
episode 50
Meja makan besar tertata dengan hidangan-hidangan mewah menghiasi, suasana hangat tercipta begitu kental disana, senyum sumringah tergambar jelas di wajah-wajah yang tengah duduk sembari berbincang ringan
Angelo baru saja selesai mandi, badan dan fikirannya sudah lebih segar daripada sebelumnya, dengan bersenandung ria langkahnya menuruni tangga menghampiri meja makan besar yang sudah ada bunda,ayah dan kakaknya disana, mereka menunggu kedatangan dirinya
" nih dia jagoan kita udah dateng yang tadi minta di suapin bunda " kata dimas menyambut angelo yang baru sampai di kursi depan dirinya
" apaan sih bang, siapa juga yang minta di suapin bunda " angelo menarik kursi di depannya lantas memulai untuk duduk
" kalian ini kalo bareng selalu saja berantem " ucap ny.sabrina, tangannya masih sibuk menyentong nasi untuk tn.william
" gak berantem gak rame bun, yak kan gel "
angelo menatap dimas jengah menjawab pertanyaannya, sedangkan ny.sabrina tertawa kecil menanggapi kedua putranya, setelah selesai menyajikan makanan untuk suami dan anak-anaknya, ny. sabrina duduk di samping dimas, bersiap untuk berdoa bersama
Tn.william memimpin berdoa, seketika meja makan besar itu menjadi hening menampilkan wajah-wajah tertunduk dengan kedua telapak tangan menengadah
Beberapa menit kemudian, angelo sudah siap menyendok nasi di depannya lengkap dengan lauk balado ayam dan sayur sop kesukaannya
" pelan-pelan gel makannya, gak ada yang bakal minta kok" celetuk dimas
" sttt, jangan berisik deh bang, ganggu aja, gak tau yah gue lagi nikmatin masakan bunda"
" ekhmmm " Tn.william berdehem cukup keras hingga membuat angelo dan dimas menoleh padanya
" ada apa yah? angelo berisik yah " ucap dimas
Angelo melotot pada dimas di tengah-tengah acara makan enaknya
" tidak, bukan itu, ayah ada sesuatu yang mau di omongin, khusunya buat kamu angelo " tn.William menoleh memperhatikan raut wajah angelo yang masih asik mengunyah makanannya
" ada apa yah? " tanya angelo santai
" begini, kamu kan sudah kelas 2 SMA, sebentar lagi kelas 3 terus lulus SMA, kamu tau kan jabatan ayah di sekolah itu apa? Ayah sudah ada rencana buat kamu setelah lulus SMA nanti " kata tn.william
" apa itu yah " tanya angelo lagi, ia masih asik menyendok nasi di piringnya
" ayah mau kamu kuliah di London di universitas oxford bersama anak teman ayah"
"uhukk.....uhukkk" angelo tersedak mendengar ucapan ayahnya
Dimas yang duduk di depannya langsung otomatis memberikan satu gelas air putih di depannya pada angelo
" pelan gel pelan " ucap dimas
ny.sabrina pun tak kalah kagetnya melihat angelo yang sedang asik makan tiba-tiba tersedak saat mendengar ucapan dari suaminya itu
setelah merasa lebih baik, angelo menarik nafas dalam-dalam bersiap untuk menjawab pertanyaan ayahnya, dia tau persis cepat atau lambat pasti akan berhadapan dengan situasi seperti ini, baru beberapa waktu lalu dirinya menyinggung masalah setelah lulus sekolah nanti akan berbuat apa bersama dengan dani, mila dan linda, itu saja sudah membuatnya berfikir cepat hingga merasa lelah dan sekarang ayahnya terang-terangan menciptakan masa depan untuk dirinya, angelo merasa tidak terima dan tidak ingin menuruti apa kata ayahnya setelah ia memikirkan berbagai hal untuk masa depan dirinya
