
Airish masih tertidur pulas di samping Kaisar. Menggunakan lengan lelaki itu sebagai bantalan.
Kesalahan terbesarnya semalam adalah memancing lelaki itu lebih dulu, hingga dia melupakan perutnya yang keroncongan, alhasil Kaisar yang membawa makanan itu ke dalam kamar.
Puas meneguk bulir asmara, lelaki itu dengan penuh sayang menyuapi istrinya. Dan yang mampu Airish lakukan hanyalah patuh, meski dia terus merutuk dalam hati.
Merutuki kebodohannya, mengaku kalau dia merindukan Kaisar.
Setelah percintaan itu terjadi, entah kenapa rasa malu itu langsung menyerang dirinya, hingga pipinya tak berhenti mengeluarkan semburat merah.
Kaisar melirik ke samping, dia membenahi rambut panjang Airish, agar tidak menghalangi wajah cantik gadis itu. Sekilas dia memberikan kecupan di pipi Airish, kecupan manis.
"Tubuhmu selalu memiliki daya tarik. Bahkan aku sampai tidak bisa berhenti melakukannya. Raut wajahmu juga selalu terlihat berbeda dari gadis lainnya, tampak lebih menggoda, apalagi saat kau tidak bisa berkutik di bawah kendaliku. Rasanya aku tidak pernah merasa seperti ini." Gumam Kaisar, masih setia memandangi Airish, dan terus memberi usapan lembut di pipi mulus itu.
Si empunya muka melenguh, saat dia merasakan sesuatu yang bergerak-gerak.
Pelan, dia membuka mata, dan saat itu juga dia langsung disuguhi wajah tampan Kaisar, wajah yang hanya dapat dinikmati oleh dia sendiri. Airish mengerjap beberapa kali, menyadarkan dirinya dari kebodohan ini.
"Tuan." Airish menarik dirinya, menjauh dari tubuh beraroma khas itu.
"Mau kemana?" Cegah Kaisar, menahan tangan Airish.
"Aku takut tanganmu pegal, biar aku tiduran di bantal saja," ucap Airish, dan jawaban itu membuat wajah Kaisar menjadi suram. Seketika cekalan itu terlepas begitu saja.
Lagi, gadis itu kembali serba salah dengan sikap suaminya. Karena Kaisar tidak pernah bicara yang sesungguhnya, lelaki satu ini selalu memiliki teka-teki, yang bahkan Airish tak bisa memecahkannya.
Kadang baik, kadang ketus, kadang tiba-tiba marah. Apa maksud itu semua?
Menghela nafas, Airish kembali meletakkan kepalanya di lengan Kaisar. Lelaki itu bergeming, tidak menolak ataupun merasa senang. Inilah yang Airish pertanyakan.
"Tuan, nanti malam ada perayaan ulang tahun kampusku, bolehkah aku datang?" Tanya Airish memecah keheningan antara dirinya dan Kaisar.
Sekilas, lelaki itu menoleh, menatap Airish dengan tatapan datar. Tatapan yang sulit di artikan.
"Tidak boleh yah?" Tebak Airish, lalu menggigit bibir bawahnya. Dia tahu, kini hidupnya bukan lagi tentang kebebasan.
Semuanya telah dibeli lelaki di sampingnya. Hingga semua yang ia lakukan harus berdasarkan lelaki tersebut.
"Pergilah," balas Kaisar singkat.
Mendengar izin suaminya itu, seketika senyum Airish mengembang, ia senang akhirnya bisa pergi ke acara tahunan, yang paling di nantikan oleh para mahasiswa itu.
"Terimakasih, Tuan," ucap Airish girang.
"Berterimakasih lah dengan benar." Kaisar melirik ke samping, yang dilirik langsung bergeming, masih mencerna ucapan suaminya.
Tanpa aba-aba, Kaisar menoleh, dan mengecup bibir ranum itu, membuat Airish lagi-lagi merasa beku, dengan debaran jantung yang tak menentu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gadis cantik dengan lesung pipi itu nampak sudah rapih, dia memakai dress hitam selutut, dengan bahu yang terbuka.
Rambut tergerai indah, ditata sedemikian rupa.
Tak lupa high heels, untuk menunjang penampilannya.
Ia tersenyum dari balik cermin yang ada di depan sana. Semuanya sudah nampak sempurna.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Airish merayap ke arah kampus, tempat pesta dilangsungkan, pasti di sana sudah sangat ramai, mengingat acara sebentar lagi akan dimulai.
