
Episode 41
Prittt……pritttt, suara peluit panjang menjadi tanda berahirnya sebuah pertandingan, wajah-wajah sumringah serta tatapan berbinar terlihat memenuhi sisi lapangan belakang SMA venus, pasalnya tim garuda bangsa telah berhasil mendapatkan kemenangannya dengan skor 4:1, di detik-detik terahir sebelum pertandingan selesai angelo kembali membuat gol cantik yang kedua, dia berhasil membuat dua gol cantik yang pertama sebagai pembuka dan yang kedua sebagai penutupan
Sorak sorai terdengar lebih keras bersahut-sahutan memanggil namanya beserta tim garuda bangsa, anak-anak cewek berpelukan satu sama lain, angelo, dani, aan dan rendi juga berpelukan bersama, mereka sudah tidak peduli dengan keringat yang sudah membuat bajunya basah seperti habis berenang
Angelo sudah menenteng piala kebanggan yang slalu menjadi rebutan setiap tahun, terlihat beberapa dari anggota tim patriot memberi selamat pada tim garuda bangsa, hanya satu yang menghindarinya ya itu ron, entah sudah hilang kemana dia sejak peluit tertiup
Angelo tidak peduli lagi dengan itu, yang terpenting kali ini dirinya berhasil mengalahkan tampang dan tingkah laku menjengkelkan ron selama pertandingan, tak tanggung-tanggung ron menyerangnya, hingga membuatnya cukup geram menahan segala desakan dari tubuhnya yang seakan ingin menghancurkannya menjadi debu di tengah lapangan, namun usahanya gagal, angelo ya tetap angelo meski rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya, semangatnya tidak padam sedikit pun
Bukan hanya itu saja, pikiran kacau yang menemaninya selama pertandingan pun sebenarnya ikut menganggu tapi mau bagaimana lagi, desakan dari timnya membuatnya harus terpaksa fokus pada apa yang sedang di lakukannya hingga membuatnya mengalahkan cecunguk itu
senyum kemenangan masih terukir jelas pada wajah-wajah penuh peluh tim garuda bangsa, mereka seakan menikmati setiap detik sorakan yang terus menggema di telinga, jika dalam keadaan normal suara-suara yang memekikan itu pasti akan terdengar sangat berisik, namun berbeda dengan kali ini, semua berbaur menjadi satu bagaikan harmoni yang saling melengkapi satu sama lain
Angelo menyerahkan piala yang berada di tangannya pada dani, melangkahkan kakinya menjauhi anggota timnya yang masih sibuk dengan kemenangan yang baru di dapat, ada sedikit rasa menganggu di tenggorokannya hingga ia harus keluar dari keramaian dan segera mencari tempat teduh sebelum mengambil minuman yang tak jauh dari posisinya, angelo mengibas-ngibaskan kaos yang sudah basah bahkan bisa saja di peras, karena merasa tidak cukup sejuk ahirnya dia membuka kaosnya, dada bidang, kulit putih dengan abs sempurna menjadi pemandangan indah pada dirinya, di tambah lagi keringatnya membasahi absnya, sangat sexy
"woey gel, mentang-mentang punya badan bagus main buka baju aja, lo mau jadi model majalah dewasa yah" celetuk dani, membuat angelo menoleh jengah padanya
"apaan sih dan ganggu aja" ucap angelo cuek, melirik sekilas ekspresi wajah jengkel dani
" gel lo ada masalah sama mila yah"
"hmmm"
" gue serius tanya " dani sudah duduk di samping angelo, membuka tutup botol air mineral
baru beberapa saat dani akan membawa botol berisi air itu memasuki dirinya, tangan angelo langsung merebutnya dengan kasar
"thank's dan, lo emang paling tau gue" ucap angelo, langsung menyesap hasil rebutannya tanpa berbicara dan merasa bersalah sedikit pun
