my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 44



Episode 44


Jika ada kesempatan kedua biarkan luka yang pernah bersemayam hilang bersama hembusan angin, jika ada luka yang datang untuk kedua kalinya biarkan ia singgah hanya sebentar saja


Suasana tegang menyelimuti langit-langit sekitar, meski kondisi kelas sangat ramai tetap saja ada satu tempat dimana ada angelo,mila dan linda udaranya seakan berhenti di sekitarnya, angelo masih berdiri di samping meja mila, sembari menatap dengan galak, linda tertunduk dalam-dalam merutuki nasib buruknya yang berada di tengah-tengah badai besar


“ minggir lin, gue ada perlu sama samping lo” bentak angelo


Linda mengangguk paham, tangannya masih di cekal mila meski saat ini sudah berdiri di posisinya, bagaimanapun dia harus pergi sekarang, sudah tidak bisa lagi berlama-lama di dalam aura yang mencekam itu


“ lin lo gak boleh pergi dari sini, kalo lo pergi gue marah banget sama lo” ancam mila


Linda serba salah di tengah-tengah mereka, keinginan hatinya kuat ingin segera pergi dari sana, tatapan mila membuatnya sedikit merasa tidak enak, bagaimana ini


Brakkkk……angelo menggebrak meja “ kalo lo gak mau minggir, gue bunuh lo” tatapannya garang seakan membunuh


Linda menyentuh tangan mila yang masih menggenggam erat lengannya, menatapnya dengan maksud agar dirinya mau mengerti posisinya saat ini dan membiarkannya lepas dari cengkramannya


“ sorry mil, gue lebih sayang nyawa gue, lo jangan marah yah, gue gak mau ada diantara kalian, pliss”


Tatapan linda memelas bagai kucing yang habis tersiram air minta di bawa pulang, sangat kasihan, berkat tatapan itu ahirnyan linda dapat juga lolos dari sana, meski sebelumnya tangan mila mencengkeramnya lebih kuat lagi, sejujurnya tidak tega membiarkan sahabatnya sendirian, namun jika tidak seperti itu bagaimana mila dapat menyelesaikan masalahnya, sudah cukup dirinya melihat kelakuan tidak fokus dari sahabatnya itu akibat masalah yang menderanya, kali ini biarkan takdir yang menjawab semuanya, begitu pikirnya,


linda sudah pergi dengan langkah seribu tanpa menoleh sedikit pun


“ ikut gue bentar” ucap angelo tanpa ingin di bantah, tergambar jelas pada ekspresi wajahnya


Mila enggan menjawab apa yang angelo katakan, hatinya teramat sakit mengingat ketika berpapasan beberapa waktu lalu dengan dirinya yang menggendong cewek lain dan bahkan cuma memandangnya tanpa berkata apa pun langsung pergi meninggalkan dirinya sendirian dengan rasa sakit yang amat sangat


Melihat mila hanya diam saja tertunduk tanpa ekspresi, angelo tentunya tidak kehilangan akal dan tidak mau membuang-buang waktu lagi karena memang bel masuk telah berbunyi membuat seisi ruangan kelas 2A lebih penuh dari sebelumnya berarti kelas akan di mulai beberapa menit lagi, sudah terlanjur mereka bertemu jika harus membolos untuk membuat semuanya jelas maka angelo akan melakukan itu


Greekkkk……brak,,,” minggir bentar, gue ada perlu” perintah angelo pada seseorang yang duduk di depan mila, karena angelo sudah menggeser meja mila namun terhalang kursi di depannya, dengan cepat seseorang itu langsung menyingkir memberikan ruang


Meja sudah tergeser sempurna, tidak ada lagi yang menghalangi langkahnya, tangannya langsung meraih tubuh mila, menggendongnya dengan posisi kepala di bawah persis seperti membawa karung, mila memberontak sejadi-jadinya, namun tidak di hiraukan, langkahnya cepat meninggalkan kelas 2A meninggalkan tatapan-tatapan bingung dengan suasana hening seketika


