
Episode 18
Terdengar suara tawa anak-anak SMA venus di luar ruangan, tampaknya mereka sedang mengikuti pelajaran olahraga di sana, mila memperhatikan mereka dari tempatnya duduk sembari meletakan tangan di bawah dagunya, mila tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik hari ini, fikirannya ingin segera pulang untuk melihat keadaan angelo juga keadaan adit, mila sudah merasa bosan sedari pagi tadi, ia terus-terusan mencorat coret bukunya untuk menghilangkan rasa bosannya, entah apa yang gurunya jelaskan mila tidak berniat untuk mendengarnya
“psttt, mil lo gila yah, pelajaran pak gito lo abaikan” linda menyikut mila
Mila menoleh, “ sttt, gak usah berisik lin, pelajaran terahir juga, jadi gapapa deh”
Kelakuan mila dan linda tampaknya menarik perhatian pak gito yang sedang menjelaskan pelajaran di depan
“mila, linda “ teriak pak gito sembari menurunkan kaca matanya
“eh i...ya pak ada apa” ucap linda gagap, mereka sudah berdiri karena saking terkejutnya
“coba kalian jelaskan apa yang bapak sampaikan tadi semuanya dari awal sampai ahir”
“duh mampus, mana gue gak dengerin dari tadi, psstt lin lo yang jawab gih gue gak tau sumpah” bisik mila menyikut linda
“eh lo kira gue dengerin tuh orang, gue juga gak dengerin sama kaya lo, gue ngantuk tau”
“aish bego banget deh, ya udah pasrah aja deh” bisik mila
“kalian berdua tidak mendengar ucapan saya” bentak pak gito
Mila dan linda terkejut mendengar teriakan pak gito yang menghentikan acara bisik-bisik mereka
“anu, anu itu pak….” Ucap mila gagap
Teng…..teng…..teng…..teng bel berbunyi, tanda waktu pulang untuk anak-anak SMA venus, linda menghela nafas lega beserta dengan mila mereka bagai terbebas dari rantai yang menjeratnya sedari pagi
“baik kalau begitu, mila dan linda kalian silakan tulis permohonan maaf serta tidak akan mengulangi lagi perbuatan kalian sebanyak 10 lembar, besok pagi kumpulkan di meja saya” ucap pak gito sembari berbalik menuju mejanya untuk membereskan buku-buku disana
“baik pak” ucap mila dan linda bersamaan
Kelas di bubarkan, pak gito keluar dari ruangan di susul teman-teman mila yang sudah siap sedari bel berbunyi, sedangkan mila masih mengemasi buku-buku yang ada di atas mejanya, linda sudah berdiri menunggu
“ck, sial amat hari ini” gerutu mila, mereka sudah berjalan keluar ruangan
“lah lagian lo ngapain liatin keluar jendela terus?” ucap linda di samping mila
“lo juga sama kan lin, udah tau gue gak merhatiin, lo pake acara ngantuk segala” mila menyentil kening linda
“hehehe ngantuk kan naluri mil gak bisa di ganggu gugat” linda nyengir
“ah udahlah pusing gue,ntar lo temenin gue buat tuh permohonan maaf”
“oke siap bos” linda tertawa
“eh btw lo tadi pagi nyariin dani mau ngapain? Gak nyari lagi sekarang”
Mila diam mendengar pertanyaan linda, ia baru ingat belum bertemu dengan dani dari tadi pagi, tapi mood mila untuk mencarinya sudah tidak ada lagi sekarang, ia lebih memilih untuk segera menemui angelo saat ini sembari berharap angelo sudah sadar dari kondisinya
“woy mil, lo denger gue ngomong?”
