
Episode 38
Jika ada kehidupan kedua, ijinkan aku lahir lebih cepat untuk mengenalmu, memilikimu dan menjagamu sepenuh hatiku
Biarkan lukamu menjadi lukaku, kebahagiaanku hanya untukmu hingga kau tak mampu lagi menunjukan wajah sedihmu
Jreng…....jreng…....jreng…....jreng, petikan gitar serirama dengan nada mengalun indah memenuhi indera pendengaran, sayup sayup gemerisik pepohonan tertiup angin menambah syahdunya suasana
“ sejak kapan lo jadi musisi”
Suara lantang dari depan pintu menghentikan jentikan jari jemari pada senar gitar, pandangan matanya dingin menatap sesosok gadis yang tidak ingin dilihatnya
“ ada apa tuan putri sampe repot-repot ke balkon kamar gue”
“ heh, gue suka cara lo bertanya” ucapnya tersenyum sinis lantas melangkahkan kaki untuk lebih dekat
yuda mengalihkan pandangan matanya kembali pada gitar yang masih berada di depan tubuhnya, jarinya menggesek senar gitar untuk menciptakan alunan nada yang sempat terhenti sembari menikmati hembusan angin malam menerpa rambut hitam yang tak tertata rapi miliknya
“ gue punya satu penawaran bagus buat lo”
“ apa, bilang aja gue dengerin”
Nindy kini sudah duduk di depan yuda, meletakan kedua tangannya menyimpul di depan dada
“ gue liat-liat lo suka sama si miskin”
“maksud lo apa”
“ iya gue liat lo suka sama si mila kan?”
“ bukan urusan lo, gue suka sama siapa”
“heh, sombong banget lo jadi orang, oke, kalo lo gak mau ngomong sama gue gak masalah, gue cuma mau kasih penawaran sama lo”
Yuda tetap bermain gitar tanpa menghiraukan ucapan nindy meski sayup-sayup dia dapat mendengar apa yang di katakan gadis itu
“ hancurin hubungin mila sama angelo, lo suka mila kan? Ambil dia”
Tap……yuda langsung menghentikan permainan gitarnya, matanya tajam memandang wajah gadis cantik berhati iblis di depannya
“ apa lo bilang? Gue gak salah denger, ada banyak cowok di luar kenapa harus repot-repot ngrebut punya orang”
“ iya lo gak salah denger, hancurin hubungan mereka berdua, kalo masalah itu bukan urusan lo”
“kalo gue gak mau, lo mau apa”
“ hahaha, oke kalo lo gak mau, gampang, gue tinggal telepon pembunuh bayaran atau kalau gak suruh penculik professional buat habisin mila, gimana menurut lo? Pasti seru kan” nindy tertawa
Rahang yuda mengetat mendengar apa yang di ucapkan nindy, dia tidak percaya sepupu manisnya dapat berkata seperti itu bahkan tertawa seperti tidak mempunyai rasa bersalah sedikit pun dengan ucapannya
“ bener-bener gila lo sekarang, gue gak habis pikir”
“kenapa? Ada yang salah? gue bantuin lo loh biar bisa deket sama mila, terus gue sama angelo, adil kan semua bahagia”
“ semua pilihan ada di tangan lo, gue gak maksa, cuma inget aja sama apa yang gue ucapin, gue gak pernah bercanda sedikit pun dengan apa yang udah gue ucapin” lanjutnya, tatapan matanya dingin menusuk menatap wajah merah padam milik yuda
“ kalo mami tau lo kaya gini sekarang dia pasti sedih, apa perlu gue bilang sama mami”
“bilang aja gue gak peduli, mami gue udah mati, dia bukan mami gue”
Plak…...yuda menampar wajah nindy dengan keras, tangannya reflek begitu saja saat mendengar ucapan nindy, memang benar ibu kandung nindy sudah meninggal saat dirinya baru menginjak bangku SMA, namun ayahnya menikah lagi dengan sekertaris pribadinya, yuda kenal betul seperti apa amelia sekertaris papanya nindy itu, dia juga sudah memanggilnya dengan sebutan mami meski dia bukan ibunya, bagi yuda Amelia adalah perempuan baik hati yang bekerja pada keluarga nindy sejak dirinya mengenal nindy waktu kecil
“ heh” nindy menyeringai
“ lo gila nin, sejak kapan lo jadi kaya gini?”
