my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 30



Episode 30


Kasak…...kusuk, suasana kantin terasa lebih ramai dari biasanya, anak-anak yang berada di sana berekerumun mengerubungi sesuatu di depan mereka, beberapa ada yang berbisik-bisik sembari menatap pemandangan di depan mereka membuat suasana lebih ramai dari biasanya


Nindy masih menangis tersendu-sendu di posisinya,kedua telapak tangannya menutupi sedikit wajahnya, terlihat seorang cowok berjongkok di sampingnya


“ lo gapapa nin, sini gue bantu berdiri”


“ gak, nindy gak mau berdiri, nindy gak pantes berdiri, nindy udah berbuat jahat sama mila.


Hiks….hiks…hiks” ucapnya terbata-bata dengan air mata berderai


“ banyak bacot lo rubah sialan, lo gak liat perbuatan lo, serah lo aja mau busuk disitu kek, gak mau bangun kek, gue gak peduli”


ucap linda dengan sangat marah sembari membimbing mila keluar dari kerumunan


anak-anak SMA venus yang berada di sekelilingnya menjadi heboh berbisik-bisik mendengar ucapan kasar dari mulut linda namun linda seakan tak peduli dengan itu semua, sedangkan mila diam menahan perih serta panas di tangannya, ia menurut di bimbing linda mereka berdua meninggalkan kerumunan di kantin yang menatap kepergian mereka berdua


“ udah nin jangan di pikirin omongan si linda, lagian lo juga udah minta maaf sama dia, terus lo juga gak sengaja kan” ucap beberapa cewek berjongkok di samping kanan kirinya, mereka berusaha menenangkan nindy


“ tapi….tapi mila jadi kesakitan gara-gara


nindy” nindy sesegukan, ia masih menutup wajahnya dengan telapak tangan


“ udah yuk, berdiri dulu, terus minum air putih yah biar tenang”


Ahirnya nindy menuruti ajakan anak-anak cewek di samping kanan kirinya setelah mereka membujuknya, ia menurut di bimbing untuk duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya terjatuh, terlihat salah satu dari mereka mendekat ke arah kerumunan dengan membawa satu botol minuman dalam kemasan lantas menyerahkannya pada nindy


“ nih nin, kamu minum dulu, tenangin diri dulu”


“hiks….makasih ya, nindy gak tau gimana kalau gak ada kalian” ucap nindy sembari menerima satu botol minuman dingin


“santai aja kali nin kita kan teman udah sepantasnya saling membantu, lagian kamu juga udah baik jadi anak” ucap salah seorang dari mereka yang menepuk bahu nindy


“bagus, untung aja kalian semua bego, jadi mudah banget percaya sama akting gue” batin nindy,


Nindy mengangguk tertunduk, setelah ia berhenti menangis dan sudah meneguk minuman yang baru ia terima beberapa saat lalu, lantas ia pamit untuk pergi ke toilet terlebih dahulu sebelum bel masuk berbunyi, ia berjalan sendiri meninggalkan kerumunan yang masih bergerombol walau tidak seramai sebelumnya, nindy menolak untuk di antar oleh sebab itu ia berjalan sendiri menuju toilet


Sesampainya di toilet, ia memandang kaca besar di depannya, senyum mulai menghiasi wajahnya


“ hahahaha rasain lo mil, gue puas banget, semoga aja tuh berbekas biar lo jelek sekalian” nindy tersenyum lebar, senyuman di wajahnya terlihat sangat menakutkan


🍂🍂🍂🍂🍂


Sedangkan mila saat ini ia sudah berada di uks SMA venus, linda terus berceloteh dengan ekspresi sangat kesal di depan mila sembari menemaninya yang sedang di balut perban oleh petugas PMR sekolahnya


“ udah lah lin jangan berisik, lo mau ngomong sampe mulut lo berbusa juga semuanya gak bakal bisa balik seperti semula lagi” mila menghela nafas menatap linda


