
Episode 31
Srushh…..wushhh, sumilir angin lembut berhembus memainkan helaian rambut panjang mila, sejauh mata memandang hamparan ilalang memenuhi tanah lapang dengan bukit hijau membentang, sejuk, indah, menenangkan
Mila berdiri di samping angelo, mereka baru sampai beberapa saat lalu setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dalam keheningan
Mila memejamkan matanya menarik nafasnya dalam-dalam ia mencoba menyatu dengan alam, kegelisahan, kecemasan dan berbagai macam fikiran negativ selama ia menempuh perjalanan sirna sudah bersama hembusan angin yang menerpa lembut tubuhnya
Angelo duduk diam diatas motornya, pandangannya lurus ke depan melihat hamparan padang rumput ilalang yang tertiup angin, mereka seakan memanggilnya untuk larut di dalamnya, angelo mulai beranjak dari duduknya ia berjalan menyambut panggilan rumput ilalang di depannya, ia meninggalkan mila sendiri di samping motornya
Angelo tidak mau menganggu suasana ketenangan hati mila yang saat ini masih memejamkan matanya rapat-rapat dengan senyum menghiasi sudut bibirnya
Angelo menghela nafas, ia memetik beberapa rumput ilalang di depannya lantas membalikan badannya, ia berjalan kembali mendekat ke arah mila
Sruk…..angelo berhenti di depan mila menatap wajahnya lekat-lekat, mila masih memejamkan matanya entah apa yang sedang ia fikirkan hingga ia begitu menikmati setiap detik hembusan angin yang menerpa wajahnya
Angelo tersenyum tipis menatap wajah mila, perasaanya menuntun tangannya untuk bergerak menyetuh lembut pipi mila yang bersemu merah masih dalam suasana tenangnya
Angelo mengusap lembut pipi mila, menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, mila membuka matanya secara perlahan
Pandangan matanya langsung menangkap sepasang bola mata coklat milik angelo yang menatap dirinya dengan tatapan sayu
Wushhh……angin bertiup kembali memainkan rambut mila, mereka saling tatap satu sama lain dalam diam, mila dapat melihat gambaran perasaan angelo lewat sepasang bola mata coklatnya, tidak ada lagi tatapan galak, ataupun marah disana yang ada hanya tatapan sayu, sedih seperti cahaya yang ada di dalamnya redup, tidak ada tatapan berbinar, semangat ataupun tatapan jail yang selalu menghiasinya ketika ia bersama dengan dirinya, kemana mereka semua? Dimana mereka? Mila bertanya-tanya pada dirinya sendiri
Tanpa sadar mila membawa tangannya lembut menyentuh pipi angelo yang masih lebam, serta masih ada plester di sudut bibirnya dan pelipisnya
Mila mengusap lembut pipi angelo, ia menatap angelo penuh perasaan, begitu juga dengan angelo, meski mereka diam satu sama lain, namun mereka tau perasaan hati masing-masing yaitu sama-sama rindu ingin mencurahkan perasaan
Angelo menarik tangan yang sedari tadi di belakang punggunya, ia mengeluarkan beberapa ilalang yang tadi ia petik lantas menatap mila, menyerahkannya, mila mengangguk menerima ilalang di tangan angelo
“ terimakasih “ ucap mila lirih, ia tersenyum
Angelo mengangguk, ia kembali menyentuh pipi mila namun kini dengan kedua tangannya membawa wajahnya mendekat ke arah mila
Cup….angelo mendaratkan ciumannya di bibir mila dengan lembut lantas ia menarik kembali wajahnya menatap lekat-lekat pujaan hatinya yang tersipu, meski sedikit kaget dengan kelakuan angelo, mila tetap diam menerima ciuman yang angelo lakukan pada dirinya, ia tidak tau mengapa hatinya begitu tenang bersama dengan dirinya
“ terimakasih lo udah nemenin gue” ucap angelo, ia masih lembut mengusap pipi mila
Angelo mengajak mila untuk duduk pada rumput hijau di bawahnya setelah mereka saling tatap cukup lama dalam diam, mila mengikuti angelo yang menggenggam tangannya dengan lembut, mereka duduk berdampingan menatap hamparan rumput ilalang yang tertiup angin
Tuk….angelo mendaratkan kepalanya ke pundak mila mereka berdua masih diam satu sama lain dengan perasaan masing-masing
“ gel ada yang mau lo omongin sama gue gak?” tanya mila, pandangannya masih lurus ke depan
