
Episode 45
Prang……prakk…..brakk, “ arghhhhhh”, teriakan menggema di ikuti suara ribut barang pecah, tak henti-hentinya sudah satu jam pemandangan memilukan itu terjadi, seseorang hanya bisa terdiam di depan pintu, tatapan ragu tergambar jelas di wajahnya sesekali tangannya diangkat hendak mengetuk pintu tapi di urungkan, mengingat sifat nonanya yang tidak stabil, akan sangat menganggu jika dirinya mengetuk pintu dan menerobos masuk ke dalam
“ hiks, hiks, hiks, arghhhhh” nindy bersimpuh di tepi ranjang, tertunduk terisak, pemandangan kamarnya sudah seperti kapal pecah
Barang-barang berserakan lengkap dengan serpihan kaca memenuhi kamarnya, foto-foto yang terjejer rapi di tembok sudah hancur berserakan di mana-mana, tatapannya dingin membeku, tertunduk, hatinya sakit teramat sakit mendapat penolakan dari angelo, bukan hanya sakit, dirinya juga merasa seperti terhina, tidak terima di perlakukan seperti itu, rasa sesak menjalari seluruh tubuhnya, nindy memalingkan muka mencari sesuatu untuk meredakan rasa sesaknya
Tatapannya terpaku pada pecahan kaca yang lumayan besar tapi tidak terlalu besar berada di samping kirinya, dengan cepat tangannya langsung meraih pecahan kaca tersebut, di genggamnya kuat-kuat, darah menetes dari genggaman tangannya semakin deras namun tidak ada rasa apa pun di sana, hanya rasa sakit hati yang sudah memenuhi relung hatinya, hingga membuat tubuhnya seakan mati rasa
Crak……darah mengalir kembali, satu tetes, dua tetes, hingga menetes tanpa henti membasahi lantai di bawahnya, pandangan matanya nanar melihat darah pada pergelangan tangan mengucur deras, pluk……, tubuhnya lunglai terjerembab ke lantai
🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara itu,
Laju mobil yuda sudah memasuki garasi milik nindy, dia baru saja pulang dari sekolah, karena berkelahi dengan angelo membuatnya harus berurusan dengan guru yang tanpa sengaja memergoki dirinya mencengkeram kerah dani sepeninggal angelo, jadilah dirinya di hukum untuk membersihkan toilet dan menyusun buku di perpustakaan setelah pulang sekolah, sedangkan nindy karena merasa tidak enak badan ahirnya dia pulang lebih awal dari dirinya, semenjak pulang hanya mengunci diri di kamar dan membuat ke kacauan pada kamarnya
Langkah yuda cepat menuju kamarnya yang berada di atas, namun sebelum berbelok di ujung tangga, tatapan matanya menangkap asisten pribadi nindy hanya diam mematung di depan kamar nindy, tidak bereaksi apa pun, tangannya menggantung hendak mengetuk pintu namun di tarik kembali begitu seterusnya sampai beberapa kali, membuatnya ingin tau apa yang sedang terjadi dengan seseorang di dalam kamar itu
“ maaf , ada apa? Kenapa cuma berada di depan pintu” ucap yuda, di samping seorang lelaki mengenakan setelan jas hitam, vian
“ saya tidak tau apa yang terjadi di dalam, sudah sejak satu jam nona nindy berteriak di sana, ada suara-suara benda pecah, saya khawatir dengan nona, tapi saya tidak bisa mengetuk pintu, mengingat amarah nona tidak stabil” ucapnya hati-hati masih dengan raut wajah khawatir
“ aishh, kenapa kamu tidak segera menghubungiku, atau siapa pun di rumah ini gak ada yang berani dengannya!”
