
Episode 66
Langit jingga, burung-burung berterbangan, sumilir angin memainkan helaian rambut hitam milik mila, saat ini ia sudah duduk bersama dengan ny.sabrina di halaman rumah sakit setelah beberapa waktu lalu mengunjungi ruangan adit meminta izin untuk pergi sebentar karena ada urusan, jadilah saat ini ia sudah duduk bersama ny.sabrina di dekat rumah sakit, ia merasa dejavu dengan suasana saat ini namun ia hanya bisa duduk diam di samping ny.
Sabrina sembari menikmati sumilir angin sore yang begitu menyejukan
Ny.sabrina menyentuh pundak mila dengan lembut, mila yang tengah termenung memperhatikan lalu lalang di depannya tersentak lantas menoleh ke samping.
“ maaf bunda, bolehkah mila bertanya? “ ucap mila kemudian
“ tentu saja, bertanyalah sesukamu nak, bunda akan menjawabnya dengan senang hati “ jawabnya tersenyum lembut
“ bun, apakah angelo masih lupa sama mila? “ tanyanya
Ny.sabrina terdiam sebentar, lantas tersenyum, “ hmmmm “ ucapnya pelan
Meski pelan, mila sudah paham dengan itu, ia langsung merasa lemas mendengar ucapan
yang keluar dari ny.sabrina sendiri
Ny. Sabrina tau apa yang mila rasakan, lantas ia berkata, “ begini sayang, apakah mila tau apa itu cinta sejati? “
Mila menoleh ke samping, menggeleng
“ cinta sejati adalah dimana saat salah satu diantara kita tersesat dan hilang arah, salah satu diantaranya lagi akan terus menunjukan jalan yang semestinya dan cinta sejati itu pasti akan kembali pada kita meski pun kita sudah berpisah jarak dan waktu, tidak mungkin akan kembali, atau kita menemukan sesuatu hal yang baru, semua itu pasti akan kembali lagi pada kita, apa mila masih percaya dengan yang namanya cinta sejati ? “ tanyanya lembut
“ hmmm, mila tidak tau bunda “ jawabnya menghela nafas panjang
“ bunda tau, apa yang saat ini sedang kalian hadapi baik kamu ataupun angelo, bunda tau kamu pasti sangat sedih melihat angelo yang sekarang tidak mengenal nak mila sedangkan dia mengenal teman-temannya, tapi percayalah sayang, angelo sebenarnya juga merasa hampa, merasa kebingungan dengan situasi ini, bunda tidak bisa membantu nak mila dengan memaksakan ingatan pada angelo, bunda tidak tega melihat angelo merasa kesakitan seperti itu sayang, kamu paham kan apa maksud bunda berkata seperti ini, bunda tidak membela angelo, bunda juga tidak membela mila, kita semua saat ini tengah bersedih dengan keadaan angelo “ ucapnya, tampak di ujung matanya berair
“ iya bunda mila paham dengan apa yang bunda katakan “
" bersabarlah sayang, bunda ada bersamamu, apa pun yang terjadi bunda akan selalu bersamamu sayang “
“ terimakasih bunda “
“ sini bunda peluk “ ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya
Mila langsung memeluk ny.sabrina dengan erat, rasanya ia ingin menangis di pelukannya, ia ingin menumpahkan segala perasaannya yang menumpuk dalam dirinya
Ny.sabrina tersenyum sembari mengelus-elus punggung mila dengan lembut, “ menangislah jika kamu ingin sayang, bunda akan dengan senang hati menjadi sandaran untukmu, bunda sudah menganggap nak mila adalah putri bunda sendiri “
“ terimakasih bunda, hiks….hiks….hiks “ mila mulai terisak di dalam pelukan ny.sabrina
“ tidak apa-apa sayang, semua akan baik-baik saja, menangislah sesukamu, setelah ini tersenyumlah dengan cerah hingga mentari pun iri dengan senyumanmu, bunda sayang kamu nak, bunda juga sayang angelo, kalian berdua adalah anak-anak kesayangan bunda “ ucapnya sembari mengelus-ngelus punggung mila
Mila semkain terisak dalam pelukan ny.sabrina, ia merasa inilah waktunya untuk mengeluarkan segala sesuatu yang ia pendam selama satu minggu ini, untunglah ny.sabrina orangnya sangat baik hingga mila mampu merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu.
