
Srashhhh........glegarr......shhhhhh
gemuruh petir, cahaya kilat menyambar-nyambar menyilaukan mata
Hosh.....hosh....hosh, deruan nafas memburu terdengar menyesakan dada, dengan langkah terseok-seok angelo berlari meninggalkan rumah kosong sepi, gelap dan kotor tempat persembunyiannya beberapa waktu lalu
tangannya mencengkeram sisi perut sebelah kanan sambil terus berlari membawa tubuhnya sejauh mungkin dari rumah kosong
itu, darah terlihat menembus genggaman tangannya.
Kali ini angelo tidak bisa melawan empat orang sekaligus, bukan karena dia tidak mampu namun tubuhnya merasa sudah pada puncaknya yang mengharuskannya untuk melarikan diri setelah berhasil menumbangkan dua orang lawan
Bukan perkara mudah dia bisa lolos dari perkelahian sengit itu, terlihat dari angelo yang mendapatkan luka sayatan pada sisi perut sebelah kanan sebelum ia berhasil melarikan diri dari dua orang yang hendak membunuhnya, sampailah ia sekarang berlari di tengah guyuran hujan sembari berharap darahnya tidak habis sebelum ia mendapat pertolongan, dan harapannya terkabul setelah ia membawa tubuhnya lebih jauh dari rumah kosong itu
Angelo menghentikan langkahnya saat sebuah mobil menyorot tubuhnya, seketika pandangan matanya mulai kabur
Brukkkk.......tubuh angelo limbung jatuh ke tanah dengan darah yang terus keluar dari bekas sayatan di sisi perutnya, ia pingsan di bawah guyuran hujan lebat
🍂🍂🍂🍂🍂
Aroma antiseptik menusuk indera penciuman angelo, perlahan matanya mulai terbuka, mengerjap-ngerjap menerima cahaya yang baru saja masuk
Pandangan mata angelo langsung menyapu seluruh ruangan dimana saat ini ia berada, ruangan itu tampak seperti sebuah kamar, ada beberapa lukisan tergantung di sana, meja di samping kanan ranjang tempatnya berbaring serta satu lemari besar di pojok ruangan, ruangan yang begitu asing baginya
“ ahhhh” pekik angelo meringis, merasakan sakit pada kepala dan sisi perut bagian kanannya
Krekk……pintu terbuka, menampilkan seseorang yang membawa nampan berisi sebuah mangkok dan sebuah cangkir, angelo menoleh melihat siapa orang yang telah membantunya, tatapan matanya membulat mendapati yuda tengah berjalan ke arahnya sambil membawa nampan
“ lo udah sadar? Gimana perasaan lo? “ tanyanya
“ emmmm”
“ gue tau lo gak nyaman sama gue, sebenernya gue juga gak mau nolongin lo, tapi gue gak tega liat lo pingsan bersimbah darah, se enggak sukanya gue sama lo, gue masih punya hati “ ujar yuda sembari meletakan nampan yang berisi satu mangkok bubur ayam hangat dan satu cangkir air putih
“ thank’s kalo gitu lo udah nolongin gue”
Yuda mengangguk, “ luka lo gak parah banget, gue udah bersihin plus kasih antiseptik juga udah gue perban, sekarang lo makan dulu “
“ hmmm, ada yang tau gak lo bawa gue kesini”
“ tenang aja, gak ada yang tau, gue juga kebetulan lewat jalan itu pas mau balik ke rumah ngambil baju ganti, lo beruntung berarti papasan sama gue “
Angelo mengangguk, sebenarnya hatinya merasa jengkel mendengar ucapan songong dari yuda, tapi mau bagaimana lagi dia telah menolong dirinya, pikir angelo
mereka berdua terdiam satu sama lain setelah berbincang beberapa kata, wajar saja jika begitu, angelo dan yuda memang tidak akrab bisa di katakan sebagai musuh malahan, namun siapa sangka yuda malah menolongnya dari bahaya, angelo cukup bersyukur akan hal itu sekaligus merasa sedikit kesal tidak bisa berbuat apa pun saat ini selain hanya bersyukur di tolong olehnya
“ ya udah, gue tinggal, kalo lo butuh sesuatu nih pencet aja remote ini, nanti bibi di bawah bakal kesini bantuin lo” ucap yuda setelah merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan dengan angelo
“ lo mau kemana?”
