
Episode 54
Tin….tin, suara klakson menggema di tengah guyuran hujan, di ikuti dengan deruan mobil yang perlahan menjauh.
Mila berjalan di bawah payung, menghela nafas panjang melirik jam di ponselnya, waktu menunjukan pukul 19.30 malam, belum terlalu larut namun suasana jalan yang ia tempuh sangat sepi mungkin karena hujan yang terus turun sejak sore tadi membuat orang-orang enggan bepergian, mila pun sebenarnya merasa malas bepergian jika bukan karena kerja kelompok pasti ia sudah berada di rumah saat ini duduk sendiri di sofa sambil memegang satu cangkir teh hangat
Pikirannya melayang jauh bersama dengan rintik hujan yang terus turun membasahi payungnya, hingga tak sadar langkahnya sudah memasuki halaman rumahnya, mila tersadar melihat rumahnya masih gelap gulita
“ fyuh, adit kelupaan tidur pasti” gumanya pelan
Cklak…..pintu terbuka, mila tak dapat melihat apa pun ruang tamunya begitu gelap, tangannya meraba-raba dinding berjalan dengan pelan mencari tombol lampu di sisi kirinya
Ctek….lampu menyala, ia langsung menanggalkan sepatunya menghela nafas panjang tanpa melihat ke arah sofa ruang tamunya
Padahal disana ada sesosok yang tengah tertidur lelap tanpa selimut dalam keadaan tidak nyaman, menunggunya pulang namun ia tak mengetahui itu
Mila langsung berjalan menuju kamar adit, mengetuknya pelan sebanyak tiga kali sebelum membukanya, ia membuka pintu kamar adit karena tidak ada respon dari dalam, terlihat kamarnya masih gelap, ia segera mencari tombol lampu dan menyalakannya
“ astaga adit, bangun dit “ mila mengguncang tubuh adit pelan sambil terus berbicara di sampingnya
Perlahan tubuh adit bergerak merespon gunjangan dari mila, ia meregangkan tubuhnya
“ eh kak mila, baru pulang kak?” ucapnya sambil mengucek mata beranjak dari tidurnya
“ iya ini kakak baru pulang, bapak belum pulang yah? “
“ iya kak”
“ kamu udah makan dit? Udah minum obat juga belum?”
“ hmmmm, belum kak, ini aja baru bangun gak kerasa ketiduran”
“ ya udah kalo gitu kamu mandi dulu gih, kakak siapin makanan dulu”
“ hmmmm”
Mila berbalik badan setelah membangunkan adit, ia berjalan ke luar kamar, menutup pintu kamar kembali, langkahnya membawa tubuhnya menuju kamarnya, baru saja sampai di depan kamar ia baru ingat tasnya di letakan sembarang di ruang tamu beberapa waktu lalu
Dengan cepat mila berjalan kembali menuju ruang tamu untuk mengambil tasnya, tuk......langkahnya terhenti mematung di tempat, saat pandangan matanya menangkap sesosok yang begitu ia rindukan dari kemarin, sesosok yang membuatnya cemas seharian, tengah tertidur dengan lelap tanpa gangguan apa pun
Air mata menetes turun membasahi pipinya, tangannya otomatis menutup mulutnya, ia tak percaya angelo menunggunya entah sejak kapan, wajahnya begitu damai walau masih ada bekas luka dan lebam di sana sini
Setelah cukup lama hanya berdiam diri memandangi angelo dari arahnya dengan diam, langkah mila perlahan mendekat ke arahnya, tubuhnya menutupi wajah angelo dari lampu di atasnya
“ darimana aja lo gel? Kenapa wajah lo kaya gini “ ucap mila mengusap lembut pipi angelo
Perlahan angelo membuka mata mendapat sentuhan di pipinya, sentuhan itu rupanya cukup menganggu tidurnya, grep….ia langsung memeluk mila dengan erat saat matanya sudah terbuka sempurna dan langsung menangkap sesosok yang sangat ia nantikan
“ maafin aku, maaf ” ujarnya pelan
Mila terdiam beberapa saat, lantas membalas pelukan hangat dari angelo
“ jangan minta maaf, lo gak salah, lo baik-baik aja gue udah seneng “ mila mengelus-ngelus punggung angelo
“ tapi aku gak jawab perkataan kamu di telepon kemarin, kamu pasti khawatir kan?”
