my love is a bad boy

my love is a bad boy
episode 35



Episode 35


Tik….tik….tik, suara air keran menetes di samping tubuh mila yang tergeletak di lantai dengan posisi kepala bersandar ke tembok, angelo langsung berjongkok ke samping tubuh mila, ia langsung mengangkat tubuh mila membawanya keluar dari toilet dengan cepat, terlihat dani dan linda berlari ke arah mereka berdua


“apa yang terjadi, mila kenapa?” tanya linda, ia menutup mulutnya dengan satu tangan melihat keadaan mila yang tak berdaya dalam pelukan angelo


“ bukan waktunya lo tanya sekarang, gue juga gak tau dia kenapa” ucap angelo berjalan tergesa-gesa


“ dan lo bawa mobil kan, cepet bawa mobil lo ke gerbang, gue tunggu”


Dani langsung berlari dengan cepat menuju parkiran untuk mengambil mobilnya sesuai apa yang angelo perintahkan, sedangkan angelo masih tetap berjalan dengan cepat menuju ke gerbang SMA venus, linda mengikutinya di belakang dengan tatapan khawatir, ia tidak bisa bertanya sekarang setelah mendengar ucapan angelo, ia hanya bisa diam sembari terus berjalan mengikuti langkah angelo


Angelo diam menatap wajah mila, terlihat pucat, seragam dan rok yang mila kenakan juga sudah basah, tatapan matanya sangat sedih dan khawatir


“sudah berapa lama nih anak di dalem sana” batin angelo


Setttt….mobil dani berhenti di samping angelo, linda langsung membukakan pintu mobil untuk angelo dan menutupnya kembali saat angelo sudah masuk ke dalam sedangkan linda segera bergegas membuka pintu depan mobil dani, ia duduk di samping dani


“ kita jalan sekarang, gimana gel lo oke gak posisinya”


“ gue oke dan, buru jalan”


Dani mengangguk dan langsung menancapkan gas mobilnya dengan cepat meninggalkan halaman SMA venus yang sudah sangat sepi


“ dan gue pinjem jaket lo “


“ ambil aja gel di jok belakang ”


“ oke, thank’s, bisa lebih cepet gak lo bawa mobilnya badan mila udah dingin banget”


ucap angelo sembari menutupkan jaket hoodie berwarna merah milik dani ke tubuh mila


“ oke, oke ini juga udah cepet banget gel, arghhh macet lagi” dani memukul kemudi di depannya saat melihat suasana lalu lintas padat merayap di depannya


“ puter balik jangan lewat jalan utama dan, gue tau jalan pintas sekitar sini” ucap linda memberi saran


“ gimana mo puter balik gak ada tandanya, mau di tilang”


“arghh dasar bego lo dan, buruan cepet lo mau bunuh cewek gue” angelo mulai panik


“sabar gel, bentar lagi pasti ada tanda puter balik, lo gosok-gosok tangan mila dulu biar dia sedikit hangat” ucap linda


“ uhh oke kalo gitu, lo fokus kedepan dan jangan sampai lengah, gue percayakan hidup gue sama lo”


Dani mengangguk, pandangan matanya lurus kedepan, ia membawa mobilnya secepat yang ia bisa setelah ada tanda puter balik, sedangkan angelo di belakang terus menggosok-gosok tangan mila seperti saran linda, angelo merasa sangat gelisah melihat keadaan mila yang semakin melemah, di tambah seragam yang mila kenakan sudah basah, tidak mungkin juga angelo menggantinya saat ini juga apalagi laju mobil dani semakin cepat membelah jalanan yang lumayan sepi


🍂🍂🍂🍂🍂


“Apa kurangnya gue, di banding sialan itu, gue kaya, cantik, apa pun yang gue mau pasti bakal langsung tersedia, kenapa yang ini gak!!” nindy berbicara sendiri di dalam kamarnya


