My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Extra 1



Tangan Jane diikat kuat, sementara mulutnya disumpal oleh secarik kain, karena sedari tadi, wanita itu selalu berteriak-teriak, membuat telinga para pengawal kebisingan.


Sekarang, dia berada di dalam mobil bersama dua pengawal lain, atas perintah asisten Joni, Jane akan di bawa ke markas besar untuk menerima hukuman.


Tubuhnya meringkuk di kursi kemudi, dia tak berhenti meronta, hingga akhirnya Jane kehabisan tenaga. Tiba-tiba air matanya mengalir, penyesalan itu tepat berada di pelupuk mata, tapi ego lebih menguasai, dia tidak mau dianggap lemah oleh Airish.


Dia harus bisa melawan, meski kini dia hanya sendiri, Fenita bahkan Dewa sudah meninggalkannya, bukan kah hanya tinggal dia yang menunggu giliran untuk meregangkan nyawa?


Oh, dia tidak akan takut menantikannya. Dia harus membuktikan pada saudara tirinya itu, bahwa kebenciannya begitu dalam.


Hingga mobil tersebut berhenti di sebuah bangunan tua, dia kembali di seret dengan kasar, suasana nampak gelap, hanya ada lampu senter yang menerangi jalan mereka.


"Cepatlah, jangan membuat kesabaran kami habis," ucap salah satu pengawal yang menarik tubuh Jane, karena Jane masih berusaha untuk meronta, bahkan mematung tak mau ikut dengan mereka.


Hingga sebuah tendangan dia dapatkan dari pengawal yang lain, dan berhasil membuat tubuhnya terjerembab ke atas tanah. "Jangan membangkang, bila kau ingin kami bersikap baik padamu." Ucapnya, lalu menyeret tangan Jane.


Gadis itu meringis kesakitan, karena tendangan itu terasa begitu kuat. Mencoba melawan mereka hanya buang-buang tenaga saja.


Jane menatap sekeliling, gedung ini terasa sangat menyeramkan dengan auranya yang dingin, bau tidak sedap bahkan tercium menyengat, sebenarnya tempat apa ini?


"Arggghh!" Jane memekik saat sumpalan mulutnya dibuka, sementara tubuhnya dilempar begitu saja. Dia terhuyung membentur dinding, dan berakhir terkulai di atas lantai yang terasa lembab.


Di sana seseorang duduk, melihat kedatangan Jane dia bertepuk tangan, dan lampu langsung menyala dengan terang.


Jane mengangkat kepalanya, Kaisar tersenyum smirk ke arah Medusa itu, Jane meneguk ludahnya, dia kembali meringis saat mencoba menggerakkan anggota tubuhnya.


"Selamat datang di rumah keabadianku, Nona Jane yang terhormat," ucap Kaisar dengan nada mengejek lengkap dengan seringai tipis.


Dasar iblis! Batin wanita itu.


Kaisar menghela nafas. "Kenapa? Kau menatapku seperti itu, seperti kita adalah seorang musuh? Kau marah padaku? Mau memukulku?"


Jane bergeming dan terus menatap gerak-gerik Kaisar, dia beringsut mundur begitu lelaki itu bangkit dan melangkah ke arahnya.


Dan pada saat Kaisar sudah berjongkok di depannya, Jane dengan reflek tertunduk takut. Dia memekik saat Kaisar dengan kasar menjambak rambutnya.


"Arghhhh!"


Mata Kaisar mendelik, gigi gerahamnya saling beradu dengan rahang yang mengeras mengingat kelakuan wanita ini pada sang istri. Perlahan dia akan membalasnya, Jane harus merasakan sakit, sama seperti Airish dulu.


Tanpa diduga Kaisar menarik rambut Jane hingga tubuh wanita itu ikut terseret. "Argh, lepaskan aku. Sakit!" pekiknya dengan meringis.


Rambut indahnya mulai berjatuhan seiring tarikan tangan Kaisar, dengan kasar Kaisar melepaskannya tepat di sebuah kandang yang ditutup dengan kain.


Jane tersentak, dia sudah menangis menahan perih di kepalanya, bahkan tak sedikit kulit kepala itu mengeluarkan darah segar.


"Hari ini aku mau memberi kejutan untukmu, jadi bersiaplah," ucap Kaisar, tetapi Jane tak peduli, dia masih merasakan sakit yang luar biasa menyapa tubuh bagian atasnya.


"Pengawal pegang tubuhnya, dan tegakan kepalanya!" titah Kaisar, dan seketika itu juga dua pengawal langsung mengangkat tubuh Jane, sementara satu orang memegangi wajahnya agar menatap lurus ke depan.


"Buka!" titah Kaisar lagi, dan seketika kain itu ditarik dan menampilkan sesuatu yang ada di dalam kandang tersebut.


Jane membelalakkan matanya, bola mata merah itu menatap apa yang ada di sana. "Roger?" lirihnya.