Cukup lama mila menangis dalam pelukan ny.sabrina, ahirnya ia bangkit juga dari posisinya, matanya terasa sangat sembab, pedih, ia juga merasa sedikit mengatuk akibat terlalu lama menangis, namun perasaanya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
“ terimakasih bunda “ ucapnya pelan, ia menyeka ujung matanya yang sudah kemerahan dan mulai membengkak
“ hmmm, bunda senang kamu mau terbuka dengan bunda, tanpa kamu berbicara apa pun, bunda sudah paham apa yang kamu rasakan, karena air matamu sudah menjelaskan segalanya, berjanjilah pada bunda ya sayang, setelah ini sudah tidak ada lagi tangisan seperti ini, tersenyumlah sayang“
Mila mengangguk, perlahan, senyumnya mulai terlihat menghiasi bibirnya meski itu belum mampu sepenuhnya, namun senyuman mila mampu membuat ny.sabrina merasa sedikit lebih baik hanya dengan menatap wajah manis mila
🍂🍂🍂🍂🍂
Di ruangan angelo,
Angelo masih duduk di ranjangnya sembari menatap keluar kaca jendelanya, sedangkan dani sedang memainkan ponselnya dengan asik.
“ hey be*o, lo lagi mainin apa sih asik banget kayaknya, baru tau gue lo main game “
Dani menghela nafas, dalam hatinya berkata, “ elah ni cebong satu, ganggu gue main aja, gak gue jawab dosa, di jawab juga pasti dia gak bakal inget, hadeh serba salah deh gue “
“ hey, dani be*o lo budeg yah, di tanya bukannya jawab malah asik sendiri “
“ gue main uler naga panjangnya bukan kepalang, menari-nari selalu kian kemari…….., mmmmm, terus apa yah gel lupa gue “ jawab dani sekenanya masih asik memainkan ponselnya
Buk…..satu bantal berukuran besar berhasil mendarat di wajah dani serta menjatuhkan ponsel miliknya.
“ aishhhh, ni anak bar bar amat sih elah, di ajak nyanyi juga, gue di lempar bantal, coba kalo ada rio disini atau andi mungkin mereka bisa gue ajak nyanyi, gak kaya lo “ ucap dani mendengus sebal
“ lah lagian, gue nanya bener-bener lo malah nyanyi, lo kira disini taman kanak-kanak? “
“ hahahaha, taman kanak-kanak angelo version, eh tapi kalo anak-anaknya kaya lo semua bisa-bisa gurunya mati berdiri dong yah, di ajak nyanyi malah gebuk pake bantal. Hahahaha, sumpah perut gue sakit, gak kuat bayanginnya “ ledek dani
Angelo semakin bersungut-sungut mendengar ledekan dani
Ceklek…..pintu ruangan angelo terbuka kemudian tertutup kembali, angelo dan dani mengalihkan pandangan matanya sebentar melihat siapa yang datang, rio lah yang datang rupanya, lantas rio berjalan ke arah dani berada sambil membawa satu kantung kresek berukuran besar dan satu buah kantung kresek berukuran sedang
“ asikk, pesenan gue udah dateng, orang sakit gak boleh ikut makan yah, cukup liat sama nyium baunya doang. Hahaha” ledek dani
“ awas lo yah dan, kalo gue udah sembuh, gue
borong pizza sama tokonya sekalian, lo gak gue kasih “ ucapnya sebal