" sayang, ada apa nak " tanya ny.sabrina menyadari putranya terdiam cukup lama setelah meminum satu gelas air
" gak papa bun " ucap angelo
" bagaimana nak, kamu mau kan kuliah di London?" tanya tn. william lagi
angelo menoleh, menatap ayahnya dengan serius " maaf ayah, angelo tidak bisa menuruti perkataan ayah "
tn.William meletakan sendok yang sebentar lagi mendarat di bibirnya " lantas, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus? menjadi berandal? seperti yang sudah-sudah, jangan kira ayah tidak tau apa yang kamu lakukan selama ayah pergi dinas, sudah cukup kamu bermain-bermain " ucap tn.william dengan wajah yang serius
seketika meja makan besar itu menjadi tegang, dimas diam sedari tadi memperhatikan raut wajah adik dan ayahnya yang menegang, sementara ny.sabrina berusaha menengahi percakapan antara putra dan suaminya
" gak, angelo tetap gak mau kuliah di London, angelo mau langsung bekerja atau langsung menikah "
brakkkkk..." apa kamu bilang! menikah!! kamu kira menikah itu gampang!! jangan kamu pikir menikah hanya modal cinta semua beres, mau di kasih makan apa istri dan anakmu jika ayahnya saja tidak bekerja dengan benar! kamu liat abangmu dia juga belum memikirkan menikah, sedangkan kamu anak baru kemarin sore udah mikir mau menikah "
" kalau begitu suruh aja bang dimas yang kuliah di London, aku gak mau!"
angelo berdiri dari tempat duduknya
" mau kemana kamu, ayah belum selesai ngomong, duduk balik " teriak tn.william
" sudah sayang, jangan seperti itu, biarkan angelo untuk menenangkan diri " ucap ny.sabrina menenangkan suaminya sembari mengelus-ngelus pundaknya
" mas, kamu susul adikmu, bilangin sama dia agar tidak berbuat sesuatu yang berbahaya" tambahnya lagi
Mendengar ucapan ny.sabrina, dimas langsung berlari menyusul angelo di garasi rumahnya, angelo sudah siap melajukan motor miliknya
" mau kemana lo malam-malam begini?" cegah dimas memegangi stang motor angelo
" gak usah ikut campur lo bang, ini masalah gue sendiri, udah kebukti kan ayah cuma sayang sama lo daripada gue dari dulu "
" kata siapa ayah cuma sayang gue? ayah sayang sama kita berdua, beliau ngomong kaya gitu juga buat kebaikan lo gel "
" gak, kalo ayah sayang gak mungkin dia langsung mutusin omongannya sendiri tanpa mendengar persetujuan gue, lo dulu gak mau kerja dulu, ayah setuju terus nurutin omongan lo kan bang, kenapa gue gak, udah sana minggir, kalo gak gue tabrak "
" aishh, dengerin dulu ayah ngomong, kita bisa bicarain ini baik-baik" teriak dimas
angelo sudah menyalakan mesin motornya
" biarin aja dia pergi, bisa apa dia kalo gak punya uang, palingan balik lagi nanti" ucap tn.william di belakang dimas, di ikuti ny.sabrina yang masih memegang tanganya masih mencegah suaminya agar tidak berdebat lagi dengan putranya
" baik, jika itu yang ayah bilang, angelo juga bisa hidup meski tanpa uang ayah sekalipun"
" nak jangan seperti itu yah, kita bicara baik-baik, ayah juga jangan emosi seperti itu " pinta ny.sabrina
Namun angelo tidak mendengarkan lagi ucapan-ucapan dari ny.sabrina dan dimas, dengan cepat angelo menarik gas motornya meninggalkan rumah mewah dan isak tangis dari bundanya
laju motor angelo semakin cepat menembus dinginnya malam kota jakarta, lengkap sudah rasanya dengan dirinya yang tidak mengenakan jaket dan hanya mengenakan celana boxer pendek dengan sendal jepit menghiasi kakinya, rasanya hawa dingin langsung menembus ke tulang-tulangnya, namun ia tak peduli, rasa amarah lebih dominan menguasai relung hatinya