“ lo gak usah urusin hidup gue, lo gak tau apa-apa, gue cuma mau jawaban dari lo”
Ucapnya, nindy langsung bangkit dan berlari meninggalkan yuda sendirian di teras balkon kamarnya
Yuda menarik nafas berat menyenderkan kepala ke belakang, lengannya menutup pandangan matanya dari sorot lampu diatasnya
🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara itu, di rumah sakit ruangan adit
Mila baru saja selesai mencuci mukanya dari toilet, dia berjalan mendekat ke sofa di samping ranjang adit lantas menghempaskan tubuhnya disana
Memori fikirannya kembali mengingat tingkah laku angelo seharian ini, meski senyum di wajah angelo tergambar jelas tapi mila dapat merasakan kalau senyum yang angelo tunjukan padanya bukanlah senyum dari hatinya
“ gel, gel gue harap lo gak mikir apa-apa sama gue” batin mila
“ kakak ada masalah yah”
“ eh gak kok, lo udah makan belum dit”
Ucapan adit membuat lamunan mila buyar, dia tidak memperhatikan pandangan adit sedari dirinya memasuki ruangan, padahal adit memperhatikan setiap gerakan yang mila ciptakan
“ beneran kak? Udah tadi, kak mila makan dulu, gue belum liat kakak makan”
“ iya serius kakak gak ada masalah apa-apa,
nanti lah dit, kakak belum pengen”
“ ya udah kalo gitu, gue istirahat dulu, jangan lupa makan”
“ iya oke”
Senyum mila memudar seketika melihat adit sudah tidak memperhatikan dirinya, tanganya meraih tas di samping tubuhnya lantas mencari nama angelo untuk melakukan panggilan pada ponselnya
Vrrrr…..vrrrr…..vrrrr…..vrrrr, ponsel angelo bergetar
“ gel ada telepon tuh, gak lo angkat” ucap dani memlihat ponsel angelo bergetar beberapa kali
Angelo dan dani mereka saat ini sedang berada di dalam base camp xtc, suara gelak tawa menemani duduk mereka berdua
Nampaknya anggota geng xtc yang lainnya juga berada di sana bersama dengan dirinya namun mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing
Hanya angelo dan dani yang duduk rapi di temani minuman soda berbentuk kaleng, beberapa keripik milik dani dan 5 bungkus rokok tergeletak di depan mereka berdua
“ biarin aja”
Angelo melirik sekilas nama di ponselnya lanjut meminum soda di tangannya, ia terlalu stress hari ini memikirkan amarahnya yang tak kunjung hilang sampai saat ini hingga berahir membeli banyak minuman soda kalengan dan rokok untuk menghilangkan
kegusaran hatinya
“ lo lagi ngambek sama cewek lo? Gak biasanya lo cuekin panggilannya” ucap dani sembari terus mengunyah keripik di pangkuannya
“ gue gak ngambek sama dia dan, cuma lagi pengen nenangin diri aja “
“ hmmmm, apa pun itu yang menurut lo baik deh gel, gue sebagai temen cuma bisa kasih dukungan buat hubungan lo sama mila, gue udah liat lo ahir-ahir ini banyak berubah gara-gara mila, lo lebih hidup, lebih banyak menunjukan ekspresi, gue harap kalo lo ada masalah sama dia secepatnya lo omongin biar kelar”
“ dasar bego, gak tau deh gue sama jalan pikiran lo”
Angelo diam memandang keluar base camp, tidak ada apa-apa disana terlihat semua gelap seperti apa yang dirasakannya saat ini, gelap, sunyi dan dingin
