
Episode 71
Waktu memang cepat berlalu, tidak ada yang tau kapan datangnya kebahagiaan kapan juga datangnya kesedihan.
Bagi mila, saat ini adalah waktu bahagianya bersama dengan angelo, sebab angelo sudah dapat mengingatnya kembali dan mereka bisa menikmati angin sepoi-sepoi di bawah langit yang biru dengan perasaan yang sangat bahagia.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.30 WIB, matahari juga sudah mulai terasa membakar kulit
“ gel, masuk ke dalam yuk “ ajak mila, wajahnya sudah mulai memerah akibat terkena sinar matahari yang lumayan terik
“ hmmm, boleh deh, sorry ya beb, aku keasyikan sama kamu di sini jadi gak tau kalo kamu kepanasan, maaf ya “ ucap angelo
“ gapapa kok gel, ya udah yuk, mana sini kotak bekalnya, gak kamu habisin kan? “
“ nih, tenang aja, gak kok, aku tadi makan dua sendok doang, aku juga gak mau kali kalo lama-lama disini, udah pengen jalan-jalan sama kamu “ ucapnya sembari menyerahkan kotak bekal di tangannya
Mila tersenyum, lantas bangkit dari duduknya dan membantu angelo, mereka berdua berjalan bersama memasuki area dalam rumah sakit yang masih ramai lalu lalang
“ eh beb, misalnya nih, kalo besok udah liburan panjang, kita jalan-jalan bareng yuk sama bang dimas, linda, dani, rio, adit di ajak juga boleh, gimana? Kamu mau gak?”
“ mmmm, kemana gel kira-kira? Bukannya setelah kamu keluar dari sini, kamu harus ikut ujian kenaikan dulu yah, kan kamu belum ikut tuh “
“ hehehe, iya, aku tau kok kalo itu, semoga aja si di kelas 3 aku bisa satu kelas sama kamu yah beb, biar makin semangat berangkat sekolahnya “ ucap angelo terkekeh, mereka berdua masih berjalan menyusuri lorong rumah sakit
“ heleh, bukannya tambah semangat gel, yang ada, kamu tuh gak bakal konsen kalo aku sekelas sama kamu “ ucapnya
“ semoga aja yah gel kita sekelas nanti “ batin mila, meski mulutnya berkata seperti tidak ingin, namun hatinya berkata lain dengan ucapannya
“ aishhh pede banget si kamu beb, siapa yang ngajarin sih, gak lah, beneran kok, bakal semangat “
“ hehehe ya udahlah aku aminin aja yah, ya kamu harus belajar yang rajin biar nilaimu bagus dong “
“ kalo itu ya pasti lah beb, setelah keluar dari sini, kamu ajarin aku yah, yang aku gak tau “
“ hmmm, boleh aja kalo itu gel, eh btw kamu belum menjawab pertanyaanku tadi kan?”
“ oia lupa, iya aku pengen liburan di vila puncak punya kakekku, udah lama juga aku sama bang dimas gak kesana, nanti kita adain barbeque, api unggun kalo perlu buat tenda kemah kecil di depan rumah, terus main gitar, pasti seru banget tuh “
“ mmmmm, emang keliatannya seru sih, berarti kita harus nginep dong disana? Emang boleh gitu sama bunda terus ayah kamu?”
“ iya nginep dong sayang, paling ya cuma 3 hari nginepnya, kalo masalah itu si serahin aja sama angelo yang paling tampan, kamu cuma perlu ikut, siapin barang-barang yang kamu perlukan aja, udah, gampang kan?” ucap angelo, sifat songongnya perlahan mulai kembali
Mila mencubit pinggang angelo, yang di cubit hanya meringis kesakitan, meski menyebalkan namun mila merasa senang sifat percaya diri angelo yang berlebihan ahirnya kembali lagi
Setelah cukup lama berjalan sambil bercanda ahirnya mereka berdua sampai juga di ruang kamar milik angelo.
Ceklek……mila membukakan pintu untuk angelo, mereka berdua masuk secara bergantian, baru saja mereka berdua masuk ke dalam ruangan dan angelo juga baru saja duduk di ranjang, pintu kamarnya terbuka lagi.
Mila menoleh mendengar pintu terbuka begitu juga dengan angelo
Terlihat rio dan adit disana, mereka berdua masuk ke dalam ruangan.
“ hey gel, darimana aja lo? Gue cariin kemana-mana tapi lo gak ada, di tinggal meleng bentar doang udah ngilang” ucap rio sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan angelo
“ jalan-jalan, gue suntuk di kamar mulu, lah lagian lo pergi gak ngomong-ngomong, gue kira lo pulang kaya dani “ jawab angelo mendengus
“ ehhehehe, sorry deh gel tadi gue kebelet banget jadi gak ngomong sama lo, lagian lo juga lagi asik ngelamun sendirian jadi gue gak berani lah gangguin lo “
“ iya deh iya gapapa “
“ oia, gimana keadaan lo sekarang gel? Apa yang lo rasain saat ini? “ tanya rio lagi
“ gue baik kok “
“ eh kayaknya kita harus panggil dokter deh yo, lo bisa gak tolongin gue “ sahut mila menatap ke arah rio
“ okey kalo gitu, gue panggilin dokter dulu ya “
Mila mengangguk menjawab ucapan rio.
