my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 68



Episode 68


Ramai lalu lalang terlihat memenuhi area rumah sakit, saat ini waktu telah menunjukan pukul 10.00 WIB, mila sudah bersiap untuk pulang hari ini, ia membantu ayah dan adiknya untuk beres-beres, sedangkan adit sudah berganti pakaian dengan rapi, ia duduk di ranjangnya memperhatikan ayah dan kakaknya berbenah.


Di tengah kesibukan mila, adit tiba-tiba bertanya “ kak, mmmm, aku mau nanya” ucapnya ragu


Mila menghentikan kegiatannya yang tengah memasukan pakaian ke dalam tas besar, lantas menoleh memperhatikan raut wajah adit yang tampak ragu.


“ hmmm, tanya apa dit? Kakak sambil beres-beres yah “ ucapnya, memulai memasukan baju kembali


Adit diam beberapa saat sembari menimang-nimang dengan apa yang akan ia tanyakan


“ mmmmm, kak, bagaimana keadaan kak angelo sekarang “ tanyanya ragu ia terus menunduk, sebenarnya adit tau angelo saat ini lupa ingatan, ia mendengar beberapa kali percakapan kakaknya dan rio beberapa saat lalu


Mila terdiam menghentikan kegiatannya, menoleh secara perlahan melihat adiknya, tetapi adiknya masih menunduk di tempatnya sembari memainkan jari jemarinya


Mila menghela nafas pelan, “ ada apa dit kamu tiba-tiba bertanya seperti itu pada kakak? “


Adit menggeleng, tidak apa-apa kak, hanya, aku ingin bertemu dengan kak angelo, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sebelum kita pulang ke rumah “ ucapnya pelan


“ seharusnya tanpa kaka beri tahu kamu pasti sudah tau kabarnya kan, jadi untuk apa kamu menemuinya, toh percuma saja, dia tidak akan mengenalmu “ ucapnya, terlihat sangat jelas di kedua manik kelam milik mila begitu tampak kesedihan yang mendalam


“ aku tau kak, tapi apa salahnya jika aku ingin menemuinya sekedar ingin tau bagaimana kabarnya “


Merasa situasi di ruangan berukuran sedang itu mulai menegang, pak maman langsung menengahi percakapan antara putra dan putrinya,


“ sudah, sudah, ada apa ini ?” tanyanya sembari berjalan menuju mila lantas mengelus lembut pundak putrinya itu


Mila menoleh memperhatikan wajah teduh ayahnya, “ gak papa pak “


“ hmmm, bapak tau kamu sedang ada masalah sama den angelo, tapi jangan sampai kamu menjauhinya seperti sekarang ini, biarkan saja adit menjenguknya, terserah kamu mau menemaninya atau tidak itu hak kamu, bapak tidak ingin anak bapak seperti ini, semua masalah pasti akan ada jalannya meski itu membutuhkan waktu yang cukup lama, namun kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus menghadapinya dengan hati yang lapang bukan menghindarinya, kamu paham kan nak maksud perkataan bapak “ ujarnya tersenyum lembut


Mila mengangguk paham. Pak maman mengelus lembut rambut mila, lalu ia berjalan menuju adit berada, duduk di sampingnya.


“ untuk adit, bapak tau adit sudah besar sekarang, sudah tidak pantas juga bapak menasehati jagoan bapak satu-satunya, bapak tau adit pasti sudah paham mana yang salah dan benar kan? Namun bapak hanya ingin berpesan untuk jagoan bapak, selesaikanlah masalah yang sedang hatimu hadapi saat ini, lebih cepat lebih baik, minta maaflah jika kamu merasa bersalah, jangan gengsi untuk meminta maaf, sudah sepatutnya kita rendah hati dan selalu memandang ke bawah, adit paham maksud bapak ?”


Adit mengangguk masih dalam posisi tertunduk, sejujurnya hatinya saat ini di liputi rasa bersalah, ia juga sangat menyayangkan atas tingkah lakunya yang sudah sangat keterlaluan kepada angelo selama ini, ia baru menyadari bahwa angelo benar-benar orang yang sangat baik meski ia seorang ketua geng, ia sudah salah paham dengan angelo, hatinya telah di butakan dengan penampilan angelo yang begitu urakan, ia juga sempat di palak oleh beberapa orang dan mengira mereka anggota geng angelo, namun sekarang adit berfikir, mau itu anggota geng angelo atau bukan, sikapnya sudah sangat keterlaluan beberapa waktu lalu.