“ gue gak mau ikut lo, lepasin gue” berontak mila memukul punggung angelo


Angelo diam tanpa ekspresi pandangannnya lurus ke depan tidak peduli dengan tatapan-tatapan yang memandang ke arahnya sepanjang lorong kelas, ada satu seseorang yang hanya menepuk jidat melihat ke arah angelo, ya dia tidak lain adalah dani sahabatnya, mau bagaimana lagi jika sudah seperti itu dani pun tidak bisa berbuat apa pun selain hanya diam memandang ke arah angelo berada sambil memperhatikan langkahnya akan hilang di ujung lorong dan berbelok ke parkiran


Di belokan menuju parkiran tepatnya di ujung lorong, seseorang sudah menunggu langkahnya dengan diam memandang ke arahnya tanpa ekspresi, tangannya mengepal kuat, jelas sekali tatapannya tidak suka apalagi melihat mila di gendong dengan posisi tidak nyaman seperti itu, dorongan hatinya seakan mengalahkan akal sehatnya, ia tau tidak seharusnya menghadang langkah angelo apalagi menyelamatkan mila karena mereka berdua berstatus pacaran, entahlah hatinya merasa tidak nyaman melihat mila menangis dan di perlakukan tidak nyaman seperti itu


“ minggir, lo buta, ada orang mau lewat” ucap angelo berhenti di depannya


“ lo mau lewat, gue ijinin, dengan syarat lo lepasin mila” ucapnya tak kalah dari angelo


Angelo menatap sepasang manik kelam milik yuda yang berada di depannya, sudah tidak ada waktu lagi, jika dirinya tidak cepat guru akan menangkapnya dan menggagalkan rencananya untuk berbaikan dengan mila, sungguh menyebalkan di tambah lagi saat ini yuda sepertinya tidak akan mengalah dengan mudah membiarkannya lewat


“ lo mau mati, atau biarin gue lewat, siapa lo!! punya hak ngelarang gue bawa mila” tantang angelo


Yuda mendengus sebal, “ oke, tapi turunin mila dulu, lo mau ngebunuh dia apa gimana?”, rupanya ucapan angelo membuatnya tersadar, bahwa benar dirinya bukan siapa-siapanya mila hingga bisa melarangnya lewat


Hup…..angelo menurunkan mila, benar saja apa yang di katakan yuda, mila bisa saja tersakiti akibat di bawa seperti itu, dirinya tidak berfikir panjang, sebab tuntutan waktu yang semakin mendesaknya untuk bergerak cepat, walau sudah di turunkan tak membuat angelo dengan mudah melepaskan mila, segeralah di dekap tubuh mila kuat-kuat hingga menempel erat dengan dirinya


“ udah puas, sekarang lo minggir dari hadapan gue, ini masalah gue sama cewek gue, gak ada urusannya sama lo” angelo menunjuk dada bidang yuda


Bukkk……bogeman kuat menghantam wajah angelo dengan cepat tanpa di duga, kata-kata angelo sudah menyulut api amarah yang sudah di tahannya dengan susah payah sejak tadi, kuatnya hantaman dari dirinya membuat tubuh angelo bergerak ke samping, smirkkk, senyum sinis tergambar di wajah angelo, jadi ini jawaban untuk dirinya, begitu pikirnya


“ lo mau mati, beneran mau mati” buk……..buk, angelo menghantamkan pukulan bertubi-tubi pada wajah yuda


“ woey,woey kalian berdua udah gila yah” dani melerai keduanya


Tanpa di sadari perkelahian mereka berdua menyita banyak pasang mata, entah mengapa hari ini guru-guru juga seperti mendukung suasana untuk angelo dan yuda berkelahi, tidak biasanya mereka datang terlambat untuk masuk ke kelas, keributan yang di ciptakan angelo dan yuda jelas langsung membuat teman-temannya yang sudah siap di kelas, mereka keluar melihat apa yang sedang terjadi, disitu dani tidak sengaja melihat perkelahian mereka karena dirinya hendak membolos mengingat pelajaran pertama kelasnya adalah matematika, apalagi beberapa saat lalu melihat angelo membolos jadi dia berencana ikutan membolos daripada mati menghadapi soal matematika yang tidak di mengerti, melihat situasi semakin memanas diantara yuda dan angelo dani mengorbankan tubuhnya masuk ke tengah-tengah mereka berdua, meski sedikit terkena pukulan dari yuda, aksinya tidak sia-sia, dia berhasil melerai angelo dan yuda