“ gue ada urusan di rumah sakit, bakalan lama malah bisa gak pulang, lo tenang aja di rumah ini gak ada siapa-siapa, cuma ada 3 orang asisten rumah tangga di bawah dan 2 satpam di depan, mereka bakal bantu lo, gue udah bilang ke mereka” yuda bangkit dari posisinya
Angelo menatap sepasang manik kelam milik yuda, “ ok thank’s, oia lo tau gak ponsel gue dimana?”
“ ada, di bawah, nanti bibi antarin ke lo, ponsel lo basah tapi masih bisa idup, ya udah kalo gitu gue pergi dulu” yuda membalikan badan melangkahkan kakinya meninggalkan angelo sendiri
Angelo terdiam memandang lurus kedepan sepeninggal yuda, memorinya mulai mengingat kejadian-kejadian tadi malam sebelum ia berahir di ruangan ini sekarang, ia menghela nafas panjang lantas melirik jam dinding di samping kirinya, jam menunjukan pukul 5 pagi, angelo mengangguk sembari menjatuhkan kembali tubuhnya ke belakang, ada untungnya juga ia di selamatkan oleh yuda jadi bisa menenangkan diri sejenak sebelum kembali menghubungi mila dan dani nanti jika sudah merasa lebih baik, begitu pikirnya
🍂🍂🍂🍂🍂
Tok…..tok…..tok, ketukan pintu pelan membangunkan mila dari tidurnya, ia bangkit sembari meregangkan tubuhnya
“ nak, sudah pagi, tidak biasanya kamu bangun telat ada apa” tanya pak maman di balik pintu
“ emmm, iya pak, mila udah bangun “ ucapnya menguap
Mila berjalan membuka pintu kamarnya, terlihat pak maman masih berdiri di sana
“ ada apa nak, gak biasanya bangun telat, udah jam 6 pagi, nanti kamu telat ke sekolahnya “
“ gak papa pak, mila cuma gak bisa tidur semalam jadi bangunnya telat, ya udah mila mandi dulu, maaf ya pak hari ini mila gak siapin sarapan seperti biasa”
“ hmmmm, gak papa, ya sudah sana kamu mandi dulu, bapak mau kerja dulu, sarapan sudah bapak buat di bawah tudung saji jangan lupa sebelum berangkat bangunin adit, dia belum bisa berangkat sekolah tapi tetep masih butuh sarapan kan”
“ hmmm, baik pak “ ucap mila sembari besalaman dengan pak maman lantas mencium tangan pak maman
Pak maman pun mengangguk dan tersenyum sebelum berjalan meninggalkan mila untuk bekerja di rumah angelo, hari ini adalah hari pertama pak maman mulai kerja lagi di rumah angelo setelah dirinya libur panjang untuk menjaga adit, jadi ia tidak mau terlambat di hari pertamanya kerja setelah lama libur panjang
Setelah itu, mila mandi dan bersiap sebelum berangkat ke sekolah, ia menatap lekat-lekat wajahnya dalam cermin setelah selesai menyisir rambut dan berdandan sedikit, ia termenung sebentar memikirkan angelo yang tadi malam sempat mengangkat teleponnya namun tidak ada suara dari arahnya, perasaannya menjadi tidak enak hingga membuatnya tidak bisa tidur semalaman dan berahir bangun telat
Ring…..ring….ring…..ring, ponselnya berdering dengan cepat ia langsung meraih benda tersebut sembari berharap itu panggilan dari angelo namun doanya tidak terkabul, nama dani yang tertulis di ponselnya
Tut…”hallo” ucap mila lemas
“ hallo mil, hari ini lo gue jemput yah ke sekolahnya” ujar dani
“ loh kok, angelo belum ada kabar yah “
“ hmmmm, tapi gue udah nemuin motornya tadi malem, lo tenang aja, nanti pulang sekolah gue cari lagi “
“ oke kalo gitu, ya udah gue mau sarapan dulu“ mila menghela nafas panjang
“ oke, nanti gue ke rumah lo 10 menit lagi”
Mila memutuskan sambungan teleponnya setelah ia selesai berbincang dengan dani, lantas berjalan keluar kamar untuk sarapan
Di meja makan, dengan susah payah mila
menelan makanannya, fikirannya entah kemana ia tak tau, yang jelas makanan yang biasa enak kini terasa tidak bisa di telan, karena merasa sudah tidak bisa lagi menghabiskan makanannya, ia berjalan menuju kamar adit membawa nampan berisi satu mangkok bubur ayam dan segelas air hangat
“ dit, kakak masuk yah” ucap mila mengetuk pintu kamar adit
“ hmmmm, masuk aja kak” teriak adit
Mila mengangguk, tangannya membuka pintu kamar adit, terlihat adit baru saja bangun, ia masih mengucek matanya
“ pagi kak” sapa adit
“ hmmm, kaka taruh sini yah buburnya, kamu udah bisa bersih-bersih sendiri kan?”
