my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 39



Episode 39


Harum semerbak bunga-bunga dengan berbagai warna cantik menyambut kedatangan angelo, toko bunga “Beautiful Flower” baru saja buka tepat ketika mobil angelo berhenti di depannya, seorang perempuan seusia bundanya tersenyum hangat begitu angelo membuka pintu toko


“ selamat pagi, ada yang bisa saya bantu” tanyanya tersenyum ramah


“ emmm, begini bisakah saya mendapatkan satu buket mawar putih bu”


Ucap angelo ragu-ragu, wajahnya tersipu merah, angelo seperti mengingat bundanya ketika melihat seseorang itu


“ baiklah, mari ikuti saya”


Angelo mengangguk mengikuti langkah kaki perempuan itu, langkahnya membawa angelo menuju ke belakang toko bunga, terlihat ada banyak sekali tanaman bunga disana, mereka tampak begitu segar seperti baru selesai di siram


Perempuan itu mengambil gunting di samping kiri pintu lantas berjalan kembali menuju hamparan tanaman bunga mawar putih


“ kamu bisa memetiknya sendiri jika mau”


“ boleh?”


“ tentu saja, ambilah sebanyak yang kamu inginkan”


Angelo mengangguk lantas menerima gunting dari tangan perempuan itu mulai memetik tangkai bunga satu persatu sembari di bimbing, tak selang waktu lama angelo sudah mendapatkan bunga mawar putih segar hasil dari panennya sendiri, angelo tersenyum puas menatap buket bunga mawar putih yang sudah di hias di tangannya, ia berjalan keluar setelah membayar bunga tersebut dan langsung memasuki mobilnya untuk kembali melanjutkan perjalannya


🍂🍂🍂🍂🍂


Mila berjalan keluar dari ruangan adit setelah selesai membantunya sarapan, pak maman juga sudah datang untuk bergantian dengan dirinya, mila menghela nafas setelah menutup pintu ruangan adit lantas melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut, dia berencana akan pulang terlebih dahulu untuk membersihkan badan dan berganti pakaian, hari ini mila tidak ada rencana akan pergi, pasalnya angelo tidak dapat di hubungi semenjak tadi malam, lebih tepatnya angelo tidak merespon panggilan serta membalas pesannya


Mila menyusuri lorong rumah sakit husada sambil terus berfikir banyak hal, dia berjalan tanpa melihat keadaan sekitar yang sudah ramai lalu lalang


“ hey mil” seseorang menepuk pundaknya dari belakang


Mila menoleh, lamunanya buyar “ eh lo yud, lagi ngapain disini”


“ ini lagi nemenin temen periksa, katanya gak enak badan, lah lo sendiri lagi ngapain disini?”


“ oh, kalo gue habis nunggu adek gue, ini mau pulang dulu”


“ adek lo sakit?”


“iya, tepatnya kecelakaan sih, tapi udah lebih baik sekarang kondisinya”


“ syukurlah kalo gitu, kapan-kapan gue boleh nengok gak?”


“ hmmmm, iya boleh, eh ya udah gue mau pulang dulu yah udah siang belum nyuci baju nih”


“ eh, gue anterin yah”


“ gak usah yud, gue pesen greb aja”


“ gapapa yuk, daripada gue bosen nunggu temen gue lama”


Mila mengangguk mengiyakan ucapan yuda, dia sudah berusaha menolak ajakan yuda namun yuda bersikeras mengantar, alhasil mila menyerah pada yuda sebab ia sedang tidak ada mood untuk berdebat dengan siapa pun saat ini, paginya lumayan tidak mengenakan tanpa kabar dari angelo, mereka berdua terus berbincang sepanjang perjalanan keluar rumah sakit


🍂🍂🍂🍂🍂


Laju mobil angelo berhenti tepat di parkiran rumah sakit husada, dengan senyum sumringah angelo turun dari mobilnya sembari membawa satu buket mawar putih, angelo melangkahkan kakinya berjalan menuju halaman rumah sakit husada, baru beberapa langkah kakinya melangkah, pandangan matanya langsung menangkap dua sosok yang begitu akrab dengan pandangan matanya, mereka berdua sedang tertawa bersama entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga tertawa seperti itu