Ia sudah menghubungi Kaisar lewat pesan, karena lelaki itu belum pulang semenjak dijemput oleh sang asisten, Joni.
Tak butuh waktu lama, mobil Airish sudah terparkir di halaman kampus, berjajar rapih dengan kendaraan milik teman-temannya.
Acara itu diadakan di aula, aula yang sudah disulap menjadi tempat pesta. Ada panggung dengan dekoran yang dibuat super mewah.
Lantai dansa, dan tak lupa tempat duduk para tamu ekslusif malam ini.
"Kak Ai." Panggil Denis langsung memeluk erat lengan Airish dengan antusias, seperti biasa.
Lelaki itu langsung terpesona, apalagi melihat dandanan Airish yang terlihat sangat sempurna.
Airish berubah jadi gugup, seolah seperti maling yang hampir saja tertangkap basah. Padahal ia sadar, di sana tidak mungkin ada Kaisar.
Pelan, Airish melepaskan pelukan Denis dari lengannya, lalu tersenyum kikuk. "Maaf ya, Denis." Ucapnya tak enakan.
Denis tersenyum tipis, melihat perlakuan Airish ia semakin yakin, ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu, tentang hubungannya dengan sang Kakak.
"Hehehe, aku yang harusnya minta maaf. Maaf ya buat Kak Ai tidak nyaman," balas Denis.
"Tidak apa-apa, ayo masuk. Aku sekalian cari Zoya." Ajak Airish, dan Denis langsung mengangguk, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam pesta.
Banyak lampu-lampu menggantung di atas sana, hidangan dari aneka macam makanan tersedia, asal kita mampu menampungnya, mau sebanyak apapun, tidak akan ada yang melarang.
Denis mengajak Airish untuk menikmati hidangan terlebih dahulu, sedangkan Zoya berlari tergopoh-gopoh, gadis itu baru saja selesai dengan urusan kamar mandi.
"Ya ampun, Zoy. Kemana aja sih kamu?" Tanya Airish pada sang sahabat.
"Gue abis dari kamar mandi, Ai. Sakit perut gue gegara makan pedes tadi siang." Timpal Zoya sambil sesekali membuang nafas, ia merasa sedikit lega.
Airish manggut-manggut, lalu terdengar suara MC yang sudah naik ke atas panggung, siap membuka acara pada malam hari ini.
Seketika riuh tepuk tangan memggema di dalam ruangan itu, semua orang nampak berantusias. Termasuk Airish, Zoya dan juga Denis.
"Kayaknya bakal seru banget deh," pekik Zoya girang. Dan Airish langsung mengangguk membenarkan.
Acara sambutan telah selesai, dilanjut dengan pemotongan kue, kue besar yang menjulang tinggi dengan pucuk yang diberi angka dua puluh.
Pesta berlangsung dengan meriah, alunan musik mulai beralun merdu. Beberapa orang menarik pasangan untuk turun ke lantai dansa. Bahkan karena acara tersebut, ada yang jadian secara dadakan.
"Kak Ai, ikut dansa yuk." Ajak Denis dengan mengulurkan tangannya, lelaki itu tersenyum manis, selalu tampil percaya diri dan apa adanya.
Airish melirik Zoya, yang dilirik langsung pamit ke kamar mandi, karena lagi-lagi ia merasa sakit perut menyerang dirinya.
Dengan setia Denis menunggu, hingga tangan Airish terulur, dan Denis langsung mendekap tubuh langsing itu.
Membawanya menari, dan menikmati alunan lagu cinta yang tengah diputar malam ini.
Sedangkan di ujung sana, orang-orang riuh dengan kedatangan pria tampan, pria tampan dengan sejuta pesona, yang baru pernah terlihat mengikuti acara.
Para pengawal berbaris rapih, tak sedikitpun memberi akses orang-orang, untuk berdekatan dengan Tuan mereka.
Sedangkan mata elang itu terus menelisik, mencari sosok gadis yang semakin merayap indah ke relung jiwa. Mengusik hidupnya.
Pandangan matanya tertuju pada dua orang yang ada di sana. Dua orang yang sedang asyik menggerakan tubuh mereka, mengikuti alunan musik pesta.
Tatapan itu menghunus, hingga saat salah satu dosen menyapa dan menawarinya minum, Kaisar langsung meremas gelas itu hingga hancur.
Krashh!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil nunggu up, aku mau saranin kalian buat baca karya kakakku nih, judulnya "Simfoni temaram takdir" karya tita dewahasta.
Bila berkenan mampir yah🌹
Lope kalian banyak-banyak❤️❤️❤️❤️
Salam bernganu 👑