
Episode 60
Secangkir kopi hitam dengan asap yang masih mengepul seakan menari-nari diatasnya, di biarkan begitu saja, sang empu tengah duduk termenung memandang ke depan.
Plak....” Woey, gel disini lo rupanya, gue cari di kantin sekolah juga”
Angelo menoleh ke samping menatap dengan jengah, “ ck, apaan sih lo dan, dateng-dateng udah ngajakin ribut aja”
“Elah nih anak galak amat, pms lo?” Ucapnya terkekeh sembari menyimpulkan lengannya di pundak Angelo
Angelo hanya mendengus dengan sebal membuang muka ke samping
“Eh dan, gue mau nanya nih sama lo” ucapnya tiba-tiba
“hmmm apaan” jawab Dani sembari mengambil pisang goreng di piring depan angelo
“apa sih yang anak-anak xtc lakuin pas kita gak adain pertemuan? Gue pengen tau”
“Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu gel? Gak biasanya lo nanya gitu”
“ Gapapa, gue pengen tau aja, gak lucu kan masa gue ketua gengnya gak tau persis apa yang di lakukan sama anggota gue selama kita gak ada pertemuan”
“ Hmmm,bener juga sih apa kata lo gel, nanti gue cari tau lebih dalem deh yah, kan secara gue sering sama lo terus, jadi ya yang gue tau anak-anak cuma main-main doang, kaya biasa”
“ oke, gue tunggu berita lengkap dari lo”
“Hmmm, eh btw lo semalem nginep di rumah cewek lo yah?”
“kenapa emang? Ada masalah?”
“Aishh, ya gak lah, gue cuma nanya doang, elah”
“ hmmmm” ucap angelo sembari meraih cangkir di depannya
“ aishhh, parah lo gel belum sah juga udah main nginep-nginepan aja”
“ apaan si dan, syirik aja lo, makanya cari pacar biar gak syirikin gue mulu ”
“ ck, ya udahlah serah lo aja, udah males gue kalo lo bawa-bawa nama jomblo “ ucap Dani mengambil satu potong terakhir pisang goreng di piring Angelo, lantas bersiap untuk melarikan diri
Sementara Angelo hanya mendengus sebal melihat Dani yang sudah lari meninggalkannya dengan piring kosong di depannya, hari ini ia merasa malas untuk mengejar Dani, ia hanya membiarkan Dani pergi dengan kemenangannya mengambil semua makanan yang belum ia sentuh sedikit pun.
🍂🍂🍂🍂🍂
Derap langkah kaki terdengar beriringan, Linda menghela nafas panjang, membawa beberapa buku paket di tangannya di temani Mila di sampingnya yang juga membawa buku paket sama dengan dirinya,
“ elah, pasti deh kalo giliran gue yang piket pas banget pelajarannya pak gito, musti kudu ngambil buku paket di perpus, mana pelajaran pertama, gue belum sempet sarapan, udah keringetan kaya orang habis maraton 1000 meter, haihhh “ keluh Linda sepanjang perjalanan
Mila menggeleng menatap wajah masam sahabatnya yang tak henti-hentinya mengeluh padanya,
“ Ya ampun Lin, lo mau ngeluh sampe pangeran turun dari Korea juga, udah nasib lo piket barengan sama pelajaran pak Gito, terima nasib aja deh, jangan ngomel-ngomel mulu, udah gue bantuin juga “
“ sttt, lo ini sebenernya ngebantuin gue atau ngomelin gue sih mil, biarin si napa gue luapin kekesalan gue” ucap linda mendengus sebal
Mila hanya menghela nafas panjang
mendengar ucapan linda.
Mereka berdua terus berjalan bersama, dengan linda yang masih mengeluh sesekali, ketika mereka sampai di depan ruang guru, mereka berdua berpapasan dengan yuda yang hendak menuju ke sana.
Mila diam seribu bahasa menatap yuda, raut wajah yang tadinya biasa-biasa saja, kini berubah menjadi masam, mulutnya pun terkunci dengan rapat seketika, begitu juga dengan yuda yang hanya diam saja menatap ke arah mila tanpa menyapa ataupun tersenyum padanya.