Lalu rio berjalan meninggalkan mila,adit dan angelo. Adit sepertinya tau, kakaknya sengaja memberikan waktu untuknya dan angelo agar bisa berbicara oleh sebab itu, dia membuat rio pergi sebentar
“ kok berdiri terus dit, duduk aja gapapa, dimana pun kamu suka “ ucap angelo
Adit tersentak, dalam hatinya berkata,
“ bukankah kak angelo lupa ingatan? Kenapa saat ini ia mampu mengenali namaku? Atau berita yang aku denger sebenernya cuma bohongan? “
Angelo yang melihat adit terdiam setelah dirinya mengajaknya bicara, langsung sadar,
“ oh iya sorry, kakak belum ngomong yah, ingatan kakak baru aja kembali beberapa saat yang lalu “ ucapnya masih menatap adit dari tempat tidurnya
Adit lagi-lagi tersentak mendengar ucapan dari angelo, ia mendongakan kepalanya setelah cukup lama menunduk, “ ayo dit, lo pasti bisa, lelaki sejati gak boleh malu untuk minta maaf “ ucapnya dalam hati
“ emmm, anu kak…..”
Belum selesai adit berbicara, pintu ruangan angelo terbuka, dokter beserta suster datang untuk memeriksa angelo begitu juga dengan rio yang berjalan di belakang mereka, melihat dokter dan suster masuk, mila langsung otomatis bangkit dari duduknya mengajak adit untuk keluar ruangan terlebih dahulu daripad harus menunggu di usir oleh suster.
🍂🍂🍂🍂🍂
Di luar ruangan,
“ dit kamu pasti bisa, gak usah ragu kalo mau minta maaf ataupun berterimakasih pada seseorang oke” ucap mila tersenyum ,ia menyemangati adiknya
“ iya kak, terimakasih udah support adit “
“ pasti dong, kamu kan adik kaka, kalo ada hal baik yang akan di lakukan ya harus di dukung dong “
Mila tertawa mengelus rambut adiknya, sementara rio hanya duduk dan memperhatikan tingkah laku adik kakak yang harmonis itu.
Duk…..duk…..duk, langkah kaki terdengar berjalan ke arah mereka, mila yang tengah bercanda dengan adit langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang dengan langkah besar seperti itu.
Terlihat dani dan dimas berjalan beriringan menuju tempat dimana mila berada, tampak dani membawa dua kantung kresek berwarna putih berukuran lumayan besar, mila bisa menaksir itu kantung kresek dari mini market di depan, sedangkan dimas membawa tas ransel di tangan sebelah kanannya.
Tuk….., langkah mereka berdua berhenti di depan rio, dimas meletakan tas ranselnya di kursi sebelah rio.
“ loh mila udah dateng aja jam segini, gimana kabarnya?” sapa dimas pada mila setelah meletakan tas ranselnya
“ oh gitu, kakak juga baik, udah agak lama yah kita jarang ngobrol kaya gini, paling-paling kalo kamu kesini aku lagi pulang, atau kalo gak aku lagi kemana jadi gak papasan “
“ hehehe iya kak “ ucap mila tersenyum
Dimas mengajak mila terus berbincang berdua tanpa memperhatikan orang-orang yang ada di dekat mereka berdua
“ hey dan, lo bawa apaan sih banyak amat, sini deketan napa duduknya” ucap rio, ia merasa dani duduk terlalu jauh darinya setelah baru sampai
“ gak lah, disini lebih nyaman, lagian ada ranselnya bang dimas, enakan disini”
“ ya udah deh terserah lo aja, itu apaan di kantung kresek elah, di tanya malah gak jawab”
“ eh sorry, oh ini, ini snack gue kok, bukan apa-apa “
“ oalah dan, lo mau jenguk orang sakit atau mau main ps si? Gitu amat bawaanya “
“ kalo bisa main ps si, gue udah bawa tuh ps ke sini biar gak bosen mainan hp mulu, lagian snack segini tuh dikit yo, elah “
“ aishhh, serah lo aja lah dan”
Dani terkekeh menjawab ucapan rio.