Angelo diam tidak menjawab pertanyaan mila
“ gak papa kalo lo berat buat ngomong sama gue, gue cuma berharap masalah yang lo alami cepat selesai”
“gak, gue hanya….” ucapan angelo menggantung
“ gak usah di paksa juga gapapa gel, gue tau kok lo lagi dalam masa sulit”
“ hmmm, makasih mil lo udah ngertiin perasaan gue”
“ ya tidak masalah, oia gel lo pernah denger gak ada kata-kata motivasi dari internet”
Angelo diam, mila tau angelo bukan tipe cowok yang akan membuka ponselnya untuk sesuatu seperti itu mengingat dirinya yang hanya sibuk dengan anggota gengnya, ia tidak akan punya waktu untuk mengecek internetnya apalagi untuk hal-hal mellow seperti itu
“ begini, seseorang melindungi kita bukan berati kita lemah, hanya saja ia terlalu sayang dan menganggap kita berharga hingga ia rela menukar nyawa yang ia miliki untuk orang tersebut , tidak ada penyesalan yang tercipta setelah ia berkorban untuk orang yang penting untuknya “
Mila diam setelah mengatakan beberapa kalimat motivasi yang ia baca beberapa waktu lalu, ia tak percaya akan mengatakan kalimat itu pada angelo untuk menghibur perasaanya, ia juga tidak tau mengapa hari ini bersikap seperti itu, padahal biasanya ia akan cuek dan diam
Angelo menghela nafas mendengar kalimat mila, ia mengangkat kepalanya, pandangan matanya lurus ke depan
“ gue benci sama diri gue” ucapnya lirihnya
Mila menoleh memperhatikan ekspresi wajah angelo, ia dapat merasakan ada begitu banyak kesedihan di sana
“ gue gak suka jadi murung kaya gini, gue baru tau rasanya jika seseorang berkorban buat gue, gue gak tau gimana musti ngadepinnya” tutur angelo menambahkan
“ hmmmm, gel gak ada ko yang nyalahin lo, semua udah ada kisahnya masing-masing, lo juga berhak ko murung, sedih ataupun menangis walaupun lo di cap sebagai ketua geng tapi lo juga manusia biasa, lo punya perasaan jadi menurut gue itu wajar, tapi lo juga gak boleh berlarut-larut seperti itu, gue yakin temen-temen lo yang terluka, mereka juga sedih kalo liat lo ga ada di sana saat mereka sadar melewati masa kritisnya”
“ well, gue juga gak suka liat lo yang kaya kehilangan jati diri lo kaya gitu” mila menambahkan
Angelo diam mendengar ucapan mila, ia berfikir, ada benarnya ucapan mila, ia tidak boleh egois hanya karena kebingungan dengan perasaanya sendiri, yang jelas angelo sudah sedikit berubah dari yang dulu, ia menjadi lebih berperasaan setelah mengenal mila, ia juga menjadi pendengar yang baik dan akan mencerna setiap ucapan yang mila katakan
Angelo menoleh ke samping melihat mila yang masih menatap lurus hamparan rumput ilalang di depannya
“ thank’s mil, lo udah nyadarin gue”
Mila mengangguk tersenyum menatap wajah angelo, ia mendaratkan pelukan pada angelo, mengusap-usap punggungnya dengan lembut
“ lo kaya bayi besar gel sumpah, bener apa kata bunda” mila menggoda angelo, ia juga tersipu sendiri menyadari perbuatannya yang tanpa sadar memeluk angelo
“ terserah lo lah mil mau ngomong apa, yang jelas gue nyaman lo kaya gini sama gue”
“ hahaha tau gini gue rekam tadi, biar gue tunjukin sama temen-temen satu geng lo kalo ketua mereka ternyata cengeng gak seperti kelihatannya” mila tertawa kecil
Mila melepaskan pelukannya, ia tertawa memandang wajah angelo, lesung pipi menghiasi kedua pipi mila, wajahnya pun memerah akibat dirinya tertawa, sangat manis
Angelo mulai menampilkan senyum di sudut bibirnya memperhatikan ekspresi mila, angelo mencubit kedua pipi mila dengan cukup keras
“ siapa suruh lo godain gue, itu hukuman buat lo”
“ish, apaan sih, keluar lagi deh sifat premannya” gerutu mila mempoutkan bibirnya, justru kelakuan mila membuatnya tampak imut bagi angelo
Mila bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kakinya ke depan, meninggalkan tatapan angelo
“ preman tapi kaya bayi “ ucap mila menoleh meledek angelo
