiri
Saat ini mila masih menunggu angelo di samping kelasnya, namun tampaknya angelo tidak kelihatan batang hidungnya sampai sekarang.
“aish lagi ngapain sih nih anak, 10 menit lagi gue tunggu kalau 10 menit gak datang gue tinggal pulang” gumam mila
mila mengeluarkan ponselnya sembari menunggu datangnya angelo, ia terlihat bosan menggu sendiri di sana apalagi suasana sma venus semakin sepi hanya tinggal dirinya dan beberapa anak yang berada di tempat parkir yang lainnya sudah pulang sedari tadi, sejujurnya mila ingin tau apa yang angelo saat ini lakukan, namun lucunya mereka sampai sekarang belum bertukar kontak satu sama lain alhasil jika satu tidak kelihatan maka yang satu cuma bisa menunggu, sedangkan dani pun belum pernah menghubunginya sampai sekarang
mila menghela nafas, ia kembali mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru sma venus namun belum ada tanda-tanda dari angelo akan datang, fikirannya mulai di penuhi rasa khawatir terhadap angelo, mila tau, pasti angelo bolos sejak tadi pagi jika tidak, pasti saat ini ia sudah duduk di mobil bersama angelo dan waktu istirahat pun angelo pasti akan datang menemuinya, nyatanya seharian ini ia tidak menampakan dirinya
sempat merasa marah dengan kelakuan angelo tadi pagi yang sangat keterlaluan, namun saat ini perasaan mila merasa tidak enak mengingat angelo yang notabene ketua geng pasti kehidupannya tidak jauh dari perkelahian ataupun tawuran, setelah lama mila menunggu dengan segala pikiran yang melintas di benaknya ia memutuskan untuk memesan greb lewat ponselnya, namun sebelum ia membuka ponselnya nindy berjalan ke arahnya
"hay mil sendirian aja" ucap nindy yang kini sudah berdiri di depan mila
"eumm, nindy baru selese ikut kegiatan osis ya" mila tersenyum ke arahnya
"iya nih, biasa kan bentar lagi sekolah kita mau ngadain turnamen sepak bola, biasa lah acara tahunan, eh btw angelo dimana? bukannya kalian biasa bersama yah?" ucap nindy tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga
" eh gak nyangka yah seperti baru kemarin rasanya udah mau adain turnamen lagi, gue juga gak tau tuh anak kemana"
"iya waktu emang cepat berlalu gak terasa.hehe eh mila mau pulang bukan? gimana kalau bareng nindy yuk" nindy tersenyum
"eh gak usah nin gue mau pesen greb aja, kalau nindy mau pulang ya udah duluan aja gapapa"
"jangan gitu dong mil, aku sedih loh kalau mila menolak ajakan nindy, ikut ya" ucap nindy memegang tangan mila
"tapi beneran nin gue gak mau ngrepotin lo"
"ihh udah nindy bilangin gak ngrepotin, yuk ikut ya" ajak nindy memaksa
nindy menarik tangan mila membawanya menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu gerbang, nindy bergegas membuka mobilnya dan segera masuk ke dalam di susul mila yang mengikutinya di belakang
"mil rumah kamu dimana ya? nindy kan belum tau" ucap nindy tersenyum
"tapi gue gak mau pulang ke rumah nin, tolong bawa aku ke rumah sakit husada ya"
"eh rumah sakit? siapa yang sakit"
"eummm adik gue nin"
" ya ampun mil, nindy turut sedih ya, semoga adikmu cepet sembuh" ucap nindy memegang tangan mila
"iya terimakasih doanya nin" mila mengangangguk
mobil nindy sudah melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit husada salah satu rumah sakit di daerah jakarta pusat, di dalam mobil nindy terus bertanya pada mila, sikapnya seperti sedang mengakrabkan diri dengannya, mila hanya menjawab pertanyaan yang nindy berikan, sedangkan mila jarang bertanya padanya, fikirannya sibuk sedari tadi pagi, memikirkan angelo dan keluarganya yang berada di rumah sakit
namun ia tetap menghargai setiap apa pun yang nindy tanyakan ataupun bicarakan dengan menjadi pendengar yang baik
tak selang waktu lama mobil nindy sudah berhenti tepat di depan rumah sakit husada
"eh nin udah sampai nih, makasih yah tumpangannya" ucap mila tersenyum
"iya sama-sama, santai aja kali mil, kita kan temen satu sekolah, oia maaf ya mil, nindy gak ikut masuk ke dalam soalnya nindy sudah ada janji dengan mama tadi malam" nindy menunjukan ekpresi bersalahnya
" hmmm gapapa nin, kamu udah nganterin gue sampe sini aja gue udah bersyukur, ya udah kalau gitu gue duluan ya, makasih sekali lagi" ucap mila sembari membuka pintu mobilnya
" iya maaf ya mil, ya udah sampai besok ya, salam buat ayahmu" nindy tersenyum
mila mengangguk dan menutup kembali pintu mobil nindy, ia melambaikan tangan padanya, mobil nindy melaju meninggalkan mila di depan rumah sakit, mila berbalik melangkahkan kakinya untuk memasuki area rumah sakit husada
🍁🍁🍁🍁🍁
sementara itu di dalam mobil nindy,