“heuh, mil lo tuh jadi anak kelewat baik tau! Gue gedeg banget sumpah liat tuh muka rubah betina, pengen gue hajar”


“ stttt, gue tau lo marah, tapikan nindy juga udah minta maaf kan sama gue, terus dia juga gak sengaja, jadi udahlah”


“ arghhhhh, ya udahlah serah lo aja mil, gue pusing ngomong sama lo, gue mau pergi” linda beranjak dari duduknya, ia menghentakan kakinya dengan kesal lantas mulai melangkahkan kakinya tanpa menengok ke arah mila sedikit pun


“ lo mau kemana?”


“ gue mau beli minum, lo disini aja” ucap linda menoleh sekilas


Ia berjalan kembali meninggalkan mila dan petugas PMR di ruang uks, mila diam memandang lengannya yang sedang di bungkus kain perban, ia merasa lebih baik setelah di beri salep untuk luka bakar, terasa sejuk saat salep itu menyentuh kulitnya, ia juga memikirkan tingkah laku sahabatnya tadi, ia tau linda sangat kesal karena ia tidak menuruti permintaan linda untuk menindak lanjuti perbuatan nindy, memang benar perbuatan nindy kali ini sudah sangat keterlaluan, namun mila tidak bisa begitu saja menuduh orang apalagi orang itu terkenal dengan imej paling baik di sekolahnya, mila takut ia akan menjadi bahan bullyan seluruh sekolahnya jika ia melaporkan kejadian kali ini, mila menghela nafas berat memikirkan segalanya, ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan segalanya berlalu seperti tidak ada masalah


Beberapa saat kemudian petugas PMR telah selesai mengobati mila, ia menyadarkan mila dari lamunannya


“ terimakasih ya kak udah ngobatin gue “ ucap mila tersenyum menatap cewek di depannya yang menjadi petugas PMR


“ iya sama-sama. Lain kali lebih hati-hati lagi ya, jangan lupa nanti pulang langsung beli salep yang gue rekomendasiin tadi, biar lengan lo gak ada bekas lukanya”


“ oke kak”


Petugas PMR itu tersenyum menatap mila


lantas memasukan kembali peralatan dan salep yang ia gunakan ke tempat semula, tak selang waktu lama linda sudah berdiri di depan ruang uks, tangannya membawa satu kantung kresek yang ukurannya lumayan besar, ia berjalan ke arah mila tanpa memandang wajah mila yang menatapnya dari depan pintu sampai ia berjalan mendekat ke arahnya


Srak…..linda meletakan kantung kreseknya di samping mila, ia menjatuhkan tubuhnya dengan keras untuk duduk di sebelah mila sembari mendengus sebal


Terlihat ada beberapa macam kue basah, snack kemasan, satu kaleng minuman soda, dan beberapa roti dengan berbagai rasa


“ lin lo ngamuk yah beli makanan banyak banget, emang habis” tanya mila yang memperhatikan raut wajah sahabatnya itu


“ gue sebel, jadi gue makan aja biar sebel gue ilang, oia ini ada roti rasa selai nanas, lo kan suka itu jadi gue beliin sekalian, lagian kita juga belum sempet makan tadi kan” ucap linda tangannya membuka minuman kaleng lantas dengan segera ia menyesap minuman itu


“ thank’s lin, sorry ya gara-gara gue lo jadi marah gitu”


“ aish, mila sayang ini bukan salah lo oke, kalo nyari orang buat di salahin ya gue lebih milih nyalahin si rubah betina itu”


Mila menghela nafas memandang sahabatnya yang terus berceloteh sembari menyuap beberapa kue yang ia beli, mila hanya memandang tingkah linda dari samping, mila tau ia tidak boleh mengganggu perasaan sahabatnya itu selain membiarkannya berceloteh sesukanya dan terus makan dengan lahap, ia tau persis dengan sifat sahabatnya jika ia sedang merasa sangat kesal pasti akan melampiaskan ke makanan, itu lebih baik daripada harus bertengkar dan menyebabkan masalah, begitu pikir mila