Linda yang sedari tadi asik sendiri dengan keluhannya, rupanya tidak menyadari atmosfir di sekitarnya telah berubah menjadi dingin.
“ hay yud, mau kemana?” Sapa linda ketika ia dan mila sampai di depan yuda
“ Emm, hay, gue mau ke ruang guru nih, kalian dari mana?” ucapnya canggung, menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
“ Aishh, ini biasa lah abis ambil buku paket dari perpus, ntar kan pelajaran pertama pelajarannya pak gito, oia nanti kelas kita kan presentasi tugas kelompok, pokoknya kita harus dapat nilai yang bagus” ujar Linda penuh semangat
“ Hmmm, pasti, kan kita udah belajar mati-matian kemarin” ucap Yuda tersenyum simpul
“ eh btw, lo ngapain ke ruang guru yud? Ada perlu “ tanya Linda ingin tau
Yuda terdiam beberapa saat, ia seperti mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan yang Linda lontarkan.
“ mmmmm, gue.....” ucapnya menggantung menatap Linda
Linda mengangguk-angguk menunggu jawaban dari pertanyaannya
“ eh, lin buruan yuk ke kelas, berat nih, lo belum sarapan kan?” ucap Mila menyela pembicaraan antara Yuda dan Linda
“ Oia, sorry, sorry mil gue lupa lo masih di sini, yuk, gue udah laper banget “ ujar Linda nyengir tak berdosa
“ eh yud, kita duluan yah, sampe ketemu nanti di kelas” Linda tersenyum, lantas mengajak
Mila untuk melanjutkan perjalannya menuju kelas mereka.
Yuda menghela nafas panjang, menatap punggung Mila dan Linda menjauh darinya.
“ Untunglah, gue gak perlu jawab pertanyaan Linda, bisa gawat juga kalo dia tau gue ada sepupu di sekolah ini yang belum bisa berangkat hari ini “ gumamnya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang guru dan mengetuk pintu disana.
🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara itu, di warung kecil mbok Jum,
Angelo masih menikmati seruputan terakhir kopi hitam miliknya, lantas menyesap rokok yang juga tinggal hisapan terakhir, menghembuskan asapnya ke langit-langit.
Pandangan matanya menerawang jauh memperhatikan tiap asap tebal yang mulai menghilang
Banyak pertanyaan yang belum terjawab di dalam benaknya, namun ia tidak bisa bertanya pada siapa pun, ia hanya bisa menerka- nerka sendiri.
Sejak ucapan terahir yang di ucapkan adit padanya, pagi hari sebelum ia pulang ke rumah, dirinya belum bertegur sapa lagi dengan adit, bahkan ketika dirinya menjemput mila untuk berangkat sekolah bersama, ia tidak bertemu dengan adit, menganggu ya memang menganggu tapi mau bagaimana lagi, angelo tidak bisa berbuat apapun selain diam menunggu hasil informasi dari dani.
Tuk..... Sebuah minuman dingin mendarat di samping dirinya, kursi panjang yang tadinya diam, bergerak sedikit.
“ kelas udah mo mulai, lo gak balik ke kelas?” ucapnya santai sembari membuka kaleng minuman dingin miliknya
Angelo mengerutkan kening, menatap sang empu minuman dingin “ lah, udah tau kelas mau mulai, lo ngapain ke sini b*go!” ucap
Angelo menoyor kepala Rio
“ males lah gue ikut pelajaran matematika Bu Siska, orangnya cerewet, galak juga, gue mau ngebolos aja lah gel”
“ mau lulus darimana lo yo, kalo tiap pelajaran Bu Siska kabur mulu, gue juga sama kaya lo, gak suka sama Bu siska, tapi udah keseringen bolos, ntar bisa-bisa kita gak lulus sekolah beneran “ ucap Angelo layaknya yang paling benar sendiri
“ aishh iya, iya deh lo bener kali ini “ ujar Rio menghela nafas panjang
“ ya udah yuk cabut, keburu bel belum sampe kelas “ ucap Angelo lagi, bangkit dari duduknya
Meski tak ingin ikut pelajaran, Rio tetap patuh mengekor di belakang Angelo, mereka berdua berjalan dengan cepat menuju motor masing-masing, saat ini Angelo lebih sering mengenakan motornya ketimbang mobilnya, karena menurutnya motor lebih praktis di bawa kemana-kemana dan pastinya menghemat tempat.