Ya itu mila dan yuda, mereka baru saja keluar dari rumah sakit hendak berjalan menuju parkiran, melihat pemandangan seperti itu senyum sumringah angelo hilang seketika, tangannnya mengepal kuat, pandangan matanya tajam menatap dua sosok itu, dengan langkah cepat angelo berjalan menghampiri mereka berdua tangannya langsung menarik lengan mila dengan kuat


“ auww” teriak mila


Mila langsung menoleh saat tubuhnya menyentuh dada bidang angelo, ia langsung dapat mengenali siapa yang menarik lengannya kuat-kuat dari parfum yang dikenakannya


“ ba**sat, sialan, siapa yang nyuruh lo deketin cewek gue” teriak angelo menatap tajam wajah yuda


Yuda terdiam menatap tajam wajah angelo, kali ini yuda tidak menahan emosinya lagi karena mereka tidak berada di lingkungan sekolah


“ apa maksud lo sialan” tantang yuda


“ lo berani sama gue hah”


Angelo menyingkirkan tubuh mila dari dekapannya, memberikan satu buket bunga yang masih di pegangnya dengan kasar, ia langsung maju menarik kerah yuda, pandangan matanya tajam menusuk


“ apa mau lo” ucap yuda tak kalah galak dari angelo


“ lo tanya gue mau apa! Lo buta apa tuli, mila cewek gue, berani-beraninya lo deketin dia, lo mau mati”


“ mati atau gak gue gak peduli”


Yuda tersenyum sinis, senyuman yuda sukses membuat darah angelo mendidih, dengan gerakan sepersekian detik, angelo sudah mendaratkan tinjunya ke wajah yuda dengan keras, mila menarik tubuh angelo untuk berhenti setelah ucapannya untuk berhenti tidak di dengar angelo


“ lepas, gue belum selese” angelo mendorong tubuh mila dengan kuat tanpa sadar


Tubuh mila limbung, ia jatuh tersungkur ke lantai dengan keras sedangkan yuda menyentuh pipinya yang memerah akibat pukulan angelo


“ auww, hiks hiks” pekik mila, ia menangis


Angelo langsung berhenti di tempat mendengar suara tangisan dari arah mila, ia langsung berbalik badan berjongkok di depan mila, tatapan matanya berubah panik


“ mil, maafin gue, gue gak sengaja, lo gapapa”


“ jangan sentuh gue gel, gue udah bilang sama lo buat berhenti tapi lo gak mau dengerin gue, hiks” ucap mila lantang dalam tangisnya


“ maaf, maafin gue, gue bantu berdiri ya”


Mila memalingkan muka dari angelo, ia tidak mau melihat tatapan mata khawatir dari angelo, yuda yang sedari tadi diam di tempat langsung berjongkok menghampiri mila


“ gue bantu berdiri ya mil” ucapnya


Mila menoleh lantas menurut tubuhnya di bimbing yuda, wajah angelo merah padam melihat mila lebih memilih yuda daripada dirinya, tanganya mengepal kuat, ia berdiri


“ ck, oke jika lo lebih milih cecunguk sialan itu” angelo berdecak, ia langsung berjalan pergi meninggalkan mila dan yuda tanpa menoleh sedikit pun


Sepeninggal angelo, mila menangis tersedu-sedu memandang punggung angelo yang hilang di balik gerbang rumah sakit, yuda membawa mila kedalam pelukannya ia mengusap-usap pundak mila, bukan maksudnya membuat angelo marah seperti itu, ia hanya ingin angelo lebih bisa berfikir menggunakan akal sehatnya bukan dengan emosinya dan berahir dengan perkelahian, mila sudah cukup sabar menghadapi watak angelo yang lebih suka kekerasan ketimbang berbicara dengan tenang untuk menyelasaikan masalahnya, ia tidak mau melihat darah di wajah angelo lagi, ia tidak mau melihat wajah tampan kekasihnya penuh luka lebam, ia juga tidak mau melihat kekasihnya terbaring lagi di rumah sakit, mila tidak mau itu semua, ia hanya bisa terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, baru kali ini mila merasa hatinya sesak hingga air mata terus berderai membasahi pipinya, ia benci menjadi cengeng namun perasaannya lebih dominan menguasai hatinya


