
Di beberapa bagian dunia, matahari sudah tampak terbit. Termasuk di pulau yang dihuni oleh Airish dan juga Kaisar.
Entah Airish sudah menyadari atau belum, selama ini Kaisar selalu terjaga sepanjang malam, karena seorang vampir tidak akan tidur.
Dia hanya mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping itu, dan terus memandangi wajah cantik Airish.
Hingga saat Airish merasakan pagi telah menyapa, dia menggeliat dalam rengkuhan suaminya. Dia bergumam khas seperti orang baru bangun tidur, lalu mengusak-ngusak wajah di dada bidang Kaisar yang terbuka.
"Tuan," panggil Airish dengan suara parau. Dia menghirup aroma tubuh Kaisar dalam-dalam, dia suka sekali aroma ini.
"Ada apa, Sweetie?" Tanya Kaisar menarik diri, agar dia lebih leluasa melihat wajah Airish.
Airish menengadah, dia mengerjap beberapa kali, lalu jemarinya menoel-noel bibir tipis suaminya. Kaisar memasang wajah datar, dan menangkap tangan Airish. "Apa yang sedang kau lakukan? Mau menggodaku, hem?"
Ditanya seperti itu, Airish menggigit bibir bawahnya cukup kuat, dia juga tidak mengerti kenapa dirinya seperti ini, padahal sebelumnya dia sangat enggan sekali menyentuh Kaisar.
Tapi sekarang, seolah candu. Dia tidak bisa terlepas dari lelaki itu.
"Kau jatuh cinta padaku?" Cetus Kaisar melihat Airish yang hanya bergeming dan terus menatapnya.
Mendadak pipi Airish bersemu merah, dia berpaling muka, karena salah tingkah, membuat Kaisar mengulum senyum, dan bersemangat untuk menggoda.
"Benar kan kau jatuh cinta padaku?" Cecar Kaisar, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Airish, mengunci pergerakan gadis itu.
Cih, bedebah ini selalu percaya diri sekali. Tapi jantungku? Kenapa jantungku tidak bisa dikondisikan, benar-benar memalukan.
"Tuan, aku tidak_" Airish menghentikan ucapannya, saat dia melihat Kaisar memasang wajah tak suka.
"Tidak apa?" Tanya Kaisar menekan suaranya, satu tangannya meraih dua tangan Airish dan meletakkannya di atas kepala gadis itu, Kaisar berganti menindih setengah tubuh Airish.
Ludah Airish terasa tercekat di tenggorokan, kenapa dia selalu kalah telak jika bersama Kaisar. "Aku tidak_"
"Kalau kau tidak mau mengaku, jangan salahkan aku kalau kau ku lempar ke laut." Ancam Kaisar dengan sorot matanya yang tak main-main, tekanan di tubuhnya semakin terasa.
Sepertinya lelaki satu ini benar-benar serius dengan ucapannya.
Ck, pemaksa sekali!
Karena merasa terancam, mau tidak mau akhirnya Airish mengangguk. Membuat Kaisar tergelak, lalu kedua tangannya berganti menangkup kedua sisi pipi Airish. "Istri manusiaku menggemaskan sekali." Lalu muah, muah. Kaisar mengecup gemas bibir ranum Airish, dan dengan cepat beranjak dari atas ranjang.
Airish berteriak, sedangkan Kaisar tampak tidak peduli sama sekali. Lelaki dengan tubuh telanjang itu, justru berjalan santai ke arah kamar mandi, hendak membersihkan diri.
Airish memegang dadanya, disana ia merasakan pompaan yang begitu kencang. Serta pipinya berubah semakin merona.
Kenapa? Kenapa aku senang dia menciumku?
"Bersiaplah Sweetie. Aku benar-benar akan membuangmu ke laut." Ucap Kaisar sebelum benar-benar masuk.
Sedangkan di tempatnya, Airish membulatkan matanya, otaknya terus bertanya-tanya, sebenarnya apa yang akan dilakukan suaminya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaisar membiarkan Airish sarapan. Sedangkan dia meminta Joni mengikutinya, karena ada sesuatu yang akan dia bicarakan dengan asistennya tersebut.