Nada suara yuda meninggi, amarah di liputi rasa khawatir tergambar di raut wajahnya, sedangkan vian tertunduk di depannya merasa bersalah karena begitu pengecut dan bodohnya sampai tidak bisa masuk untuk mengecek keadaan nonanya
“ kamu tunggu sini, atau bantu aku dobrak pintu ini”
Tanpa ba bi bu lagi yuda mendobrak pintu di depannya, satu kali percobaan gagal, sampai yang ketiga kalinya, brak…..pintu terbuka dengan esel rusak akibat dorongan kuat dari yuda dan vian, bau darah menusuk hidung sesampainya di dalam kamar nindy, kamar indah, wangi khas anak perempuan sudah tidak bisa di gambarkan lagi dengan kata-kata semua hancur berserakan menjadi satu menyisakan tubuh tergeletak dengan genangan darah di sampingnya
Yuda langsung menyambar badan lemas nindy yang sudah tidak sadarkan diri, mengguncangnya dengan kuat berharap masih ada jawaban darinya, meski hatinya seperti iblis tetap saja yuda merasa khawatir jika mengingat memori indah bersamanya ketika masih kecil, walau bagaimana pun ibunya nindy juga sudah seperti ibu kandungnya dan nindy sendiri sudah seperti keluarga baginya meski nindy tidak mengakui dirinya
“ vian, cepat bantu aku bawa nindy ke rumah sakit” teriak yuda yang melihat vian hanya diam mematung menatap pemandangan di depannya
Mendengar teriakan keras dari yuda, vian langsung berlari padanya membantu membawa nindy menuju rumah sakit, sedangkan asisten rumah tangganya di beri tugas untuk merapikan kamar nindy seperti semula
Yuda membawa tubuh nindy dengan cepat memasuki mobilnya dengan vian yang di tugaskan untuk menjadi supirnya, mobil mereka sudah melesat dengan cepat meninggalkan halaman rumah mewah milik nindy
🍂🍂🍂🍂🍂
dalam keheningan,
degupan jantung seakan bersahut-sahutan, rasa sakit, sedih, kecewa telah sirna semua di gantikan dengan tawa mengingat hal yang baru saja mereka berdua alami, apalagi angelo bisa-bisanya dia menangis seperti itu, jika dani tau pasti dia akan mengejeknya selama 7 hari 7 malam tiada henti, untung saja dani tidak berada di sana, angelo bersyukur akan itu, memikirkan hal itu membuat angelo tersenyum tipis
" lo haus mil? gue beliin minum bentar ya" ucap angelo setelah mereka berdiam diri hanya saling pandang
" emmm, gue ikut deh, gue gak mau di tinggal disini sendiri"
mila sudah memegang ujung seragam angelo, berusaha untuk ikut dengannya, kelakuan mila membuatnya tertawa, angelo segera mengangguk mengiyakan, jadilah mereka berdua berjalan bersama ke area komplek samping base camp xtc untuk menemukan warung sembari menikmati suasana sore karena memang waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, tidak terasa memang, apalagi mereka berdua terus di dalam ruangan dengan suasana hati yang tidak karuan, baru reda saat salah satu diantara mereka merasa tenggorokannya kering
angelo mengatupkan jarinya pada jari-jari mila, menggandengnya dengan perasaan hangat yang sudah di rindukannya
" gel lepas, gak baik di liat orang, udah bolos sekolah, dan sekarang jalan di lingkungan orang pake gandengan segala " mila cemberut di samping angelo
angelo terkekeh, " gue gak peduli sama mereka, yang penting gue bahagia, dan masalah bolos, gue juga terpaksa bawa lo seperti itu" helaan nafas terdengar panjang di ahir ucapannya
" aishh anak ini, hmmmm ya udahlah gue maafin buat kali ini aja, tidak ada kata lain kali lagi" ucapnya mendadak serius
angelo menghentikan langkahnya di depan mila, " gak bakal ada kata lain kali buat kita seperti ini, cukup untuk kali ini, kalau ada hal seperti ini lagi, gue janji gue gak bakal lepasin tangan gue buat lo" tangannya menyentuh lembut rambut kekasihnya, mendekatkan bibirnya, mencium pucuk kepala mila
mila hanya diam di perlakukan seperti itu, ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu keluar dari perutnya, perasaan sedikit menggelitik namun memabukan cukup membuat jantungnya berdebar-debar seperti saat pertama kali dirinya jatuh cinta pada lelaki tampan yang sedang menciumnya dengan lembut saat ini, wajahnya bersemu merah
" yuk jalan lagi, udah sore, nanti setelah ini gue anter ke rumah sakit ya" ucapnya membawa tangan mila untuk melanjutkan langkah
mila menepuk jidat mendengar kata rumah sakit, hampir saja dirinya lupa jika angelo tidak mengingatkannya, hari ini kan harinya adit keluar dari sana, bisa-bisanya dirinta melupakan hari penting
" ada apa? " tanya angelo keheranan
" gak papa, gue lupa hari ini adit keluar dari RS harusnya kemarin hari minggu, tapi keadaanya memburuk pas mau keluar, dan sekarang udah bener-bener fit, kalo lo gak ngomong seriusan gue lupa"
" aishhh, bikin kaget aja, gue kira kenapa, ya udah tar gue bantuin ya"
mila mengangguk, mereka sudah menemukan warung yang di cari, angelo mengambilkan minuman isotonik untuknya sendiri dan untuk mila lanjut melangkahkan kaki kembali menuju mobil angelo yang terparkir di depan base camp
" thank's gel" ucap mila tersenyum mengangguk, menerima uluran tangan dari angelo
angelo hanya mengangguk dan tersenyum menatap kekasihnya, mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan adit, namun sesampainya di samping ruangan adit mereka bertemu dengan yuda, tatapan mata angelo berubah saat melihat yuda berjalan menuju ke arahnya, ada yang berbeda dengan yuda, dia berjalan namun fikirannya seperti tidak bersamanya, terbukti dengan dirinya yang hanya melirik ke arah angelo dan mila sekilas lanjut melangkahkan kakinya tanpa menyapa sedikit pun
kening mila berkerut, bertanya dalam hati " ada apa dengannya, tidak biasanya dia seperti itu"
" eh yuk, masuk, masa kita cuma di depan doang kemungkinan ayahmu udah nungguin" ucap angelo membuyarkan lamunan mila
mila mengangguk, membuka pintu ruangan adit dan benar saja, ayahnya sedang mengemasi pakaian adit dan beberapa barang yang sengaja di bawa ketika menunggu adit, sedangkan adit sendiri duduk sambil membantu pak maman sebisanya, mendengar pintu terbuka, pak maman dan adit langsung menoleh
" eh den angelo, sini duduk dulu, bapak lagi beresin ini"
" aku bantuin ya pak biar cepet selesai" ujar angelo berjalan mendekat ke arah pak maman
sedangkan mila duduk di samping adit ikut membantu adit merapikan buku-buku pelajarannya
" eh tidak usah den, nanti bapak ngrepotin, den angelo kesini nganterin mila aja udah buat bapak berterima kasih banget, jangan yah, den angelo duduk aja di sofa, sebentar lagi juga selesai "
" tapi pak....."