Ia harus meminta maaf dengan baik-baik pada angelo, mungkin sekarang sudah terlambat untuk dirinya meminta maaf pada angelo tapi tidak ada kata terlambat untuk kata maaf meski angelo sudah tidak mengenalinya lagi, ia juga merasa sedih sudah memendam rasa bersalah selama satu mingguan ini, melihat kakaknya yang murung lebih membuatnya merasa sedih lagi, adit sudah bertekad dengan hati yang sangat yakin, meski ia nanti di usir oleh angelo sekalipun permintaan maafnya harus sampai pada angelo, syukur-syukur ia bisa meyakinkan angelo tentang kakaknya, siapa tau ia bisa mengingat walaupun sedikit. Begitu pikirnya


“ ya sudah sekarang kita beres-beres, bapak pulang dulu juga gak papa, nanti adit sama kakak nyusul, bapak minta tolong panggilkan greb saja “ ucap pak maman memecah keheningan sesaat yang terjadi di ruangan itu


Pak maman tau, butuh waktu untuk putra dan putrinya menyelesaikan masalahnya, oleh karena itu ia memberikan sedikit waktu untuk mereka agar masalah mereka cepat selesai.


🍂🍂🍂🍂🍂


Mila mengangguk, ia langsung memesankan greb untuk ayahnya, setelah mendengar nasehat dari ayahnya, mila memang menjadi pendiam dari sebelumnya, mungkin di dalam hatinya tersimpan banyak hal yang harus ia selesaikan bersama dengan angelo.


🍂🍂🍂🍂🍂


Di ruang angelo,


Angelo tengah duduk bersandar sembari menikmati cahaya mentari pagi, sedangkan dani dan rio entah pergi kemana, sejak angelo bangun dari tidurnya, ia tidak mendapati dua curut itu di ruangannya, tapi itu tidak masalah bagi angelo, fikirannya simple, mungkin saja dani dan rio sedang sarapan di kantin saat ini. Begitu pikirnya


Angelo menghela nafas pelan, masih di posisinya menikmati lalu lalang orang-orang di taman samping rumah sakit, memang dari ruang rawat inapnya ia mampu melihat dengan jelas setiap aktifitas yang terjadi di luar ruangannya itu.


“ aishhh, bosan. Kemana sih dani sama rio, gue juga pengen jalan-jalan sebentar kali, gue juga pengen makan-makanan kantin juga “ gerutunya masih di posisinya


Cukup lama angelo hanya berdiam diri di tempat, ahirnya dia memutuskan untuk jalan-jalan ke luar sendirian, tidak peduli akan di marahi dimas atau pun di recoki dani dan rio.


Lantas angelo mulai meletakan satu kakinya ke lantai, bersiap untuk berdiri, namun baru dua kakinya menyentuh lantai, belum sempat ia berdiri, seseorang dari arah luar ruangannya mengetuk pintu


Angelo mendongak, “ masuk aja, tidak di kunci “ ucapnya dengan nada sedikit keras dalam hatinya ia sambil berfikir, siapa yang datang ke ruangannya, kalau dani dan rio tidak mungkin, sebab mereka berdua tidak akan pernah mengetuk pintu jika datang.


Angelo menunggu dengan sabar, siapa orang yang bertamu ke ruangannya setelah satu minggu ia di rawat di sana.


Perlahan pintu terbuka, menampilkan dua sosok yang tidak asing di penglihatannya namun ia tidak dapat mengenali siapa mereka, ada perasaan sesak yang menjalari hatinya saat melihat salah satu dari mereka.