“ ini ada apa sih, gue dateng-dateng bukannya di sambut baik, malah di sambut sama pertengkaran dua bocah yang bukan bocah lagi, ck “ rio menggeleng-geleng kepala melihat ke arah dani dan angelo secara bergantian
“ biasa lah yo, gue bosen nungguin lo plus laper juga, jadi ya ngledekin angelo “
“ kuwalat loh dan, orang sakit lo ledekin mana ketua kita lagi “
“ hehehe, gak lah, kan cuma becandaan doang ya gak gel, sorry deh gel “
“ hmmmm, ya ya, ko lo dateng sendiri yo, andi mana? “ ucap angelo
“ iya nih, tadi gue hubungi andi katanya dia ada urusan keluarga, mau nikah atau apa lah gue gak ngeh dengernya tadi pas di toko pizza “ ucap rio, mulai duduk di depan dani
“ hahaha, ****** lo dan, ahirnya kuwalat juga “ ucap angelo terkekeh sangat keras
“ aishhh, sabar, sabar dan, gue gak minta kok, nih minum dulu “ rio menyodorkan satu gelas air putih pada dani
Dani langsung menyambarnya begitu rio menyodorkannya dan langsung meneguknya tanpa ampun
“ pelan-pelan astaga dan, kesedak lagi baru tau rasa lo dan “ ucap rio
“ biarin aja dia tersedak lagi, siapa suruh ledekin gue mulu “ timpal angelo
“ lah lagian lo yo, pake acara ngomong nikah-nikah, gue lagi makan ya otomatis langsung tersedak lah, andi yang nikah apa? “ cerocos dani
“ dasar be*o, makanya kalo ada orang ngomong tuh di dengerin baik-baik jangan enak makan sendiri jadi salah paham kan, gak mungkin lah andi nikah, lulus sekolah aja belum, mau di kasih makan apa istrinya dia, dasar be*o “ ucap angelo menggeleng-gelengkan kepala
“ iya bener banget tuh, kan gue tadi bilang, andi ada urusan keluarga, katanya nikah atau apalah, mungkin kakaknya atau gak mbakyunya, gue belum hubungi dia lagi sih, takut ganggu aja “
“ ya sorry, gue jadi salah paham, orang gue dengernya pas bagian nikahnya doang. Hehehe “ ucap dani nyengir tanpa dosa
Angelo dan rio terus meledek dani dengan puas, angelo merasa dendamnya terbalaskan dengan sangat cepat
🍂🍂🍂🍂🍂
Di luar rumah sakit,
Langit mulai gelap, sumilir angin yang tadinya tampak malu-malu, kini mulai berhembus dengan kencang perlahan-lahan.
“ hatsy…..hatsyy “ mila bersin-bersin
“ masuk yuk sayang, sudah mulai gelap, sepertinya kamu kedinginan, bunda juga merasa sudah mulai dingin “ ajak ny.sabrina sembari merangkul pundak mila
Mila mengangguk, lantas mereka berdua bangkit dari duduknya, mulai berjalan menuju pintu depan rumah sakit.
“ terimakasih ya bunda, mila merasa jauh lebih baik sekarang berkat bunda “ ucap mila di tengah perjalanan mereka berdua
“ hmmm, jangan bilang seperti itu sayang, ini semua bukan berkat bunda, tapi nak mila lah yang kuat dan mau membagi perasaanya sama bunda “ ujarnya tersenyum ramah
Mila mengangguk, tersenyum, masih dengan kondisi mata yang sembab, di perjalanan menuju ruangan adit, mereka berdua bertemu dengan pak maman, sepertinya beliau baru saja keluar dari ruangan adit dan akan mencari mila.
Benar saja, begitu melihat mila dari kejauhan, langkahnya berubah menjadi lebih cepat dari sebelumnya.