Dani mendorong tubuh angelo menjauh dari yuda, penampilan mereka berdua sudah sangat acak-acakan, noda tanah sudah mengotori seragam, luka lebam dengan sedikit darah sudah menjadi hiasan di wajah mereka berdua, tak sampai di situ angelo masih tetap berusaha untuk maju melawan yuda sama halnya dengan dirinya


“ woey gel, lo udah gila hah, lo mau main bunuh-bunuhan, jangan disini, lo lupa siapa ayah lo”


“ ck, lo tahan si bedebah itu, gue ada urusan” angelo berdecak kesal, mengalah menuruti perkataan dani, sekarang sudah bukan waktunya untuk melanjutkan perkelahian, ada hal lebih penting yang harus di urus


Angelo sudah menarik tangan mila, membawanya pergi dari banyaknya pasang mata yang menatap ke arah mereka berempat, mila hanya diam tanpa ekspresi sedari tadi dan hanya menurut ketika tangannya di tarik angelo, mereka berdua langsung naik ke dalam mobil di belakang sekolah


Brummm……mobil angelo sudah melesat dengan cepat meninggalkan SMA venus, angelo sesekali melirik mila dari kaca kecil di depannya mendapati kekasihnya hanya diam duduk tanpa ekspresi di sampingnya, ada rasa khawatir akibat sikap yang di tunjukan kekasihnya, tapi bukan itu masalah yang penting sekarang, laju mobilnya terus melaju menuju ke base camp xtc, merasa tempat itu tidak terlalu jauh dan juga pasti sepi, akan cocok untuk memberikan ruang bagi dirinya bersama mila


Tak lama mobilnya sudah memasuki halaman base camp dan memang benar base camnya terlihat sepi, mengingat dani masih di sekolah membereskan kekacauan yang dibuatnya, sedangkan anggotanya yang lain selain rio dan andi yang masih di rumah sakit, entah mereka ada dimana sekarang angelo tidak tau, yang jelas suasananya sangat mendukungnya, dengan gerakan sepersekian detik angelo sudah membukakan pintu mobil di samping mila, namun mila hanya diam tidak menoleh sedikit pun ke samping


Angelo mengacak rambutnya melihat mila yang hanya diam saja tanpa bereaksi apa pun, lima menit angelo berkutat dengan egonya membiarkan mila turun sendiri namun nyatanya mila tidak bergerak sedikit pun dari duduknya, tentu saja sikapnya membuat angelo sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi untuk menunggunya turun sendiri, oleh karena itu angelo langsung membopong mila, sama seperti dia membopong nindy beberapa waktu lalu ketika masih di sekolahan, tetap saja mila diam tidak mengatakan apa pun bahkan ketika tubuhnya sudah menempel di atas kursi


“ mil lo kenapa? Ko diem aja dari tadi” ucap angelo bersimpuh memegang kedua lutut mila di hadapannya


Mila diam tatapannya lurus kedepan, entah apa yang sedang ada di fikirannya saat ini, angelo tidak tau itu


“ gue tau gue salah udah maksa lo, gue tau gue gak bisa ngontrol emosi gue, gue tau gue udah seenaknya jadi orang, tapi mil….” Ucapannya menggantung di langit-langit


Menyisakan kepedihan di hatinya, kepedihan yang sudah di usir jauh-jauh seakan kembali lagi menemaninya, dadanya sesak, suaranya tercekat di tenggorokan wajahnya terasa panas, sesuatu dari matanya juga memaksa keluar dari persembunyiaannya