🍂🍂🍂🍂🍂


Suasana hening menyelimuti tidur lelap angelo, entah sudah berapa lama ia tertidur di atas meja menggunakan lengannya sebagai bantal, ia masih berada di warung mbok jum, entah ada apa dengan warung mbok jum suasananya begitu sangat mendukung perasaan angelo yang tidak ingin di ganggu siapa pun, dari semenjak ia datang kesana hingga sekarang tidak ada seorang pun yang datang berkunjung ke warung mbok jum, padahal biasanya warung kecil itu sangat ramai di penuhi anggota geng xtc, atau mungkin mereka datang namun tidak menganggu angelo setelah apa yang mereka alami kemarin malam, itu yang angelo pikirkan sembari menelungkupkan wajahnya ke bawah lengannya hingga ia terlelap dengan banyak fikiran yang menghantuinya sedari kemarin


“ den…..den angelo bangun “ mbok jum menepuk bahu angelo


Angelo bergerak sedikit saat bahunya mendapat sentuhan beberapa kali dari mbok jum, ia bangkit dari posisinya, mengedip-ngedipkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang baru saja memasuki indera penglihatanya, ia mengusap wajahnya perlahan agar ia lebih sadar dari sebelumnya


“ maaf den, mbok ganggu tidur den angelo, tadi ada beberapa anak yang datang kesini katanya agar mbok bangunin den angelo kalo sudah jam 12 siang, itu pesan dari mereka”


“ siapa mbok mereka? Aku kenal gak?” angelo menatap bingung mbok jum yang berdiri di depannya


“ sepertinya mereka sering kesini den, mbok liat mereka tidak menganggu tidur den angelo hanya menyampaikan pesan beberapa saat lalu sebelum mereka pergi”


“ hmmm, makasih mbok”


“ ya sudah kalau begitu, mbok kedalam lagi ya”


Angelo mengangguk menjawab pertanyaan mbok jum lantas ia membayar kopi yang ia pesan untuk menemaninya selama ia berada di warung mbok jum entah sudah habis berapa gelas, ia sampai tidak sadar dengan hal sekecil itu


Setelah membayar dan berbincang sedikit angelo berjalan meninggalkan warung mbok jum, ia melirik sekilas jam dinding yang tergantung di tembok , waktu sudah menunjukan pukul 12.15 siang, ia bergegas menuju motor ninja berwarna hitam milik dani, memakai helm full facenya lantas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia melesat meninggalkan halaman warung mbok jum yang sepi, pandangannya tajam lurus kedepan memperhatikan jalanan padat yang siap menelan dirinya bersama dengan berbagai jenis kendaraan yang menunggu lampu lalu lintas berubah warna hijau


Angelo menancapkan gasnya kembali lebih cepat dari sebelumnya setelah melihat lampu lalu lintas di depannya berubah warna, panas matahari sudah sangat membakar kulit, meski ia sudah mengenakan jaket kulit namun tetap saja punggung kaki serta punggung tangannya merasa panas tersengat sinar matahari siang


Beberapa menit kemudian, motor angelo mulai mendekati gerbang SMA venus dari posisinya, ia dapat melihat kekasihnya sedang duduk di halte bus samping gerbang sekolahnya sembari memainkan ponsel di tangan dengan sesekali menghela nafas menatap ke depan, angelo tersenyum simpul memperhatikan tingkah kekasihnya yang menunggu dirinya


Angelo menghentikan laju motornya tepat di


depan mila, ia menoleh ke samping tanpa membuka kaca helmnya, rupanya angelo terlalu malas untuk membuka kaca helmnya itu