“ syukurlah nak, kamu tidak pergi jauh, bapak khawatir kamu pergi jauh, soalnya adit bilang kamu ada urusan tadi ketika bapak baru sampai disini “ ucapnya begitu langsung bertemu dengan mila, hingga tak menyadari ny.sabrina di samping putrinya
“ selamat sore pak maman, maaf saya membawa mila cukup lama hingga membuat pak maman khawatir “ ujar ny.sabrina lembut
“ eh, nyonya Sabrina, maaf saya tidak menyadari anda bersama putri saya, selamat sore nyonya “ ucap pak maman tersenyum
“ hmmmm, tidak apa pak, bagaimana kabar putra pak maman? “
“ putra saya baik-baik saja nyonya, sudah boleh pulang hari ini, namun tadi mendadak merasa mual, jadi sepertinya kita akan pulang besok pagi saja menunggu keputusan dari dokter lagi, bagaimana dengan den angelo ? “
Raut wajah ny.sabrina sedikit berubah mendapat pertanyaan seperti itu dari pak maman, ia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan pak maman, “ putra saya baik, hanya ingatannya yang masih belum stabil, saya belum tau kapan boleh pulang ke rumah “
“ yang sabar nyonya, saya doakan den angelo cepat sembuh, bisa kumpul lagi bersama dengan nyonya, tuan dan den dimas “
“ amin, terimakasih pak doanya “
Pak maman mengangguk lantas tersenyum ramah
“ baiklah kalau begitu, pak maman, saya duluan ya ke ruangan putra saya, nak mila jangan lupa pesan bunda ya, bunda kembali ke ruangan angelo dulu, sampai bertemu lagi “ ucapnya lembut
Pak maman mengangguk, tersenyum kembali
“ terimakasih sekali lagi bun “ ucap mila menunduk lantas tersenyum
Ny.sabrina mengangguk, membalas senyuman mila dan pak maman, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan mila dan pak maman berdua di lorong rumah sakit
“ nak, makan dulu ya, kamu belum makan kan dari pagi? “ ucap pak maman, tatapan matanya khawatir khas orang tua pada anaknya
“ mila tidak lapar pak, bapak saja yang makan sama adit, mau mila belikan makanan di kantin? Biar bapak kembali aja ke ruangan adit nanti mila menyusul “ ujarnya menawarkan diri
Tampak di kedua bola mata pak maman, beliau seperti menimang-nimang usul mila, namun setelah melihat mata sembab putrinya beliau paham, putrinya butuh waktu sendiri lebih banyak
“ baiklah jika seperti itu, tapi bapak ingin mila juga makan yah “
Mila mengangguk sebelum meninggalkan pak maman, langkahnya terasa lemas menuju kantin, meski sudah merasa sedikit lebih baik, namun tetap saja hatinya masih terasa tidak karuan, cukup lama mila berjalan ahirnya ia sampai juga di kantin rumah sakit.
Mungkin karena sudah selesai adzan maghrib, suasana kantin terasa cukup ramai sore ini
Mila tak ambil pusing dengan itu, ia langsung mengambil satu botol minuman isotonik yang berada di lemari pendingin kantin rumah sakit, lantas membawa tubuhnya duduk di pojokan, ia belum memesan makanan untuk ayahnya dan adit karena ia tau kondisi kantin saat ini sangat ramai, tidak mungkin baginya jika harus menyerobot antrian, lebih baik duduk sendiri sembari minum, minuman isotonik agar tubuhnya pulih kembali.
Ctek….mila membuka botol minuman di tangannya, lalu meneguknya berharap rasa sedihnya menghilang bersama dengan rasa hausnya.
Tak…..mila meletakan kembali minumannya di atas meja, memandang lalu lalang di depannya, semua orang tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, ada yang tengah bergurau dengan pasangannya, dengan keluarganya ada juga yang sedang sendirian sama seperti dirinya
“ eiitttt, tunggu, bukankah itu yuda, ngapain dia di sini jam segini “ gumam mila memperhatikan yuda dari arahnya duduk
Pantas saja indera penglihatannya merasa tidak asing melihat yuda duduk sendiri di pojokan sama dengan dirinya.
“ udahlah gak penting juga, gue ikut campur “ ucap mila pada dirinya sendiri
Lantas ia mengalihkan pandangan matanya lagi, belum sampai ia mengalihkan pandangan matanya, indera penglihatannya lagi-lagi menangkap seseorang yang sudah lama tidak terlihat bagaikan tertelan bumi
Ya itu nindy yang di lihat oleh mila, nindy tengah merengek di depan yuda, tampak yuda menghela nafas panjang dan bangkit dari duduknya dengan rasa malas.
Ketika yuda bangkit dari duduknya terlihat wajah nindy sangat senang sepereti anak kecil yang di turuti kemauannya, melihat pemandangan seperti itu, otak mila langsung mencerna dan mengira-ngira sendiri, mungkinkah mereka pacaran? Atau mungkinkah mereka saudara? Atau mungkin mereka atasan dan bawahan? Tapi kalau atasan dan bawahan tidak mungkin melihat sikap manja nindy yang baru pertama kali ia tunjukan. Begitulah isi kepala mila yang sibuk mengira-ngira hubungan yuda dan nindy hingga membuatnya melupakan sejenak kesedihan dalam hatinya
Tbc…..