
Episode 16
Tik…..tok….tik…..tok, sunyi senyap hanya terdengar detakan jarum jam yang memenuhi ruangan angelo saat ini, semua orang yang berada di sana masih diam satu sama lain, dimas menghela nafasnya lantas mengusap wajahnya, ia berjalan menuju sofa tak jauh dari ranjang angelo, dani dan rio masih di tempatnya di samping angelo mereka menatap angelo dengan diam begitu pun dengan mila dan ny.sabrina
mila menoleh ke arah ny.sabrina yang matanya terlihat berkaca-kaca
“bun, duduk dulu ya” ajak mila membimbing tubuh ny.sabrina berjalan menuju dimas untuk duduk di sana
Mila juga ikut duduk di samping ny. Sabrina, hatinya gelisah menatap angelo yang tidak berdaya di ranjangnya, ia menutup matanya lantas menunduk sembari berdoa untuk kesembuhan angelo, untuk kesadaran angelo, ia berusaha menahan air matanya agar tidak turun sembari terus berdoa untuk angelo
🍂🍂🍂🍂🍂
“tan, dani sama rio pamit pulang dulu ya, kami akan kembali ke base camp, besok kami kesini lagi” ucap dani berdiri di depan ny.sabrina dan dimas
Mila membuka mata mendengar ucapan dani, matanya menatap wajah dani dan rio yang masih babak belur penuh luka itu, mila bangkit dari duduknya
“apa sebaiknya kalian juga di obati dulu sebelum pergi, wajah kalian juga seperti itu’ ucap ny.sabrina
“tidak perlu tan, nanti aku bisa obati di rumah” ucap dani
Dani dan rio berpamitan pada ny.sabrina,dimas dan mila, mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan angelo dengan sejuta fikiran yang menghiasi mereka, baru beberapa waktu yang lalu mereka tertawa bersama di dalam base camp bahkan sampai mengharu biru, mereka tidak menyangka kalau angelo akan berahir di rumah sakit, padahal biasanya angelo tidak akan tumbang meski wajahnya sudah tidak berbentuk lagi, di tambah lagi andi yang selama ini bersama dengan mereka juga menghianati geng xtc.
🍂🍂🍂🍂🍂
Mila melirik jam di tangannya, sudah pukul 6 sore, sudah waktunya mila kembali ke ruangan adit, pasti ayahnya sudah mencarinya, karena ia belum kembali sejak pukul 2 siang tadi, tapi mila juga masih ingin menemani angelo, ia ingin melihat angelo membuka mata, keluarganya juga membutuhkannya sekarang, ia masih perlu mengajak adit berbincang seperti yang dokter sarankan agar adit cepat sembuh, pikirnya, mila beranjak dari duduknya ia sudah memutuskan
“bun, maaf mila harus kembali sekarang” ucap mila pelan
Ny.sabrina menoleh, “hmmm mila mau kembali? Ayo bunda antar ya” ny.sabrina berajak dari posisinya
“tidak usah bun, mila gak pulang ko, tapi masih di rumah sakit ini hanya kembali ke ruangan yang berbeda dengan angelo”
“tidak apa, biarkan bunda mengantar ya?”
Mila mengangguk menuruti permintaan ny.sabrina, ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun, fikiran serta hatinya sudah cukup lelah hari ini memikirkan banyak hal, ia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan ny.sabrina
Mila menundukan kepala lantas tersenyum pada dimas, dimas membalas senyumnya, mila berjalan meninggalkan ruangan angelo, ny.sabrina mengikuti di belakang mila
“memang siapa yang sakit mil?” tanya ny.sabrina setelah menutup ruangan angelo
“emmm adik mila bun”
“kalau boleh tau adik mila sakit apa?”