Adit mengangguk, tersenyum
“ oke, hati-hati kak”
“ emmm, kamu baik-baik di rumah, kalo ada apa-apa telepon aja kaka ya, ya udah kaka pergi “ ucap mila mengusap rambut adit
Ia berjalan kembali keluar dari kamar adit, ketika mila menutup pintu kamar adit terdengar ketukan pintu dari arah depan rumahnya, ia langsung bisa menebak siapa yang datang mengetuk pintu rumahnya
Dan benar saja saat ia membuka pintu, dani sudah berdiri disana tersenyum hangat menyambut dirinya
“ masuk dulu dan, gue mau ngambil tas dulu di kamar sekalian make sepatu”
“ oke kalo gitu” ucap dani melangkah masuk ke dalam ruang tamu mila
Mila bergegas meninggalkan dani sendiri di ruang tamunya, ia menuju kamar mengambil tas dan beberapa buku yang akan ia gunakan hari ini, tak selang waktu lama ia sudah kembali lagi menghampiri dani yang masih duduk sembari melihat sekeliling
“ lo udah sarapan emang” tanya mila sembari mengenakan sepatu
“ udah kok tenang aja “
“ kirain belum, mau gue suruh sarapan dulu”
“ aishh, gak usah repot-repot lah, nanti kalo angelo tau gue sarapan di rumah lo, bisa-bisa di bunuh gue sama dia” dani terkekeh
“ apaan sih dan, ini kan rumah gue bukan rumah angelo”
Mila menepuk-nepuk ujung roknya setelah selesai mengenakan sepatu
“ ya gue tau ini rumah lo, tapi peliharaan lo kan galak”
“ sembarangan aja kalo ngomong, lo gak khawatir apa sama angelo, gue liat sikap lo santai banget” ujar mila mengajak dani keluar dari rumahnya
“ hmmm, masa khawatir gue udah lewat mil, gue percaya kok si b*go itu pasti baik-baik aja, malah lagi tidur nyenyak kayaknya” dani menghela nafas pelan, berjalan di samping mila
“ tau dari siapa?”
“ feeling aja, lo gak usah mikir yang gak-gak”
“ hmmm, semoga aja “
Mila dan dani terus berbincang hingga samapai di samping mobil sport berwarna merah milik dani, dengan cepat dani langsung membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan mila untuk masuk ke dalam
Beberapa menit kemudian, mobil sport warna merah itu sudah melesat dengan cepat meninggalkan komplek jalan mawar
🍂🍂🍂🍂🍂
Detakan jarum jam seakan memenuhi indera pendengaran angelo, saat ini ia hanya bisa berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar asing milik yuda, entah sudah berapa lama dirinya hanya berdiam diri disana tanpa melakukan apa pun, sebenarnya ada rasa tak enak dalam dirinya kala mengingat siapa orang yang menolongnya dari bahaya, namun ia tak bisa berbuat apa pun selain bersyukur orang yang pernah ia maki dan hajar mau menolongnya, memang itu harapannya di tolong seseorang yang tidak dekat dengannya, coba aja jika dani yang menolongnya tadi malam pasti dia sudah sampai rumah sekarang
“ ughhhhh, bosen, pengin liat wajah mila” gumam angelo mengusap wajahnya
Tangannya menyapu sisi kanan tubuhnya hingga menyentuh remote yang di berikan yuda beberapa waktu lalu, ia baru ingat ponselnya masih di bawah sekarang belum sempat di minta
Pip….angelo memencet remote di tangannya , tak selang waktu lama seorang wanita beusia sekitar 30 tahunan mengenakan pakaian rapi mengetuk pintu kamar
“ masuk aja, gak di kunci” teriak angelo
Pintu terbuka, wanita itu berjalan ke dalam kamar menghampiri angelo