“ hmmmm, yang lalu biar berlalu, sekarang lo udah baik-baik aja kan “
Mila melepaskan pelukan angelo, menatap lekat-lekat sepasang manik kelam milik angelo
“ kita manggilnya aku kamu yah mulai sekarang “ ucap angelo pelan
Mila mengangguk, tersenyum masih dengan air mata yang menghiasi pipinya, angelo mengusap lembut pipi mila menghapus air matanya
“ ekhmmmm” deheman keras membuat mila dan angelo tersentak langsung melepaskan sentuhan mereka masing-masing, mila menoleh ke samping
Terlihat adit tengah berdiri dengan baju yang sudah berganti, menatap tajam ke arahnya dan angelo
“ eh adit, udah selese mandi? Maaf ya kaka belum siapin makanan” ucapnya canggung menggaruk belakang telinga
“ hmmmm, kaka kenapa nangis? Dia nyakitin kaka ?” ujarnya melirik angelo tajam
“ gak kok, kaka gak nangis, cuma kelilipan doang, kamu jangan gitu sama kaka angelo, gak sopan tau”
“ cih, siapa dia? Dia hanya tamu kan?”
“ jangan bicara seperti itu dit, jika bapak tau dia pasti akan sedih “
“ udah mil gapapa, adit masih muda, biarkan aja dia, kamu ganti baju dulu gih, nanti aku bantu masak ya” angelo menyentuh lembut bahu mila
“ heuhh, ya sudah kalo gitu, lo cuci muka dulu aja gel, biar gue ganti baju “
“ kamu gak mandi dulu?”
“ gue nanti aja mandinya kalo udah beres masak sama makannya, ya udah gue ke kamar dulu, dan kamu dit, jangan kaya gitu lagi, kaka gak suka, mengerti” ucap mila di depan wajah adit
Adit mendengus sebal mengangguk, kemudian mila berlalu meninggalkan adit dan angelo berdua di ruang tamu, ia menuju ke kamarnya mengganti bajunya dengan cepat tanpa mengganti rok sekolahnya
Tak selang waktu lama ia sudah keluar kamar bergegas menuju dapur, terlihat di dapur adit tengah duduk di meja makan, sedangkan angelo mungkin masih berada di kamar mandinya sedang mencuci wajahnya
“ arghhhhh” teriakan keras terdengar dari arah kamar mandinya, mila menghela nafas panjang lantas meletakan pisau yang sudah ia genggam di tangan, dirinya merasa de javu dengan hal itu
“ ada apa sih kak sama dia, teriak – teriak di rumah orang” ucap adit berdiri dari duduknya
“ coba kamu liat sana dit? Kamu bisa kan? Apa masih sakit kepalamu?”