“dia kecelakaan bun, tapi sudah sadar tadi pagi sebelum angelo pergi”
“hmmmm bunda ikut sedih mendengarnya, boleh bunda menjenguk adik mila?” ny.sabrina menyentuh pudak mila
Mila mengangguk, cukup lama mereka berjalan ahirnya mereka sampai di depan ruangan adit, mila membuka pintu, terlihat pak maman yang sedang duduk di samping adit menoleh mendengar suara pintu terbuka, ia segera beranjak dari duduknya, pandangannya menangkap sesosok wanita di samping mila, ia cukup terkejut melihat majikannya berdiri di samping mila
“eh pak maman ko ada disini” ucap ny.sabrina begitu melihat pak maman
“iya bun, ini ayah mila dan itu adit adik mila” mila mengenalkan ayahnya
“maaf nyonya ada yang bisa saya bantu?” ucap pak maman, ia merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini tidak bekerja di rumah angelo, walaupun ia sudah meminta izin sebelumnya
Mila berjalan meninggalkan ayahnya dan ny.sabrina berbincang, ia mendekat kearah adit yang tertidur di ranjangnya, pandangan mila langsung berubah saat melihat adit yang memejamkan matanya, ia ingin adit segera sembuh
“tidak ada pak, saya kebetulan tidak sengaja bertemu dengan mila ketika melihat anak saya, ternyata pak maman ayahnya mila ya, pantas saja mila tumbuh menjadi gadis yang baik” ny.sabrina tersenyum
“nyonya bisa saja memujinya, apakah terjadi sesuatu, hingga nyonya berada di sini?”
“hmmmm bukan masalah besar sebenarnya, hanya angelo mengalami sedikit insiden hingga ia harus di rawat di rumah sakit” ny.sabrina menghela nafas
“saya ikut sedih mendengarnya, mari silakan masuk dulu nyonya”
Ny.sabrina tersenyum lantas berjalan menuju mila yang sudah duduk di samping ranjang adit, ia menyentuh pundak mila, mengusapnya dengan lembut, mila menoleh lantas mengangguk dan tersenyum padanya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Cukup lama ny.sabrina berada di ruangan adit, ia juga banyak berbincang dengan pak maman, pak maman mengatakan belum bisa masuk kerja untuk beberapa hari di rumah angelo, sebenarnya cukup beruntung pak maman bekerja dengan ny.sabrina bagaimana tidak ny.sabrina orang yang sangat baik, ia selalu mengerti kondisi para pekerja di rumahnya, jika mereka ijin dengan jelas maka ia akan memberikan ijinnya, itu yang membuat para pekerjanya betah bekerja dengannya, begitu juga dengan pak maman ia bekerja di rumah angelo sudah sekitar 10 tahun lamanya, ny.sabrina sangat mengenal pak maman dengan baik karena itu, saat pak maman meminta izin padanya untuk tidak bekerja beberapa hari dan menjelaskan apa yang terjadi ia langsung memberi pak maman uang untuk meringankan biaya rumah sakit, namun pak maman masih belum mengetahui kapan ia akan mulai bekerja kembali di rumah angelo
ia juga pernah meminta izin untuk keluar dari pekerjaanya, namun ny.sabrina melarangnya, ia lebih memilih mengizinkan pak maman untuk tidak berangkat dulu, sebagai gantinya pekerjaan pak maman di kerjakan seseorang yang juga bekerja cukup lama di keluarga angelo, karena ny.sabrina tidak mau menerima sembarang orang untuk menggantikan pekerjaanya, pak maman bersyukur akan hal itu ia di berikan majikan yang sangat baik, siapa sangka putrinya berpacaran dengan putra keduanya namun pak maman merasa tidak enak akan hal itu, ia merasa angelo dan mila tidak seharusnya berpacaran, namun pak maman juga tidak bisa melarang mila, ia berusaha memahami sisi anak remajanya yang masih dalam proses pencarian jati dirinya itu