Cukup lama dani,rio,mila,dimas dan adit menunggu ahirnya pintu ruangan angelo terbuka, mendengar pintu ruangan angelo terbuka, dani langsung bangkit dari duduknya, sebelumnya ia meletakan barang bawaanya terlebih dahulu
“ keluarga pasien “ ucap seorang lelaki, bertubuh tambun, berkacamata mengenakan setelan putih
" iya saya dok, bagaimana kondisi adik saya? “ ucap dimas yang kebetulan berdiri tepat di depan ruangan angelo bersama dengan mila
“ kondisi pasien saat ini baik, emosinya stabil, ingatannya juga sudah mulai kembali, jika kondisinya terus seperti ini, besok pasien sudah boleh pulang dari sini “
“ syukurlah, ahirnya angelo sembuh, terimakasih dokter “ ucap dimas lagi, ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sangat bahagia mendengar kabar baik dari dokter
“ baik, kalo begitu, saya tinggal dulu “ ujar lelaki yang mereka panggil dokter dengan tersenyum ramah
Dimas mengangguk tersenyum, lantas menoleh ke samping dimana mila berada,
“ syukurlah mil, angelo ahirnya bisa sembuh “
“ iya kak, aku ikut bahagia mendengarnya “
“ ya udah yuk kita masuk, gue pengen liat wajah cecunguk itu “ timpal dani di belakang dimas
“ kalian masuk aja dulu, gue mau ngabarin bunda kabar baik ini, biar bunda gak usah ke rumah sakit lagi hari ini” tuturnya
“ okey kalo gitu kak, kita masuk dulu ya” ucap mila
“ eh bentar-bentar, dan, lo bawa tas ransel itu masuk ya, itu peralatannya angelo, tadi pagi minta di bawain"
“ okey bang “
Dimas mengangguk, lantas berjalan meninggalkan ruangan angelo, mila sudah membuka pintu ruangan angelo, ia masuk ke dalam di ikuti rio dan adit di belakangnya sementara dani mengambil tas ransel dan barang bawaannya
Begitu masuk ke dalam ruangan, dani langsung menepuk bahu angelo dengan lumayan kuat
“ yoy, ahirnya lo sembuh juga gel, gak sabar buat kumpul-kumpul lagi nih gue “ucapnya
“ hey, angelo musti ikut ujian susulan kali, gak punya waktu buat kumpul-kumpul bareng lo “ timpal rio, ia sudah duduk di sofa samping ranjang angelo
“ iya tuh bener si rio, eh tapi gue ada usul nih setelah gue selese ujian, gue gak tau si kalian setuju apa gak “ angelo melihat ke arah mila, rio dan dani secara bergantian
“ apaan gel, ngomong aja ngomong?” ujar dani penasaran
“ iya, iya ini gue ngomong, ini si baru ide gue, gini gimana kalo kita jalan-jalan ke vila puncak punya kakek gue, kalian pada mau gak yo, dan? “ angelo mengangkat satu alisnya memandang rio dan dani secara
bergantian
“ uihhh, ya jelas mau dong, ye kan yo, siapa si yang gak mau jalan-jalan gratis, pas banget kita kan bakal libur panjang “
“ iya bener tuh gel, gue si ikut aja, ntar andi gue hubungi “
“ hehehe, tapi gue belum ngomong si sama kakek gue, tapi feeling gue pasti di bolehin lah, secara kan cucu mereka ganteng gini, gak mungkin lah mereka nolak cucu gantengnya “ ucap angelo songong
Buk….dani memukul ringan bahu angelo,
“ dasar be*o, mentang-mentang udah sembuh sifat songongnya balik “
“ suka-suka gue dong, kan mulut-mulut gue” jawab angelo
“ iya deh iya tau, itu mulut lo”
“ aihhh, udah dong kalian jangan berantem “ ucap mila menengahi perdebatan antara dani dan angelo
“ biarin aja mil, mereka berdua emang udah biasa kaya gitu kok, gue aja yang selalu bareng mereka agak pusing denger mereka berantem mulu “ timpal rio di samping mila
Mila menghela nafas panjang, masih memperhatikan tingkah laku kekasihnya itu, senyum dan tawanya sudah kembali perlahan-lahan, meski menjengkelkan namun mila merasa senang dengan hal itu.
“ hehehe, iya beb, bener kata rio, aku sama dani udah biasa kaya gini, ibarat nih yah, kalo jauh kangen kalo deket berantem”
“ idih siapa juga yang kangen sama lo gel, ngarep banget, gue lebih milih kangen sama tembok daripada sama lo kalo gitu “ ucap dani bergidig
“ pantes aja jomblo mulu, tiap hari pacaran sama tembok ternyata “ ucap angelo terkekeh
Seketika ruang kamar angelo yang sepi beberapa minggu lalu, mendadak menjadi ramai kembali akibat candaannya bersama dengan dani, sementara dani dan angelo sibuk bercanda, ada satu orang yang terus berdiam diri duduk di pojokan sambil memperhatikan kegaduhan yang tercipta di ruangan itu
Ya itu adit, ia terus berdiam diri semenjak memasuki ruangan angelo, bagaimana tidak, dirinya seperti tidak memiliki ruang diantara mereka berempat, terutama di antara angelo dan dani, ia terus mengubur rasa percaya dirinya, hingga ia mampu mengatakannya pada angelo, entah itu kapan.
“ toh setelah sembuh kak angelo akan datang ke rumah, jadi lebih baik gue diem aja lah, gak mau juga ngerusak suasana” ucap adit dalam hati sambil terus diam di tempatnya.
Mila juga hanya bisa tersenyum mendengar ocehan antara dani dan angelo, ia ikut larut dalam candaan mereka berdua meski dirinya hanya diam saja.
Rasanya sudah sangat lama melihat tawa-tawa yang terlihat di wajah mereka terutama angelo, meski berisik di ruangan itu tetap saja wajah mereka terlihat sangat bahagia.
Tbc….