tampak nindy mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya, ia mengelap tangan yang sudah menyentuh mila beberapa kali, wajahnya terlihat kesal
"pak tolong nanti cuci mobil ini, terus buang sarung tempat duduk yang tadi di duduki anak itu, ganti dengan yang baru" ucap nindy yang masih sibuk mengelap tangannya, mungkin sudah habis sepuluh tisu basah yang ia gunakan
"baik non" supir nindy mengangguk
nindy mendengus sebal ia seperti jijik setelah memegang mila yang berasal dari keluarga miskin, sikap baik yang nindy berikan kepada mila adalah caranya untuk menarik perhatian angelo mungkin dengan cara seperti itu akan membuatnya menjadi dekat dengan angelo, mila hanyalah batu loncatan baginya apa pun akan nindy lakukan jika itu mampu membuat dirinya dekat dengan angelo
🍁🍁🍁🍁🍁
sementara itu mila sudah sampai di ruangan adit, terlihat pak maman masih duduk di samping adit dengan tertidur, mila berjalan mendekat ke arah pak maman
"pak bangun, mila sudah di sini, bapak bisa pulang dulu nanti kesini lagi" ucap mila memegang pundak pak maman
pak maman terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke arah mila, matanya terlihat merah mungkin semalaman ia tidak tidur dan baru saja tertidur beberapa menit yang lalu
"mila sudah pulang? dari kapan?" pak maman mengusap wajahnya
"baru saja pak, ya sudah bapak pulang dulu ya, biar mila yang menjaga disini" mila tersenyum
" ya sudah kalau begitu, bapak tinggal ya, nanti bapak kesini sekalian bawa makanan ya" pak maman beranjak dari duduknya
mila mengangangguk menjawab pertanyaan ayahnya, ia duduk menggantikan dirinya di samping adit yang masih tertidur dengan pulas, pak maman meninggalkan ruangan itu
pandangannya nanar melihat kondisi adiknya saat ini, mila memegang tangan adit di sampingnya lantas menggenggamnya
"dek, kamu bisa mendengar suara kakak kan? kakak mohon bangun ya, kakak sama bapak nungguin kamu disini, kami rindu senyum adek, kakak juga rindu celotehan nakal adek, kakak mohon bangun ya, katanya kamu anak yang kuat, apa kamu bohong sama kakak, apa yang harus kakak lakukan agar kamu bangun" mila mulai terisak dengan kata-katanya
ia terdiam menahan isak tangisnya, menyisakan suara jarum jam yang memenuhi ruangan adit, membuat suasana semakin sesak, mila menunduk memegang tangan adit, air matanya jatuh membasahi tangan adit, namun adit tidak merespon ucapannya, tangannya tak bergerak sedikitpun, ia tetap tidur seakan tidak peduli dengan kondisi kakak dan ayahnya
"dek kakak janji kalau adek bangun, kakak bakal ajak adek jalan-jalan yah, kita jalan-jalan bersama satu keluarga, kakak, kamu, sama bapak ya, kita jalan-jalan ke kampung halaman almarhum nenek ya, kamu mau kan dek?" mila menatap adit dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya namun ia terus memaksakan senyum di bibirnya
ucapan kedua mila sepertinya membuat adit mendengarnya, nampak air mata turun perlahan dari sudut matanya, mila yang melihat itu segera beranjak memanggil dokter untuk memastikan bahwa adiknya baik-baik saja dan mungkin akan tersadar tidak lama lagi, mila memencet tombol panggilan di samping ranjang adit
di luar ruangan mila berdoa di dalam hati, ia mengatupkan kedua tangannya dan memejamkan mata
"ya tuhan berikan kesembuhan untuk adit, sadarkan ia dari komanya, aku mohon berikan harapan untukku dan bapak, apa pun kondisinya kami akan menerimanya tapi tolong sadarkan adit dulu. amin" doa mila dalam hati
ia menunggu dokter keluar dari ruangan adit dengan perasaan cemas, mila duduk di bangku samping ruangan adit menggigit bibirnya untuk sedikit meredakan kecemasan di hatinya
🍁🍁🍁🍁🍁
beberapa menit kemudian, suara pintu terbuka membuat mila menoleh kearahnya, mila segera beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah dokter untuk menanyakan kondisi adiknya
"bagaimana dok dengan kondisi adik saya" ucap mila dengan tatapan cemas
"anda tidak perlu khawatir, kondisi adik anda cukup baik untuk saat ini, mungkin beberapa hari lagi ia akan segera sadar, sering-seringlah berbicara di sampingnya dengan lembut itu akan baik untuknya, saya sudah meresepkan obat untuknya sebentar lagi suster akan datang untuk memberikan" ucap dokter tersenyum menjelaskan
"baik, terimakasih dokter" mila menghela nafas lega
"ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu" ujar dokter sembari membalikan badannya dan berjalan meninggalkan mila
mila segera menghampiri adit, air matanya turun namun senyum menghiasi bibirnya, ada perasaan lega di dalam hatinya
"syukurlah dek, syukurlah Tuhan mendengar doa kakak, kamu harus berusaha ya demi kakak dan bapak ya, kakak percaya adek pasti bisa" ucap mila mengelus rambut adit.
