my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 56



Episode 56


Cahaya matahari malu-malu menyapa, seakan mengucapkan selamat pagi bagi semua yang merasakan kelembutannya, waktu memang masih menunjukan pukul 5.30 pagi, masih sangat pagi jika di gunakan untuk beraktifitas, namun angelo sudah sibuk sejak pukul 5 pagi, ia masih berkutat dengan jump rope atau yang sering kita sebut sebagai alat untuk lompat tali, keringat menetes membanjiri sekujur tubuhnya, namun gerakan tubuhnya masih seiring dengan ayunan tali yang terus bergerak naik turun.


Pandangan matanya lurus ke depan, mengingat kejadian semalam.


Flash back on,


Rintik hujan sudah berhenti sepenuhnya, angin dingin seakan menyambut tubuhnya saat ia baru saja membuka pintu mobilnya, dimas merangkulnya dari samping, tersenyum lebar mengangguk, ia tau arti tatapan dan ekspresi dari dimas, ekspresinya seakan mengatakan, “ semua akan baik-baik saja, percayalah”. Angelo hanya bisa menghela nafas sembari mengangguk menatap wajah dimas.


Baru saja pintu terbuka, tn. William sudah duduk di sofa ruang tamu, ia seperti menunggu kedatangan kedua putranya pulang malam ini, angelo tertunduk melihat ayahnya, diam menatap ke arah mereka berdua.


“ pulang juga kamu” begitu ucapnya saat pertama melihat wajah angelo di samping dimas


“ dimas yang jemput yah, bunda pengen ketemu angelo”


“ kalau kamu sudah berani pulang berarti kamu sudah menentukan pilihan kamu bukan? Kalo belum tidak mungkin kamu berani menunjukan batang hidung kesini”


Dimas mengelus pundak angelo, berbisik


“ sabar gel, jangan emosi”


Angelo mengangguk pada dimas.


“ mmmm, aku udah nentuin pilihanku, jika ayah setuju”


tn.william menghela nafas panjang, “ duduk sini di depan ayah, ayah pengin denger apa pilihanmu”


angelo menoleh, menatap dimas, dimas mengangguk, mengusap punggung angelo meyakinkannya kembali


“ gue gak bakal ninggalin lo gel tenang aja” ucapnya pelan


Angelo mengangguk lantas melangkahkan kakinya menuju sofa di depan ayahnya, ia memulai duduk disana, sedangkan dimas ikut di belakang angelo, namun belum sampai dimas meletakan tubuhnya di atas sofa tn.william mencegahnya


“ bisa tolong tinggalkan ayah bersama adikmu berdua mas?” ucapnya


Dimas menoleh ke samping, menatap angelo yang berusaha mencegahnya untuk pergi dari sana lewat tatapan matanya


“ semua akan baik-baik aja, percaya gue” ucap dimas menepuk bahu angelo


Angelo sudah tidak bisa mengucapkan apa pun selain hanya terpaksa menuruti perkataan ayahnya sambil menatap punggung dimas yang perlahan menjauhinya, menyisakan keheningan baginya dan ayahnya.


“ baik, kamu bisa bicara sama ayah sekarang” ujar tn.william masih menatap angelo yang tertunduk


Angelo diam, masih terus meyakinkan dirinya, bahwa dia harus mengucapkan sekarang, apa pun yang terjadi, perlahan ia mulai mengangkat wajahnya menatap wajah ayahnya. “ aku udah buat pilihan yah, aku gak tau apakah ayah setuju atau tidak dengan keputusanku…..” angelo mengambil jeda


“ hmmmm” tn.william masih menatapnya


“ aku sudah memutuskan ingin langsung bekerja setelah lulus yah, tidak menikah dulu sebelum aku mendapatkan uang banyak”


Tn.william diam, tidak menjawab ucapan angelo namun ia masih menatap angelo dengan tajam.


“ itu pilihanku yah, aku tidak tau ayah setuju atau tidak”


Tn.william menghela nafas panjang, memijit pelipisnya “ apa susahnya sih kamu nuruti ayah, ayah cuma tidak mau kamu menyesal memilih langsung bekerja daripada kuliah di London, kamu pekerjaannya tiap hari tawuran, bolos mau kerja apa coba?” ucapnya


Angelo diam, merutuki dirinya sendiri, tidak terpikirkan sebelumnya jika ayahnya akan bertanya seperti itu.


