
episode 42
Brakk...........bantingan pintu membuat seseorang yang tengah berbaring dengan posisi telungkup, mendongak kaget, segera melihat ke sumber suara, nindy yang masih mengenakan seragam sekolahnya tampak tidak peduli setelah melihat siapa yang menganggu acara santainya
" ada apa! gak sekalian lo hancurin aja tuh pintu" ucapnya acuh
" lo gila yah, dimana otak sama hati lo? lo manusia apa bukan!" teriak yuda lantang menggema di kamar nindy
" lo bilang sama gue, gue manusia apa bukan? silakan lo tanya sama tuan wicaksono"
nindy sudah duduk memandang wajah merah padam yuda di depannya, tanpa ekspresi sedikit pun setelah menyebutkan nama ayahnya dengan keras
" ishhh, bener-bener lo yah"
" apa! lo mau nampar gue? sini tampar, kalo perlu bunuh gue sekalian " tantang nindy
yuda mengepal kuat memandang ekspresi dingin nindy, berbalik badan sembari berdecak kesal, hatinya sangat marah, meski begitu dia tidak bisa melakukan apa pun pada nindy, kalaupun dia ingin dan mampu pasti akan segera di bunuhnya gadis cantik berhati iblis itu
Dengan langkah seribu, yuda kembali ke kamarnya, mengambil jaket levisnya tak lupa juga dengan kunci mobilnya, tanpa berbicara sepatah kata pun langsung pergi meninggalkan halaman mewah rumah nindy,
di dalam mobil tak henti-henti tangannya memukul kemudi di depannya, perasaan marah, kecewa, tak percaya semua berbaur menjadi satu, mereka seakan ingin menelannya bulat-bulat
laju mobilnya membawa dirinya ke sebuah tempat pemakaman yang tak jauh dari rumah nindy, paling sekitar 20 menit waktu tempuh menuju ke sana
Langkahnya pelan namun pasti, tangannya membawa satu buket bunga mawar putih, yuda menghentikan langkah kakinya di depan pusara makam, herliani wijaya, tertulis di nisan
โ mam, maaf baru dateng kesini sekarang, aku gak tau sejak kapan nindy berubah seperti itu, maaf yuda tidak bisa menjaga nindy dengan baik setelah kembali kesiniโ ucap yuda matanya berkaca-kaca bersimpuh di samping pusara, hembusan angin lembut ikut menemaninya
Rasa sesak mulai menjalari hatinya mengingat kenangan-kenangan sewaktu kecil bersama dengan nindy dan ny.herliani wijaya, ibu kandung nindy
๐๐๐๐๐
Helaan nafas terdengar beberapa kali, mila diam duduk sendiri di kursi panjang samping rumah sakit, tempat duduk yang pernah di duduki ny.sabrina dengan dirinya beberapa minggu yang lalu, meski sudah berusaha menikmati suasana tetap saja hatinya merasa ada yang kosong sejak dirinya sampai di rumah sakit dan bahkan sudah mengunjungi adit beberapa saat lalu, merasa sesak ahirnya ia memutuskan untuk duduk sendiri mencari angin, di luar rumah sakit sembari mengusir kegundahan hatinya
Tukโฆโฆkursi di sampingnya terasa sedikit bergetar namun tidak membuatnya menoleh sedikit pun, dengan tatapan tanpa ekspresi masih memperhatikan lalu lalang di depannya
โ nih minum duluโ ucapnya menyodorkan minuman kaleng
Minuman kaleng itu sukses menutup pandangan matanya, hingga perlahan menoleh melihat tangan siapa yang memegang satu botol minuman kaleng di depannya
โ thankโs, kok lo disini danโ ucapnya sedikit acuh setelah melirik sekilas ke samping
โ hmmmm, lo lupa? Rio sama andi kan masih disini? Ya gue jenguk merekaโ
โ ohhh gituโ
sumilir angin memainkan rambut hitam lurus milik mila, dia diam memandang ke depan tangannya menggenggam minuman kaleng membuatnya sedikit penyok akibat terlalu kuat ia genggam, dani pun ikut diam di sampingnya sembari menyesap minumannya sendiri
" eh itu...." ucapannya menggantung menoleh ke sampng " gak jadi deh"
melihat ekspresi dani yang menoleh padanya, kata-kata yang hampir keluar dari mulutnya seakan tercekat tidak mau keluar, ada keraguan dalam hatinya, apakah pantas jika dia bertanya sesuatu mengenai angelo