🍂🍂🍂🍂🍂
Mila menghela nafas panjang, teleponya tidak di jawab angelo, ia sudah melakukan panggilan sebanyak 5 kali tetap saja angelo tidak menjawabnya
“ apa yang sedang di lakukan anak itu” gumam mila
Mila merebahkan tubuhnya di atas sofa, malam ini gilirannya untuk menjaga adit, pak maman yang tinggal di rumah
Karena besok hari minggu jadi mila bisa tenang sejenak untuk tidak bangun terlalu pagi, ia berbaring memandang langit-langit di atasnya sedangkan adit sudah terlelap dalam mimpinya, mila masih memikirkan banyak hal di kepalanya, sebelum berangkat tidur mila meraih ponsel di sampingnya mengetikan pesan disana
“ kalo lo baca pesan ini, hubungi gue balik ya, gue harap lo selalu dalam keadaan baik”
Mila menghela nafas, mengirim pesan yang di tunjukan untuk angelo lantas memejamkan matanya untuk tidur sembari berharap segala hal yang menghantui dirinya hilang larut kedalam mimpinya
Kling……ponsel angelo berbunyi, ia baru saja akan menutup matanya setelah menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk miliknya, angelo meraba sekitar mencari benda bunyi itu
Klik…..layar ponsel angelo menyala, ia mengucek matanya mendapat cahaya terang di depannya karena saat ini kondisi kamarnya sudah gelap gulita
Angelo membaca pesan yang tertera disana lantas mematikan kembali layar ponselnya, menghela nafas panjang menutup matanya rapat-rapat mengusir kegundahan hatinya
Tak terasa pagi datang, angelo membuka matanya perlahan mendapat cahaya yang mengenai matanya
“ bangun sayang sudah pagi” suara lembut familiar menyapa paginya
Angelo bangkit dari tidurnya, meregangkan sedikit badannya
“ emmmm, selamat pagi bun, bunda udah pulang?”
“ hmmmm, udah tadi malam waktu kamu tidur”
“ pantes aku gak liat bunda di rumah, udah selese bun urusan di butiknya?”
“ belum nak, nanti bunda juga akan pulang larut lagi”
“ oh gitu, jaga kesehatan bun, jangan sampe sakit”
“ hmmm, anak bunda udah dewasa yah sekarang, ya udah yuk kita turun sarapan, bunda mau bangunin abangmu”
“ loh abang juga pulang kerumah? Aku semalem gak liat juga”
“ iya dia jemput bunda tadi malam” ucapnya sambil lalu
Angelo beranjak dari tempat tidurnya mngusap-ngusap absnya lantas berjalan dengan malas menuju meja makan di bawah
Baru dirinya menarik kursi di depannya, dimas sudah turun bersama dengan ny.sabrina mereka berjalan mendekat ke arahnya
“ pagi gel” ucap dimas, menarik kursi di depannya
“ hmmm”
“ oia lo hari ini mo kemana gel?”
“ emang ada apa bang?”
“ gak, gue tanya doang, gak boleh”
“ aishh, mau tau aja urusan orang lain”
“ paling angelo kerumah si mila, udah pasti itu” timpal ny.sabrina, ia baru saja keluar dari dapur membawa mangkuk besar dan satu piring di tangannya dengan di belakangnya di ikuti asisten rumah tangganya
“ apa sih bunda ikut-ikut aja” ucap angelo
“ lah iya bener kan, kalo gak kerumah mila paling kerumah dani, pacar angelo kan cuma dua mila sama dani”
“hahahaha bener banget tuh bun, tapi menurut aku dani lebih terlihat sepertri pacarnya angelo bun daripada mila”
“ loh kenapa gitu mas?”