Lantas ia berlari kedalam rumput ilalang, angelo menyusulnya di belakang, mereka berdua kejar-kejaran menyusuri hamparan lebat ilalang, mila tertawa lepas meledek angelo, sedangkan angelo masih mengejar mila
Grep…..angelo menangkap kedua lengan mila, brugh…..mereka jatuh bersamaan, angelo menindih tubuh mila, tawa mila berhenti saat angelo menindihnya, ia diam menatap wajah angelo, wajah angelo semakin dekat, mila menutup matanya segera
Ctak…..angelo menyentil kening mila, lantas ia tertawa duduk di samping mila yang masih berbaring, mila menghela nafas lega melihat tawa angelo, ia tersenyum, namun sedikit kesal karena angelo menggoda dirinya seperti itu
“ aishh, jahat banget sih jadi orang “ gerutu mila, ia bangkit dari posisinya
“ hahahaha lucu banget sumpah ekspresi lo mil ya ampun “ angelo terkekeh
Ia terus tertawa memegangi perutnya menggoda mila, perasaanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, angelo merasa beban yang menurutnya sangat berat sedari kemarin ia menanggungnya sendirian serasa hilang sepenuhnya tertiup angin diganti dengan tawa dan perasaan lega, angelo tidak pernah menyangka bahwa mila lah yang bisa mengubah mood buruknya serta meringankan sedikit bebannya, menurut angelo mila sangat pengertian padanya bahkan ia tidak pernah memaksa dirinya untuk bercerita jika ia tidak ingin, sikap mila yang seperti itu membuat angelo semakin menyukainya lebih lagi dari sebelumnya
🍂🍂🍂🍂🍂
Tak terasa matahari yang tadinya membakar kulit sudah akan bersembunyi di ujung sana, menyemburkan cahaya jingga di sekelilingnya, burung-burung mulai terlihat berterbangan melewati hamparan padang ilalang, mila dan angelo masih menikmati waktu mereka berdua dengan bercerita banyak hal, sesekali mereka tertawa bersama, hubungan mereka yang tadinya canggung karena belum mengenal satu sama lain dengan benar, kini terlihat sangat akrab begitu nyaman di pandang, pancaran-pancaran kasih sayang di mata mereka berdua begitu terlihat saat mereka tertawa bersama
Ada pepatah mengatakan, semakin kita menyangi seseorang semakin berat juga rintangan yang harus kita hadapi, ada cerita di balik peristiwa, ada kisah di setiap air mata, semua sudah tertulis dalam catatan kehidupan masing-masing setiap orang, begitu juga mila dan angelo yang baru saja menyampaikan perasaan satu sama lain, mereka tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya
Cukup lama angelo dan mila bersama ahirnya mereka memutuskan untuk beranjak dari tempat mereka, angelo mengantarkan mila ke rumah sakit sekalian dirinya untuk menjenguk andi, notifikasi dari hp angelo berbunyi banyak sekali, ada pesan dari dani yang menyuruhnya untuk segera kesana menghampiri mereka
Brumm….....mereka berdua sudah melesat menembus jalanan yang sudah mulai gelap, lampu-lampu setiap jalan sudah mulai menyala satu persatu, menemani perjalanan mereka, tanpa terasa mila tertidur menyenderkan kepalanya di punggung angelo
Angelo terdiam, ia tau kekasihnya sudah terlelap di belakangnya karena sudah tidak ada gerakan lagi dari arahnya, ia tidak mau membangunkan mila lantas ia mendekap lengan kekasihnya yang melingkar di pingganya agar ia tidak jatuh hingga sampai di rumah sakit
Beberapa saat kemudian deru motor angelo sudah memasuki area parkir rumah sakit husada, hari sudah gelap sempurna, angelo meraih ponsel di sakunya melirik jam yang ada di sana sudah pukul 19.00
“ putri tidur bangun, kita udah sampai” ucap angelo menoleh ke belakang
Mila masih diam di posisinya tanpa gerakan sedikit pun, angelo tersenyum melihatnya begitu tenang tanpa pertahanan sedikit pun, perlahan angelo turun dari motornya tanpa membangunkan mila sedikit pun, ia menyenderkan kepala mila pada tubuhnya
Cup…..angelo mencium lembut rambut mila lantas mengelusnya dengan lembut
Perlahan mila membuka matanya merasakan sesuatu menyentuh kepalanya dengan lembut
“ udah bangun “ ucap angelo
Mila menoleh mendengar ucapan angelo dengan bingung
“ kita udah sampai, lo mau terus disini gak mau turun?”
