
"Maaf, maaf, maafkan aku, Sweetie," dari sekian banyak kosa kata di muka bumi ini, hanya kata itu yang Kaisar pilih.
Kaisar terus memeluk tubuh Airish erat, serta mengucapkan kata maaf sebanyak-banyaknya, dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa, tetapi dia bisa menyimpulkan, bahwa ada sesuatu yang janggal sebelum ia datang.
Dan itu semua terbukti dari ruangan yang terlihat sedikit berantakan.
Sumpah demi apapun, jika benar ini semua berkaitan dengan Dewa, Kaisar akan membalasnya. Dia akan mengincar manusia serigala itu sampai ke ujung dunia sekalipun.
Sementara Airish terus menangis, sesekali dia memukul-mukul keras dada Kaisar, menguapkan kekesalan, dia tidak bisa terima takdir ini, kenyataan bahwa sang ayah telah pergi.
"Kenapa Ayah pergi, Tuan. Apa Ayah tidak sayang padaku?" rancaunya sesenggukan. Bibir itu bergetar hebat, sedangkan bahunya terus naik turun, dengan isak yang belum mereda.
"Ayah tidak pergi, Sweetie. Dia hanya menemui ibumu di surga," ujar Kaisar. Dia mengeratkan pelukannya, karena Airish terus menggeleng dan meronta, dada Kaisar ikut merasakan sesak, seolah ada tangan besar yang tengah merematnya pelan-pelan.
Mendengar ucapan Kaisar, tangis Airish semakin pecah. Dan air mata itu terus membasahi kemeja yang Kaisar kenakan, lelaki itu tak berhenti mengecup puncak kepala Airish, mencoba membuat gadis itu tenang.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa, apa kelak kau juga akan meninggalkanku?" reflek Airish bertanya seperti itu, sedangkan tangannya meremas pinggiran baju Kaisar, dia tergugu.
Dia benar-benar merasa sendiri, tidak ada lagi yang mencintainya, karena sang ayah kini telah tiada.
Kaisar meneguk ludahnya kasar, mendengar pertanyaan itu, dia terdiam sesaat. Lelaki tampan itu terlihat gamang.
Bagaimana bisa aku menyakitimu, Sweetie. Melihatmu seperti ini saja rasanya aku tak sanggup.
Dan akhirnya Kaisar menggeleng, dia menarik tubuh Airish, hingga tercipta sebuah jarak diantara mereka, tangan Kaisar berganti menangkup kedua sisi pipi Airish, dia mengecup kedua mata yang terlihat masih basah itu.
Kedua netra mereka bertemu, saling mengunci dan mencari arti kehadiran masing-masing.
Dan jawabannya, mereka memang tidak bisa berjauhan. Kini Airish paham, hanya lelaki itu yang bisa dia andalkan.
"Percayalah, Sweetie. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjagamu dengan seluruh kekuatan yang aku punya, aku tidak akan membiarkanmu disentuh oleh siapapun, meski itu hanya seujung kuku," ucap Kaisar sungguh-sungguh.
Lantas dia menyatukan keningnya dengan kening Airish, dia bisa merasakan kesedihan yang mendalam, di saat seperti ini Kaisar seolah lemah, dia tidak berdaya.
Namun, sebisa mungkin dia berusaha membuat Airish percaya, bahwa gadis itu masih memilikinya, gadis itu bisa meminta perlindungannya.
Karena kini, seluruh cinta Kaisar benar-benar tak terbendung lagi, rasa itu meluap, membuncah di dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu juga Martin di kebumikan, banyak awak media yang ingin meliput berita hangat tersebut, mengenai jenazah yang dibawa pulang ke rumah besar milik Kaisar.
Namun, mereka semua tidak memiliki keberanian, karena asisten Joni langsung mengeluarkan sebuah ultimatum, berupa larangan untuk memuat berita apapun mengenai sang tuan.
Dan disinilah lelaki itu sekarang, di belakangnya para pengawal berseragam hitam tampak berbaris rapih. Tidak ada yang bersuara, kecuali gadis yang paling berduka diantara mereka.
Di samping gundukan tanah itu Airish bersimpuh, dia mencium papan nama Martin, dan meletakkan foto sang ayah disana. Bibirnya kembali bergetar, serta matanya yang tak berhenti menganak sungai.
"Aku tidak terima, Ayah. Jane harus membayar semuanya. Aku bersumpah akan membayar kematianmu, meski nyawaku adalah taruhannya." Airish menggigit kuat bibir bawahnya, menahan isak yang sebentar lagi akan pecah.
Nafasnya memburu, dengan bahu yang bergetar hebat.
Aku tidak akan diam saja.
Cuaca sore itu ikut berkabung, awan hitam serta rintik-rintik hujan, menambah suasana haru yang tercipta di alam sekitar.
Bahkan beberapa kali kilat menyambar.
Joni melangkah ke arah Kaisar, dia memberikan satu payung untuk lelaki itu. Kaisar meraih uluran payung itu, lantas memayungi tubuh Airish.
Lelaki berkacamata hitam itu menepuk bahu istrinya, hingga Airish menengadah, matanya terlihat memerah dan menyipit karena terlalu banyak menangis.
"Berdirilah, sebentar lagi malam akan datang, Sweetie. Kita harus pulang," ucap Kaisar lembut, dia mengulurkan tangannya, membuat Airish tersenyum, meski getir.
Andai tidak ada dia, apa benar aku bisa sekuat ini?
Airish meraih tangan Kaisar, gadis itu bangkit. Satu tangan Kaisar bertengger di bahu Airish. Sekali lagi, air mata itu luruh tak tertahankan, dan secepat kilat Airish menghapusnya dengan punggung tangan.
Dia mencoba ikhlas untuk semua yang telah menimpa dirinya.
Kaisar mengusak puncak kepala Airish.
"Berhentilah menangis, Sweetie. Karena setelah ini akan ada banyak hal yang harus kita lakukan, aku akan membantumu, kau tidak bisa melawannya sendiri, karena dia pun memiliki sekutu." Kaisar menatap dalam netra Airish, mengalirkan kesungguhan.
Lelaki itu sudah mengetahui semuanya, karena sebelum berangkat ke pemakaman, Airish telah mengatakan yang sejujurnya, atas semua yang menimpa Martin beberapa jam yang lalu.
Pelan, Airish mengangguk, dia tersenyum lalu memeluk tubuh tegap Kaisar. "Aku percaya padamu, Sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay Hay Hay!!!
Mangatin, mangatin, mangatin aku dong 🤧
Sambil nunggu pampir jangan lupa mampir