“ gak kok kak, aku udah gapapa, ya udah aku liat dulu, kaka disini aja”
Mila mengangguk, sambil bergumam dalam hati, “ paling ada kecoa, biar adit aja yang nolongin “
Ia melanjutkan kembali memotong-motong bahan makanan yang akan di masak
🍂🍂🍂🍂🍂
Beberapa saat kemudian, adit kembali dari kamar mandi ia berjalan menuju ke arah mila
“ yaelah kak, sama kecoa aja takut dia, gimana mau ngejagain kaka coba? “ gerutu adit
“ gimana? Udah lo buang kecoanya “ mila tertawa kecil
“ udah kak “
“ di belakang, malu kayaknya sama aku jadi lama kesininya”
“ oalah dit, dit kamu tuh gak boleh gitu, kaka jadi gak enak “
Mila menggelengkan kepala, lantas melanjutkan kembali memasak, tak selang waktu lama angelo berjalan menghampiri mila
“ sini aku bantu cuci perabot ya” ucapnya di samping mila
Mila tersentak, “ ya ampun gel, kalo dateng manggil dulu lah jangan langsung ngomong, gue jadi kaget, tadi kenapa? “ tanya mila pura-pura tidak tau
“ hmmmm, biasa “
“ heheh, maaf yah kamar mandi gue kecil udah gitu banyak kecoa juga, padahal gue udah bersihin terus “
“ sttt, diem gak usah berisik, udah mateng belum masakannya” ucapnya sembari mulai mencuci perabotan
“ bentar lagi, lo duduk aja gapapa gel, biar itu gue aja yang cuci”
“ udah gapapa, aku gak enak kalo cuma duduk doang sementara kamu capek masak “
“ hmmmm, ya udah gue udah bilangin yah, jangan ngadu ke bunda kalo lo nyuci piring disini” mila tertawa kecil
Sementara itu adit hanya menghela nafas panjang mendengar celotehan kakaknya dan angelo, ia merasa seperti obat nyamuk disana, namun ia tak bisa beranjak darisana, sebentar lagi waktu makan malam, ia tak mau membuat kakanya harus mencarinya untuk makan bersama"
“ ahirnya mateng juga masakannya” ucap mila membawa satu mangkok besar nasi goreng hangat ke meja makan dimana adit berada
Ia langsung mencopot celemek menaruhnya di tempatnya kembali, lantas berjalan menghampiri angelo
“ udah yuk makan dulu, itu tinggalin aja” ucapnya menyentuh bahu angelo
“ yuk, ini juga udah selese”
Angelo menaruh piring yang sudah bersih di tangannya ke rak di samping wastafel kemudian menyusul mila untuk duduk di sampingnya, meja makan sederhana itu mulai hangat dengan obrolan-obrolan kecil antara mila dan angelo, sesekali mila juga mengajak adit untuk ikut larut dalam obrolannya bersama angelo, namun mila belum bertanya tentang apa yang angelo alami dari kemarin, ia bukan tak ingin bertanya hanya saja ia mencoba mencari waktu yang tepat untuk bertanya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Di sebuah ruangan besar rumah sakit,
“ gimana perasaan lo hari ini” ucap yuda berjalan sambil menutup pintu di belakangnya
“ hmmmm”
“ kata dokter lo udah boleh pulang besok, syukurlah”
“ lo seneng kan gue udah gak nyusain lo lagi “
“ aishhh, siapa sih yang ngasih pikiran gak enak sama lo nin? Heran deh gue, nih makan pudding mangga dulu, lo suka itu kan dari kecil “ ucap yuda memberikan pudding kemasan rasa mangga yang baru saja di belinya di minimarket ketika ia hendak menuju rumah sakit habis pulang mengambil baju ganti
“ gue udah gak suka “
“ kenapa sih, ini kan enak, lo masih inget gak dulu, lo nangis di bawah pohon neriakin gue yang ada di atas pohon lagi makan pudding kaya gini, gue cuma ngeledekin gak mau berbagi sama lo” yuda tertawa kecil
“ gue udah lupa semua kenangan dulu” ucapnya tanpa menoleh pada yuda, meski bibirnya berucap demikian tapi tidak dengan hatinya, ia tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia juga masih mengingat semua kenangan masa kecilnya bersama dengan yuda, namun saat ini ia belum ingin mengakrabkan diri dengannya
“ lo gak bakat bohong kalo di depan gue, kalo jadi artis gak laku tuh pasti “ yuda terkekeh sambil menyendok pudding kemasan yang tidak di terima nindy
Nindy diam tidak merespon ucapan yuda, namun yuda terus saja berbicara di sampingnya tanpa henti, ia terus mengorek kenangan mereka berdua sewaktu kecil sebelum ibunya meninggalkannya untuk selama-lamanya, hatinya merasa sedikit tersentuh kala yuda terus bercerita
🍂🍂🍂🍂🍂
Rintik hujan mulai tak terdengar lagi, malam semakin larut, belum ada tanda-tanda dari ayahnya untuk pulang dari bekerja, mila membuka gorden yang menutup kaca depan rumahnya melihat ke luar dengan menghela nafas panjang
“ kayaknya ayah kamu nginep di rumahku hari ini” ucap angelo yang tidak jauh dari tempatnya duduk
“ iya kayaknya deh, tapi kalo bapak gak pulang, lo gak bisa nginep disini gel? Gimana dong?”
