
Episode 25
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, angelo masih tertidur dengan sangat damai di ruang tamu mila tanpa ada gangguan sedikit pun
Sedangkan mila ia saat ini masih berada di warung mbok darmi yang tak jauh dari rumahnya, ia memutuskan untuk membeli telor dan minyak goreng setelah melihat isi lemari di dapurnya yang tidak ada makanan lagi untuk dirinya
Ia merasa lapar setelah mencuci beberapa pakaian ayahnya, adit serta miliknya beberapa waktu lalu, karena itu ia memutuskan untuk mencari bahan makanan untuk ia masak sembari menunggu angelo bangun, mungkin saja angelo akan ikut makan bersama dengan dirinya nanti
“ mbok, mila minta telor ya satu kilo sama minyak gorengnya satu liter “ ucap mila di depan warung
“ lainnya apa lagi nduk?” tanya mbok darmi sembari meletakan minyak ke dalam kantong plastik
Mila celingak celinguk mencari sesuatu yang mungkin ia butuhkan lagi selain telor dan minyak goreng
“ itu mbok sekalian sama kerupuk terus cabe rawit boleh lah” mila menunjuk satu bungkus kerupuk yang berada di samping mbok darmi
“cabe rawitnya mau minta berapa nduk”
“ dua ribu aja lah mbok, oia sekalian sama daun bawangnya juga boleh lah, sama dua ribu juga ya mbok”
Mila tersenyum membayangkan apa yang akan ia masak nanti sembari memperhatikan mbok darmi mengambilkan barang belanjaannya
“ gimana kabar adit nduk? Mbok denger dari tetangga dia di rawat di rumah sakit yah”
“ eh iya mbok, dia udah lebih baik dari sebelumnya mbok”
“syukurlah kalau begitu, nanti kalo nduk mila ke rumah sakit sampaikan salam mbok ke bapak nduk ya “ ucap mbok darmi sembari memberikan kantung belanjaan di tangannya
“ iya mbok nanti mila sampaikan, jadi berapa semuanya mbok”
“ semuannya jadi 60 ribu nduk”
“ iya, ini uangnya ya mbok” mila memberikan satu lembar uang kertas seratus ribuan
Mbok darmi menerima uang dari mila lantas memberikan kembalian uang mila
“ oia nduk ini buat adit dari mbok darmi” ucapnya sembari memberikan sebuah amplop dan satu kantong buah
“ eh gak usah repot-repot mbok, doa saja sudah cukup”
“ gak papa nduk, mohon di terima ya,”
Mila tersenyum, ia merasa tidak enak menolak pemberian mbok darmi, jadi ia menerimanya sembari mendoakan yang baik-baik untuk usaha mbok darmi, meski ia hanya memiliki usaha warung yang tidak terlalu besar namun ia orang yang sangat baik, ia akan membantu jika ada yang memerlukan bantuannya
“ baik, kalau begitu mila terima ya, terimakasih mbok, semoga warung mbok darmi semakin laris”
“ Amin, terimakasih doanya nduk”
“ya udah kalau begitu, mila pamit pulang dulu ya mbok” mila tersenyum
Mbok darmi mengangguk lantas tersenyum menjawab pertanyaan mila
Setelah berpamitan mila melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya ia sudah menenteng dua kantong kresek di samping kanan kirinya, ia tersenyum dan mengangguk setiap berpapasan dengan orang yang ia jumpai sebelum ia sampai di rumahnya
🍂🍂🍂🍂🍂
Ring…..ring…..ring ponsel angelo berbunyi dengan keras di ikuti getaran, angelo membuka mata, mengusap wajahnya, segera mencari benda itu
“ hallo “ ucap angelo sembari menguap
“ woey gel lo dimana sih”
“ haah “
angelo bingung mendengar teriakan di ujung telepon, ia baru saja bangun wajar saja
nyawanya belum kembali sepenuhnya
“ hah… hah pala lo, gue cariin lo ke rumah gak ada, gue tanya sama bang dimas katanya lo belum pulang”
