my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 32



Episode 32


Tuk….tuk…..tuk, langkah kaki angelo membawa dirinya menuju ruang rawat inap andi setelah ia selesai mengisi perutnya di kantin rumah sakit bersama dengan mila dan dani beberapa saat lalu, ia berjalan bersama dengan dani saat ini, sedangkan mila berpisah dengan mereka berdua saat melewati pintu ruangan adiknya, dalam perjalanan menuju ruang rawat andi, dani terlihat menggerutu beberapa kali di samping angelo, ia tidak mau menemui andi namun angelo memaksanya untuk menemani dirinya


Ceklek…..angelo membuka pintu ruangan andi, terlihat andi masih berbaring di tempat tidurnya sembari menatap ke jendela yang tak jauh dari posisinya berbaring, tidak ada seorang pun di ruangan itu, sepi, senyap menyisakan detakan jarum jam yang terus berjalan, angelo berhenti di depan pintu menatap ke arah andi berada, sedangkan dani masih di belakang angelo, kini ia diam setelah angelo membuka pintu


Andi menoleh, ia merasa ada angin yang masuk melalui pintu hingga membuat tubuhnya merasa sedikit dingin, andi dapat melihat angelo yang terdiam di tempatnya menatap ke arahnya, ia tidak tau harus bereaksi seperti apa saat melihat sepasang bola mata berwarna coklat milik angelo menatap tubuhnya tanpa ekspresi yang tergambar di wajahnya


Angelo menghela nafas setelah ia mendapati andi hanya diam menatapnya, ia berjalan mendekat ke arah andi, dani menyusul di belakangnya, meski tampak begitu kesal namun dani tetap mengikuti langkah angelo


“ bagaimana perasaan lo ndi?” tanya angelo kini ia sudah berdiri di samping ranjang andi


“ maafin gue gel” ucapnya lirih, andi mencoba untuk bangkit dari posisinya dengan susah payah


“ sini gue bantu, pelan-pelan aja, gue lama kok disini” angelo membantu andi untuk duduk bersandar ke belakang sembari menaruh bantal untuk mengganjal tubuhnya menjadi lebih nyaman


“ thank’s gel”


Angelo mengangguk, ia mulai duduk di samping ranjang andi setelah membantu andi untuk duduk dengan nyaman, mereka bertiga diam satu sama lain dalam posisi duduk masing-masing, angelo tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini, ia sangat ingin bertanya banyak hal pada andi namun ia urungkan mengingat kondisi andi yang masih seperti itu, ahirnya angelo mengalah juga dengan perasaannya merasa atmosfir di sekelilingnya dingin dan terasa canggung


“ ada yang mau lo omongin sama gue ndi” angelo menatap lekat-lekat wajah andi yang tertunduk di tempatnya


Andi diam masih menunduk, angelo tidak tau apa yang sedang ia fikirkan sebenarnya


“ ndi liat gue, gue tau ada yang mau lo sampein sama gue kan? Ngomong aja” tutur angelo, ia menyentuh kedua pundak andi


“ maafin gue gel” lirihnya


Angelo menghela nafas panjang, ia masih menatap lekat-lekat wajah andi namun tak menjawab perkataan andi


“ maafin gue gel, gak seharusnya gue hianatin lo, gue bego, tolol, gak punya otak” ucap andi lagi


“ emang lo bego, tolol, gak punya otak, kalo lo punya otak gak mungkin lo ada fikiran buat hianatin geng xtc apalagi angelo, lo lupa sama janji lo pas pertama ketemu gue sama angelo” ucap dani, ia diam sedari tadi memperhatikan angelo ahirnya ia ikut juga kedalam percakapan mereka berdua


“ sttt, diam lo dan, ini urusan gue sama andi” angelo mendelik menatap dani di sampingnya


“ ya gue tau ini urusan kalian berdua, gue cuma ngingetin aja sama tuh anak biar dia sadar sama janji awal masuk geng xtc, dia sudah mengingkarinya seenak jidat”


“ oke gue tau maksud lo baik, tapi lebih baik lo diam, biar gue urus sendiri masalah ini, kalo lo tetep kekeh ngomong yang gak-gak berarti lo gak hargai gue disini”


“arghh, oke gue diem” dani mendengus sebal


Angelo mengalihkan kembali pandangannya pada andi yang masih diam tertunduk di tempatnya, angelo tau andi pasti sedang merutuki perbuatannya setelah ia mendengar ucapan dani, ia pasti teringat dengan janjinya dulu saat bergabung dengan geng xtc bahwa setiap anggota yang bergabung dengan geng xtc tidak akan pernah berbuat curang ataupun berhianat apa pun yang terjadi, itu perkataan wajib yang di ciptakan dani dengan persetujuan angelo sebagai ikrar yang harus di ucapkan dan di laksanakan untuk mencegah anggotanya berhianat pada dirinya dan geng xtc yang lain meski angelo tidak meminta para anggotanya untuk tunduk dan patuh pada ucapannya atau menghormati dirinya layaknya seorang ketua tetap saja mereka harus menepati setiap perkataan yang mereka ucapkan sebagai salah satu syarat bergabungnya menjadi anggota resmi geng xtc