“ gue….gue gak bisa kehilangan lo mil, maafin gue, maafin keegoisan gue”


Tik…..air matanya jatuh membasahi punggung tangan mila, air mata yang sudah di tahan dengan sangat kuat berhari-hari jatuh juga di hadapan orang yang sangat dirindukannya, topeng garang di wajahnya perlahan memudar, hatinya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang di fikirkan mila jika nanti di panggil pengecut, yang jelas bendungannya sudah jebol tak tertahankan lagi


Air mata angelo membuat mila tersadar dari lamunannya, dirinya seperti orang linglung, memandang ke samping kanan kiri menyapu seluruh ruangan dimana mereka berada, semuanya asing karena memang baru pertama kali menginjakan kakinya di base camp xtc, wajar saja jika merasa kebingungan, sesuatu seperti memegang tangannya, segera ia langsung melihat kebawah, matanya membulat melihat angelo yang tertunduk menahan isakan tangisnya, ingatan sebelum dirinya linglung langsung memaksa masuk ke dalam fikirannya, dari semenjak di bawa paksa oleh angelo dari kelasnya, di hadang yuda sebelum kesini dan angelo berkelahi dengan yuda akibat memperebutkan dirinya, semua mengalir dengan deras tanpa bisa di cegah, tangannya reflek menyentuh pipi lebam angelo, sikap angelo membuatnya merasa tidak tega setelah mengingat apa yang terjadi padanya sebelum berahir disana sekarang


Mendapat sentuhan dari mila, angelo langsung mendongak memperlihatkan wajah merahnya, serta air mata sudah menghiasi di sana, baru pertama kali mila melihat jagoannya menangis seperti itu, tergambar jelas di sepasang bola mata angelo, rasa sakit yang sama seperti dirinya rasakan terlihat jelas tidak tertutupi apa pun, perasaan marah, kecewa semuanya lenyap bagai sulap setelah melihat tatapan tulus dari angelo yang mengharap maaf dari dirinya


Tak tega, sungguh tak tega, hatinya ikut pedih, air matanya ikut turun dengan derasnya, terisak-isak, meski tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya, air mata sudah menjelaskan segalanya, bagaimana dirinya menderita tanpa kehadirannya, sesak tidak dapat bertemu dan bertegur sapa, ingin menangis tapi tak bisa, marah apalagi, semua hanya di rasakan dengan diam berhari-hari tanpa bisa tidur dengan nyenyak, hari ini semua perasaan itu tumpah ruah berbaur menjadi satu dalam keheningan yang mencekam


Setengah jam lamanya mereka berdua hanya diam saling padang satu sama lain dengan air mata yang menghiasi, ahirnya angelo beranjak dari posisinya dan langsung memeluk mila dengan erat, mengusap punggunya dengan lembut menciptakan suasana nyaman untuk kekasihnya


“ maafin gue mil, gue gak seharusnya marah sama lo sampe berhari-hari, maaf” ucapnya pelan


Mila meregangkan pelukan angelo, mendorong tubuhnya pelan, menatap langsung sepasang manik kelam milik angelo


“ lo gak salah, gue yang salah gel, gue udah egois maksain sikap lo, padahal kita udah bersama lama tapi gue yang masih belum bisa memahami watak lo, gue bodoh, maafin gue”


“ denger, jangan bilang gitu ya, gue gak suka lo nyalahin diri sendiri, gue lega kita bisa ketemu sekarang, harusnya gue lebih dulu nemuin lo tapi emosi gue mengalahkan segalanya, lo gak salah oke, gue yang salah”


“ tapi….”


“ stttt….gak ada tapi-tapian”


Angelo menempelkan jari di bibir mila, mencegahnya untuk berhenti berbicara, helaan nafas lega mulai terdengar dari arahnya, senyum tipis perlahan hadir di wajahnya masih dengan posisi memeluk kekasihnya dengan hangat dan nyaman


Tbc…….