mila kembali duduk di samping adit, matanya terus memandang ke arah adit ia masih berharap adit bisa sadar hari ini, walau sekarang perasaanya sudah lega mendengar kondisinya dari dokter
🍁🍁🍁🍁🍁
cukup lama mila duduk di kursi samping adit hingga pak maman kembali, mila melirik jam dinding yang berada di atas lurus di depannya jam menunjukan pukul 7 malam
"nak makan dulu ya" ucap pak maman sembari menyerahkan nasi bungkus di tangannya
mila mengangguk menerima nasi bungkus dari pak maman, pak maman pun kembali duduk dan segera untuk makan, namun baru saja mila akan menyuap nasi di tangannya
ring....ring....ring, ponselnya berbunyi, mila menghentikan suapannya, ia segera mencari ponselnya, terlihat nomor asing tertera di layar ponsel, perasaanya menjadi tidak enak melihat deretan nomor yang tidak di kenal, tak pikir panjang ia segera mengangkatnya
"hallo, ini siapa yah" ucap mila
"iya hallo ini mila kan, gue dani mil" ujar suara dari ujung telepon
"eh iya ada apa telepon gue"
" gue mau tanya lo jawab yang cepet ya"
"iya kenapa?"
" lo lagi sama angelo apa gak sekarang? kalo iya tolong lo kasih tau dia buat bawa pulang mobil andi sekarang" ucap dani
deg, perasaan mila menjadi sangat tidak enak mendengar ucapan dani
" maksud lo? bukannya dia sama lo ya? dia gak sama gue sekarang"
"sumpah lo mil dia gak sama lo, padahal tuh anak tadi siang bilang mau jemput lo pulang sekolah, ck sial"
"iya buat apa gue bohong sama lo" jawab mila
"ya udah kalau gitu, gue cari tuh anak dulu, gue tutup ya teleponnya"
"eh tunggu, gue ikut"
" gak usah, tar lo bikin gue susah, bisa-bisa gue mati sama angelo kalo tau lo ikut" ucap dani langsung mematikan sambungan teleponnya
mila masih membuka mulutnya yang tidak jadi bersuara karena telepon sudah di tutup lebih dulu sebelum ia sempat berbicara, pak maman nampaknya memperhatikan mila sedari tadi
"ada apa nak?" ucapnya menyentuh pundak mila
"gak ada apa-apa pak, pak sebentar lagi mila pulang ya, hari ini mila merasa tidak enak badan" mila memijit pelipisnya
"ya sudah kalau begitu, tapi kamu makan dulu ya setelah makan boleh pulang"
"bapak gapapa kan mila tinggal"
"iya gapapa, lagian tadi kamu bilang kondisi adit tidak ada masalah kan? jadi bapak bisa sendiri disini, kamu jaga kesehan ya " ucapnya lembut
"iya pak, besok mila kesini lagi, lagian besok kan hari minggu jadi mila bisa kesini agak pagian" ucap mila
mila melanjutkan makannya dengan susah payah, ia terus memikirkan keberadaan angelo yang entah dimana saat ini, mila hanya bisa berharap angelo baik-baik saja
setelah selesai mila pamit pulang kepada pak maman, ia pulang mengendarai greb, setelah menungu
greb yang di pesan mila sudah menunggunya di depan rumah sakit, mila bergegas menuju ke arahnya, dengan cepat greb melaju menembus malam yang lumayan ramai
mila memandang ke samping kaca memperhatikan kerlap kerlip cahaya lampu di sepanjang jalan menuju rumahnya
ia masih memikirkan angelo, masih dengan pertanyaan yang menghiasi fikirannya, tidak tau sampai kapan terjawab
mila terdiam sepanjang perjalanan hingga ia tak menyadari greb yang ia tumpangi sampai di depan kompleknya karena mobil tidak bisa masuk lebih dalam lagi
suara supir greb membuyarkan lamunan mila, ia segera membayar biaya perjalanan yang tertera di aplikasi handponenya
namun ketika mila keluar dari mobil ia melihat ada mobil lain di depan tak jauh dari mobil greb yang di tumpanginya, mobil itu dalam keadaan berhenti mila dapat melihatnya karena mobil itu tersorot oleh greb yang ia tumpangi
pikirannya langsung mengarah pada angelo, dengan sangat cepat mila melangkahkan kakinya menuju rumahnya bahkan ia sampai lari agar segera sampai di rumahnya
anehnya mila tidak menghampiri mobil yang berada di depan tapi ia malah langsung lari menuju rumahnya, hatinya seperti terdorong oleh sesuatu untuk segera pulang ke rumahnya...
Bersambung......😉😉