“ck, gak jadi, yuk lah buruan ke rumah sakit”
“aishhh dasar aneh” gerutu linda
🍂🍂🍂🍂🍂
Mereka sudah sampai di samping mobil linda yang menunggunya di gerbang depan SMA venus, mila dan linda membuka pintu mobil, namun sebelum masuk terlihat nindy berlari ke arahnya
“hay mil, aku boleh ikut kalian pulang gak” ucap nindy, terengah-engah
“lah mobil lo kenapa nin?” tanya mila
Linda yang sudah di dalam mobil menjulurkan kepalanya di samping mila saat mendengar seseorang bebrbicara di depan mila
“ada apa mil belum masuk” ucap linda
“ini si nindy katanya mau nebeng, boleh gak?” tanya mila
“iya, tolong biarin nindy nebeng ya lin, mobil nindy macet di jalan kata supir nindy” nindy menunjukan muka memelasnya
“boleh aja, tapi gue sama mila mau ke rumah sakit dulu, jengukin adek mila sekalian jenguk angelo” ucap linda acuh di belakang mila
“eh angelo, kenapa dengan dia?” tanya nindy
“gak ada apa-apa, buruan masuk” ucap linda
“oke terimakasih mila, linda” nindy segera berlari ke depan, ia duduk di samping supir linda
Linda terpaksa membiarkan nindy untuk ikut dengan mereka, sebenarnya ia tidak terlalu menyukai nindy, entah karena apa tapi firasat linda mengatakan kalau nindy bukanlah orang yang baik walaupun tingkah lakunya sangat terjaga bak putri dari kerajaan, linda tetap merasa ada yang aneh dengan tingkah laku nindy yang tidak mempunyai cela sedikitpun, ia hanya membiarkan ikut dengan mereka karena ia merasa tidak enak dengan mila yang sepertinya sudah cukup dekat dengan nindy entah sejak kapan itu terjadi, linda memperhatikan diam-diam tingkah laku nindy ketika ia sudah duduk di samping supirnya
Mobil hitam metalik linda melesat setelah nindy dan mila duduk dengan rapi di dalam, nindy tampak seperti mengakrabkan dirinya dengan linda, namun sepertinya sikap tidak suka linda sangat kentara, ia cuek dengan nindy selama mereka mengobrol bertiga hanya mila yang tetap baik hati menjawab semua pertanyaan nindy, linda mendengus sebal melihat tingkah laku nindy yang selalu tersenyum itu, bukannya cantik tapi menurut linda justru sangat menjengkelkan, apalagi saat nindy meminta untuk ikut bersama dengan mereka saat mendengar angelo berada di rumah sakit, linda terpaksa mengijinkannya karena mila tetap mengijinkan nindy untuk ikut meskipun linda melarangnya
“ada baiknya juga gue gak minta di jemput” batin nindy, sembari terus tersenyum ikut larut dalam pembicaraan linda dan mila
Tak lama mobil linda sudah memasuki area parkir rumah sakit husada, mila,linda dan nindy keluar bersama, mereka berjalan menuju ruangan adit terlebih dahulu, linda menyuruh supirnya untuk menunggu di parkiran lantas berjalan mengejar mila dan nindy di depan, mereka terus berbincang bersama di perjalanan menuju ruangan adit
“hey tungguin gue dong mil” teriak linda
Nindy dan mila menghentikan langkah mereka lantas menoleh ke arahnya yang berlari
“ck, lama amat sih lo lin”
“ih gapapa kali mil, linda kan habis ngobrol sama supirnya, iya kan lin?”
