
Episode 15
Duk….duk….duk suasana gemuruh terdengar dari langkah kaki beberapa orang sembari mendorong brankar dari arah pintu utama rumah sakit
Mila yang sedang berada di luar ruangan adit menoleh mendengar suara gemuruh yang menuju ke arahnya, pandangannya menatap sesosok yang ia kenal di samping kanan brankar, ia terkejut melihat dani dan rio berada di sana, tatapannya langsung menuju sesosok yang berada di atas brankar
“apa yang terjadi” mila menutup mulutnya melihat angelo terbaring melewatinya, mila menarik tangan dani segera saat ia melewati dirinya
“ada apa? Angelo kenapa?” tanya mila khawatir
“gapapa, lo tenang aja, angelo gak bakal kenapa-napa” ucap dani menenangkan, ia juga tidak bisa menutupi tatapan kekhawatiran di matanya
Rio mengantar angelo di temani beberapa suster di samping kiri kanan brankar, tampak suster tidak memperbolehkannya untuk ikut masuk bersama mereka, rio mengusap wajahnya setelah pintu ruangan di depannya tertutup
Mila dan dani menghampirinya
“apa yang terjadi?” tanya mila kemudian memecah suasana tegang
Tidak ada yang menjawab pertanyaanya, dani dan rio diam menatap ruangan di depannya, mila hanya bisa menghela nafas pertanyaanya tidak di jawab oleh mereka berdua
“kita duduk aja yuk nunggunya” mila menyentuh pundak dani dan rio, ia mencoba bersikap tenang
Mereka mengikuti saran mila untuk duduk di samping ruangan angelo, dani menundukan kepala, sedangkan rio menyenderkan kepalanya menatap langit-langit di atasnya, hanya deru nafas mereka yang terdengar memenuhi telinga mila, mereka seperti mengatur nafasnya untuk tetap tenang menunggu dokter memeriksa angelo
Mila mengatupkan kedua tangan lantas memejamkan matanya, ia berdoa
“ya Tuhan aku mohon berikan yang terbaik untuk angelo, semoga tidak terjadi masalah yang serius dengannya, cepat sadarkanlah ia. Amin”
Ceklek…….mila membuka matanya setelah ia selesai berdoa lantas menoleh setelah mendengar suara pintu terbuka, dani dan rio sudah berdiri di depan pintu
“bagaimana kondisi teman kami sus” tanya dani khawatir
“begini siapa di sini yang mempunyai golongan darah AB, bisa tolong ikut saya kondisi pasien sangat buruk untuk saat ini, ia butuh tranfusi darah secepat mungkin, stock golongan darah AB di rumah sakit ini sedang kosong” ucap seorang wanita mengenakan pakaian serba putih menatap mereka bertiga
“golongan darah saya AB sus, biar saya saja yang mendonorkan darah untuk pasien” mila menjawab pertanyaan suster
“baik kalau begitu, silakan nona ikut saya ke ruangan sebelah”
Suster berjalan melewati dani dan rio, mila mengikuti di belakang, ini pertama kalinya mila mendonorkan darahnya untuk seseorang, sebenarnya ia takut dengan jarum suntik, tapi sekarang ia dengan mantap melangkahkan kakinya mengikuti suster, ia sudah membuang jauh-jauh rasa takut di hatinya, sudah bukan waktunya lagi untuknya merasa takut jika itu untuk menyelamatkan seseorang yang baru ia akui di dalam hatinya
🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa menit kemudian mila sudah selesai mendonorkan darahnya, ia keluar bersama dengan suster yang tadi membawanya, mila melihat lengannya yang baru saja di tusuk jarum, sedikit ngilu ia rasakan di sana
Suster berjalan dengan cepat di depan menuju kembali ke ruangan angelo, mila berhenti tepat di samping dani dan rio yang masih berdiri di depan pintu ruangan
Tuk….tuk….tuk, terdengar langkah kaki menuju ke arah mereka, mila menoleh, ia dapat melihat seorang wanita mengenakan terusan berwarna biru muda, berambut pendek mila menaksir umur wanita itu sekitar 40 tahunan, ia berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arahnya bersama dengan seorang cowok yang cukup tampan ia mirip dengan angelo, dani segera menyambut mereka