“ gak usah dengerin ucapan orang songong di samping gue” ucap angelo


“ gak, ucapan dani memang benar gel, gue salah, gue minta maaf sama lo, gue nyesel banget hianati lo, gue siap menerima hukuman dari lo” ucapnya tertunduk


“ oke, gue akui lo emang salah ndi, gue juga gak tau apa yang ada di fikiran lo, sampe lo hianati gue, sejujurnya gue gak pernah bayangin hal kayak gini sebelumnya, apalagi lo, rio, dani orang-orang yang gue percaya, kalian bertiga udah gue anggep sahabat gue, rumah kedua gue, tempat gue berbagi keseruan selama kita kumpul-kumpul, sebenarnya agak memalukan sih gue bilang kaya gini sama lo, tapi gue liat lo emang beda dari rio dan dani, gue gak bisa nyalahin perbedaan itu”


Andi mengangkat wajahnya perlahan setelah mendengar ucapan angelo, matanya terbuka lebar setelah mendengar ucapan seperti itu dari mulut angelo sendiri, padahal andi selama ini melihat angelo sangat konyol ketika mereka berempat bersama-sama menghabiskan waktu di dalam base camp, ia tidak menyangka seorang angelo yang di cap sebagai ketua geng paling galak, brutal menurut info yang ia dengar dan sangat konyol ketika bersama dengan dirinya bisa mengatakan hal seperti itu, mata andi mulai berkaca-kaca, ia sangat merasa bersalah pada angelo dan yang lainnya, mengapa sebelum berhianat ia tidak pernah berfikir apa yang angelo rasakan, apa yang angelo fikirkan hingga tega berhianat karena merasa cemburu dan iri dengan dani yang lebih dekat dengannya


“ gue maafin kesalahan lo ndi kali ini, gue gak mau kita berempat sampe retak persahabatan cuma gara-gara masalah sepele, arghh gue bener-bener malu sumpah ngomong gini, tapi ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur, gue emang ceroboh sebelumnya, gue gak pernah tanya sama lo, apa perasaan lo, lo ada masalah apa, atau lo punya masukan saat kita mau nyerang sekolah lain, gue cuma fokus ke dani, gue juga salah, sorry ndi, gak ada maksud gue beda-bedain lo semua, lo tau kan gue sama dani gimana?”


Andi mengangguk menatap angelo “ thank’s gel, gue gak bakal ngulangin perbuatan gue, dan gue minta maaf sama lo”


“ oke, semua sudah berahir, kita buka lembaran baru” angelo memeluk andi, menepuk-nepuk punggung andi


“thank’s gel, gue gak bakal ulangin lagi perbuatan jelek gue”


Angelo melepaskan pelukannya, ia mengangguk lantas menoleh ke samping


“ dan lo gak mau maafin andi” angelo menyikut dani


“ iya iya gue maafin, lo minggir dulu coba”


Angelo menuruti perkataan dani, ia menyingkir memberikan dani dan andi ruang, angelo duduk di sofa tak jauh dari ranjang andi


“ gue maafin lo kali ini, jangan salahin gue kalo gue gak bisa kaya dulu lagi sama lo, gue maafin lo karena gue gak enak sama angelo, lo tau kan sifat angelo kaya apa, inget perkataan gue, kalo lo sekali lagi hianati geng xtc sama angelo, gue beneran bunuh lo, camkan baik-baik perkataan gue” dani berbisik di samping andi


“ iya gue tau, thank’s lo udah kasih gue kesempatan”


“ oke, gak masalah, jangan sampe lupa kata-kata gue, kali ini gue serius”


Andi mengangguk mendengar ucapan dani, gertakan dani kali ini cukup membuat andi merasa ciut


Perkataan angelo membuat dani beringsut mundur dari samping andi, ia berjalan menuju angelo


“ apaan sih gel, syirik aja lo “ dani menjatuhkan tubuhnya di samping angelo


“ ndi jangan dengerin omongan si bego ini, anggap aja angin lalu, mulutnya gak bisa di dengerin”


“ iya santai aja gel” andi menatap angelo dan dani dari arahnya


Dani memberikan isyarat lewat matanya, bahwa ia harus tetap mengikuti apa yang ia ucapkan, andi mengangguk paham dengan isyarat mata dani


“ eh gel, yuk kita ke ruangan rio, kata aan dia nanyain lo tadi “ dani menoleh memperhatikan raut wajah angelo


Angelo diam menyenderkan kepalanya ke belakang, ia menatap langit-langit di atasnya, padahal ia sudah berkata saat bersama mila beberapa saat lalu ketika mereka berdua di padang rumput ilalang bahwa ia tidak boleh bimbang dengan perasaannya sendiri, ia tidak boleh egois lagi memikirkan perasaannya sendiri, namun tetap saja angelo merasa tidak enak jika harus berhadapan dengan rio


“ woey gel, lo budeg yah”


“ aish apaan sih dan, ya nanti lah kesana”