" gue tau, lo mau tanya kan, dimana angelo? kenapa gak sama gue"
"uhuk....uhuk" mila tersedak mendengar ucapan dani, ucapannya ternyata tepat sasaran mengenai hatinya
" lo gak papa mil?" dani menyentuh pundak mila
" gue oke dan, gue cuma kaget aja "
" hmmm, apa susahnya lo nanya ke gue mil, mbok aku bisa bantu "
kata-kata dani membuat mila menoleh tak percaya, seorang dani, sahabat angelo bisa berkata seperti itu padanya, perkataan dani membuatnya sadar bahwa seseorang yang terlihat dingin dan cuek di luar belum tentu dia akan sama seperti yang terlihat, dani salah satu contohnya, kapan mereka berdua akrab? bertegur sapa pun jarang, dani juga akan bertanya padanya ketika dia perlu sesuatu, dia tidak akan pernah mendekat ke arahnya jika tidak ada hal penting, mungkin sekarang adalah hal penting baginya mengingat angelo sahabat baiknya. begitu pikir mila
" kok bengong liatin gue mil? ada apa? oia tadi lo pengen tau kan angelo dimana?"
ucap dani serius, memandang tepat ke sepasang bola mata cantik milik mila, dengan ragu mila mengangguk perlahan
" si bego itu gak ikut kesini katanya ada urusan di base camp, tapi gue gak percaya, palingan dia hindarin lo, kalian kenapa si gak bisa apa ketemu terus bicara baik-baik gitu keluarin unek-unek, gue sebenernya bosen mil liat si angelo tampangnya menyedihkan kaya gitu, lo gak tau kan "
ucapan dani menggantung melihat ekspresi mila yang seakan berkata " terus lanjutin ceritanya, gue pengen denger ", dani menghela nafas menahan tawa, pantas saja sahabatnya tergila-gila pada gadis yang saat ini berada di depannya, tatapan matanya sangat polos, penuh keingintahuan, meski tidak ada ekpspresi yang di tampilkan namun dani tau persis bahwa mila sangat ingin mengetahui kabar angelo beberapa waktu ini
" kenapa? ada apa? ko diem? ada yang salah sama muka gue? " tanya mila bingung menyentuh wajahnya dengan kedua telapak tangan
" aishhh, gak papa, lo tau mil, angelo tuh udah kaya robot yang habis tersiram air, di diemin baru di nyalain lagi, konslet, walaupun hari ini kita menang, tapi tetep aja dia tuh gak bisa nyembunyiin apa-apa dari gue "
mila mengangguk mendengar ucapan dani, diam sebentar mengalihkan kembali pandangannya ke depan, ada sedikit rasa lega setelah mendengar cerita dari dani, dapat di simpulkan bahwa angelo juga sama dengan dirinya, sama-sama merindukan dan seperti orang kebingungan namun sama-sama tidak mau mengalah untuk bertemu dan berbicara
" gue gak tau musti gimana dan "
ucapan mila terdengar tak mempunyai semangat sedikit pun, hatinya sedih mengingat betapa inginnya bertemu dengan angelo namun tidak bisa melakukan apa pun, egonya begitu besar untuk melangkah maju meninggalkan segala sesuatu yang terjadi dengan hubungannya
" emmm, gue juga bingung mil mau gimana, angelo juga gak mau dengerin gue"
mereka berdua terdiam satu sama lain, menikmati sisa minuman yang tidak banyak lagi tersisa, hembusan angin seakan terdengar memenuhi kedua telinga saking sunyinya
" eh mil, sorry yah gue musti balik lagi ke kamar rio, tadi gue gak sengaja liat lo disini"
" ya udah gapapa dan, lo balik aja "
dani mengangguk, sudah pergi meninggalkan mila dan sejuta perasaan menumpuk di hatinya
๐๐๐๐๐
Tuk......tuk.......tuk, ketukan demi ketukan terdengar memenuhi indera pendengaran, hanya satu alasan jika ada seseorang yang mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja berati kegelisahan sedang menderanya saat ini
" woey gel, lo gak pergi" seseorang dengan tangan memegang minuman dingin berjalan ke arahnya
" aihhh, lo kok kaya lagi patah hati gitu sih?"