berdua
“bagaimana ke adaan angelo” ucap wanita itu
“saya belum tau tan, yang saya dengar dari suster, angelo kehilangan banyak darah, suster baru saja meminta salah satu dari kami untuk mendonorkannya” dani menjelaskan
“mengapa bisa terjadi seperti ini, kamu bisa menjelaskan pada saya” ucap wanita itu menatap dani
Dani mengajaknya untuk duduk tak jauh dari mila dan rio, mereka berdua masih diam memperhatikan dani dan dua orang yang baru saja datang, mila tidak berani bertanya untuk saat ini begitu juga dengan rio, mila hanya berfikir mungkin itu ibu dan kakaknya angelo sembari mendengarkan penjelasan dari dani
“begini, saya tidak tau persis kenapa angelo bisa berahir seperti sekarang,yang saya dengar darinya beberapa waktu yang lalu, ia di hadang beberapa orang sebelum ia sampai di base camp kami, ia tidak menceritakan kronologis lebih jelasnya pada saya tan” ujar dani menjelaskan
“saya sudah memperkirakan, pasti akan datang kondisi seperti ini, saya sudah melarang beberapa kali untuk ia berhenti dari kegiatan yang mengancam dirinya, namun ia tidak pernah menghiraukan permintaan saya” wanita itu mulai terisak
“sudah bun jangan menangis, angelo pasti baik-baik saja, kita percayakan sama dokter” ucap cowok yang berdiri di sampingnya menyentuh pundak wanita di depannya, ia menenangkan wanita itu
Cowok itu menatap ke arah mila dan rio yang tak jauh dari posisi mereka, dani menyadari tatapan dari kakak angelo, lantas ia berdiri menghampiri mila dan rio
“oia bang, kenalin ini rio teman satu geng aku dan angelo, dan yang di sampingnya mila pacar angelo” dani memperkenalkan rio dan mila
Rio mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya
“hallo aku rio teman satu kelas angelo dan dani sekaligus anggota dari mereka” ucapnya
“emmm iya hallo juga, aku dimas abang angelo, dan ini bunda kami” dimas menjabat tangan rio sembari menoleh ke arah ibunya
Mila mengangguk saat dimas menatapnya, ia ragu untuk mengulurkan tangannya
“hallo saya mila, teman angelo” ucapnya tersenyum
“aku dimas, salam kenal ya, oia terimakasih kalian udah bawa angelo ke rumah sakit” ucapnya tersenyum
Ny.sabrina menoleh ketika mendengar suara mila, ia menatap gadis cantik yang tak jauh darinya, mila sadar dirinya sedang di perhatikan olehnya, mila tersenyum lembut membalas tatapan ny.sabrina
Ny.sabrina bangkit dari duduknya ia berjalan ke arah mila tersenyum padanya lantas menyentuh pudaknya
“nak mila ya, bisa ikut saya sebentar” ucapnya lembut
Mila mengangguk, mengikuti langkah ny. Sabrina yang membawanya ke taman samping rumah sakit, ia duduk di kursi panjang yang ada di sana
“duduk sini nak” ny.sabrina menyentuh kursi di sampingnya, tersenyum
Mila tampak ragu untuk melangkahkan kakinya, ini baru pertama kali mila berkenalan dengan ibu dari pacarnya, wajar saja jika ia merasa sungkan, tampaknya ny.sabrina menyadari akan hal itu ia melihat dari tingkah laku mila yang tetap diam di tempat
“tidak apa-apa, ayo sini nak, bunda ingin mengenal mila, boleh” ia tersenyum menatap mila
Mila melangkahkan kakinya perlahan lantas duduk di sampingnya, ia tampak canggung duduk di samping ny. Sabrina, mila menunduk sembari menggenggam tangannya yang ia letakan di atas pangkuan
“begini, bunda ingin bercerita sedikit tentang angelo, maukah kamu mendengarnya?” ny.sabrina menyentuh pundak mila
“tapi sebelum itu, bunda mau tanya sejak kapan mila sama angelo berpacaran?”