Cukup lama yuda menenangkan mila dalam pelukannya, ahirnya mila mulai berhenti dari tangisnya


“ udah ya mil jangan nangis lagi, gue bakal temenin lo hari ini”


Mila diam tidak mendengar ucapan yuda, fikirannya sibuk memikirkan banyak hal, ia juga mulai merasa bersalah membiarkan angelo pergi begitu saja, namun nasi sudah menjadi bubur semua yang sudah berlalu tidak akan bisa kembali lagi kecuali menunggu waktu yang tepat sampai semuanya berjalan normal kembali entah kapan waktu itu akan tiba, tidak ada yang tau


Beberapa menit kemudian yuda membawa mila menuju mobilnya, mila diam menurut di bimbing yuda berjalan untuk memasuki mobilnya,


“ mil ikut gue bentar yah, mau kan?”


Mila menoleh mendengar ucapan yuda,


“ pulang aja yud”


“ hmmm ya udah kalo gitu, dimana rumah lo?”


“ rumah gue di jalan mawar yud”


“ oke, gue anter kesana, gue temenin seharian boleh gak?”


“ terserah lo aja lah yud”


Mila kembali diam mengalihkan pandangan matanya ke samping kanannya, satu buket mawar putih masih di pangkuannya, walau ia terjatuh cukup keras namun buket bunga tersebut tidak pernah dibiarkannya ikut jatuh ke tanah, mila menghela nafas sesak, mengingat tatapan dingin angelo sebelum ia hilang di balik gerbang rumah sakit, hatinya merasa sedih mengingat setiap jengkal kenangan yang terjadi pada dirinya beberapa saat lalu, ia baru tau angelo dapat menunjukan ekspresi dingin padanya, setiap hari yang angelo tunjukan padanya hanyalah wajah sumringahnya, senyum jailnya terkadang dia juga akan menjadi seperti anak kucing yang minta di belai tuannya, memang tidak satu dua kali dirinya mendapati angelo marah namun marahnya angelo tidak di tunjukan pada dirinya dan kali ini mila baru tau tatapan dingin, terluka dan kecewanya angelo, ia hanya bisa berharap angelo tidak melakukan hal-hal yang tidak baik


“ mil lo gak papa kan?” tanya yuda, memperhatikan mila menghela nafas beberapa kali


“ gue oke yud”


“ kita udah sampai di jalan mawar nih mil, rumah lo yang mana”


“ eh udah yah, lurus dikit ntar lo berhenti tepat di depan gang sempit, mobil lo gak bakal bisa masuk kedalam jadi kalo lo mau ikut gue, ya kita harus berjalan”


“ gak masalah ko mil kalo itu”


“ oke”


Mobil yuda berhenti tepat di gang sempit seperti yang mila katakan, ia langsung keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk mila, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke rumah mila, tak lama kaki mereka melangkah, mereka sampai di halaman rumah mila


“ rumah gue kecil, lo boleh pulang kalo mau yud”


“ gak papa, gue malah gak punya rumah mil”


Mila tidak menanggapi ucapan yuda, tangannya sudah sibuk membuka pintu rumahnya lantas mempersilahkan yuda untuk masuk kedalam


“ duduk yud, gue bikinin minum dulu”


“ oke, thank’s mil’


Mila mengangguk, berjalan meninggalkan yuda sendiri di ruang tamunya, sementara yuda duduk di sofa ruang tamu mila, ia mengedarkan pandangan matanya menyapu seluruh ruangan yang ada di sekelilingnya memperhatikan setiap apa pun yang ada di sana, tak selang waktu lama mila sudah kembali menghampiri dirinya dengan membawa nampan berisi satu cangkir teh hangat lantas meletakan di depan dirinya


“ minum dulu yud”


“ thank’s mil, oia gue sekalian minjem catatan lo hari ini boleh gak? Sekalian gue kan masih banyak yang belum tau”


“ hmmm oke, ntar gue ambilin, tapi gue mau mandi dulu yud, lo sendiri disini gapapa?”