“ hmmmm, tapi aku juga gak bisa pulang beb”
“ emang kenapa sih? ada apa sama lo?” tanya mila
Angelo terdiam ekspresinya langsung berubah, ia menunduk
“ hmmm, gapapa kalo lo gak mau cerita ke gue kok gel” ucap mila menenangkan angelo
“ gak, udah dari kemarin aku bungkam sama kamu, sekarang aku harus cerita” ucapnya pelan masih menunduk
“ hey, liat aku, aku gak maksa kamu buat ceritain semua, aku tau pasti bukan masalah yang enteng “ mila memegang kedua bahu angelo
Angelo mengangkat wajahnya perlahan, sepasang manik kelam miliknya bertemu langsung dengan milik kekasihnya
“ hmmm, kamu benar ini bukan masalah enteng, aku gak mau kuliah di London”
Mendengar ucapan angelo, kedua tangan mila langsung terlepas begitu saja dari bahu angelo, ia terdiam
“ kamu gak usah mikir yang gak-gak ya beb, aku gak bakal kuliah disana kok, aku udah tentuin masa depanku sendiri, aku pengen langsung kerja setelah lulus, tapi sebelum itu aku ingin melamarmu”
Mila terhenyak, menoleh ke samping “ begini, aku gak menolak lamaranmu gel, tapi kita masih terlalu muda untuk itu, kalo kamu ingin bekerja setelah lulus aku gak masalah tapi kalau kamu melamarku, aku yakin kedua orang tuamu pasti tidak setuju dengan itu apalagi dengan bapaku, kamu mengerti kan apa maksudku” ucapnya menatap lekat-lekat wajah angelo yang tertunduk
“ tapi gue gak mau kehilangan kamu beb, jika aku tidak melamarmu”
“ heuh, aku takut gel kamu ngomong seperti ini sekarang tapi kemudian jika hal yang kamu ucapkan terjadi malah kamu akan menyesalinya”
“ gak, gak aku gak akan menyesal jika itu kamu “
“ tapi maaf gel, aku belum bisa menerimanya, kita harus menunggu sekitar 5 sampai 6 tahun lagi untuk itu, kamu tau kan aku anak orang kurang berada, bapaku aja kerja dengan keluargamu, beliau juga sudah mulai sakit-sakitan, aku tidak bisa terus-terusan menyusahkannya, aku harap kamu tau akan itu “
“ apa kamu udah gak sayang sama aku?”
“ bukan begitu, aku sayang sama kamu, aku juga sayang keluargaku, tapi kamu harus mengerti untuk situasi seperti itu “
“ hmmmm, ya udah kalo gitu, aku paham kok “ ucap angelo lemas, menyandarkan kepala ke belakang menatap langit-langit di atasnya, banyak fikiran terlintas dalam hatinya, ia tidak menyangka ucapan mila hampir sama dengan ayahnya, itu berarti ia hanya bisa memilih untuk bekerja setelah selesai sekolah, itu pun jika ayahnya mengijinkan, pahitnya jika tidak maka dengan berat hati ia harus mengikuti apa yang ayahnya ucapkan yaitu kuliah di London bersama dengan anak teman ayahnya.
Angelo menghela nafas berat terdiam, begitu juga dengan mila ia juga terdiam dengan fikirannya sendiri.
Rintik hujan terdengar semakin pelan, malam semakin larut, angelo dan mila masih diam satu sama lain, hanya helaan nafas yang terdengar memenuhi ruangan.
Tbc…..