My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Extra 4



Setelah cukup puas telah membuat Jane merasakan pembalasannya. Airish menghentikan aksinya, dan menggenggam belati yang sudah teraliri darah saudara tirinya.


Jane sudah menangis tersedu-sedu, merasakan perih yang begitu luar biasa. Sayatan itu benar-benar membuatnya ingin menjerit, apalagi ditambah air matanya yang terus mengalir, membuat perih itu semakin terasa.


"Sshhhhh," desis Jane dengan menunduk. Darah segar terus kocar-kacir, membasahi pangkuannya, dia menunduk dengan tubuh yang terus bergetar.


Bila seperti ini caranya, lebih baik dia mati saja. Kenapa juga dia tidak gugur dalam medan pertempuran kemarin, andai dia mati bersama Dewa, dia tidak mungkin merasakan siksaan ini semua.


"Bagaimana, Jane? Itu belum seberapa, ketimbang apa yang sudah kamu perbuat. Membunuh ayahmu sendiri, adalah dosa terberat, yang tidak akan pernah aku maafkan. Aku ingin pelan-pelan membunuhmu, membuatmu tersiksa dan menginginkan kematian yang begitu cepat," ujar Airish sambil memandang ke arah Jane.


Wanita Medusa itu tak menjawab, dia hanya bergeming, menikmati sensasi yang menikam tubuhnya.


Dan hal itu membuat Airish terkekeh, merasa lucu dengan sikap Jane. Ketakutan, kesakitan, bukan lagi hal yang mempan untuk hati Airish yang dulu mudah tersentuh.


Kini tidak ada lagi kata kasihan. Rasa kasihan pada lawan hanya akan melemahkan tujuan balas dendamnya. Dendam atas kematian sang ayah.


"Aku tidak muluk-muluk, Jane. Aku sudah melupakan kesalahanmu_"


"Kalau begitu lepaskan aku!" potong wanita itu dengan bibir yang bergetar, pelan-pelan dia mengangkat kepalanya untuk menatap Airish.


Kali ini Kaisar hanya bergeming. Biar Jane menjadi urusan istrinya, meskipun dia sudah sangat geram dan ingin menendang wajah sialan itu.


"Heuh, tidak semudah itu, Jane. Aku sudah bilang, aku hanya ingin membalas kematian ayah. Kematian yang begitu direncanakan oleh iblis sepertimu, sekarang skor kita sama, kamu tidak punya hati, aku pun begitu."


"Apa kamu tidak pernah bisa melihat ketulusan ayah? Hah, sepertinya memang karena hatimu mati, kamu jadi tidak bisa melihat bagaimana dia membelamu, lebih mementingkanmu di atas kepentinganku. Aku selalu menjadi nomor dua, aku selalu mengalah, tetapi kamu yang diprioritaskan oleh ayah justru seperti ini? Pantaskah? Aku tanya pantaskah?"


Bugh!


Airish melesat dan langsung menendang perut Jane hingga wanita itu terpelanting beserta kursi yang didudukinya.


Menabrak tembok dan berakhir terkulai di atas lantai dengan meringis kesakitan.


"Cukup!" Di belakang sana Roger berteriak tiba-tiba. "Cukup, Ai. Aku tahu aku salah, tapi tolong. Cukup, aku mohon maafkan aku dan juga Jane."


Mendengar itu, Airish berbalik. Menatap ke arah Roger dengan nyalang. "Apa kamu bilang? Cukup? Saat kamu menyakitiku, aku memohon padamu, bahkan aku terus menangis, apa kamu menghentikan semuanya?" tanya Airish, melangkah mendekat ke arah Roger.


"Ai, aku sudah bilang. Aku minta maaf, aku memang salah. Kalau kamu mau membunuhku, cepatlah. Bunuh aku, jangan sungkan lagi," ujar Roger, dengan mengiba.


Dia benar-benar sudah sangat tersiksa. Dia ingin malaikat maut segera menjemputnya.


Airish tersenyum smirk. Dia masuk ke dalam kandang besi itu, dan berhadapan dengan Roger. Lelaki sedikit memundurkan wajahnya, merasa waspada.


Karena bola mata Airish telah berbeda. Seolah-olah dia tidak mengenali siapa itu Airish.


"Sweetie, jangan terlalu dekat, aku cemburu," ujar Kaisar dengan nada merengek manja.


Airish menoleh ke belakang tepat ke arah suaminya. Dia tersenyum tipis. "Tenanglah, Sayang. Aku tidak mungkin menyukai manusia. Aku hanya mencintaimu, Daddy's Aiden."


"Aaaa, Sayang... Pulang nanti aku mau peluk, mau cium, mau itu juga."


Airish terkekeh, dan hanya mengangguk sambil berkedip ke arah Kaisar.


Lalu fokus kembali dengan Roger yang mulai ketakutan. Dia menunjuk dada lelaki itu dengan pisau belati yang masih ada di tangannya.


"Kamu! Siap-siap saja, besok adalah jawaban dari semua doa-doamu."


Srat!!!


"Arghhhh!"