Tapi semua sirna begitu saja hanya dengan waktu beberapa menit saja di meja makan bahkan ia belum selesai menghabiskan makanannya, benar-benar tak habis pikir ayahnya tidak mau mendengarkan ucapan darinya
laju motor angelo terus berjalan dengan cepat entah menuju kemana, dirinya saja masih terus berfikir tanpa melihat ke sekeliling
sementara itu dering di ponselnya tak henti-henti berbunyi sejak ia meninggalkan rumahnya beberapa saat lalu, angelo seakan tidak mendengar dan merasakan getaran dari ponselnya
🍂🍂🍂🍂🍂
Tik....tik.....tik, srashhhh rintik hujan mulai membasahi bumi perlahan tapi pasti
mila menghela nafas panjang di ruang tamunya sembari menatap keluar kaca,
ia baru saja selesai mandi dan membuat satu cangkir teh hangat untuk menyegarkan dirinya setelah berkutat dengan buku-buku dan berdebat dengan linda dan yuda mengenai isi makalahnya, ahirnya mereka bertiga selesai mengerjakan separuh dari isi makalah setelah cukup lama berdebat, mengingat hari mulai gelap ahirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan mereka esok hari
" nak ada apa? ada yang mengganggu fikiranmu ya " ucap pak maman menyadarkan lamunan mila
" eh, enggak pa, mila cuma lelah sedikit setelah mengerjakan tugas kelompok "
" begitu, jangan terlalu memforsir diri sendiri ya nak, istirahat jika memang sudah lelah, jangan sampai sakit "
" iya pa tenang aja, mila bisa jaga diri sendiri kok, bapak gak usah khawatir "
" baiklah kalau begitu, oia kamu sebentar lagi kelas 3 SMA kan, terus lulus " ucapan pak maman menggantung
Mila menoleh, memperhatikan air muka ayahnya " hmmmm, mila sudah putuskan pa nanti setelah lulus SMA, mila akan langsung kerja "
" kamu gak mau kuliah nak?"
Mila menghela nafas pelan " mila bukannya gak mau kuliah pa, semua orang pasti ingin belajar sampai tinggi, tapi menurut mila selagi lulus SMA bisa langsung kerja kenapa tidak, lagian kerja lebih cocok untuk mila daripada kuliah "
Ia tersenyum lembut memandang ayahnya, hatinya tau persis ayahnya saat ini bingung memikirkan masa depan untuknya, tugasnya saat ini hanyalah menenangkan ayahnya, belajar dengan baik agar setelah lulus bisa langsung bekerja sesuai dengan keinginannya
" maafin bapak ya nak, bapak tidak bisa membuatmu belajar sampai tinggi, bapak tidak bisa membuatmu seperti teman-temanmu " terlihat air mata mulai menggenang di sudut matanya
" jangan bicara seperti itu pa, sudah cukup mila belajar selama 12 tahun, sekarang giliran mila yang bekerja untuk bapak dan adit, biar mila tidak kuliah tak masalah yang penting adit bisa, mila akan membantu bapak membiayai adit, bapak jangan berfikiran yang tidak-tidak yah, mila sudah sangat bahagia selama ini, mila beruntung masih bisa sekolah sampai lulus dan menikmati masa-masa sekolah. Terimakasih sudah merawat mila sampai sekarang " mila mengelus pundak pak maman
Pak maman mengangguk lantas memeluk putrinya, mata mila berkaca-kaca dalam pelukan ayahnya begitu pun dengan pak maman, ia tak menyangka putri kecilnya sudah dewasa sekarang, meski hidup tanpa kasih sayang ibunya ia dapat tumbuh menjadi anak yang baik serta pengertian kepada keluarganya, betapa beruntungnya dirinya dapat memiliki dua orang anak yang baik.