Mila menghela nafas menatap angelo, ia bangkit dari duduknya untuk segera duduk di belakang angelo, ia diam tanpa bertanya pada angelo begitu sebaliknya dengan angelo, angelo melajukan kembali motornya saat mila sudah duduk tanpa gerakan lagi dari arahnya, mereka berdua melesat kembali dengan keheningan menemani perjalanan mereka


Mila sibuk dengan pikirannya sendiri dan juga lengannya merasa sedikit perih beberapa saat lalu sebelum angelo datang menjemputnya, sedangkan angelo ia juga sibuk dengan perasaannya sendiri, ia tidak tau harus bagaimana menghadapi kekasihnya, angelo merasa menjadi pecundang kali ini, padahal ia tidak pernah sekalipun merasa seperti itu


“ kita mau kemana” tanya mila, ia sadar angelo tidak membawa motornya ke jalan yang seharusnya mereka lalui sebelum menuju rumah sakit husada


angelo diam tidak menjawab pertanyaan mila, ia masih terus memandang lurus ke depan


“ gel, lo denger gue, kita mau kemana?” tanya mila lagi


Tetap saja angelo diam tidak menggubris sedikit pun pertanyaan mila, angelo tetap melaju dengan sangat cepat membelah jalanan kota Jakarta yang masih padat, motornya terus melaju jauh lurus tanpa berbelok ke jalan yang biasa mereka lewati, mila mulai merasa tidak nyaman dengan tingkah laku angelo, ia mulai berfikir berbagai macam hal yang belum tentu akan terjadi


Seperti, angelo akan menculiknya untuk di serahkan ke geng lawannya, atau angelo akan berbuat tidak baik pada dirinya, atau yang lebih parah lagi angelo akan menjualnya ke pasar gelap misalnya, padahal mila sudah cukup lama berpacaran dengan angelo namun tetap saja ia kali ini tidak bisa menebak apa yang ada di fikirannya, padahal tadi pagi di depan rumahnya ia sudah berusaha sangat keras untuk menenangkan perasaan angelo


Mila diam menggigit bibir memikirkan hal-hal aneh yang melintas di kepalanya saat motor angelo sudah semakin jauh meninggalkan daerah Jakarta selatan, ia tidak tau lagi akan di bawa kemana, mila tidak merasa takut hanya saja ia merasa cemas dengan fikiran-fikiran aneh yang menghiasi kepalanya


Mila tetap berusaha meyakinkan dirinya untuk berfikir positif walaupun tetap saja fikiran negativ lebih kuat membayangi perasaanya, ia celingak celinguk menatap sekitar, sangat asing namun lebih tenang dari suasana kepadatan kota Jakarta pada jam-jam saat ini, sumilir angin mulai memainkan rambut panjang mila yang sengaja ia gerai sebelum bel pulang berbunyi, mereka seakan menyambut kedatangan dirinya bersama dengan angelo, mila juga mulai di suguhi pemandangan sejuk yang menghiasi pandangan matanya


Mila bertanya-tanya sendiri sebenarnya ada dimana dirinya, namun ia cukup suka suasana tenang dan sejuk yang mulai menerpa tubuhnya, perasaan cemasnya serasa luntur bersama angin yang berhembus, mila perlahan menikmati perjalanannya meskipun masih dalam keheningan, ia tidak ingin bertanya lagi pada angelo setelah pertanyaanya tidak di jawab beberapa saat lalu


“ sudahlah, toh gue juga sepertinya butuh tempat sejuk buat ndinginin nih otak” batin mila


Mila kembali sibuk mengedarkan pandangannya ke samping kanan kirinya, ia tersenyum tipis melihat pepohonan rindang di samping kanan kiri jalan, ia baru tau di kota


Jakarta yang super duper padat ada juga jalanan yang sejuk seperti yang sedang ia lewati saat ini, darimana angelo tahu jalanan seperti ini, dan berapa lama lagi ia akan menghentikan laju motornya yang saat ini dalam kecepatan sedang, itu yang mila fikirkan sembari terus menikmati pemandangan


Tbc….