“ gak papa kok mil, santai aja, udah sana lo mandi dulu”


“ oke, gue tinggal yah”


Yuda mengangguk tersenyum, mila langsung berjalan meninggalkan yuda kembali, ia segera bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian bersih, serta merendam beberapa pakainnya, adit dan ayahnya untuk di cuci nanti ketika dirinya sudah lebih senggang waktunya, mila tidak bisa meninggalkan tamu sendirian di ruang tamunya untuk waktu yang lama apalagi dia adalah siswa pindahan yang baru satu hari ia kenal, entah kenapa mila merasa tidak enak menolak tawaran yuda beberapa waktu lalu yang ingin ikut bersamanya


Dengan cepat mila langsung mengenakan pakaian bersih yang lebih santai, hari ini mila memilih kaos berwarna biru bergambar beruang kecil, dengan celana jeans selutut berwarna hitam serta menguncir rambutnya membentuk ekor kuda seperti biasanya, setelah selesai ia langsung kembali menghampiri yuda


Sesampainya di ruang tamu, terlihat yuda tengah memainkan ponselnya dengan serius


“ eh udah selese mil” ucap yuda, saat mendengar langkah kaki berhenti di depannya


“ hmmmm”


“ lo cantik mil pake baju santai”


“ thank’s yud” Wajah mila datar menjawab ucapan yuda


Ring…..ring….ring, ponsel dari arah mila berbunyi, dengan cepat mila langsung mencari ponselnya di saku celana, linda nama yang tertera di layar ponselnya


“ hallo” ucap mila


“ hallo sayangku, sorry ya gue gak bales pesan lo dari kemaren”


“ hmmm gapapa, lo kenapa lin gak berangkat sekolah kemaren?”


“ gue ada urusan keluarga di solo mil, kakak sepupu gue kecelakaan”


“ ah ya ampun, terus sekarang gimana keadaanya”


Mila menutup bibir dengan telapak tangannya, sedangkan yuda sedari tadi memperhatikan air muka mila dengan diam di tempatnya


“ gak papa udah di bawa kerumah sakit, cuma belum sadar tapi udah melewati masa kritisnya”


“ ya ampun lin, gue turut priatin ya”


“ iya mil, eh btw lo lagi ngapain?”


“ ini lagi duduk aja dirumah”


“ gak kemana-mana? Angelo gak main kerumah lo hari ini?”


“hmmmm”


“ eh ada apa mil? Lo ada masalah yah sama dia”


Mila diam tidak menjawab pertanyaan linda, ia tidak tau bagaimana caranya menjawab pertanyaan linda, dadanya sesak seketika, kalau boleh mila ingin memeluk sahabatnya dengan erat dan mencurahkan segala perasaanya saat ini


“ lin udah dulu yah, besok sambung lagi”


“ eh kok tiba-tiba? Lo pasti ada masalah kan mil, lo gak bisa rahasiain apa-apa dari gue”


“ gue gapapa lin oke, lo gak usah cemas”


“ oke ntar kalo gue udah sampe rumah, gue kerumah lo ya”


“ hmmmm”


Mila memutuskan panggilan teleponnya, ia diam menghela nafas panjang di hadapan yuda, perasaannya campur aduk jadi satu, yuda tau mila sangat sedih hari ini, ia juga ingin menghiburnya namun sepertinya mila ingin menenangkan dirinya sendiri, ia lantas pamit pulang setelah cukup lama hanya diam memandang wajah mila, tak lupa juga mila membawakan buku catatannya pada yuda


Tbc…..