ruang tamu sederhana itu menjadi hangat menyisakan keheningan diantara mereka berdua yang larut dalam perasaan masing-masing
🍂🍂🍂🍂🍂
Kamar besar dengan nuansa rumah sakit terlihat sepi menyisakan suara rintik hujan di luar, nindy terdiam memandang ke luar kaca menyaksikan setiap rintik hujan yang jatuh dengan cepat ke tanah, fikirannya melayang jauh setiap kali menatap ke luar kaca menyaksikan langit gelap tanpa cahaya
fikirannya kosong, hatinya entahlah ia sudah tidak tau lagi dengan perasaanya saat ini
kreakk.....pintu terbuka, ia masih tidak bergeming dari posisinya
yuda melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya
" bagaimana perasaanmu saat ini nin? " tanyanya pelan
nindy diam tidak menyaut ataupun menoleh sedikit pun ke arahnya, hatinya masih kesal jika mengingat dirinya di nasehati olehnya padahal dia tak tau apa pun dengan apa yang di alaminya
Yuda menghela nafas panjang, berbalik badan mengambil selimut tebal yang berada di atas ranjang milik nindy, menaruhnya di pundak nindy berharap bisa membalut tubuhnya, " dingin, lebih baik lo rebahan kembali "
Nindy menoleh, menatapnya dengan tatapan dingin " gak usah sok care sama gue, bukan urusan lo, gue kedinginan atau mati sekalipun"
Yuda terdiam beberapa saat lantas menatap langsung sepasang manik kelam milik nindy,
" gue tau, gue salah, maafin gue " ucapnya pelan
" gak usah minta maaf, gue gak perlu maaf dari lo"
" oke, kalo lo gak mau maafin gue, setidaknya lo turuti apa kata gue, lo gak mau disini terus kan? dan bikin temen-temen lo tau kalo kita satu rumah terus saling kenal "
nindy terdiam mendengar ucapan yuda, lantas melangkahkan kakinya tanpa menoleh padanya menuju ranjang dan memposisikan tubuhnya untuk berbaring kembali, yuda menghela nafas pelan melihat nindy luluh dengan perkatannya
kamar besar itu kembali hening
🍂🍂🍂🍂🍂
Vrrrrr......vrrrrr......vrrrrrr, dering ponsel terdengar terus tanpa henti, berharap ada seseorang yang menenangkannya, namun sayang tampaknya tidak akan ada yang menyentuhnya
" angelo **** dimana sih tuh anak " dengus dani memandangi ponselnya seraya terus menghubungi angelo
" ada apa dan? lo marahan sama angelo " tanya rio yang sedari tadi memperhatikan dani dari ranjangnya
" gak, bukan gitu, kita udah sepakat mau jengukin lo barengan tapi napa ni anak gak ada jawaban, bikin perasaan gue gak enak aja"
Dani terus berusaha memanggil angelo lewat ponselnya sembari menggigit kuku jempolnya
" santai aja kali dan, mungkin angelo lagi ngapelin ceweknya, lo tau kan dia lagi bucin " rio terkekeh
" wah sialan tuh anak kalo bener ngapelin ceweknya, mikir apa coba "
" ya mungkin aja kan, udahlah biarin aja, biarin dia bucin, kapan lagi kita liat ketua garang xtc bucin, ya gak " goda rio
" aishh, bukan masalah bucin atau enggaknya, dia kan udah janji, ya setidaknya kasih kabar kek, biar gak bikin orang kepikiran, kan jadi gak enak gue "
" ahh lo dan, gue liat lo malah kaya liat orang yang lagi khawatirin pacar, apa jangan-jangan lo beneran naksir yah sama angelo "
" apa sih yo, amit-amit deh gue naksir anak **** kaya dia, hiiy " dani bergidig
Rio tertawa melihat respon dani, meski dani menanggapi candaan rio namun tetap saja hatinya merasa tidak tenang kali ini, dia juga tidak tau kenapa, padahal biasanya angelo datang atau tidak ia tidak masalah dengan itu tapi entah kenapa kali ini rasanya beda hingga membuatnya tetap terus berusaha menghubungi ponsel angelo tanpa henti berharap ada jawaban darinya
Tbc....