
Melihat drama ini, Chris tersenyum senang. Dia hendak melesat, tetapi secepat kilat Kaisar menangkap tubuh Chris, dan kembali menyerang semakin buas.
Melampiaskan semua kekesalannya, Kaisar mencengkram kuat dada Chris, hendak menarik jantung lelaki itu dengan tangannya sendiri. Tetapi pekikan Kibrit menghentikan semuanya.
"Kai, hentikan!"
Seketika Kaisar bergeming.
"Nak, bukan waktunya untuk meladeni Chris. Kalau kau benar-benar mencintai gadis itu, cepat kejar dia, dia butuh penjelasan dan pengakuanmu. Biar Chris kami yang urus," Elena mencoba membujuk Kaisar yang tengah menahan gejolak di dadanya.
Jack yang masih ada di sana pun mengangguk membenarkan, meski dia tidak tahu jelas permasalahannya apa. "Benar, Kak. Walau bagaimanapun kau dan Chris adalah saudara. Kita bisa bicara baik-baik, sekarang kau kejar dia, kasihan Rose. Tadi dia ku suruh untuk mengikuti istrimu."
Bagi Kaisar membunuh itu mudah. Tetapi bila dipikir ulang, benar apa yang dikatakan oleh Elena dan juga Jack, sekarang bukanlah waktunya untuk meladeni Chris, yang terpenting adalah Airish, gadis yang dicintainya.
Cengkraman Kaisar melemah, dengan kasar dia melepaskan tubuh Chris hingga lelaki itu tergolek lemah di atas tanah.
Sedangkan di sisi lain Airish terus berlari membawa luka di hatinya, air matanya menderas tanpa berniat dia seka.
Biar saja luruh, membawa segala kesakitan yang tiba-tiba mengikatnya.
Pantas saja dia tidak pernah mengakuinya. Pantas saja dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Ternyata selama ini dia bersikap baik hanya karena dia butuh darahku. Tidak lebih. Batin Airish sambil terisak.
Di belakang sana, Rose diam-diam mengikuti Airish. Gadis itu melihat semuanya, melihat Airish yang begitu terpukul dan terluka.
Hingga sampai di sebuah pohon besar. Airish menghentikan laju kakinya, gadis itu menyadarkan tubuhnya, lalu meremat kuat dadanya yang terasa terhimpit oleh sesuatu.
Bak diiris sembilu, rasanya dia tak sanggup menerima kenyataan ini. Seolah cinta yang baru saja akan dia pupuk, tiba-tiba melayu oleh koyaknya kepercayaan.
"Kenapa kau lakukan semua ini, Tuan Kaisar. Kenapa?" Rancau Airish, kemudian dia menutup mulutnya dengan satu tangan, kedua bahunya berguncang hebat, dengan isak yang semakin kencang.
Dia terus seperti itu, hingga terdengar seseorang memanggil dirinya begitu mesra.Tetapi sumpah demi apapun, kini panggilan itu sangat dia benci, dia tidak mau mendengarnya lagi.
"Sweetie," panggil Kaisar, kini lelaki itu sudah berada di hadapan Airish. Hanya berjarak beberapa meter dari gadis itu.
Pelan, Airish mengangkat kepalanya, dia menatap Kaisar dengan tatapan kecewanya. Lagi-lagi dia tidak bisa menahan air yang menggenang di pelupuk matanya.
Airish kembali menangis, ludahnya terasa tercekak, lidahnya kelu dengan gelegak sesak yang menghimpit rongga udara dalam tubuhnya.
"Sweetie, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu. Aku minta maaf."
Airish bergeming, dia tidak tahan melihat Kaisar, sebenarnya dia ingin berlari dan lekas memeluk tubuh tegap itu. Tetapi ego lebih menguasai, dia tidak mau lagi dibodohi, ya dia bodoh, bodoh karena tidak menyadari kenapa bisa Kaisar menginginkan dirinya.
"Sweetie." Kaisar mendekat, hendak merengkuh tubuh Airish, tetapi ucapan gadis itu menghentikan niatannya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, menjijikkan!" hardik Airish, dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba untuk kuat melawan kenyataan pahit ini.
"Sweetie, apa yang kau bicarakan?" Kaisar merasa tidak terima, dadanya sesak melihat penolakan Airish secara terang-terangan.