“ ehh….kita udah sampai? Sejak kapan? Kok lo gak bangunin gue” cerocos mila, ia sudah turun dari motor
“ gue udah bangunin lo dari tadi tapi lo gak bangun-bangun, gue heran deh sama lo, lo tidur apa pingsan gitu, di bangunin gak ada respon”
“ hehehehe” mila tertawa memperlihatkan susunana giginya serta lesung pipi menghiasi pipinya
“ arghhhh, imut banget sih nih anak” batin angelo
Angelo diam menatap tawa mila, ia ingin mencubit pipinya, namun ia urungkan, sudah cukup untuk hari ini mencubit pipi kekasihnya meski ia ingin, setelah diam cukup lama lantas mereka berjalan bersama memasuki pintu utama rumah sakit, sebelumnya mila sudah memberi kabar pada ayahnya bahwa ia pulang telat karena ada urusan bersama dengan angelo, anehnya begitu mengucap kata angelo ayahnya seperti sudah percaya dengan mereka berdua, mengingat pak maman yang sudah bekerja dengan keluarga angelo selama 10 tahun pasti ia sudah tau persis bagaimana watak dari anak majikannya itu, walaupun ia terlihat berandal saat di luar
“ lo laper gak beb? Ke kantin dulu yuk” ucap angelo
“ lo masih bisa laper gel, lo udah gak khawatir lagi sama temen lo”
“ aishh, ya udah yuk kita ke ruangan andi, lo mau ikut apa gak?”
“ hehehe bercanda kok, gue tau lo khawatir sama temen-temen lo, ya udah yuk kita makan dulu”
Mereka berbelok ketika di persimpangan jalan antara ruang rawat inap dan kantin, tak lama mereka berdua berjalan, mereka pun sampai di kantin rumah sakit, angelo segera memesan makanan untuk dirinya dan mila, ia juga menyuruh mila untuk duduk terlebih dahulu menunggu dirinya membeli makanan
Dari posisinya mila, ia memperhatikan angelo yang sedang berdiri di depan meja panjang di depan petugas kantin rumah sakit, tampak ia mengambil satu bungkus cemilan 2 botol minuman kemasan, ia juga sempat berbincang dengan seseorang di depannya, ia seperti memesan sesuatu lagi, setelah itu angelo berjalan mendekat ke arahnya
“ nih minum dulu beb, kita tunggu makanannya datang”
“ hmmm, thank's gel”
Angelo duduk di depan mila, ia juga segera membuka tutup botol minuman kemasannya lantas meneguk isinya, dingin, segar menyiram tenggorokannya yang kering
Kling….ponsel angelo berbunyi, ia segera meraihnya
“ ada apa?” tanya mila yang memperhatikan wajah angelo
“ gak ada apa-apa, ini si dani kirim pesan katanya si rio udah sadar”
“ hmmm, syukurlah, kita harus cepat dong kalo gitu”
“ gak usah cepet-cepet beb, gue udah bilang kalo kita udah di rumah sakit, paling bentar lagi dia kesini” ucap angelo
Benar saja, baru beberapa menit angelo berkata seperti itu, dani sudah menepuk kedua bahu angelo dari belakang, lantas ia duduk di samping angelo dan memesan makanan untuk dirinya, ia bercerita tentang kondisi rio dan andi pada angelo, mila diam sembari ikut menyimak pembicaraan angelo dan dani…
Tbc…..