Adit dan mila lah yang datang mengunjungi angelo saat ini, adit tampak ragu tapi ia masih tetap berjalan mendekat ke arah angelo di ikuti mila di belakangnya


“ ada perlu apa? “ tanya angelo langsung pada adit


Mila hanya diam saja di belakang adit, ia tak mampu berkata-kata, walaupun sebelum sampai di ruangan angelo, kata-kata sudah ia rangkai, begitu sampai di ruangan angelo entah pergi kemana mereka semua, mendadak pikirannya kosong begitu menatap wajah angelo yang menatap wajahnya dengan sangat tajam


Adit diam, tidak langsung menjawab pertanyaan angelo.


“ kalau tidak ada urusan, bisa tolong tinggalkan gue sendiri? Gue mendadak pusing “ ucapnya dingin


“ emmm, gak, anu itu….” Ucap adit tergagap


“ ya….” Angelo menunggu


Mila maju ke depan, entah angin apa yang sudah mendorongnya hingga mempunyai keberanian padahal ia sudah kehilangan kata-kata yang sudah susah payah di rangkainya, adit menoleh ke samping saat mila berjalan melewatinya


“ kak….” Panggil adit, lantas ia menggeleng


Mila tersenyum kecut, tatapan matanya seolah berkata, “ tidak apa-apa semua akan baik-baik saja “


“ ada apa? Gue kira anak cowo itu yang mau ngomong sesuatu ke gue, ternyata lo, ngomong aja, gue dengerin “


Mila menghela nafas panjang, “ angelo reynald, ketua geng xtc, paling takut dengan bundanya ketika di rumah, suka makan nasi goreng sama cola, gak pernah telat jemput aku setiap hari, dan ingatkah kamu dengan janji kamu, apa pun……”


“ apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu “ sambung angelo, air matanya turun begitu saja membasahi pipinya, ia tidak tau mengapa bibirnya berbicara dengan sendirinya meneruskan ucapan mila


Mata mila terbelalak mendengar ucapan yang keluar dari mulut angelo, hatinya merasa trenyuh mendengarnya, ada sedikit harapan, tidak bukan sedikit tapi banyak, dengan ia berusaha menemani angelo begini perlahan-lahan angelo pasti akan mengingatnya meski butuh waktu yang lama, ucapan angelo sudah memberikan harapan yang begitu besar bagi hati mila


“ gel, kamu, kamu ingat kata-kata itu “ ucap mila menutup bibirnya seolah tak percaya, meski hatinya sudah tersentuh dan air mata sudah turun membasahi pipinya


“ gue gak tau, kenapa gue bisa nerusin ucapan lo, sebenernya lo siapa, kenapa hati gue sakit tiap liat lo nangis “ ucap angelo, tiba-tiba kepalanya mulai sakit, ada ingatan-ingatan muncul di kepalanya, seperti senyum seorang gadis, tawanya, juga suara-suara yang ia dengar tadi


Melihat angelo yang seperti sangat kesakitan, mila panik, “ gel, kamu gapapa? Gel “ ucap mila


Angelo tidak merespon ucapan mila, ia masih memegangi kepalanya dengan erat.


“ dit, buruan kamu pencet bel itu, agar dokter cepet dateng kesini “ ucap mila, ia memegangi angelo.


Adit mengangguk, langsung berjalan dengan cepat menuju bel yang berada di samping ranjang angelo dan memencetnya tanpa ragu.


Mila masih menenangkan angelo yang terlihat sangat kesakitan.


“ gel, kamu gapapa? Maaf aku membuatmu sakit, tolong jangan kenapa-kenapa aku mohon “


“ gak, gak, ini bukan salah lo, arghhh “


“ dit, ini gimana, dokter gak dateng-dateng, ya ampun “ ucapnya panik, air matanya sudah membanjiri kedua pipinya


“ ya udah kak, kaka disini aja, biar adit panggil dokternya “ ucap adit, ia langsung berbalik badan berjalan menuju pintu


Baru saja adit akan membuka pintu, dokter sudah terlebih dahulu membuka pintu, ia datang bersama dengan satu suster


“ bisa tolong tinggalkan dokter bersama pasien “ ucap seorang wanita mengenakan setelan putih


Adit dan mila mengangguk, mereka berdua keluar dari ruangan angelo, menunggu di luar dengan harap-harap cemas, terlihat dari tingkah mila yang berjalan bolak-balik di depan pintu ruangan angelo sambil menggigit kuku jemarinya


Adit hanya berdiam diri duduk di kursi samping ruangan angelo.


