My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Tawaran kerja sama



Jane menjabat tangan besar lelaki yang duduk di hadapannya. Aura dingin tercipta, seperti pedang tatapan itu menghunus, membuat Jane sedikit gemetar.


Setelah perkenalan, Jane langsung mengeluarkan surat tanah rumah yang akan dijualnya. Di atas meja, kertas itu ia geser ke arah Dewa.


Namun, seperti sedang main-main Dewa justru tersenyum miring, ia menggeser kertas itu kembali ke arah Jane, dan menyilangkan satu kakinya, bertumpu pada kaki yang lain.


Suasana nampak tenang, karena semua orang yang ada di sekitar mereka, sudah terusir oleh dua pengawal yang dibawa oleh Dewa.


"Aku tidak memerlukan itu." Ucap Dewa seraya mengusap dagu runcingnya. Menatap wajah Jane dengan tatapan remeh.


Jane dan Fenita saling pandang. Apa maksudnya semua ini? Apakah lelaki di depannya tidak serius untuk membeli rumah mereka? Tapi dari penampilannya, kedua wanita itu bisa menyimpulkan, bahwa Dewa adalah orang kaya raya.


"Apa maksud anda, Tuan?" Tanya Jane dengan mimik wajah yang diselimuti tanda tanya.


Sekali lagi, gadis itu menatap Dewa penuh tatapan menyelidik, dan lelaki itu justru terkekeh, seolah apa yang tengah ditanyakan Jane adalah sebuah lelucon.


"Aku tahu, kalian sedang dalam masa pelarian kan? Kalian butuh uang? Berapa? Sebutkan saja nominalnya, aku akan langsung transfer ke rekeningmu, Jane." Cetus Dewa terkesan meledek.


Mendengar itu, Jane dan Fenita kompak membulatkan mata, darimana lelaki ini tahu?


Tubuh Jane kembali gemetar, ia yakin Dewa bukanlah orang sembarangan.


Bahkan dengan mudah, lelaki itu mengusir semua pengunjung yang ada disana.


"Darimana kau tahu, Tuan?" Tanya Jane terbata. Sedangkan tangannya yang berkeringat dingin, terus bergenggaman dengan tangan sang ibu, di bawah meja.


"Itu tidak penting. Yang jelas, aku tahu kau memiliki dendam dengan adikmu, karena dia adalah anak dari selingkuhan ayahmu. Jangan kau pikir, dengan kabur kau bisa selamat, karena orang yang ada di samping adikmu tidak akan membiarkan itu." Terang Dewa.


"Tuan, kau?" Kalimat Jane terasa tercekat, ia meremas satu tangannya, dan mengepal kuat di atas paha.


"Aku juga memiliki dendam dengan orang yang ada di samping adikmu , aku ingin mengajak kau bekerja sama, aku akan membantumu untuk melenyapkan Kaisar, kau tidak tahu bukan bagaimana kejamnya dia?" Dewa mendekatkan wajahnya ke arah Jane dan Fenita, menunjukkan bahwa apa yang dia katakan bukanlah omong kosong.


"Bahkan dengan sekali tarik, nyawamu akan putus." Lelaki itu membuat gerakan menarik sesuatu dengan kedua tangannya. Membuat kedua wanita itu semakin ketakutan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Jane, dia tidak mungkin tinggal diam, di saat nyawanya terancam.


"Lenyapkan ayahmu!" Balas Dewa cepat.


"Hanya itu?"


"Jane!" Fenita yang duduk di sampingnya memekik, dengan netra yang membulat sempurna.


"Bu, lebih baik ibu ikuti saja apa kata Jane. Aku akan membereskan semuanya, aku akan membalas semua perbuatan ayah. Ibu tidak ingin kan terus disakiti oleh pria tua itu? Ingat Bu, dia itu masih mencintai ibu Airish, selama 20 tahun ini dia masih menyimpan foto wanita jalangg itu di laci meja kerjanya, kali ini ibu harus tega! Aku akan melenyapkan ayah, karena dengan itu, Airish pasti akan merasa sakit hati. Dan tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini." Terang Jane mantap.


Apalagi selama ini dia juga sudah membenci sang ayah.


"Tapi Jane!"