“ish ngeselin banget sih nih anak” gerutu linda mendengar ucapan nindy
“hmmm iya deh nin, yuk kita masuk”
Kriett…. Mila membuka pintu ruangan adit, terlihat pak maman sedang merapikan meja di samping adit, sedangkan adit sudah bisa duduk, adit dan pak maman menoleh saat mendengar pintu ruangan itu terbuka, mila berlari menuju adit, mila ingin memeluk adit tapi ia takut tubuh adit masih lemah maka mila mengurungkan niatnya itu, ia hanya mengelus rambut adiknya dengan lembut
“hmmm cukup baik” ujar adit lirih
“syukurlah dek kamu sudah bisa bicara, cepat sembuh ya”
mila tersenyum membelai rambut adit
“eh nak linda juga ikut kesini? Ini siapa cantik amat” ucap pak maman melihat nindy di samping linda
Linda bersalaman dengan pak maman
“iya pak kebetulan linda tidak les privat hari ini”
“oalah sampe lupa, oia pak kenalin ini nindy teman sekolah mila sama linda”
“hallo apa kabar om, saya nindy” ucapnya tersenyum
Nindy mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pak maman
“hmmmm, nak nindy ini sopan sekali, cantik lagi, bapak gak tau mila punya teman secantik ini”
“om bisa saja ngomongnya, lebih cantikan mila lah daripada saya”
Linda mendengus melihat senyum nindy, ia tetap memperhatikan ekspresi di wajah nindy, kalau-kalau ekspresi itu berubah saat ia melihatnya maka ia bisa menyimpulkan kalau nindy sebenarnya bukan orang yang baik
“nak nindy ini pinter banget yah muji orang, yuk, yuk sini masuk, mau di buatin minum apa linda sama nindy”
“ah saya gak usah om, gak perlu repot-repot”
“saya juga gak usah pak”
“ck, paan lo lin sok pura-pura nolak gak kaya biasanya aja” celetuk mila
“ih emang gue lagi gak pengen makan atau minum sekarang kok, gue cuma pengen liat adit aja”
“udah-udah jangan bertengkar, kalau nak nindy sama nak linda gak mau ya sudah gapapa” pak maman memecah suasana
Linda mendekat ke samping adit di susul nindy di belakangnya, mereka bertiga sudah di samping adit, sedangkan pak maman duduk di sofa sembari merapikan pakaian di sana
“ini adik mila ya, siapa namanya? Hallo saya nindy, salam kenal” sapa nindy tersenyum
“namanya adit, dia masih lemah mana mungkin jawab pertanyaan beruntut lo” jawab linda
“oh gitu ya, maafin kakak yah tidak tau, kalau gitu semoga adit cepat sembuh ”
“makanya nanya kalau gak tau”
“ck, lo kenapa sih lin dari kita berangkat sampe sekarang, lo jutek banget jawab pertanyaan nindy, lo kerasukan yah”
“ ihh gapapa mila, nindy gak merasa keberatan ko sama sikap linda”
“ngapa lo ikut campur sih, yang di tanya gue bukan lo”
“aishh, ya sudah lah terserah lo aja deh lin, gue lagi gak mood berdebat sama lo”
Mila beranjak meninggalkan nindy dan linda yang masih berdiri di samping ranjang adit, mila merasa atmosfir di ruangan adit cukup aneh, ia merasa heran dengan kelakuan linda hari ini, ia tidak seperti biasanya bersikap acuh sejak nindy ikut dengan mereka, mila tidak tau entah apa yang sedang terjadi dengan linda dan apa yang sedang linda fikirkan tentang nindy, ia hanya bisa diam memahami situasi mencoba berfikir positif tentang sahabatnya, mungkin saja linda merasa lelah hingga ia seperti itu, mila menghela nafas menjatuhkan dirinya di atas sofa, ia diam mendengar percakapan linda dengan ayahnya, sesekali nindy menimpali obrolan mereka
“eh mil yuk kita ke ruangan angelo, udah jam 3 nih, nanti gue di cari mama” ucap linda kemudian setelah mereka berbincang cukup lama dengan pak maman
“eh iya yuk”
Mila beranjak dari duduknya, ia berjalan menuju pintu ruangan adit menunggu linda dan nindy yang sedang berpamitan dengan ayahnya, ia juga sudah berpamitan dulu sebelumnya lantas menunggu mereka berdua selesai berpamitan