Sementara itu, dani dan rio yang baru saja selesai sarapan di kantin dan berjalan menuju ruangan angelo, melihat mila dan adit di depan ruangan angelo, mereka langsung berlari menghampiri


“ ada apa mil? “ tanyanya langsung


Mila menoleh, matanya sudah sangat memerah dan sembab akibat dirinya yang menangis lumayan lama


“ ini semua salah gue dit, salah gue “ ucapnya mulai terisak


Dani memeluk mila, saat ini ia harus menenangkan mila sebisanya, ia tidak tega melihat mila menangis seperti itu wajar saja jika ia memeluknya sekedar untuk menenangkannya, itu yang ada di fikiran dani saat ini,


“ gak papa, ini bukan salah lo mil, lo jangan bicara kaya gitu ya, semua akan baik-baik aja“ ucapnya mengelus punggung mila


“ tapi, gara-gara gue dateng ke ruangan angelo dia jadi kesakitan kaya gitu dan, kalo gue tau angelo bakal kesakitan kaya gitu, gue gak akan dateng ke ruangan angelo, huhuhuhuhu” ucapnya terisak


“ udah, udah jangan nangis, tenang yah mil tenang, udah ada dokter, percaya sama gue, semua bakal baik-baik aja, angelo mungkin kaget setelah liat lo, plis gue mohon jangan mikir yang gak-gak “


Pelan tapi pasti, mila mulai diam dari tangisnya hanya sesegukan yang terdengar sesekali dari arahnya, lantas dani melepaskan pelukannya, saat itu juga dokter membuka pintu ruangan angelo


“ bagaimana keadaan teman saya dok “ tanya dani, langsung maju ke depan begitu melihat pintu terbuka


“ tidak apa-apa, pasien hanya sedikit terguncang mendapat beberapa ingatannya, namun sekarang sudah stabil, saya sudah menyuntikan beberapa obat agar pasien tenang, saya minta jangan terlalu keras pada pasien ya, biarkan dia mengingat dengan sendirinya “ ujarnya


“ baik dok, terimakasih “


Lelaki bertubuh tambun, mengenakan kaca


mata dan setelan berwarna putih itu mengangguk, tersenyum, lantas pergi meninggalkan ruangan angelo dimana masih ada, adit, mila, rio dan dani di sana


“ lo denger kan mil angelo gak papa, dia hanya kaget mendapat ingatannya sedikit, lo sabar ya, angelo pasti akan inget lo kembali, gue sama rio bakal selalu bantuin lo “ ucap dani menepuk bahu mila


Mila mengangguk menatap dani, “ thanks dan atas bantuan lo “


“ hmmm, yuk kita masuk lagi “


Dani membuka pintu ruangan angelo, terlihat angelo tengah tertidur dengan tenang, wajah kesakitan yang mila lihat sudah hilang dari sana di gantikan dengan wajah teduhnya


Mila diam di belakang dani sembari memperhatikan wajah angelo yang tenang itu, tidak ada satu pun diantara mereka berempat yang menimbulkan suara, karena mereka satu sama lain tau, saat ini angelo tidak bisa di ganggu, ia dalam mode istirahatnya


“ syukurlah, kamu gak papa gel, semoga Tuhan cepat mengangkat rasa sakitmu ya, aku sangat merindukanmu, aku mohon ingatlah aku, meski itu hanya sedikit “ ujar mila dalam hati


Meski sangat tenang di ruangan angelo tapi semua orang yang berada di situ mempunyai fikiran mereka masing-masing.


🍂🍂🍂🍂🍂


Setelah cukup lama di ruangan angelo, mila ahirnya pamit pulang pada dani dan rio, ia harus pulang agar adit bisa beristirahat di rumah, meski hatinya sedang memikirkan angelo tak lantas membuatnya lupa bahwa adiknya juga baru keluar dari rumah sakit, mungkin besok ia akan menjenguk angelo kembali sambil berharap ada kemajuan banyak pada angelo.


Tbc.....