Ny.sabrina duduk di samping dimas sembari tangannya mengambilkan angelo nasi goreng dan telur dadar di depannya tak lupa juga mengambilkan untuk dimas
“ jangan di dengerin omongan abang bun, mulutnya gak ada saringannya”
“ emang lo pikir gue apaan gel”
“ udah udah, makan dulu yuk, dimas pimpin doa seperti biasa, karena hari ini ayah udah berangkat pagi-pagi jadi gak sempet ikut sarapan”
Dimas mengangguk menjawab ucapan bundanya, seperti biasa sebelum memulai makan di keluarga angelo pasti mereka akan berdoa terlebih dahulu sebelum memulainya, biasanya pak William yang akan memimpin tapi karena ada urusan seperti yang di katakan ny.sabrina jadilah dimas yang lebih tua dari angelo memimpin doa hari ini, tata krama seperti itu sudah di terapkan sejak dimas dan angelo masih kecil, kalaupun tidak ada orang dirumah misalnya hanya ada angelo saja maka ia akan berdoa sendiri sebelum makan, setelah selesai berdoa angelo menyendok nasi goreng di depannya sembari terus berbincang dengan dimas dan ny. Sabrina
Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi, angelo juga sudah selesai melakukan sarapan pagi dan sudah selesai membersihkan badannya, ia berjalan keluar dari kamarnya melewati dimas yang baru saja keluar dari kamarnya juga
“ wuihhhh, wangi bener adek kecil gue, lo mandi sama parfum”
“ paan sih bang, berisik aja”
“ pasti mau kencan nih, udah wangi, bajunya necis, persis mirip oppa oppa korea yang sering gue denger dari temen cewek kampus gue”
“ ya jelas dong ketampanan gue tuh gak sebanding sama oppa oppa korea, lebih tampanan gue jauh kemana-mana”
“ cih, dasar pede “
“ harus itu, kalo gak pede bisa-bisa jomblo terus kaya lo bang” angelo terkekeh
“ siapa bilang gue jomblo”
“ serius lo punya pacar bang, orang planet mana yang mau sama lo bang”
“ lo mau tau, tar gue kasih tau”
“ aish, ya udah kalo gitu gue berangkat dulu bang udah jam setengah 10, byee”
“ oke hati-hati”
Angelo mengacungkan jempolnya sembari berlari menuruni tangga, dimas menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adiknya
“ bun, angelo berangkat dulu ya” teriak angelo di ujung pintu
“ hati-hati nak, pulang jangan larut” jawab ny.sabrina dari arah dapur, ia juga berteriak
“ siip, angelo pulang pagi bun”
Brak…......angelo menutup pintu sembari terkekeh membayangkan ekspresi bundanya ketika mendengar ucapan darinya, angelo berlari menuju garasi mobilnya, sesampainya di garasi ia menimang-nimang akan memakai kendaraan apa untuk menjemput mila, cukup lama angelo memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi, ahirnya dia membuka pintu mobil berwarna biru yang sudah lumayan lama tidak ia bawa, angelo menancapkan gas mobilnya keluar dari halaman rumah mewahnya
Di perjalanan menuju rumah sakit angelo melihat ada toko bunga di samping kiri jalan lantas ia menghentikan mobilnya di depan toko bertuliskan “ Beautiful flower”, angelo turun dari mobilnya dan berjalan menuju toko bunga tersebut, ia sedikit malu pasalnya baru pertama kali membeli bunga dan tentunya tidak cocok dengan imej dirinya yang terkenal garang itu, namun angelo ingin memberikan satu buket bunga mawar putih untuk mila sebagai tanda permintaan maafnya karena tadi malam dia tidak membalas pesan dan mengangkat telepon dari mila, karena sekarang moodnya sudah lebih baik angelo memutuskan untuk membuang jauh-jauh kegundahan hati yang ia rasakan kemarin, toh apa yang ia rasakan sepenuhnya bukan salah kekasihnya, begitu pikir angelo, ia menghela nafas sesaat sebelum memasuki toko bunga yang lumayan besar di depannya
Tbc......