“ oh lo dani yah, emang ada apa sih berisik amat”
“ dasar angelo bego, kepala lo kebentur sesuatu yah, lo lupa sama rencana kita”
“ ck, gue kira apaan, sorry deh gue baru bangun”
“dasar masih sempet-sempetnya lo tidur, hebat banget yah lo gel, lo dimana sekarang”
“ apaan sih berisik banget lo dan, kaya emak-emak, gue di rumah cewek gue”
“hah apa lo bilang, lo di rumah mila dan lo baru bangun tidur, gila lo yah gel, gue kira lo gak bakal lakuin hal kaya gitu”
“maksud lo apaan bego, gak usah aneh-aneh deh lo”
“hahahaha, gue kira lo udah anu sama mila”
“ anu anu pala lo somplak, gue juga mikir kali”
“ hahahaha, anu juga gapapa ko gel normal, biar lo gak nyiumin gue terus”
“apaan deh, nih anak minta di hajar ya, gue nyium lo juga terpaksa, hiyy”
“hahahaha sorry gel, oia lo jangan lupa kita meeting dulu jam 9 nanti, awas kalo lo gak dateng, gue babat lo gel” dani terkekeh di ujung telepon
“ck, iya ibu Negara yang agung”
Angelo langsung memutus sambungan telepon setelah mengucapkan kata-kata terahirnya, ia menggerutu sembari melemparkan ponselnya ke samping
Ceklek….. angelo menoleh mendengar suara pintu terbuka dari arah sampingnya
“ darimana beb”
“ lo gak liat gue bawa apaan”
“ ck, galak amat sih, sini gue bantu”
“gak usah, lo duduk aja”
Angelo berdiri tanpa menghiraukan ucapan mila lantas merebut kantung kresek yang mila bawa, ia berjalan di depan meninggalkan mila yang mendengus sebal karena ucapannya tidak di respon angelo
Angelo meletakan barang belanjaan mila di atas meja makan
“ beb kamar mandi lo dimana” tanya angelo yang melihat mila baru saja sampai di belakangnya
“ itu di belakang rumah gue, lo tinggal lurus terus belok dikit, jangan kaget, kamar mandi gue kecil gak kaya punya lo”
“ ngomong apa sih beb, yang penting kan ada airnya”
“ syukurlah kalo lo ngomong gitu” ucap mila sembari mengeluarkan barang belanjaan dari kantung kresek
Angelo sudah berjalan meninggalkan mila sendiri di dapur, baru beberapa menit angelo meninggalkannya, terdengar teriakan cukup keras dari arah angelo, mila berlari dengan tergesa-gesa melihat apa yang terjadi pada angelo
“ apa, ada apa” tanya mila panik
angelo sudah berdiri di sudut tembok kamar mandi dengan pintu yang masih terbuka sembari memegang gayung di tangannya, mila berjalan mendekat ke arahnya
“ada apa sih gel teriak-teriak”
Dengan wajah geli bercampur takut angelo menunjukan gayungnya pada sesuatu di depannya, terlihat seekor kecoa menempel di dinding kamar mandi
“ ya elah gel, cuma kecoa lo teriaknya udah bikin geger satu kampung aja”
“ ck, ya udah cepet lo keluar dulu “
Angelo beranjak dengan cepat memiringkan badannya, persis
seperti kepiting yang sedang berjalan, tatapannya masih menuju kecoa di depannya, setelah keluar mila masuk ke dalam, dengan cekatan ia menyiram kecoa dengan air menggunakan gayung
“udah, sekarang udah pergi tuh kecoanya” mila keluar dari dalam kamar mandi menatap angelo sembari menahan tawa, ia baru tau angelo takut dengan hewan kecil itu, padahal ia tidak pernah takut berurusan dengan hal-hal berbahaya di luar sana
" dasar angelo " batin mila
“oke makasih beb”
Angelo berlalu melewati mila di depannya, ia masuk kembali ke dalam kamar mandi, mila pun berbalik menuju dapurnya lagi, ia tertawa sendirian melihat apa yang baru saja terjadi sembari menuntaskan apa yang belum ia selesaikan