dimas sudah duduk di hadapan angelo, meletakan kakinya diatas kaki yang lain, tatapannya menyelidik melihat ekspresi angelo
" siapa juga yang patah hati, yang ada lo tuh bang, udah tua juga masih jomblo aja"
" uhuk, apa lo bilang gel?"
" gak lah, gue lagi males aja debat sama orang "
angelo beranjak dari posisinya berjalan sedikit untuk mengambil gitar yang berada di pojokan, saat ini angelo dan dimas berada di teras balkon rumah mereka, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, tidak biasanya angelo berada di rumah ketika jam-jam sekarang, sedangkan dimas, dia sedang tidak ada jam kuliah jadi cukup bersantai, tadinya dimas akan bersantai sendirian sembari bermain game di ponselnya namun siapa sangka malah bertemu angelo yang sedang duduk mengetuk-ngetuk meja dengan diam memandang lurus ke depan.
" lo mau nyanyi apa gel?"
" gak lah, ntar gue di kasih receh sama lo bang"
"hahaha, tau aja lo gel, lah terus ngambil gitar buat apaan?"
angelo diam tidak menjawab pertanyaan dimas, dia sudah serius dengan gitar di depan tubuhnya, jarinya sudah menggesek senar gitar mencari nada yang sesuai, kepalanya terasa pening sejak tadi pagi akibat tidak pulang dan sudah merasakan bagaimana rasanya minuman keras, namun sayang pelariannya tidak membuahkan hasil apa pun, pikirannya tetap saja mengingat saat mila lebih memilih yuda daripada dirinya, dadanya sesak, tidak bisa berbuat apa pun selain hanya marah pada diri sendiri seperti pecundang
jreng......, melodi mulai terdengar, ada rasa sedih yang terdengar di dalamnya, dimas diam mendengarkan alunan nada yang di ciptakan angelo, dia seperti tau bahwa adiknya saat ini sedang dalam mode galau, meski tidak mengakuinya tetap saja nada yang angelo mainkan terdengar sedih
" lo berantem sama mila yah?" celetuk dimas kemudian
tap......angelo berhenti memainkan gitarnya, mendengar ucapan kakanya yang tepat sasaran membuat perasaanya tak karuan tidak tau harus menjawab apa
" tanpa lo bilang, semua udah keliatan kok "
" kalo lo ada masalah cerita aja sama gue, sapa tau gue bisa bantuin lo gel" sambung dimas kemudian
melihat angelo terdiam tanpa ekspresi membuat perasaan dimas ikut tidak enak,
angelo menghela nafas berat
" gak papa ko bang, gue oke"
" aishh ya udah terserah lo aja lah gel kalo gitu"
" mau kemana bang?"
