My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Sesuatu



Tubuh yang terkulai di atas tanah itu langsung dikerubungi beberapa pengawal, semua wajah mereka tampak pias, bisa dipastikan bahwa mereka akan menerima hukuman mati, jika sampai terjadi sesuatu pada Airish.


Fenita kembali menangis, dia memeluk tubuh Airish. "Bangun, Ai. Kamu bilang kamu tidak apa-apa, tapi kenapa malah seperti ini?"


Dan tumbangnya Airish, tak membuat pertumpahan darah itu serta-merta selesai, mereka masih saling menembak satu sama lain. Mungkin sampai titik darah penghabisan.


Hingga tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sesuatu. Mata Airish terbuka begitu saja, tanpa berkedip. Memancarkan cahaya merah, dengan tubuh yang tiba-tiba melayang ke udara.


"Airish." Lirih Fenita dengan tatapan tak percaya. Wanita paruh baya itu tak sadarkan diri seketika.


Gadis itu mendengus marah, dengan taring yang tiba-tiba memanjang. Semua orang yang ada di sana menatap dengan mata yang memicing, tak terkecuali para pengawal Kaisar.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istri dari Tuan mereka tiba-tiba berubah seperti ini?


Rentetan senjata kembali terdengar, dari para badjingan yang mengejar Fenita, yang merupakan utusan Dewa, untuk kembali menyerang tubuh Airish.


Tetapi entah bagaimana mulanya, kini tubuh Airish meloncat kesana-kemari dan menyerang dengan bengis, mencabik-cabik tubuh lawan, dan tak segan menarik kepala mereka hingga putus, beberapa peluru berhasil dihindarinya.


Sedangkan sebagiannya lagi ditangkap dengan tangan kosong, bahkan ada yang menyangkut di gigi depannya.


Airish benar-benar terlihat berbeda.


Kesempatan itu tak disia-siakan oleh para pengawal Kaisar, mereka membalas menembaki orang-orang itu, hingga beberapa dari mereka berlari tunggang langgang. Dan sebagiannya lagi, mati di tempat.


Tak berapa lama kemudian, pertarungan pun usai.


Blagh!!!


Kaki Airish menapak kembali di bumi. Dia kembali seperti manusia biasa, dan pada saat itu juga, seperti seseorang yang akan dicabut nyawanya, Airish tiba-tiba memekik sambil mencengkram erat perutnya.


"Arggghh!!!"


Ada sesuatu yang bergejolak di dalam sana, melilit dan begitu menyakitkan, Airish meraung keras, tubuhnya gemetar dengan peluh yang menderas.


Semua orang bingung, mereka ingin mengangkat tubuh Airish untuk dibawa ke rumah sakit, tetapi gadis itu justru meronta-ronta, dia memanggil manggil nama Kaisar.


"Kaisar, aku ingin bertemu suamiku!!! Aargggghh!!!"


Airish terus meremas perutnya, hingga angin berhembus kencang, seperti menerbangkan keinginan Airish, Kaisar tiba-tiba datang dan berdiri di tengah-tengah mereka semua.


Tanpa ba bi bu, dengan wajah pias Kaisar langsung berlari ke arah Airish, dilihatnya sang istri yang begitu kesakitan dengan tangan yang terus meremaas-remas perutnya.


Dia langsung terbang dari luar kota, begitu pemancar sinyal yang ia sematkan di kalung Airish berkedip-kedip. Dan benar saja, Airish bahkan terluka.


"Sweetie, ada apa denganmu?" tanya Kaisar.


"Sayang, perutku sakit sekali." Raung Airish, dia langsung mencengkram erat tangan Kaisar. Hingga menyisakan rasa sakit. Tenaga Airish benar-benar sangat kuat.


Kaisar terlihat kebingungan, padahal dengan jelas tembakan itu berada di bahu kanan Airish, tetapi kenapa perut yang Airish keluhkan?


Urat dalam tubuh Airish semakin mencuat, sedangkan peluh keluar semakin banyak. Kaisar menelan ludahnya kasar, kemudian dia mengangkat tubuh Airish, sepertinya ini bukan hal biasa, dia harus membawa Airish ke rumah orang tuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wushhhh...


Blagh!!!


Kaisar sampai di tengah hutan, tepat di depan rumah kedua orang tuanya. Dengan langkah tergesa, lelaki tampan itu memasuki rumah tersebut, tampak jelas dalam raut wajahnya, Kaisar begitu mengkhawatirkan Airish.


"Mom, Dad, help me please!!!"


Kaisar membaringkan tubuh Airish di atas sofa, Airish terlihat kejang-kejang, jantungnya ikut merasakan sakit luar biasa, seperti diremat-remat. "Sayang, sakit!" rintih Airish, air matanya mengalir deras membasahi pipi mulusnya.


"Sweetie, ku mohon bertahan lah. Mom, Dad, help me!!!" teriak Kaisar.


Dan saat itu juga, Kibrit, Elena dan Rose tiba. Mereka langsung mengerubungi tubuh Airish yang terus meronta-ronta, entah sebab apa.


"Kai, ada apa?" tanya Elena dengan cemas. Melihat kedatangan mereka, Airish melirik ke arah ibu mertuanya itu, meminta pertolongan dengan sorot matanya.


"Mom, perut Airish sangat sakit," lirih Airish mengadu.


Kibrit menatap Kaisar, meminta penjelasan. Sementara Elena mendekat, ada sesuatu lain yang dia lihat dari Airish, tangan Elena menyentuh perut menantunya itu.


"Dad, Mom. Aku tidak tahu jelasnya dia kenapa, karena pada saat aku datang Airish sudah seperti ini." jelas Kaisar, dia benar-benar tak bisa memberi kejelasan apapun, dia sama bingungnya.


Elena kembali menatap Airish, nafas gadis itu tercekat, sedangkan tangannya senantiasa menggenggam tangan Kaisar.


"Airish, apa rasanya sangat sakit?" tanya Elena.


Dan Airish mengangguk cepat, dia tidak pernah merasakan sakit yang begitu luar biasa seperti ini, ini pertama kalinya.


Elena menyingkap baju Airish, dia meletakkan tangannya di atas perut gadis itu, dan memejamkan mata.


Elena bergeming beberapa saat untuk merasakan semuanya, hingga tiba-tiba netranya membulat sempurna. Elena terperangah dengan apa yang dilihatnya, bahkan ia merasakan amarah itu.


Tubuh Airish melemas begitu Elena menarik tangannya.


"Ada apa, Mom?" tanya Kaisar, dia begitu penasaran kenapa wajah ibunya terlihat begitu terkejut setelah memeriksa Airish.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" sambungnya, dia ingin cepat mendapat jawaban.


Elena menatap ke arah Airish dan Kaisar secara bergantian, dia menghela nafas. "Airish hamil anakmu, Kai." ucap Elena apa adanya.


"Hamil?"