Beberapa saat kemuadian, angelo sudah berjalan menghampiri mila yang sedang menyiapkan bahan untuknya memasak
“ masak apa beb” tanya angelo berbisik di telinga mila
“ish apaan sih gel, bikin kaget aja “ mila beringsut mundur
“ hehehe, gue bantu yah”
Angelo berjalan menuju meja makan mila, ia mengambil telor dan potongan cabai di sana lalu menghampiri mila kembali
“ gak usah gel, lo duduk aja “
“ gapapa, kalo gue bisa masak ya gue aja yang masak biar lo duduk aja, gue gak mau lo capek”
“ lebay lo gel, kerjaan cewe ya masak lah”
Angelo tertawa mendengar ucapan mila,
meskipun mila melarang angelo untuk tidak membantunya namun tetap saja angelo membantu mila, ahirnya mila hanya pasrah menurut dengan angelo, cukup lama mila berjibaku dengan penggorengan di depannya, masakan yang ia masak ahirnya sudah matang, mila tersenyum
Angelo dengan segera mengambilkan piring untuk mila menaruh masakan lantas ia membantu mila mencuci perabot dan piring bekas ia masak
Mila tersenyum melihat angelo yang sedang mencuci piring terlihat sangat serius ia mengerjakannya padahal cuma mencuci piring, mungkin angelo tidak pernah melakukan itu sebelumnya, pikir mila
Mila menghampiri angelo setelah terdiam beberapa saat di samping meja makan ia baru saja meletakan masakan yang sudah matang
“ sini gue bantuin” ucap mila di samping angelo
Angelo menoleh kaget, mila tertawa melihat ekspresi kagetnya
“ apaan sih lo gel, gitu aja kaget, udah sini gue terusin lo duduk aja”
Mila meraih piring dan spons yang berada di tangan angelo
“ gak usah, ini cuma tinggal dua, lo liatin aja prince angelo sembari duduk manis, beruntung lo mil bisa liat gue nyuci piring” ucap angelo tangannya telaten mengusap piring dengan spons
“ iya gue beruntung banget, kalo gitu gue foto nih buat kenang-kenangan” ledek mila
Angelo tidak merespon ucapan mila karena saking konsentrasinya mencuci piring, mila berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel, tak lama ia sudah kembali lagi dengan ponsel di tangannya segera memotret angelo dari arahnya, mila tertawa melihat wajah serius angelo yang sudah berhasil ia potret
Angelo menengok ke arah mila setelah ia selesai mencuci piring, ia melihat mila tertawa sangat lepas memperhatikan ponsel di depannya, sangat manis kedua lesung pipi menghiasi wajah mila saat ia tertawa
“ apa sih yang lucu “ angelo merebut ponsel mila
“ ish jangan dong, kan tadi gue udah bilang, lo diem aja”
Mila meraih ponsel di tangan angelo, namun
dengan jailnya angelo mengangkatnya tingi-tinggi, mila tetap berusaha meraih ponsel di tangan angelo
Tuk…..kaki angelo terantuk sesuatu di belakangnya bruk…… angelo jatuh ke belakang, tubuh mila menindihnya, angelo meringis menahan sakit di kepala bagian belakang
“aishhhh, lumayan juga rasanya” ucap angelo mengusap belakang kepalanya yang sedikit ngilu
Mila beringsut dari tubuh angelo, wajahnya memerah
“sorry gue gak sengaja” ucap mila
“iya gapapa, gue juga gak bermaksud”
“ ya udah kita makan sekarang”
Angelo memberikan ponsel mila lantas mereka berjalan menuju meja makan, mila merasa canggung dengan angelo mengingat apa yang baru saja terjadi dengan mereka , ia diam sembari menyendok nasi yang ada di depannya, fikirannya sibuk memikirkan banyak hal