“ gue tau lo ngerasa gak enak gel, tapi lo kudu tetep nemuin rio, lo gak bisa kaya gini, gue gak percaya lo bisa bersikap kaya sekarang, dasar angelo bego” dani meninju lengan angelo


Angelo bangkit dari posisinya, ia menoleh ke samping


“ oke, lo panggil aan sama rendi kesini biar mereka nemenin andi, lo ikut gue ke ruangan rio” ucap angelo, berdiri di depan dani lantas berjalan mendekat ke arah andi, sedangkan dani sedang menghubungi rendi dan aan untuk segera datang ke ruangan andi


“ ndi, gue nengokin rio dulu ya, cepet sembuh yah lo, gue tinggal dulu”


Andi mengangguk menatap angelo, angelo berbalik badan ketika dani memanggilnya di depan pintu tampaknya dani sudah selesai menghubungi aan dan rendi, ia sudah berdiri memegang gagang pintu yang sudah terbuka sedikit, angelo mengangguk berjalan ke arahnya


Di depan pintu angelo dan dani bertemu dengan aan dan rendi, angelo menepuk bahu mereka berdua, ia mengangguk lantas berjalan meninggalkan ruangan andi, sedangkan dani masih berbincang dengan aan dan rendi di depan pintu


Angelo melangkahkan kakinya, ia mengusap belakang kepalanya menghadapi perasaanya sendiri, sudah tidak ada kata mundur lagi dalam diri angelo, bagaimana pun itu ia harus tetap melihat keadaan rio, meski ia ingin menghindar karena rasa bersalahnya ia sudah tidak bisa lagi


Tuk……angelo menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan rio, ia diam mematung memandang pintu di depannya


🍂🍂🍂🍂🍂


Sementara itu di ruangan adit, mila tengah duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang adit, ia membuka jaket hoodie yang masih menempel di badannya sedari pulang sekolah sampai saat ini ia berada di ruangan adit


Pak maman memutuskan untuk pulang ke rumah saat mila baru sampai di ruangan adit beberapa saat lalu, ia berencana untuk mengambil beberapa pakaian untuk dirinya dan membeli makanan untuk mila sebelum kembali lagi untuk menjaga adit menemani mila, sedangkan adit, ia sedang duduk sembari membaca sebuah buku pelajaran di tangannya, kondisi adit terlihat lebih baik setiap harinya terlihat ia sudah bisa duduk sendiri bahkan menyempatkan dirinya untuk belajar meski tidak bisa sering duduk karena tubuh serta kepalanya akan merasa sakit jika duduk dan membaca terlalu lama


“ aishhh, perihnya “ lirih mila sembari meniup-niup lengannya yang masih berbalut perban


Ia segera beranjak dari duduknya untuk mengambil kantung kresek yang ia letakan di meja samping adit


“ tangan kakak kenapa?” tanya adit


Mila tidak tau sejak kapan adiknya sudah selesai membaca buku karena ia tidak menoleh ke arahnya saat berjalan menuju meja di sampingnya


“ eh….ini, gapapa kok, kakak yang salah gak hati-hati” mila tersenyum


“ sakit yah kak? Kenapa gak di obatin aja minta dokter obatin kak”


“gapapa, ini udah di obatin di uks, kakak juga udah beli salep juga tadi di apotek depan rumah sakit”


“hmmm, ya sudah kalau begitu, gue lanjut baca buku lagi”


“ oke, kalo udah capek langsung tidur aja ya, kakak mau duduk lagi sekalian ganti perban” mila mengusap rambut adit


Mila berjalan kembali menuju sofa, meletakan kantung kresek di tangannya sembari mendaratkan tubuhnya untuk duduk, ia segera mengeluarkan semua isi yang ada di kantung kreseknya, ada perban, plester, salep untuk luka bakar


Mila segera membuka plester yang menempel di perbannya, membuka gulungan perban yang melilit lengannya secara perlahan, udara di sekitarnya seperti meniup luka yang baru saja mila buka, ia meringis menahan perih akibat lukanya yang bergesekan dengan udara di sekelilingnya lantas meniup-niup lengannya untuk meredakan sedikit rasa perihnya, kemudian ia mulai mengoleskan kembali salep pada kulitnya yang terlihat memerah, sedikit mengelupas mungkin karena seharian ia berlarian hingga membuatnya bergesekan dengan hoodie dan perban yang melilit lengannya


Dengan telaten mila mengaplikasikan salep menyeluruh hingga semua lukanya sempurna teroles


“ butuh bantuan gak kak” adit menawarkan diri ketika melihat mila yang mulai memasang perban


“ gak usah, lo tidur aja dit, udah malem juga, biar lo cepet sembuh, kakak bisa sendiri ko” ucap mila menoleh tersenyum menatap adit


Mila berusaha sendiri memasang perban baru untuk menutupi lengannya yang terluka dengan susah payah, ia tidak mau meminta bantuan adit apalagi kondisi adit masih lemah walaupun ia sudah bisa duduk sendiri, setelah sekian lama berkutat dengan perban dan plester ahirnya mila dapat memasangnya sendiri meski tidak sempurna dan rapi seperti yang petugas uks lakukan setidaknya lukanya bisa tertutupi


Tbc……..