dani berdecak kesal di buatnya, " yaelah gel, masih banyak juga, napa lo mesti ngrebut punya gue, jahat amat jadi orang "
Angelo menghentikan acara minumnya setelah merasa tenggorokannya tersapu air menjadikannya sejuk kembali, " nih masih ada kok "
" apaan, gue gak mau bekas bibir lo " ucap dani melengos kesal melipat kedua
tangannya
" sok suci lo, kaya belum pernah ngerasain bibir gue aja " angelo menyeringai
" dasar gila, lo belum jawab pertanyaan gue gel "
" udahlah bukan urusan lo juga dan "
" kok lo gitu gel, lo harusnya jangan bersikap kaya gini, gue yakin mila juga tersiksa "
" siapa bilang dia tersiksa, lo liat aja tuh "
Angelo menatap lurus kedepan, sedikit mengangkat dagunya untuk menunjukan sesuatu yang dilihatnya di sudut lapangan, dani menoleh menatap apa yang sedang angelo lihat, hingga tanpa ekspresi tergambar pada wajahnya
pandangan mata dani menangkap dua sosok yang sedang berdiri disana, salah satunya memayungi dengan jaket di atasnya, mereka berdua seperti sedang berbicara sesuatu yang cukup serius, entah apa itu angelo dan dani tidak tau persisnya, dani manggut-manggut paham dengan apa yang baru saja di lihatnya lantas menatap angelo kembali penuh arti
" bisa aja apa yang lo liat gak sama dengan apa yang lo pikirkan gel " ucap dani serius
" heh" angelo menyeringai, " lo kira gue buta dan, kalo pun gue buta, gue masih punya telinga buat dengerin sesuatu, lo bilang, apa yang gue lihat belum tentu salah kan? terus gimana jika yang gue denger itu bener"
" gini yah gel, orang tuh bisa aja salah tanpa mereka sengaja, lo aja sering tuh buat salah ke gue, ada lo minta maaf ke gue? gak kan? tapi gue selalu paham sama lo, coba deh lo dengerin dari sisi si mila, tanya apa maunya"
" hmmmm, gak tau lah gue dan, biarin aja, kalo dia bosen sama si bule sialan itu, dia juga pasti balik ke gue "
" terus lo mau jadi pecundang gitu? cuma bisa nunggu makanan yang udah di cicipi sama orang dateng sendiri, dasar bego, jaman sekarang gak ada yang namanya cewek sama cowok itu temenan, terus gak mungkin juga mila terus-terusan paham sama sifat lo, ayolah gel jangan pura-pura tuli sama buta, ikuti kata hati lo "
" apa sih dan, lo kok mendadak jadi pakar cinta gue, urusin aja urusan cinta lo baru lo nasehatin gue "
" ck, ya udahlah serah lo aja, btw lo tadi malem kemana? gak mungkin lo pulang ke rumah, gue gak percaya lo pulang ke rumah "
Angelo menoleh berdecak kesal dengan pertanyaan dani seakan pertanyaanya menganggu ketenangannya, memang benar angelo tidak pulang semalam, namun dia tidak dapat mengatakan ke tempat mana dirinya pergi, melakukan apa semalaman hingga tidak pulang dan mengaktifkan ponselnya
" jangan bilang lo ke bar, terus minum-minum"
ucapan dani membuat angelo tersentak hingga membuatnya terbatuk-terbatuk akibat tersedak air yang akan memasuki tenggorokannya lantas menatap dani tanpa ekspresi
" astaga, jadi gue bener apa yang gue bilang? gel lo udah gila yah? gimana kalo bang dimas tau? terus gimana kalo ayah sama bunda lo tau? yang lebih parah si mila " dani menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan kebenaran yang baru saja di terimanya
" lo gak usah berisik dan, yang penting gue bisa menang kan nyatanya, terus kalo masalah keluarga gue, ya gampang tinggal bilang aja gue nginep di rumah lo, kalo mila, gue gak tau deh, dia gak peduli sama gue"