Jika pak maman berfikiran seperti itu lain halnya dengan ny.sabrina yang sudah menyukai mila sejak pertama mereka bertemu, hasratnya sebagai seorang ibu untuk memiliki seorang putri setidaknya dapat terpenuhi dengan adanya mila, ia tidak keberatan dengan hubungan putranya dan mila selama mereka dapat menjaga diri dengan baik, tapi tn.william ayah angelo belum mengetahui perihal hubungan putra keduanya dengan mila karena ia masih berada di luar kota untuk perjalanan bisnisnya, ny.sabrina sengaja tidak menghubungi suaminya perihal angelo berada di rumah sakit, takutnya ia akan marah namun jika nanti ia pulang, angelo sudah keluar, ny.sabrina berniat akan menjelaskan dengan baik, pasti ayah angelo akan memahaminya
setelah hampir 1 jam mereka berbincang, ny.sabrina berpamitan untuk kembali ke ruangan angelo, ia beranjak dari tempat duduknya menghampiri mila yang masih duduk di samping adit
“sayang, bunda kembali dulu ya, mila boleh ke ruangan angelo kapan pun mila mau” ucapnya lembut menyentuh pundak mila
“iya bunda, terimakasih sudah mengantar mila” mila tersenyum, lantas beranjak dari duduknya
“hmmm, ya sudah bunda pamit dulu ya, mila jaga diri baik-baik jangan sampai ikut sakit” ny.sabrina memeluk mila mengusap rambutnya
“baik, pak maman saya pamit dulu, semoga putra bapak cepat sembuh, kapan pun bapak mau kembali bekerja dengan saya silakan datang ke rumah ya pak, saya akan menantikan itu, selamat malam” ucap ny.sabrina tersenyum sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan adit
Pak maman mengangguk, mila juga tersenyum menatap ny.sabrina yang baru saja menutup pintu ruangan adit, pak maman mendekati mila
“ nak begini, bapak tidak melarang kamu mempunyai hubungan dengan den angelo, tapi bapak minta kamu jaga diri baik-baik, jangan mengecewakan bapak atau nyonya sabrina, mila tau kan bapak sudah bekerja bersama mereka 10 tahun lamanya, bapak merasa tidak enak akan itu, bapak tidak mau mereka berfikir kalau keluarga kita menggunakan kebaikan mereka dengan cara mendekati putra kedua mereka, mila paham maksud bapak?” ucap pak maman menatap mila
“iya pak mila paham, mila hanya berteman dengan angelo kok tidak lebih dari itu, bapak tenang saja, mila pasti akan jaga diri baik-baik” mila tersenyum
“ya sudah kalau begitu, bapak percaya dengan mila” pak maman tersenyum
“baiklah, bapak keluar dulu sebentar ya, mila belum makan kan? Bapak cari makanan dulu, tolong mila jagain adik dengan baik” pak maman menambahkan
Mila mengangguk menjawab pertanyaan pak maman, pak maman segera meninggalkan ruangan adit meninggalkan mila bersamanya, mila berbalik badan setelah menatap kepergian pak maman, ia menghela nafasnya lantas kembali duduk di samping adit
Ia memandang adit kembali, rasanya sangat sunyi hanya ada detak jarum jam, dan suara hewan malam di luar ruangan adit yang menemani mila saat ini, ia memegang tangan adit
“dek, kamu bisa mendengar kakak? Maafkan kakak meninggalkan kamu cukup lama tadi, kakak sangat sedih melihatmu, tapi kakak juga merasa bersyukur adek sudah sadar, kakak berharap adek cepat sembuh yah, kita jalan-jalan nanti jika adek sudah keluar dari rumah sakit, kakak janji “ air mata yang sudah mila tahan selama di ruangan angelo ahirnya jatuh juga
Adit membuka matanya mendengar ucapan mila, terlihat air mata turun di sudut matanya, mila tertunduk sembari memegang tangan adit
“ma…maaf” ucap adit lirih
Mila mengangkat wajahnya mendengar ucapan adit, ia menatap lekat-lekat wajah adiknya, air matanya turun kembali lebih deras dari tadi