“ sudahlah, ayah sudah tidak mau berdebat denganmu lagi, untuk saat ini, kamu fokus ke ujianmu dulu, pikirkan baik-baik apa yang ayah katakan hari ini, kamu boleh ke kamarmu”


Angelo mengangguk, lantas berjalan meninggalkan ayahnya sendiri di ruang tamu.


Flash back off.


Bruk…..angelo terjatuh di tengah-tengah lompatannya karena salah satu kakinya tersangkut tali yang sedang ia gunakan, barulah fikirannya kembali sepenuhnya ke dalam dirinya.


Angelo duduk berselonjor, terlihat darah mengalir dari kedua lututnya


Tuk….satu botol air mineral menepel ke pipinya, angelo menoleh ke samping


“ jahat lo gel, kabur gak ngomong-ngomong ke gue” ucapnya


Angelo diam menatap dani, yang entah sejak kapan sampai di rumahnya, ia juga hanya mengenakan sepatu olahraga, celana boxer dan kaos lengan pendek berwarna hitam polos, angelo bisa menebak dari apa yang dani gunakan, ia pasti baru selesai olahraga dan mampir ke rumahnya, begitu pikirnya


“ mmmm” ucap angelo menoleh kembali kedepan setelah menoleh ke samping memperhatikan raut wajah dani yang seakan marah padanya.


Plak…..dani memukul kepala angelo cukup keras.


“ ishhh, apaan sih dan, gue be*o kayaknya gara-gara lo tampolin mulu nih” ujar angelo mengeluh kesal


“ apaan, lo be*o itu udah takdir, gak usah nyalahin gue deh”


“ ya, ya serah lo aja lah dan, gue lagi males debat sekarang, lo kesini gak bawain gue kotak p3k, udah tau temen ndiri berdarah gini, aihhh”


“ ck,ck,ck udah syukur gue bawain air mineral, masih kurang terima lo gel, ngomong yang bener dulu nanti gue ambilin di dalem? Apa bisa jalan sendiri, masa ketua preman gitu aja k.o, apaan” cibir dani


“ sttt, gak usah berisik deh lo dan, ini beneran sakit, atau lo mau bopong gue ke dalam, dengan senang hati gue mau banget” ledek angelo


“ hiiy, mending gue angkat nenek-nenek daripada ngangkat lo”


“ serius lo mau ngakat nenek-nenek daripada gue, gue munculin tuh nenek-nenek baru tau rasa lo dan. Hahaha”


“ emang lo pesulap apa, bisa munculin orang?”


“ lo gak percaya, mau bukti? Gue buktiin sekarang”


“ hey, hey jangan dong, udah lah gue masuk dulu ke dalem ngambil kotak p3k, lo situ aja, kalo bisa jalan ya mending lo jalan aja, atau merangkak sekalian, gue rekam masukin ke acebook biar lo viral. Hahaha”


Tak…..angelo melempar jump rope ke arah dani, namun meleset, dani sudah menghindar sambil berlari masuk ke dalam rumahnya, angelo hanya bisa menggerutu memandang tubuh dani yang hilang di balik pintu rumahnya


🍂🍂🍂🍂🍂


Krekkk…..suara pintu terbuka, mila meregangkan tubuhnya di depan pintu, ia baru saja bangun dari mimpinya, terbangun saat cahaya lembut matahari masuk melalui sela-sela gordennya.


Ia celingak-celinguk menyapu seluruh isi rumahnya, sepi, tidak ada tanda-tanda ayahnya pulang, jika adit pasti masih tidur di kamarnya, dan benar saja saat mila membuka pintu kamar adit, terlihat adit masih di bawah selimutnya meneruskan mimpinya, mila hanya bisa menghela nafas panjang melihat pemandangan seperti itu, lantas menutup kembali pintu kamar adit, berjalan menuju dapur, ia sudah tau hari ini pekerjaan rumahnya menunggu untuk ia bersihkan.


“ fyuhhhh, ayo semangat mil, pasti selese” gumamnya, berkacak pinggang di depan dapur kemudian mengikat rambutnya agar mudah untuk melakukan pekerjaan rumah


Pekerjaan rumah versi mila pun di mulai dengan senandung-senandung kecil darinya.