"Kalian tinggal pilih, mati sia-sia, atau ikut membalas dendam denganku. Dan kalian jangan khawatir, keselamatan dan jaminan hidup aku yang menanggung. Yang penting, kalian pastikan Airish tetap hidup untuk menyaksikan kematian Kaisar," pungkas Dewa.


Dan kedua wanita itu kembali dibuat gelisah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya.


Airish dan Kaisar baru saja mandi bersama, gadis itu terlihat mengambil pakaian sang suami dan juga dirinya, tetapi pikirannya justru kemana-mana.


Kaisar yang merasakan ada yang berbeda dari Airish, lantas bertanya. "Sweetie, ada apa?"


"Jangan berbohong." Kaisar meletakkan pakaian itu di meja rias, lalu merengkuh pinggang ramping Airish.


Tatapannya menyelidik, mencari kejujuran gadis itu. Dan Airish benar-benar tidak bisa menutupi kegelisahannya, wajah yang semula menunduk kini menengadah, membalas tatapan mata Kaisar.


"Sayang, apa seorang vampir bisa membuatku hamil?" Tanya Airish dengan tatapannya yang terlihat sendu.


Ditanya seperti itu, Kaisar justru mengulum senyum. "Memangnya kenapa? Kau tidak mau hamil anakku?" Kaisar bertanya dengan tangan yang sibuk membenahi rambut Airish, menyelipkannya di belakang telinga.


Dahi Airish mengerut, lalu dia menggeleng. "Bukan begitu, Sayang. Aku hanya bertanya memangnya bisa?"


Kaisar menggiring tubuh itu merapat ke arah lemari pakaian, dan berakhir menguncinya. "Aku balik bertanya, kenapa kau berpikir sampai kesana, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?"


Airish mengangguk samar. "Semenjak aku berhubungan denganmu, aku jadi telat datang bulan." Ucapnya apa adanya.


Karena sampai saat ini, dia benar-benar belum mendapatkan tamu bulanannya lagi.


"Kalau telat datang bulan memangnya kenapa?" Tanya Kaisar dengan dahi yang berlipat-lipat. Dia tidak paham dengan yang dialami manusia.


"Sayang jangan bercanda, aku bisa saja hamil."


Tapi aku kan pakai alat kontrasepsi.


Kaisar membelai wajah Airish, dan berlabuh di dagu runcing gadis itu.


"Sweetie, aku ini vampir mana bisa aku menghamilimu. Aku juga belum pernah mendengar kisah vampir bisa menghamili manusia," jelas Kaisar.


Airish memejamkan matanya sejenak, lalu kembali menatap Kaisar dengan wajahnya yang terlihat gelisah. "Tapi kau bisa melakukannya, kau bisa membawaku ke nirwana." Ucap Airish dengan pipi yang sedikit merona.


"Aku juga tidak tahu, denganmu semuanya terasa berbeda." Kaisar juga tidak mengerti kenapa dia bisa melakukan semua itu, awalnya dia hanya ingin menggoda Airish.


Namun, seolah menjadi kegiatan yang menyenangkan, dia justru ingin terus melakukannya bersama gadis yang ia cinta.


"Lalu bagaimana jika aku benar-benar hamil?" Tanya Airish, dia berganti mengusap pipi Kaisar dengan sayang.


"Tenanglah. Kita periksakan saja ke Dokter."


"Memangnya bayi vampir bisa terdeteksi?" Airish menjatuhkan tangannya dari pipi Kaisar, bibir ranum itu mengerucut lucu.


Membuat Kaisar terkekeh kecil.


"Kita coba saja. Kalau tidak bisa, aku akan membawamu ke keluargaku. Disana, kita akan tahu lebih jelas."


Mendengar itu, Airish mengangguk, lalu dengan cepat Kaisar menarik tengkuk Airish, melabuhkan ciumannya di bibir ranum itu.


Ciuman panas untuk memulai pagi yang dingin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai hai, aku balik lagi😍


Ditinggal dua hari ada yang kangen tidak?


Kalo kangen, sayang sama mereka yuk bantu like, komen, vote sebanyak-banyaknya🙏


Insyaallah hari ini aku kasih double up, doain lancar yah terimakasih 🤗🤗🤗