Kamar mewah yang di cat berwarna pink dengan tempat tidur besar, kasur yang empuk, boneka-boneka keluaran terbatas berjejer rapi di atas tempat tidur, meja rias besar di sampingnya serta beberapa lemari yang berisi pakaian, tas dan sepatu mewah menjadi pemandangan kamar nindy, yang menjadi sorotan utama dari kamar tersebut ialah banyaknya foto angelo yang tergantung di dinding di bingkai dengan rapi serta di samping meja tempat tidurnya , entah sejak kapan nindy mengoleksi foto angelo hingga kamarnya di penuhi foto-fotonya dalam berbagai gaya dan tempat yang berbeda


Nindy berbaring tengkurap sembari memegang satu buah foto angelo yang sedang duduk di kantin tertawa lepas mengelus-ngelusnya sembari berbicara sendiri


Tok…..tok…..tok, suara pintu dari ujung tempat tidurnya membuatnya kesal, ia merasa terganggu dengan itu


“ siapa, masuk aja gak di kunci” teriak nindy


Seseorang mengenakan setelan berwarna hitam dan memakai jas berdiri di depan pintu tangannya membawa satu amplop berwarna coklat


“ maaf saya mengganggu non, saya cuma


mau kasih foto yang nona minta hari ini” ucapnya hati-hati


“ oke, kerja bagus, lo boleh kembali kerja “


Nindy tersenyum miring saat menerima sebuah amplop berwarna coklat, dengan cepat ia langsung membukanya, beberapa lembar foto terjatuh dari dalamnya, ya itu foto angelo hari ini saat sedang bermain sepak bola setiap pose berhasil di dapat oleh asisten pribadinya, nindy merasa puas dengan kerja asistenya itu yang di ketahui bernama vian


“ ahhhh, ganteng banget lo sih gel, andai lo jadi milik gue lengkap sudah hidup gue” nindy mencium foto angelo dengan pose berdiri membuka sedikit kaos olahraganya memperlihatkan sedikit absnya, sangat sexy dan tampan


Nindy larut dalam dunianya sendiri memandangi berbagai macam pose angelo yang berhasil di dapat hari ini hingga tidak sadar seseorang berjalan mendekat ke arahnya


“ lo jadi gila beneran yah sekarang “ ucap seorang pemuda bertubuh tinggi, berhidung mancung, memiliki warna mata hazel dengan tatanan rambut disisir ke atas menyamping, sangat tampan, yuda faresta sepupu nindy pemuda berdarah campuran Indonesia belanda


Ucapan yuda membuat nindy mendengus sebal, ia sangat tidak suka seseorang mengusik ketenangannya ketika sedang berada di dalam kamar, dengan kesal nindy mendongak melihat siapa yang berani menganggu waktu damainya bersama angelo


“ cih, ngapain lo kesini, ganggu gue aja”


“ lo gak tau, gue mau pindah ke sekolah lo dalam waktu dekat, mami gak bilang?”


“ hah apa, lo mau pindah ke sekolah gue” tatapan mata nindy berubah seketika, ia langsung bangkit dari posisinya


“iya emang kenapa kalo gue pindah ke sekolah lo, gue juga bakal tinggal disini”


“gak, gak lo gak boleh tinggal disini, ogah gue serumah sama lo”


“oke kalo lo gak mau, lo boleh bilang sama mami, gue gak masalah, lagian gue cuma ngikutin omongan mami, gue juga males musti satu sekolah sama lo”


“ kalo lo gak mau ngapain lo pindah, bikin sakit mata gue aja, arghhh gue minta satu syarat sama lo selama lo disini”


“ iya gue tau, jangan pernah sok kenal ketika di luar rumah apalagi di sekolah itu kan syarat lo, oke gak masalah buat gue, lagian gue juga males nyapa orang psyco kaya lo”


“ ******* emang lo, bagus kalo lo tau apa mau gue”