“ maaf den, ini yang anda butuhkan kan, tadi sebelum berangkat ke rumah sakit den yuda berpesan pada saya, jika anda memencet remote berarti saya harus mengantarkan ponsel anda”
“ hmmm, iya kamu benar, terimakasih “ ucap angelo canggung sambil menerima ponselnya
“ baik, ada yang bisa saya bantu lagi den?” katanya ramah
“ tidak, ini sudah cukup, terimakasih sekali lagi”
“ hmmm, kalau gitu saya tinggal, kalau ada apa-apa panggil saya lagi”
Wanita itu tersenyum lantas berbalik badan berjalan meninggalkan angelo sendiri lagi
Angelo membuka ponsel miliknya, batrenya full, mungkin sebelum di bawa padanya yuda menyuruh asistennya untuk mencharge dulu, begitu pikirnya
Terlihat ada puluhan panggilan tak terjawab, dari dani, mila, bang dimas bahkan bundanya dan pesannya juga tak kalah banyak, angelo hanya melirik sekilas tanpa membukanya, pandangan matanya malah menuju pada gallery ponselnya, membukanya
Angelo berdecak, ia baru ingat belum mempunyai foto mila ataupun foto dirinya bersama dengannya, yang ada cuma foto-foto kucing, pose absurd dani, beberapa foto lainnya, anehnya yang lebih dominan adalah foto dani padahal itu ponsel miliknya, angelo hanya bisa mengerutkan keningnya memandangi pose-pose absurd dani, sesekali tertawa
Ting….notifikasi ponselnya berbunyi, angelo meliriknya, pesan dari dani
“ woey b*go lo dimana, gue udah selesein tugas gue jemput tuan putri lo ke sekolah, si merah juga udah di rumah gue, kalo lo gak budeg, balas pesan gue, buset dahh, nunggu balesan pesan dari lo udah kaya nunggu antrian air bersih aja lama banget”
Angelo terkekeh membaca pesan dari dani
Menghela nafas panjang menutupi wajahnya dengan lengan
🍂🍂🍂🍂🍂
Tak......tak......tak.....tak, ketukan pada mangkok membuat linda menoleh menatap mila jengah, ia tidak tau dengan apa yang terjadi padanya, sedari tadi pagi hanya bisa melihat wajah masam sahabatnya tanpa bertanya, ia hanya berfikir mungkin nanti akan sembuh seperti biasa, tapi nyatanya semakin menjadi-jadi
" lo kenapa si mil, dari tadi pagi nekuk muka mulu? tuh juga makanan jangan buat mainan kan sayang " gemash linda yang hanya memperhatikan sahabatnya sejak tadi pagi
Mila menolah, " heuh, lo gak tau yah lin? " ucapnya lemas
" ya gak lah, kan lo gak ngasih tau" ucap linda dengan terus menyendok makanan di depannya
" emang bang dimas gak ngasih tau?"
" ishh apaan sih, ko pake bawa-bawa nama dia? "
" hmmmm, ya udah kalo gitu " mila melanjutkan kembali acara memainkan makanan pada mangkok di depannya
sementara itu linda mendengus sebal di sebelahnya masih dengan melanjutkan acara makannya
" eh btw, angelo gak keliatan dari tadi pagi? kemana dia? " celetuk linda tiba-tiba
Mila geleng-geleng kepala, sembari berfikir, dasar sahabatnya ini memang bener-bener b*go atau oon sebenernya baru sadar sekarang angelo tidak menghampirinya seperti biasa
" tau ah gelap " ucap mila jengkel
Linda mnegerutkan keningnya mendapati jawaban yang tidak sepatutnya terlontar dari mulut mila dan fikirannya langsung menangkap sesuatu dari jawaban mila lalu ia nyengir tanpa dosa menatap mila, baru sadar wajah mila masam sebab angelo tidak menghampirinya, ahirnya mila bercerita pada linda apa yang sedang ia cemaskan sejak tadi pagi hingga membuat muka masam seperti itu
Tbc.......