Setelah mereka selesai berpamitan, mereka bertiga sudah berjalan kembali menuju ruangan angelo
“eh mil gue beli minum dulu bentar yah, lo ke ruangan angelo dulu, nanti gue nyusul” mila menepuk pundak mila
“ck, tadi katanya lo gak mau minum, dasar, ya udah sana buruan”
Linda nyengir menjawab pertanyaan mila lantas berlari meninggalkan nindy dan mila yang meneruskan langkah kaki mereka menuju ruangan angelo, namun belum sampai di ruangan angelo nindy juga pamit pada mila untuk pergi ke toilet sebentar, mila mengangguk membiarkan nindy pergi ke toilet, ia terus melangkahkan kakinya sendiri menuju ruangan angelo
🍂🍂🍂🍂🍂
Di dalam toilet nindy berada
Ia membuka keran di atas wastafel, mengeluarkan antiseptik cuci tangan, tisu basah, tisu kering dari dalam tasnya lantas membasuh tangannya kuat-kuat
“ck, sial, berapa kali gue kontak fisik sama tuh orang-orang miskin, bikin jijik aja, mana tu orang tua bau banget lagi, ihhh sumpah, kalo bukan karena angelo gue ogah banget ikut kesini” gerutu nindy
Ia terus mencuci tangannya berkali-kali menggunakan antiseptik yang ia bawa sambil terus menggerutu mengeluarkan sumpah serapah yang hanya ia keluarkan ketika sendirian, cukup lama nindy mencuci tangannya, ia juga berusaha menata ekspresinya lagi di depan cermin sebelum ia keluar nanti setelah ia selesai membersihkan tangannya yang tidak kotor itu
🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara itu, angelo terduduk sendirian di dalam ruangannya, menatap keluar jendela, ia sudah sadar sedari pukul 10 pagi, ia memperhatikan pepohonan yang tumbuh di samping ruang kamarnya dengan diam
Ceklek…..angelo menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, ia melihat mila berdiri di sana membatu menatapnya
“hay my princess” sapa angelo tersenyum jail seperti biasa
Wajahnya seperti tidak merasakan sakit sama sekali, padahal kemarin dia tidak berdaya di atas ranjangnya, namun hari ini saat bertemu dengan mila senyum jail kembali menghiasi wajah tampannya yang masih penuh dengan lebam dan bekas luka itu, mila berlari tanpa sadar saat melihat angelo sudah sadar dan tersenyum seperti biasa, hatinya merasa sangat senang, hingga ia tidak bisa lagi mengungkapkannya dengan kata-kata, lelaki tampan yang ia rindukan sedari kemarin, senyum jailnya serta suara nakal yang selalu ia ucapkan saat bertemu dengannya sudah kembali lagi, perasaan mila bagai tumpah ruah menjadi satu, ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi akibat perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan itu, ia berlari dengan cepat dan langsung memeluk angelo yang menatapnya dari tempat ia duduk
angelo diam saat mila berada di pelukannya, hanya jantungnya yang berisik mendapat perlakuan seperti itu dari mila, ia membatu di tempatnya, sedangkan mila dengan erat memeluk angelo, ia terisak di sana, menangis penuh haru, doa yang ia panjatkan di kabulkan, ia dapat melihat lelaki yang sudah ia akui sebagai pacarnya itu tersenyum menyambut dirinya, hatinya merasa nyaman saat memeluk angelo, cukup lama mila memeluk angelo , ia tersadar angelo tidak merespon pelukannya lantas ia mengendurkan pelukan yang sedari tadi sangat erat, perlahan melepaskannya, namun belum sampai mila melepaskan pelukannya, angelo menariknya kembali dalam pelukan
“ jangan di lepas, biarkan seperti ini lebih lama lagi” angelo berbisik
Mila mengangguk, sesekali terdengar sesegukan dari arahnya
“ gue rindu lo mil, jangan tinggalin gue sendiri”
“ gue juga rindu lo gel, iya gue gak bakal ninggalin lo sendirian” mila terisak
Mila dan angelo melepas rasa rindu mereka lantas diam satu sama lain masih dalam posisi berpelukan, hanya detak jantung mereka yang berpacu dua kali lipat dari biasanya