Yuda diam mendapat makian dari nindy, ia sudah terbiasa dengan sikap nindy yang seperti itu, yuda mengenal nindy sejak kecil bahkan dia juga pernah bersekolah di TK dan SD yang sama dengan nindy karena orang tua yuda ada perjalanan bisnis di paris maka dia sekeluarga pindah kesana saat dirinya akan menginjak bangku SMP hingga ia harus rela meninggalkan tanah kelahirannya, meski dia turunan darah campuran namun yuda lahir di Indonesia semasa kecil mempunyai banyak teman di Indonesia termasuk nindy, waktu kecil yuda selalu mengekor pada nindy karena sifatnya yang cengeng semasa duduk di bangku TK, bagi yuda nindy adalah anak yang baik semasa kecil entah sejak kapan nindy berubah menjadi dingin dan kasar seperti sekarang yang jelas yuda mengetahui sikap baru nindy ketika ia berkunjung untuk liburan semester saat dirinya baru selesai menempuh pendidikan SMP oleh karena itu yuda tidak kaget lagi mendapat makian dari nindy


Setelah berbincang cukup lama dan mendapat beberapa kritikan kasar, yuda meninggalkan kamar nindy dengan menutup kembali pintunya, ia menghela nafas panjang ketika keluar dari kamar nindy


🍂🍂🍂🍂🍂


Angelo menghela nafas beberapa kali sembari memegang tangan mila, ia duduk di samping ranjang, wajahnya tertunduk menunggu mila sadar, sedangkan linda berpamitan padanya karena tiba-tiba ia mendapat telepon dari keluarganya yang mengharuskan dirinya untuk segera pulang walaupun ia tidak mau, dani sendiri sedang menengok rio dan membeli minuman untuk angelo


“ baru aja gue bernafas lega mil, ada aja yang gangguin lagi” gumam angelo


Mila berkedip-kedip seraya membuka matanya perlahan, rasa sakit di kepalanya langsung hadir saat ia sudah membuka mata sepenuhnya membuat tangannya memijit pelipisnya sedikit, angelo yang masih tertunduk sembari bergumam sendiri langsung mendongak mendapati gerakan dari tubuh mila


“ lo udah sadar beb? Gimana perasaan lo? Mau gue panggilin dokter?” tanya angelo bertubi-tubi sembari bangkit dari posisinya


“ gue oke kok, gak usah panggilin dokter”


“fyuhh….untunglah” angelo menghela nafas lega


“ oia gel, lo gak bilang kan sama bapak gue kalo gue disini?”


“iya gue gak bilang kok, oia linda titip salam buat lo, dia minta maaf gak bisa nemenin katanya ada urusan keluarga”


“ hmmm” mila menjawab ucapan angelo dengan singkat


Ceklek…..pintu terbuka dari arah belakang angelo, terlihat dani mendekat ke arah angelo dengan membawa satu kantung kresek berwarna hitam


“ gimana perasaan lo mil?”


“ gue oke kok, thank’s yah udah nganterin kesini”


“ oke sama-sama”


Dani mengangguk lantas mengambil satu kaleng minuman di dalam kantung kresek yang di bawanya menyerahkan minuman pada angelo


“minum dulu gel, tenangin diri lo”


“oke, thank’s” ucap angelo menerima satu kaleng minuman dari tangan dani


“ oia mil gue mau tanya” tutur dani duduk di samping angelo


“ hmmm, tanya apa?”


“ siapa yang ngunciin lo di toilet? Apa ada yang bully lo ahir-ahir ini?”