" mau mandi, udah sore, lo juga mandi, jangan diem disini sendirian, ntar kesambet siapa yang repot, bunda sama ayah gak ada di rumah"
" ck, ya ya cerewet amat bang"
angelo kembali mengalihkan pandangan matanya setelah menatap kepergian dimas hilang di balik pintu, rasanya angelo belum ingin pergi dari tempatnya saat ini, apalagi angin sore turut serta menemaninya namun ada yang kurang disana, ya, satu cangkir kopi hitam yang selalu menjadi sahabat setianya ketika dalam mood buruk, belum hadir bersamanya, dengan malas angelo beranjak dari duduknya, berjalan menuruni tangga menuju dapur
bukan tidak mungkin dirinya menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkan secangkir kopi hitam, tapi rasa malas untuk berteriak dan meminta tolong lebih kuat ada pada dirinya, oleh sebab itu angelo lebih memilih membuat kopi sendiri, ia memilih untuk lebih banyak diam dan melakukan hal sesuai keinginannya
di dalam dapur,
angelo celingak celinguk mencari kopi beserta gulanya, karena tidak biasa menggunakan dapur alhasil dia merasa kebingungan mencari hal-hal yang di butuhkannya
" nyari apaan" seseorang menyentuh pundaknya dari belakang
angelo tersentak kaget, menoleh ke belakang
" aishh, apaan sih bang, ngagetin aja, udah selese mandinya?"
" lah lagian, lo ngapain di dapur? gue belum mandi, habis dari depan tadi"
" ya gak usah ngagetin gue dong bang, ini gue lagi nyari kopi sama gula"
" astaga gel, lo buta apa sliwer sih, kopi ada di depan lo juga, gak liat? pake apa lo nyarinya"
angelo nyengir bodoh menatap dimas yang geleng-geleng kepala mendapati adiknya tidak fokus dengan apa yang di kerjakannya saat ini, untung saja dia tidak mengacaukan dapur akibat kecerobohannya
" gel, kayaknya lo musti gue bawa ke rumah sakit deh, gue takut otak lo geser, mata lo rabun" dimas menggoda angelo
" lo ngomong apa si bang, sembarangan aja"
ucap angelo, tangannya sibuk menyendok kopi lanjut menyendok gula, dimas diam menahan tawa pasalnya angelo salah mengambil gula, yang diambilnya malah garam, bukan mencegahnya malah dimas membiarkan angelo menyeduh kopi bercampur garam, dia seperti menikmati kekonyolan adiknya hari ini, jarang-jarang angelo membuat racun untuk diri sendiri
" lo mau bang " ucap angelo setelah selesai mengaduk kopinya
" gak lah, gue kan gak suka kopi, oia gel gue rasa lo buat kopi spesial deh"
" maksud lo apaan bang"
"pftttt, gak ada, gak ada, udahlah gue mau mandi udah setengah 7 malem aja"
dimas berbalik badan, tapi sebelum itu nengacak rambut angelo terlebih dahulu lanjut melangkahkan kakinya meninggalkan angelo yang menatapnya bingung, tapi angelo tidak berfikir apa pun dengan perkataan dari dimas, dia malah kembali ke teras balkon rumahnya untuk menikmati pemandangan malam
baru dirinya duduk di sofa menghadap ke depan, bibirnya sudah mengapit satu batang rokok yang menyala, dengan segera asap memenuhi langit-langit di atasnya, hembusan rokok semakin menambah syahdunya malam tanpa bintang milik angelo
tidak ada suara apa pun bersamanya saat ini, sepi, sunyi, senyap, dingin, ya angin malam mulai memasuki sela-sela kaos angelo membuat badanya sedikit bergetar, tangannya langsung meraih satu cangkir kopi hitam yang di buatnya sendiri, bermaksud akan menghangatkan badan dengan itu
srupp......uhuk, " sialan, pantes aja bang dimas ngledekin gue " angelo mengelap bibirnya yang basah akibat menyemburkan kopi
dia diam termenung setelah membuat satu cangkir racun untuk dirinya sendiri
" gue gak boleh gini terus" batin angelo
pandangannya jauh menerawang ke depan memikirkan banyak hal tentang mila, baru beberapa hari tidak bertemu dan menjemputnya ke sekolah sudah cukup membuat hari-hari angelo berantakan akibat ulahnya sendiri yang tidak bisa fokus
Tbc... ......