🍂🍂🍂🍂🍂


Lalu lalang mulai terlihat ramai di dalam rumah sakit husada, yuda baru saja kembali dari kantin rumah sakit, menenteng satu kantong plastik kresek berukuran sedang, lantas membuka pintu ruangan nindy, ruangan besar, bersih namun sepi, penghuni ruangan itu tengah duduk diam memandang keluar jendela, sebelum menoleh ke samping mendengar suara pintu terbuka


“ sarapan dulu nin, aku beliin bubur ayam, sebelum kita pulang” ucap yuda, sembari menuangkan bubur ayam ke dalam mangkok


“ mmmm”


“ sini, gue bisa sendiri “ ujar nindy merebut mangkok dari tangan yuda


Yuda hanya tersenyum dan menghela nafas panjang menatap tingkah nindy


“ oia, lo udah hubungi vian belum? Buat nganterin baju ganti lo, udah jam 9 ini, kita keluar kan bentar lagi jam 10an”


“ mmmm, udah kok, lo siap-siap aja, masalah baju ganti gue, udah beres”


“ ok kalo gitu, gue beresin barang-barang lo yang ada di sini”


Nindy mengangguk lantas melanjutkan


kembali acara makannya, sedangkan yuda sudah menata barang-barang nindy dan dirinya sendiri, ke dalam tas besar.


🍂🍂🍂🍂🍂


Ruang makan besar, rumah angelo


Terlihat angelo, dimas, dani, tn.william baru saja selesai sarapan pagi, karena ny.sabrina masih sakit, jadi ia tidak bisa ikut sarapan pagi bersama dengan keluarganya, tidak heran jika dani ikut makan bersama, bahkan ia terlihat tidak canggung sama sekali, sebab dani sudah di anggap sebagai keluarga oleh keluarga angelo, bukan


cuma sekali ia ikut makan bersama mereka, wajar saja jika sikap dani sudah seperti di rumahnya sendiri.


“ eh gel, lo ikut gue kan bantuin rio keluar rumah sakit hari ini” ucap dani, mereka masih di meja makan, namun tn.william sudah beranjak meninggalkan mereka bertiga di sana


“ halah dan, si angelo paling gak mau, ini kan weekend udah jelas dia bakal kencan sama bebepnya” timpal dimas


“ apaan sih bang ngikut aja, gue ikut dan, tenang aja, hari ini libur dulu gue kencannya, ntar malem aja gue ke rumah mila, udah lama nih kita gak kumpul bareng, si andi gimana”


“ tumben nih anak gak ngebucin lagi” ucap dimas


“ iya nih, biasanya lo cepet kalo masalah mila”


“ oh, lo gak mau gue bantuin yah dan, oke gak masalah kok, gue pergi ke rumah mila kalo gitu” ancam angelo


“ eit….eit, gue cuma bercanda kok, lagian nih bang dimas ngapain pake mancing-mancing segala, kan gue jadi ikutan”


“ siapa juga yang mancing di sini, mending gue mancing di mall aja, dapet cewek cakep, daripada disini dapetin dua bocah kampret”


“ dasar be*o yah bang, linda mau di kemanain, lagian juga gak nyambung tuh omongan lo sama topik kita” ucap angelo


“ aishhh, tuh mulut lo gak bisa yah gel kalo ngomongnya baik dikit ke gue, udahlah gue mau cabut aja, mau kencan” ledek dimas beranjak dari duduknya


“ udah sana pergi lah jangan disini gangguin orang ngomong aja” ucap angelo melotot


Dimas berjalan menjulurkan lidah, meninggalkan dani dan angelo berdua di meja makan


“ eh gimana tadi gue nanya” ucap angelo melirik ke samping


“ apaan”


“ be*o lo yah dan, gue nanya, si andi gimana kabarnya, jangan-jangan lo gak pernah jengukin dia yah pas gue gak ada”


“ hehehehehe” dani nyengir tak berdosa


Tak…..angelo memukul kening dani dengan sendok


“ hiiii, jorok banget lo si gel, itu kan sendok bekas lo makan, ko lo pukulin ke kening mulus gue” ucapnya sambil mengusap kening