"stttt, turutin apa kata bapak ya gel" pinta mila yang sedari tadi memperhatikan raut wajah angelo
mendengar ucapan mila, angelo hanya bisa menghela nafas panjang dan mengikuti apa yang di ucapkannya daripada harus berdebat atau memperkeruh suasana, angelo lebih memilih diam dan menurut
beberapa menit kemudian, mila sudah bersiap meninggalkan ruangan bersama dengan adit dan ayahnya, angelo sudah menenteng satu tas besar berisi perlengkapan adit selama di RS, mereka berempat ahirnya keluar ruangan dan berjalan meninggalkan rumah sakit husada
di dalam perjalanan pulang
" den maaf ya bapak ngerepotin aden" ucap pak maman yang duduk di kursi belakang bersama dengan adit
" gak ngrepotin kok pak, aku malah seneng bisa bantuin bapak sama mila"
angelo memutar kemudinya untuk memasuki jalan mawar sebelum sampai di depan gang sempit
" kalo ada apa-apa bilang aja pak, kalo aku bisa pasti tak bantu, oia, bapak besok udah harus kerja lagi dong di rumahku?"
" iya den terimakasih, iya sudah lama bapak tidak bekerja, bapak tidak enak sama nyonya sabrina"
" gapapa pak, gak usah merasa seperti itu "
angelo tersenyum sambil terus fokus ke depan, sesekali melirik mila dari kaca kecil di depannya yang sedari tadi hanya diam menyimak percakapan antara ayahnya dan angelo, memang mila sudah mulai memahami angelo yang seperti itu, meski dia adalah ketua geng xtc namun tetap saja sikapnya sopan kepada orang tua, mila tersenyum menyadari masih ada yang bisa di banggakan dari seorang angelo selain wajah tampannya
laju mobil angelo berhenti di depan gang sempit, mila segera turun sedangkan angelo membantu pak maman dan adit turun, tidak lupa membawa barang mereka yang di taruh di bagasi mobil, karena waktu sudah menunjukan pukul 6 sore jadi jalanan terlihat sepi hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar rumah mila
" masuk dulu gel, gue buatin minum" ucap mila yang sudah membuka pintu dan baru selesai mengantar adit ke kamarnya
" emmm, gue gak bisa lama mil, ada urusan sama dani, biasa lah, gue mau jengukin rio sama andi juga" tutur angelo
" ya udah gapapa, duduk dulu aja ya, gue buatin minum"
angelo mengangguk, berjalan menuju sofa ruang tamu mila, sofa yang di rindukan selama beberapa hari tidak berkunjung ke rumah kekasihnya itu,
mila sudah menuju ke dapur meninggalkan angelo sendiri di ruang tamunya, sedangkan pak maman tadi di halaman bertemu dengan pak RT jadi mereka masih berada di sana membicarakan sesuatu
kling......ponsel angelo berbunyi, ia langsung membukanya, ada pesan dari dani
" gel lo dimana? kapan kesini? tadi gue ketemu si bocah kampret yang berkelahi sama lo tadi pagi, suram banget wajahnya "
angelo menggelengkan kepala mendapat pesan seperti itu, apa maksudnya dani berkata seperti itu, untuk apa memberi tahu tentang yuda padanya, bukan urusannya juga dia ada dimana dan sedang apa, yang jelas hari ini dirinya merasa jauh lebih baik berlipat-lipat dari kemarin, tidak tertarik lagi dengan kondisi yuda saat ini
" ada apa?" tanya mila tiba-tiba dengan membawa nampan berisi satu cangkir teh hangat, melihat angelo menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis membuatnya ingin bertanya perihal apa yang di terima di ponselnya
" gak papa, biasa si dani ngechat, nanya gue dimana, suruh ke rumah sakit katanya "
" ohh, gue kira apaan, ekspresi lo kaya gitu "
" emang kenapa sama ekspresi gue, ganteng yah? udah biasa kali " goda angelo
mila memukul pundak angelo rasanya sudah sangat lama dirinya tidak melihat senyum jail terukir di wajah tampan kekasihnya itu, meski begitu tetap saja rasanya sangat menjengkelkan melihat senyum itu hadir kembali di sana, mendapat pukulan ringan dari mila, angelo hanya bisa tertawa kecil sambil terus menggoda kekasihnya
Tbc......