“gak, ini bukan salah adek, adek gak perlu minta maaf ya, tugas adek saat ini cuma satu cepat sembuh ya, kakak menunggu sama bapak” mila tersenyum di tengah tangisnya
Adit mengangguk pelan menjawab pertanyaan mila, melihat adit yang merespon ucapan mila serta ia juga sudah bisa berbicara walaupun masih lemah, mila segera menekan tombol di samping ranjang adit, ia memanggil dokter untuk memeriksa adit
Beberapa menit kemudian dokter datang bersama dengan suster di sampingnya, tangannya cekatan memeriksa adit, mila memperhatikannya tak jauh dari ranjang adit, dokter membiarkan mila tetap tinggal di ruangan adit melihatnya memeriksa kondisi adit
“bagaimana keadaan adik saya dok” ucap mila menatap dokter setelah ia selesai memeriksa adiknya
“anda tidak perlu khawatir, kondisi pasien saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya, jika besok ia sudah bisa berbicara dengan baik maka tidak lama lagi ia akan segera sembuh, tetap berdoa pada Tuhan untuk itu” ucapnya tersenyum
“syukurlah, terimakasih dok” mila tersenyum
Dokter mengangguk sembari meninggalkan ruangan adit, mila menutup mulutnya berjalan menghampiri adit, ia menangis haru mendengar ucapan dokter
“kamu dengar dek apa kata dokter barusan? syukurlah dek, kakak senang mendengarnya, adek berjuang yah, kakak akan membantu dengan mendoakan untuk kesembuhan adek” mila mengusap rambut adit
Adit mencoba tersenyum dengan air mata yang menghiasi sudut matanya, ia juga merasa lega mendengar kondisinya, mila masih mengelus rambut adit dengan tersenyum
Ring….ring….ring ponselnya berbunyi, mila segera mendekati suara ponselnya yang ia letakan di dalam tas di atas meja tak jauh dari ranjang adit, ia meraih ponsel itu, linda tertera di layar ponsel mila
Tut…” hallo” ucap mila
“hallo mil, lagi ngapain lo? Bagaimana dengan kondisi adik lo?” tanya linda
“hmmmm gue masih di rumah sakit nih, kondisi adik gue udah mendingan lin”
“syukurlah kalau begitu mil, gue ikut seneng dengernya, besok gue ikut lo jenguk adek lo ya”
“oke gampang kalau itu, eh lo ada apa telepon gue malam-malam?” mila menghempaskan tubuhnya ke sofa
“hmmm gak ada apa-apa sih mil, gue cuma pengen telepon lo aja, eh btw gimana hubungan lo sama si preman?”
“euhmmm entahlah lin gue gak tau” mila menghela nafas
“ kok gitu, emang tuh preman masih kasar sama lo apa?”
“eummm gak sih dia udah lebih baik dari sebelumnya, tapi gue lagi sedih lin”
“lo sedih kenapa? Emang minta di tabok tuh si preman yah”
“eh bukan-bukan, dia gak nyakitin gue kok, cuma dia sekarang juga lagi di rawat di rumah sakit”
“hah ko bisa? Emang hari ini kalian gak ketemu apa gimana?”
“iya gue gak tau sih tepatnya, tapi kata si dani, tuh anak biasa lah berkelahi, lukanya cukup parah jadi dia pingsan terus di bawa ke rumah sakit sama dani, gue juga kaget waktu liat mereka, kita sempet ketemu kok tadi pagi, dia malah nganterin gue liat adit, eumhhh gue gak tau lagi lah lin” mila menatap langit-langit di atasnya
“oalah sabar mil, besok gue jemput lo berangkat sekolah ya, pulangnya sekalian nengok adek lo”
“hmmmm” jawab mila
“ya udah kalo gitu, lo istirahat besok sekolah, jangan sampe lo ikutan di rawat di situ, bye mil”
“idih amit-amit lin, jangan sampe, ya udah kalau gitu byee juga lin” ucap mila sembari memutus sambungan telepon
Mila menghela nafas meletakan lengan menutupi wajahnya, ia memejamkan mata menenangkan perasaan yang menumpuk sedari pagi tadi, ia merasa lelah akan hal itu hingga ia tidak sadar tertidur dengan posisi duduk menyenderkan kepalanya di sofa