Airish menatap tajam ke arah Kaisar. Dan lelaki itu bisa melihat seberapa dalam luka yang Airish rasakan.
"Kau tidak dengar? Aku tegaskan sekali lagi padamu, Tuan Kaisar. Aku tidak mau lagi mendengar sebutan itu, karena mulai hari ini aku bukan istrimu lagi, aku membencimu dengan seluruh hidupku. Aku membencimu," pekik Airish dengan sekuat tenaga.
Melepaskan beban yang bersarang di hatinya.
Kaisar menggeleng cepat, dia mencoba kembali meraih tangan Airish, tetapi lagi-lagi gadis itu menepisnya kasar.
"Bukankah kau akan membunuhku? Bukankah yang kau butuhkan hanya darahku? Lantas untuk apa kau mengatakan itu semua? Tidak ada gunanya. Karena hari ini semuanya sudah jelas, kau selalu menghindar dari pertanyaanku, karena kau ternyata tidak benar-benar tulus, kau penipu, Tuan Kaisar. Kau penipu."
"Sweetie."
"Apa? Apa yang ingin kau jelaskan, setelah kau membuatku jatuh cinta setengah mati, apa yang ingin kau lakukan lagi, APA TUAN KAISAR?"
"AIRISH, AKU MENCINTAIMU."
Deg!
"Aku mencintaimu, Sweetie," ulang Kaisar sungguh-sungguh. Dia benar-benar tidak bisa kehilangan Airish, untuk pertama kalinya, dirinya memohon pada seseorang untuk tidak meninggalkannya.
Lelaki yang terkenal bengis, kini tertunduk pasrah pada satu wanita, wanita yang dicintainya.
"Kau bohong," lirih Airish, sama halnya dengan Kaisar, Airish pun merasa bahwa cinta itu sudah merasuk ke dalam jiwanya.
Namun, tak dipungkiri, rasa percayanya pada lelaki itu mulai terkikis.
"Aku tidak berbohong. Awalnya aku memang memiliki tujuan, tetapi setelah kita melewati hari bersama. Entah sejak kapan rasa itu tumbuh begitu saja, aku belum merasakan ini sebelumnya, pada wanita manapun, selama lima ratus tahun aku hidup, aku bersumpah hanya kau, Sweetie," jelas Kaisar apa adanya.
"Kau pasti bohong, Tuan Kaisar. Kau hanya ingin menyenangkan hatiku."
Kaisar bergeming, dia mencoba berpikir dan mencari cara bagaimana meyakinkan Airish. Hingga terbesit dalam otaknya, sebuah cara untuk membuat Airish percaya lagi padanya.
"Kalau kau tidak percaya, tembak dadaku. Pakai pistol yang ku berikan, dan arahkan tepat ke jantungku, karena pada saat itu aku akan mati. Itu satu-satunya cara untuk membuktikan, bahwa aku benar-benar mencintaimu."
Kaisar mundur beberapa langkah, lalu merentangkan kedua tangannya, siap untuk menerima timah panas yang akan dilepaskan oleh wanita yang dicintainya.
"Lakukan, Sweetie. Jika kau memang tak percaya padaku."
Melihat itu, Airish berpikir sejenak, lalu dengan susah payah dia mengambil pistol dari balik jaketnya.
"Baik." tantang Airish, dia mengarahkan pistol itu tepat ke arah Kaisar. Dia mulai membidik dengan cermat, agar tepat mengenai sasaran.
Kaisar menarik nafasnya kasar, dan memejamkan matanya. Lelaki itu bergeming, hingga suara 'DOR'
Suara tembakan itu terdengar sangat nyaring. Rose yang ada di sana sampai terperanjat kaget.
Sedangkan Airish berlari ke arah Kaisar dan segera memeluk tubuh tegap lelaki itu setelah melesatkan pelurunya ke sembarang arah.
Kaisar merasa tak percaya, dia segera membuka matanya, tak mau kalah dia membalas pelukan Airish begitu erat. Hatinya membuncah bahagia, apalagi setelah Airish mengatakan. "Aku juga mencintaimu, Sayang. Aku mencintaimu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Percaya nggak? Othor nangis Bombay nulis part ini🤧🤧🤧
Yang sayang mereka, yuk bantu vote, like, and komen
Nah, selagi nunggu, bisa baca karya Dede yang lain yah, nih si Kakak pacar sama Dede gemeshnya.