Suara mesin motor terdengar begitu Angelo dan Rio selesai mengenakan helm, mereka melaju secara bersamaan menuju SMA venus.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Teng.......teng......teng.......teng
Suara bel masuk berbunyi, tepat ketika Angelo dan Rio memarkirkan motornya, Angelo langsung mencopot helm yang ia kenakan dan segera bergegas menuju kelasnya di ikuti Rio di belakangnya.
Riuh suara tawa teman-temannya langsung terdengar saat dirinya mulai mendekati kelasnya.
Tuk.....langkah Angelo terhenti di depan pintu ruang kelasnya, pandangan matanya menyapu seluruh isi kelas yang tengah asik sendiri dengan candaan mereka seperti biasa sebelum guru datang memberikan pelajaran.
Cukup lama Angelo diam berdiri di depan pintu memperhatikan seluruh isi kelasnya.
Puk.......Rio menepuk pundak Angelo dari belakang, “ lo kenapa gel ko diem aja? Gak masuk kelas? Bentar lagi guru dateng loh “ ucapnya dengan tangan yang masih menempel di pundaknya.
“ aishhh gue lagi nyari Dani, dimana tuh si be*o satu” ucap Angelo menoleh ke samping memandang Rio
“ elah gel, kaya gak tau dia aja, palingan dia ngumpet di bawah meja, yuk masuk aja” ajak Rio
Angelo mengangguk, mereka berdua berjalan bersamaan menuju bangku masing-masing
Sesampainya di depan meja, Angelo menyeringai mendapati Dani tengah berjongkok di kolong mejanya, dan ucapan Rio benar adanya
Tanpa pikir panjang lagi Angelo langsung menggebrak meja dimana Dani berada di bawahnya.
Brakk......” gempa woey gempa” teriaknya
keras-keras
Dani keluar dari kolong meja, sembari mengusap kepala bagian belakangnya, “ aishhh be*o lo yah gel?” gerutunya
“ Siapa suruh lo ngumpet di bawah meja? Udah ngabisin pisang goreng gue, kabur seenak jidat, aishh dasar be*o “ omel Angelo
Dani nyengir tanpa dosa menatap angelo.
🍂🍂🍂🍂🍂
Ruang kelas 2A, kelas Mila
Ramai tawa teman-teman Mila langsung mereda begitu pak Gito menampakan batang hidungnya di depan pintu, semua anak kelas 2A kembali ke tempat duduk masing-masing, begitu juga dengan Mila dan Linda mereka otomatis berhenti mengobrol.
“ selamat pagi semuanya “ ucap pak Gito di depan mejanya selepas meletakan buku-buku yang di bawanya
“ Pagi pak “ jawab seluruh anak kelas 2A
“ Baik, sesuai jadwal, hari ini kelas ini giliran presentasi di depan kelas, apakah masih ada yang belum selesai mengerjakan tugas presentasinya untuk hari ini? “ tanya pak Gito menyapu seluruh ruangan memperhatikan setiap ekspresi yang di tunjukan anak didiknya
“ Sudah pak “ terdengar lagi sahutan secara bersamaan
“ Bagus, akan saya mulai ya, mari ketua kelompok masing-masing maju ke depan mengambil gulungan kertas yang sudah saya sediakan “ ucap pak Gito sembari meletakan toples kecil bening berisi gulungan kertas yang lumayan banyak.
Anak-anak kelas 2A maju bergantian menurut nomor kelompok mereka masing-masing begitu juga dengan Mila.