Keduanya berjalan dengan Kaisar yang memimpin di depan. Hingga sampai di sebuah balkon yang langsung mengarah ke laut, Kaisar berhenti. Dan diikuti oleh Joni.
"Apa yang ingin ada bicarakan, Tuan?" Tanya Joni sebagai pembuka. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak yang menghinggapinya, karena sepertinya apa yang akan disampaikan sang Tuan bukanlah hal baik.
Kaisar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia memandang laut yang terbentang luas, dengan air yang berkelap-kelip karena pantulan sinar matahari.
Sedangkan pikirannya menerawang jauh ke depan, bagaimana kehidupannya setelah ini, dengan Airish yang berada di sampingnya.
"Suruh para pengawal yang berjaga di laut itu menyingkir, kosongkan satu area untukku dan Airish." Ujar Kaisar, memecah keheningan yang sempat tercipta.
Hembusan angin itu menerbangkan rambut Kaisar, membuat lelaki itu terlihat semakin tampan.
"Untuk apa, Tuan?" Tak langsung mengiyakan, Joni justru bertanya tujuan lelaki itu. Dia semakin curiga dengan tindak-tanduk Kaisar.
"Aku ingin berenang di laut bersamanya." Kaisar menatap Joni dengan tatapan datar. Seolah apa yang akan dilakukannya bukanlah sebuah beban.
Tetapi lain bagi lelaki di hadapannya.
"Tuan, apa yang anda bicarakan? Sinar matahari hari ini cukup terik, anda tidak bisa_"
"Dia sudah mengetahui semuanya, Jon," tegas Kaisar.
"Apa?" Joni terlihat terkejut bukan main, dengan netra yang membulat sempurna, bahkan baru kali ini dia memakai nada tinggi di depan Kaisar.
"Tuan, saya minta maaf, tapi bagaimana bisa? Dan kenapa anda bersikap sesantai ini?" Tanya Joni menggebu, dia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Kaisar yang berubah semakin drastis ini, dan itu semua semenjak mengenal Airish, gadis pemilik darah suci.
"Aku tidak tahu, Jon. Tapi aku bisa bohong, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku." Ungkap Kaisar, dia menunduk sebentar. Layaknya manusia biasa, dia pun merasa bahwa dia butuh cinta.
Joni mendesah kecil, jika seperti ini rasa-rasanya Joni tak hanya menjadi seorang asisten, lebih tepatnya seperti seorang kakak yang tengah memarahi adik kecilnya, yang nakal dan baru saja mengenal cinta, cinta buta.
"Tuan, saya mohon buang jauh-jauh rasa itu, jika anda tidak mau mati sia-sia." Ucap Joni memperingatkan Kaisar sekali lagi, sebelum rasa itu semakin jauh.
"Sayangnya aku baru menyadari kemarin, Jon. Ini sudah terlalu dalam."
Lagi, Joni melipat keningnya dengan pikiran yang kacau, dia menghela nafas kasar, akhirnya semua yang ia takutkan benar-benar terjadi sekarang.
Tetapi semoga saja Kaisar tidak akan bersikap bodoh, dan mengorbankan kehidupannya, hanya demi melindungi gadis itu.
"Saya tidak bisa berkomentar apapun sekarang. Saya hanya berharap, anda tidak akan menyesali ini semua." Joni menepuk bahu Kaisar beberapa kali.
Lalu tanpa sepatah katapun, dia melenggang, meninggalkan lelaki itu, berniat mengomando para pengawal yang berjaga di dekat laut, untuk mengosongkan satu area untuk sang Tuan, yang akan mengajak Airish berenang.
Sedangkan di tempatnya berdiri, Kaisar bergeming, sudut hatinya tidak bisa bohong lagi, dia menginginkan Airish, bukan hanya sekedar perkara darah suci, tapi juga hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beri aku semangat, biar kepalaku tidak nyut-nyutan🥱🥱🥱