angelo menghela nafas berat masih dengan tangannya mengusap-ngusap dada bidangnya akibat tersedak beberapa saat lalu, dani menggelengkan kepala tak percaya, walau begitu dani tidak bisa melarang apa yang angelo lakukan, dia hanya sahabat untuknya, selain mendukung apalagi yang bisa di lakukannya, hidup angelo ya dia yang menentukan sendiri, beda jika ada yang berusaha melukainya pasti dia akan maju paling depan menjadi tameng untuk angelo
🍂🍂🍂🍂🍂
di sudut lapangan,
" mil lo mau kemana?" yuda menarik lengan mila berusaha mengehntikan langkahnya
" ermmm, sorry, gue gak bermaksud " yuda meloloskan pegangannya
Mila tidak berucap sepatah kata pun langsung meninggalkan yuda sendiri dengan tatapan bengong ke arahnya, rasa sesak di dadanya hadir dengan cepat memandang punggung mila dari belakang
" oke yud, lo bukan siapa-siapa buat mila, lebih baik lo diem jadi anak baik, lindungi dia sebisa lo" gumam yuda membatu di tempatnya
Mila berjalan memasuki gerbang belakang SMA venus, pandangan matanya dingin dengan langkah cepat
" hey, yo mila " linda melompat dari balik pagar secara tiba-tiba, membuat mila tersentak hingga menghentikan lagkahnya dan mundur beberapa senti dari posisinya
" astaga linda, bisa gak sih lo gak bikin gue jantungan, sehari aja " mila mendengus, tangannya menyentuh dada, merasakan degupan jantungnya yang kencang akibat terkejut
linda hanya tertawa melihat ekspresi mila bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun, mila menghela nafas kesal berusaha memaklumi tingkah ajaib sahabatnya itu
" lo darimana baru keliatan sekarang" ucap mila, mereka berdua ahirnya berjalan beriringan menuju kelas 2A
" hehehe biasa, di kantin, laper gue gak sarapan, gara-gara bangun kesiangan "
" habis ngapain emang semalem bisa kesiangan bangunnya?"
" lah kemaren pas pulang dari rumah lo, gue main game sama adek gue, gak kerasa udah jam 3 aja, terus gue baru tidur tau-tau alarm gue mati, mama gue juga gak bangunin, dia kira gue libur"
linda memang sempat berkunjung ke rumah mila tadi malam meski hanya sebentar, karena merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu dan memang benar, kecemasannya tidak bisa di ragukan lagi bahkan bisa di bilang nalurinya sekuat seorang ibu pada anaknya, linda terdiam mendengarkan segala apa yang ada di hati mila dan berusaha menyemangatinya sebisa mungkin
" ck, dasar bego, makanya gak usah sok-sokan jadi gamers, untung aja hari ini hari bebas, kalo gak, udah mati di giling pak bagas lo lin, di setrap di bawah tiang bendera"
" hehehe, seru tau mil, eh btw lo gak nyamperin angelo, ups " linda membungkam mulutnya dengan segera
" gak papa lin, gue udah gak ngerasa apa-apa, untuk saat ini lebih baik kita jauhan dulu aja, seperti saran lo, biar dia bisa intropeksi diri " mila menghela nafas panjang, menghentakan kakinya di depan pintu ruang kelasnya
" iya memang apa yang lo lakuin udah bener mil, tapi lebih baik lagi lo nurutin apa kata hati lo aja, gue kan cuma ngasih pendapat, gak harus lo nurutin pendapat gue "
" iya gue tau lin, tapi memang harus gini dulu menurut gue "
" ya udah kalo itu mau lo mil, tapi lo jangan nyusahin diri sendiri yah, gue tau kok lo gak bisa tidur semalem, keliatan banget kantung mata lo hitam gitu, jangan bilang lo juga gak sarapan?"