“ hmmmm, pinter juga my princess masak” ucap angelo memecahkan suasana
Mila melirik angelo sekilas, menyendok kembali nasi di depannya
“ beb kok kita udah kaya suami istri yah rasanya”
“hah, maksud lo”
“ iya kan, lo yang masak gue yang cuci piring cocok banget dah tuh kaya suami istri”
“ apaan sih gel, pikirin tuh sekolah dulu baru ngomong kaya gitu” ucap mila, ia tersipu namun berusaha menyembunyikannya
“hehehe kan gue cuma berandai, lo mau gak jadi istri gue mil kalo kita udah cukup umur”
Mila menghentikan gerakan tangannya, menaruh kembali sendoknya ke atas piring, ia menatap angelo, seakan tak percaya dengan apa yang angelo katakan, pandangannya menatap dua buah bola mata berwarna coklat kehitaman, begitu banyak arti yang tersirat di dalamnya yang jelas mila tidak tau harus menjawab pertanyaan angelo seperti apa
“ hahahaha gue cuma bercanda” angelo tertawa jail
“ bercanda lo gak lucu gel “
Mila mengalihkan pandangannya kebawah ia menatap nasi goreng di piringnya yang hanya tinggal sedikit, ia merasa aneh dengan perasaannya, padahal ia tau persis angelo memang seperti itu, tapi entah kenapa ia sedikit kecewa
“ lo marah yah “
“ gak kok, buat apa gue marah sama lo”
Mila menghela nafas mencoba membuang
jauh-jauh fikiran negatifnya itu, ia kembali larut dengan candaan yang angelo buat sembari menghabiskan nasi di depannya
🍂🍂🍂🍂🍂
Tak terasa karena saking asiknya waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, mila bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya, ia baru saja selesai mandi, sedangkan angelo sudah duduk di teras mila di temani satu cangkir teh hangat sembari menyesap rokok yang tinggal separuh, ia menunggu mila selesai berbenah lalu mengantarnya ke rumah sakit untuk menemui adik dan ayahnya, pandangan angelo menerawang jauh ke depan menatap gelapnya malam sembari menikmati hembusan angin malam yang ringan namun cukup menyejukan badan, ia sudah memakai hoodienya sedari ia duduk di sana
Tuk…..langkah mila berhenti di samping angelo yang masih menikmati hembusan terahir asap rokoknya, ia menoleh ketika mendengar suara di sampingnya
“ yuk jalan sekarang” ucap angelo
Mila mengangguk, ia segera memasukan kembali cangkir yang ada di samping angelo, mengunci pintu rumahnya, angelo sudah siap menunggu mila di atas motor
Angelo menancapkan gas saat mila sudah duduk di belakangnya, seperti tadi pagi mila mendekap tubuh angelo dari belakang, mereka sesekali berbincang saat di perjalanan, mila cukup menikmati pemandangan malam kota Jakarta yang indah di siram lampu yang berkelap- kelip sepanjang jalan
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah sakit husada, angelo meraih ponsel di saku celananya, ia melirik sekilas jam yang tertera di layar ponselnya, sudah jam 8 malam, ia harus bergegas menuju geng xtc untuk menemui dani dan yang lainnya walaupun acara meetingnya masih satu jam lagi, tapi ia perlu mengistirahatkan sejenak perasaan yang menumpuk sedari tadi.
Ia berpamitan dengan mila, walaupun mila sempat melarang kepergian angelo, namun ahirnya mila memperbolehkan angelo untuk pergi setelah angelo membujuknya cukup lama.
Wushh……angelo sudah melaju kembali membelah malam yang cukup dingin, mempercepat laju motornya agar cepat sampai di base camp xtc, ia sudah ingin mendaratkan tubuhnya ke atas matras yang berada di sana
Tbc……..