“mila hanya berteman dengannya tan” ucap mila lirih
“panggil saya bunda saja ya, bunda tau kalian berpacaran, tak apa jika mila tidak mau mengakuinya, bunda tidak akan memaksanya”
“bukan begitu tan, eh bun, iya kami memang berpacaran tapi mila lebih berfikir kami seperti teman dekat tidak lebih dari itu” mila menjelaskan
“tidak masalah jika kalian berpacaran, bunda hanya minta jaga diri mila baik-baik ya, jangan sampai kalian berpacaran kelewat batas, mila paham maksud bunda”
“baik bun” mila mengangguk
“ hmmmm, bukan berarti bunda tidak percaya dengan angelo, walaupun dia anak yang nakal, sering bolos sekolah, tidak mendengarkan ayahnya, sikapnya sangat buruk tapi angelo sebenarnya anak yang baik, ia tidak akan pernah berbuat sesuatu yang buruk bahkan sampai melukai seorang perempuan, bunda tau persis akan hal itu,
tau kah mila, ini rahasia yah, angelo kalau di rumah sebenarnya anak yang manja jika sudah bertemu dengan saya, ia akan menjadi seperti anak kecil lagi, sebenarnya bunda senang jika angelo seperti itu, tapi bunda juga sedih jika angelo berkelahi terus-terusan seperti sekarang, bunda tidak pernah melarang dia melakukan sesuatu hanya saja bunda takut terjadi sesuatu dengan angelo jika ia terus berkelahi seperti sekarang” ucapnya, matanya berkaca-kaca
“maaf bun kalau mila lancang, sebenarnya mila juga ingin sekali melarang angelo untuk berhenti, tapi mila tidak bisa memaksanya untuk itu, kami baru saja kenal belum lama, mila juga masih belum terlalu mengenal angelo"
"tidak masalah nak, bunda tidak menyuruh mila untuk melarang kegiatan yang angelo lakukan, mungkin angelo akan berubah suatu saat nanti, bunda senang bisa mengenal mila" ny.sabrina tersenyum menyentuh pundak mila
" mila juga senang bisa mengenal bunda, angelo beruntung bisa memiliki bunda yang sangat baik" mila menghela nafas, pandangannya lurus ke depan
"hmmm, bukankah mila pun sama memiliki bunda yang baik, pasti bunda mila lebih baik dari saya, ia berhasil membesarkan anak yang baik dan cantik seperti mila"
"tidak bun, mila juga tidak tau bunda ada dimana, eh maaf bun, tidak seharusnya mila berbicara tentang diri mila" ucap mila matanya berkaca-kaca
" tidak apa-apa nak, mila juga boleh menganggap bunda jadi bundanya mila, bunda juga pengen punya anak perempuan, mila mau jadi anak bunda"
mila menoleh menatap mata sayu ny.sabrina, ia tidak percaya dengan ucapannya, baru pertama kali mereka bertemu tapi rasanya hati mila di selimuti perasaan hangat, rindu yang pernah ia rasakan saat bersama ibunya, air mata turun begitu saja tanpa mila sadari
"mila boleh memeluk bunda" ucapnya kemudian
"tentu saja nak, sebanyak yang mila mau" ny.sabrina meregangkan tangannya bersiap menerima pelukan dari mila
mila memeluk ny.sabrina dengan erat, ny. sabrina mengelus punggung mila dengan lembut,perasaan sedih,hangat, rindu bercampur menjadi satu di dalam hati mila, membuat air matanya terus turun tanpa bisa ia hentikan
"seperti inikah rasanya, jika gue bisa memeluk ibu lagi" batin mila, masih dalam pelukan ny.sabrina
" menangislah nak, jika itu bisa membuatmu lebih tenang, bunda ada di sini"
mila mengangguk, isak tangis mulai terdengar darinya, rasa dingin di hatinya mulai luntur bersama dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, mila bersyukur bisa mengenal angelo, walaupun awalnya mereka berkenalan secara tidak baik, tapi sekarang mila tau bagaimana angelo yang sesungguhnya setelah ia mengenal ny.sabrina