" hmmm" mila menghempaskan tubuhnya ke atas kursinya, di ikuti linda menyusulnya duduk
" astaga sayangku, gak boleh gini dong, wait, gue bakal kembali lagi 5 menit lagi " ucapnya terburu-buru
Mila hanya diam melihat tingkah sahabatnya seperti kelabakan kehilangan sesuatu, dan sekarang sudah pergi meninggalkannya sendiri di tempat duduknya
" gel lo beneran marah sama gue yah, gak nyemperin gue hari ini?" batin mila
Tangannya sudah di letakan di dagu, memandang keramaian di luar kaca jendelanya, meski suasana begitu ramai, terdengar tawa cukup keras dari teman-temannya, hatinya merasa sedih, sepi tanpa angelo, itu baru satu hari mereka berjauhan tidak tau lagi sampai kapan mereka berdua akan berkutat dengan perasaan masing-masing tanpa ada yang mau mengalah untuk berbicara dulu
srakkk...... sesuatu menyentuh mejanya mebuatnya harus menoleh ke sumber suara
" gue bawain roti mil " ucapnya mendaratkan tubuhnya untuk duduk di depannya
" gak usah repot-repot yud, linda juga lagi beliin gue, buat lo aja "
Mila kembali mengedarkan pandangan matanya ke luar jendela di sampingnya, pandangan matanya menangkap angelo yang sedang berjalan memasuki gerbang belakang sekolahnya bersama dengan nindy di sampingnya, mata mila membulat mendapati kekasihnya berjalan berdua dengan nindy, pikirannya langsung bereaksi dengan cepat, sejak kapan mereka menjadi dekat, begitu pikirnya
" ada apa mil? lo liat apaan"
yuda yang terus diam di depannya bereaksi melihat tatapan mila dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya sembari terus menatap ke luar jendela, ucapan yuda tidak membuat mila menjawab pertanyaanya, karena yuda penasaran dengan apa yang dilihatnya hingga bereaksi seperti itu, ahirnya yuda ikut melihat ke arah yang di lihat mila
" sialan emang lo nin, lo nyuruh gue buat deketin mila biar lo gak nyulik atau nyakitin dia, gue kira lo gak bakal beraksi terang-terangan dan secepat ini, kalo gini caranya sama aja lo nyakitin mila berlipat-lipat, dasar bego" batin yuda, tangannya mengepal kuat menyentuh meja di sampingnya
Yuda kembali menatap mila di depannya setelah merasa cukup puas dan tau apa yang sedang mila perhatikan, dari posisinya, dia dapat melihat dengan jelas sudut mata mila mulai basah
" mil lo gak papa?" tanyanya khawatir, tanganya menyentuh pundak mila
mila tersentak, langsung menoleh padanya sembari memasang fake face dengan senyum yang tidak ingin yuda lihat, senyuman terpaksa dengan luka di dalamnya
" gue oke kok yud, lo gak usah khawatir "
" hmmm, tapi lo minum dulu ya kalo lo gak mau makan "
Yuda menyerahkan satu botol minuman isotonik yang sudah di buka tutupnya dengan hati-hati pada mila,
mila menerimanya dan langsung menyesap minuman yang baru di terimanya, dengan keras berusaha menghilangkan fikiran negatif yang menderanya saat ini, setelah melihat angelo menerima botol minuman dari tangan nindy, kelakuannya itu cukup membuat perasaan mila goyah hingga bertanya-tanya sendiri, seperti bukan angelo yang di lihatnya karena dia tau persis angelo tidak akan dengan mudahnya menerima minuman dari seseorang selain dirinya, teringat kejadian yang sama, seperti saat angelo latihan dan nindy memberinya minuman
Mila masih mengingat jelas ekspresi takut, khawatir pada wajah angelo yang berlari padanya dan menjelaskan agar dirinya tidak marah, namun sekarang apa? angelo bahkan mau menerima minuman dari orang lain, itu yang membuat mila tidak percaya, tapi dirinya saat ini tidak bisa sembarang bertanya mengingat sudah membuatnya marah terlebih dahulu kemarin
Tbc.....
author's : yey ahirnya selesai chap 41, gak nyangka bisa ngejer waktu, aku mulai jam 10 tadi, seharian sibuk jadi gak sempet, astaga udah jam 12 aja gak kerasa, btw kalo ada typo mohon maaf ya berati aku tidak ngeliat dan udah burem nih mata. hehehe maklum udah tengah malem, semoga kalian menikmati ceritanya, jangan lupa berikan vote, klik fav, klik tombol love juga yah biar aku tambah seneng n semangat pastinya, nantikan eps selanjutnya, aku sayang kalian semua, jangan lupa bahagia ❤️❤️❤️❤️