“ mulus apaan, burik gitu, mulusan gue kemana-mana” ucap angelo songong


“ lo harusnya jangan gitu dan, gue tau lo marah sama andi, tapi kita kan temen udah lama, gak bisa yah lo sama dia tuh akur kalo gue gak ada, pasti sedih dia gak di jengukin sama lo” imbuhnya


“ mmmmm, ya, ya deh gue salah, ya udah nanti kita jengukin dia juga, biar kita bisa tau kabar dia”


“ mmmm gitu dong, ya udah kalo gitu gue mandi dulu, lo mau sekalian mandi gak”


“ sama lo, hiiyyy ogah gue” dani bergidig


“ ya gak lah kampret, siapa juga yang mau mandi sama lo, nanti lo naksir liat six pack gue. Hahaha”


“ lo six pack. Cih, sejak kapan lo six pack, yang gue tau lo tuh roti boy bukan roti sobek”


“ lo mau liat, nih gue tunjukin” ucap angelo sambil memegangi kaosnya bersiap membukanya


“ ihhhh, apaan sih, lo yang nunjukin, gue yang malu, udah sana mandi, nanti gue mandi giliran lo, sekalian minjem baju lo yah”


“ aishhh apaan sih minjem-minjem” ledek angelo, lantas berlari meninggalkan dani yang bersiap melempar sandal rumahnya


Dani geleng-geleng menatap kepergian angelo, kemudian menghela nafas panjang


🍂🍂🍂🍂🍂


Rumah mila,


Mila menghela nafas panjang setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya, melirik jam dindingnya, waktu menunjukan pukul 10 pagi, tapi ia belum masak sarapan, karena saking asiknya mengerjakan pekerjaan rumah sampai lupa waktu, sedangkan adit sedang mandi


“ fyuhh, ahirnya selese juga, tinggal masak buat sarapan” gumamnya


Tok….tok….tok, “ dit, kaka ke warung dulu ya beli minyak sama telor” teriak mila di luar pintu kamar mandi


“ oke kak” sahut adit


Mila menghela nafas, berjalan meninggalkan rumahnya, menuju warung mbok darmi, dalam perjalanan menuju warung, ia bertemu dengan bu RT dan beberapa ibu-ibu lain yang membawa kantung kresek, mungkin mereka juga dari warung mbok darmi, begitu pikirnya, tidak lupa ia juga menyapa mereka.


Lantas melanjutkan langkah kakinya menuju warung, terlihat beberapa ibu-ibu kompleknya juga masih berada di sana.


“ eh nak mila, mau cari apa” ucap bu leni tetangga rumahnya


“ mmmm, ini bu nyari minyak sama telor, kalo bu leni udah selese yah belanjanya” jawab mila ramah, ia juga tersenyum pada ibu-ibu yang berdiri di samping bu leni


“ iya ini habis nyari mi instan, si intan minta di beliin mi goreng, katanya nanti temennya mau dateng ke rumah, ya udah kalo gitu ibu duluan yah” ucapnya tersenyum


Mila mengangguk, tersenyum, menjawab ucapan bu leni, lantas ia mengalihkan pandangannya ke depan, menunggu mbok darmi selesai menghitung belanjaan ibu-ibu yang lainnya, sambil melihat-lihat ke dalam warung sembari berfikir mungkin saja ia kelupaan sesuatu yang tidak ada di rumah, begitu pikirnya,


Sebenarnya ada perasaan sedih dalam hatinya sepeninggal bu leni, ia jadi teringat ibunya, pernah berfikir, jika saja ibunya pulang pasti ia tidak akan seperti sekarang, memikirkan segala hal sendirian, sedangkan anak tetangga yang seusianya saja tidak pernah ke warung barang sekali, tidak sama dengannya yang harus memikirkan dan mencari apa pun sendiri tanpa kasih sayang ibunya, namun jika ia terus berfikir seperti itu, hatinya langsung menampiknya dengan segera, ia tidak mau cengeng hanya karena hal seperti itu, ia harus kuat demi adit dan bapak, itulah motivasi dirinya jika ia mulai merasa down


Mila menghela nafas panjang, mengusir segala fikiran yang menganggu benaknya.


Tbc….