🍂🍂🍂🍂🍂
sumilir angin menemani mila dan ny.sabrina di samping taman rumah sakit, mila melepaskan pelukannya dari ny.sabrina setelah cukup lama ia memeluk ny.sabrina, mila tertunduk di depan ny.sabrina, ia sudah merasa lebih tenang setelah lama menangis
"mila sudah merasa lebih enak?" ucapnya
mila mengangguk menjawab pertanyaan ny.sabrina lantas mengangkat wajahnya secara perlahan, wajah mila memerah akibat ia terlalu lama menangis
"terimakasih bunda" ucap mila lirih
"hmmmm, mila jangan berterimakasih ya, tidak ada kata terimakasih diantara ibu dan anak, mila mengerti"
mila tersenyum mendengarnya, betapa beruntungnya mila dapat mengenal ny.sabrina apalagi ny.sabrina sangat baik dan lembut
"udah, udah jangan nangis lagi ya, nanti bunda ceritakan masa kecilnya angelo ya, bunda yakin kamu pasti tertawa mendengarnya, kalau angelo berbuat sesuatu sama mila, bilang bunda ya" senyum menghiasi wajah ny.sabrina
ny.sabrina menceritakan masa kecil angelo, saat angelo berumur 1 tahun sampai ia remaja seperti sekarang, dimana angelo kecil selalu menempel pada dimas, kalau tidur pun jika belum di temani dimas ia tidak akan tidur dan cerita-cerita lucu angelo yang lainnya
mila antusias mendengar ceritanya, ia tertawa bersama ny.sabrina,
Mereka terlihat lebih dekat dari sebelumnya,
🍂🍂🍂🍂🍂
Ring….ring….ring, ponsel dari arah ny.sabrina berbunyi, ny.sabrina mencari benda itu di dalam tasnya
Tut….” Hallo ada apa nak?” ucap ny sabrina
“bunda dimana? Bunda ke ruangan angelo ya, dokter baru saja keluar” ujar suara dari ujung telepon
“baik kalau begitu, bunda kesana sekarang” ucap ny.sabrina sembari memutuskan sambungan telepon
Ny.sabrina menoleh ke arah mila yang sedari tadi memperhatikannya
“ayo kita ke dalam, dimas tadi telepon bunda katanya dokter baru saja keluar dari ruangan angelo” ajak ny.sabrina sembari bangkit dari duduknya
🍂🍂🍂🍂🍂
Ny.sabrina berjalan menuju ruangan angelo kembali, bersama dengan mila, di perjalanan menuju ruangan angelo ny.sabrina dan mila masih berbincang banyak hal, mereka masih mengakrabkan diri satu sama lain
Tak selang waktu lama mereka sampai di depan ruangan angelo, dimas menunggu di depan pintu ruangan sedangkan rio dan dani sudah berada di dalam ruangan angelo, mila tersenyum menyapa dimas lantas mereka memasuki ruangan angelo
Terlihat angelo berbaring memejamkan matanya, wajahnya sudah bersih dari sebelum ia memasuki ruangan, ada perban di kepalanya serta selang infus yang tertanam di tangannya, mila mendekat ke arahnya, ia diam melihat wajah angelo, ny.sabrina pun sama ia hanya diam memandang wajah putranya, tidak ada yang berbicara di ruangan itu mereka sibuk dengan fikiran mereka masing-masing dengan terus memandang angelo
Senyum jail yang biasa mila lihat tidak ada lagi di wajah angelo, hati mila menjadi sesak melihat keadaan angelo yang seperti itu, firasatnya sudah tidak enak sesaat sebelum angelo meninggalkannya tadi siang, tapi ia pun tidak bisa untuk menahan angelo untuk tetap bersamanya.
Mila menggigit bibir bawahnya menahan air mata yang sebentar lagi turun membasahi pipinya, ia tidak mau menangis lagi setelah ia menangis terlalu lama bersama ny.sabrina tadi, mila menghela nafas untuk menenangkan hatinya.
author's: hay semua pembaca setia, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya, semoga kalian suka
jangan lupa berikan vote serta like kalian ya untuk terus mendukung saya. terimakasih banyak 💙💙💙❤️❤️❤️❤️