Angelo menyimak pertanyaan dani sembari menyesap minuman yang baru saja di bukanya


“ hmmm, gue juga gak tau siapa yang ngunci pintu toilet, yang gue inget samar-samar sebelum gue masuk ke toilet, gue berpapasan sama seseorang tapi gue gak liat wajahnya soalnya gue buru-buru, kalo masalah bully, gak ada tuh yang bully gue”


“ kok bisa yah gak ada yang bully tapi kok ada yang sengaja kunciin lo di toilet” ucap dani menengok ke samping melihat ekspresi wajah angelo


“ entahlah, gue juga gak tau”


“ untung aja lo gak papa beb, kata dokter lo syok sama kekurangan oksigen karena lo ada di ruangan minim udara jadi lo pingsan, lain kali kalo ada apa-apa lo harus ngomong sama gue” ucap angelo menatap tajam wajah mila


Mila mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya, mila tidak di wajibkan untuk menginap di rumah sakit, dokter juga sudah meresepkan obat sebelumnya dan juga berpesan jika mila sudah merasa lebih baik dia bisa pulang untuk istirahat dirumah, namun karena masih sedikit lemah angelo melarangnya untuk bangun dari tempat tidurnya, mila mengikuti perintah angelo karena ia tidak mau berdebat dengan siapa pun untuk saat ini


Cukup lama mila berada di ruangan rawat inap bersama dengan dani dan angelo ahirnya ia meminta untuk diantarkan pulang kerumah sebelumnya mila juga sudah memberi pesan kepada pak maman bahwa dirinya hari ini merasa tidak enak badan dan akan istrirahat di rumah saja, mila tidak mau menambah beban pikiran pak maman jika memberitahukan kondisinya saat ini, untung saja angelo menjaga dirinya dengan sabar dan mengantarkan dirinya pulang dengan selamat sampai rumah


“ pelan-pelan jalannya, apa mau gue bopong aja” ucap angelo setelah ia membukakan pintu mobil untuk mila, mereka baru sampai di komplek jalan mawar


Seperti biasa mobil angelo tidak bisa masuk lebih dalam hingga ia harus turun dan berjalan sedikit untuk sampai ke rumah mila


“ aish, gue masih bisa jalan gel tenang aja”


Mila turun dari mobil angelo, mereka berdua berjalan bersama setelah menutup pintu mobil, dani tidak ikut dengan mereka berdua karena angelo menyuruhnya untuk menemani rio di rumah sakit


“ ada yang sakit gak?” ucap angelo sembari memapah tubuh mila


“ gak ada, gue oke gel, makasih ya lo udah anterin gue ke rumah sakit, pulang ke rumah terus lo juga udah bantuin gue rahasiain kondisi gue dari bapak gue”


“ santai aja kali beb, udah kewajiban gue ada buat lo kalo bukan gue siapa lagi dong”


“dasar pede”


“hahahaha emang bener kan, lo beruntung beb punya ksatria berkuda baja kaya gue di tambah lagi gue tampan” angelo terkekeh


“ iya deh gue beruntung banget punya lo, makasih banyak yah pangeran berkuda baja yang tampan” mila tersenyum simpul


Angelo tertawa mendengar ucapan mila, ahirnya mereka sampai di depan rumah setelah berjalan tak jauh dari posisi mobil, angelo langsung membukakan pintu untuk mila, membimbing tubuh mila untuk duduk di sofa


“ oke, kita udah sampai” angelo menghela nafas lega


“ hmmm, sorry gel gue gak bisa buatin lo minum hari ini”


“gak papa, gue juga udah minum tadi, ada yang bisa gue bantu lagi gak”


“eummm, gak ada gel, lo boleh pulang, gue udah baik-baik aja, lagian ini udah malem banget, besok lo masih ada latihan lagi kan”


“ya udah kalo gitu, gak papa nih gue tinggal?”


“iya gak papa, gue baik-baik aja”


“oke, baik-baik ya, kalo ada sesuatu telepon, gue bakal langsung dateng”


Mila mengangguk tersenyum menjawab ucapan angelo sedangkan angelo sudah bangkit dari duduknya dan mendaratkan ciumannya di kening mila sebelum ia pergi meninggalkan kekasihnya itu, sejujurnya angelo ingin menemani mila namun ia merasa tidak pantas jika seorang lelaki yang belum menikah menginap di rumah perempuan yang juga belum menikah, apalagi mereka hanya berdua di dalam rumah, angelo tidak mau membuat nama keluarga mila jelek karenanya


Tbc…