Ia menghela nafas panjang, ada rasa sedikit deg-degan dalam dirinya ada rasa lega juga karena tugas yang sudah lama ia kerjakan bersama dengan linda dan Yuda akhirnya bisa mereka presentasikan sebentar lagi, setelah sempat di tunda beberapa kali oleh pak Gito, hari ini akhirnya kelasnya memulai presentasi biologinya.
Mila menyimpulkan sedikit senyum di bibirnya, menghela nafas pelan di depan toples bening sebelum tangannya mulai mengambil salah satu gulungan itu.
“ semoga dapet nomor 1 kalau gak nomor 2 “ ucapnya dalam hati
Tangannya meraih gulungan kertas kecil di depannya, lantas membawanya kembali ke tempat duduknya.
“ baik semua sudah mengambil gulungan kertas yang ada di depan, sekarang silakan buka gulungan kertas kalian masing-masing, bagi yang mendapat nomor 1 silakan mempersiapkan diri “ ucap pak Gito di depan kelas sembari memperhatikan anak didiknya membuka gulungan kertas
Mila mengangguk bersiap membuka gulungan kertas yang sudah ada di genggaman tangannya
“ Semoga dapet nomor terahir “ celetuk Linda
Mila menoleh ke samping “ ko nomor terahir si Lin, gak mau ah gue, udah pusing juga mikirin ni tugas, pengen cepet-cepet kelar, mana minggu depan udah ujian kenaikan “ gerutu Mila
“ lah biar kita santai mil kan bisa sambil di teliti lagi, takutnya ada kesalahan yang gak di sengaja gitu “
“ Aishhh, pasrah aja lah Lin, udah percaya sama kekuatan kita, gue buka yah “
Linda menghela nafas panjang, mengiyakan ucapan Mila
Perlahan Mila membuka gulungan kertasnya, terdengar hembusan nafas lega dalam dirinya , doanya terkabul, kelompoknya mendapat undian nomor 1
Linda menggerutu melihat ke samping setelah mendapati kelompoknya mendapat nomor undi 1
Pak Gito segera memerintahkan anak kelas 2A untuk bersiap-siap dan mulai duduk sesuai dengan kelompok mereka masing-masing setelah menyerahkan gulungan kertas padanya.
Semua anak kelas 2A langsung memposisikan dirinya masing-masing, begitu juga dengan yuda yang tengah berjalan menuju ke depan meja Mila dan Linda
“ Profesional yud, lo pasti bisa “ gumamnya sambil mengatur ekspresi di wajahnya
“ woey yud sini, sini kita dapet undian nomor 1, gila banget gak sih “ ucap Linda menyambut Yuda
“ nomor 1, loh bagus dong, berarti kita bisa selese awal “
“ Hmmm, ya, ya lah, lo sama Mila emang sama aja, gak ngertiin perasaan gue “ ucap Linda mendengus sebal
Mila hanya terdiam, sambil menyibukkan dirinya dengan catatan-catatan kecil di depannya, ia tak menghiraukan sedikit pun kedatangan Yuda, bukan ia tak merasa apa pun saat ini, hanya saja Mila tidak ingin merusak presentasi kelompoknya hanya karena perasaan campur aduknya pada Yuda, biarlah hanya dia yang merasa. Begitu pikirnya
Setelah cukup lama Mila mencatat, Linda dan Yuda bertukar pendapat akhirnya mereka bertiga pun maju ke depan kelas sambil membawa laptop milik Yuda, makalah serta catatan kecil.
Terlihat keringat dingin mulai menampakan dirinya di dahi mereka bertiga, apalagi Mila yang harus berpura-pura semua baik-baik saja dan bersikap senatural mungkin, ia tetap menjawab apa pun yang Yuda tanyakan seputar makalah mereka, begitu juga dengan yuda yang menjawab pertanyaan Mila, selebihnya mereka diam satu sama lain, hanya Linda yang terus menggerutu tiada henti dan sesekali bercanda dengan yuda.
Ekspresi mungkin bisa saja berbohong namun tidak dengan hati.
TBC....