My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Sepenggal kisah masa lalu (hukuman manis)



Setelah puas menunjukkan semua kehebatannya. Kaisar membawa Airish kembali ke dalam kamar, karena waktu bergulir semakin malam. Wajah gadis itu tampak lebih berseri, membuat sesuatu dalam tubuh Kaisar kembali berdesir.


"Kau benar-benar tidak takut padaku, Sweetie?" Tanya Kaisar, masih mendekap tubuh Airish dari belakang.


Kini, mereka berdiri di dekat jendela, jendela yang sengaja di buka, hingga angin segar yang ada di luar sana, berhembus kecil masuk ke dalam kamar mereka.


Sebelum menjawab, gadis itu memutar tubuhnya menghadap Kaisar. Dengan berani, dia tersenyum seraya mengalungkan tangannya di leher lelaki tersebut.


Airish menggeleng. "Aku ingin kau menceritakan kisah tentangmu, Tuan."


Kaisar mengulas senyum pula. Misi mempertahankan Airish nampaknya berhasil. Dia menggiring tubuh Airish naik ke atas ranjang.


Meluruskan tangan kirinya, dan membiarkan Airish meletakkan kepalanya di sana. Keduanya saling berhadapan, tatapan itu saling mengunci dengan debaran yang sama.


Kencang dan terasa membahagiakan.


"Kau ingin mendengar yang mana, Sweetie?" Tanya Kaisar, seraya menyelipkan anak rambut Airish ke belakang telinga.


Lalu meraih jemari lentik gadis itu, dia kecup berkali-kali, sampai Airish buka suara.


"Aku ingin serakah sekali saja, aku ingin mendengar semuanya, Tuan," balas Airish dengan rasa penasarannya yang sudah menggunung.


Entah kenapa dia yakin pada ucapan Kaisar, yakin bahwa lelaki itu tidak akan menyakitinya. Terlepas dia makhluk seperti apa, namun hatinya tak bisa bohong, seperti ada jeruji besi yang penuh dengan sihir, dia tidak bisa menembusnya sembarangan.


Cinta Kaisar mengikatnya kuat.


Dia juga menginginkan Kaisar. Apalagi lelaki inilah yang mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Sebuah kehormatan.


Mendengar itu, lagi-lagi Kaisar tersenyum, rasanya pun tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi. Kaisar menarik tubuh ramping itu, hingga tubuh mereka semakin dekat dan berhimpitan.


Ingatan Kaisar kembali pada ratusan tahun lalu. Namun baginya, terasa masih baru kemarin, karena kejadian penuh luka itu, benar-benar tidak pernah bisa dia hapuskan dari ingatannya.


"Aku bukan vampir biasa, Sweetie. Aku adalah vampir keturunan bangsawan dari sebuah kerajaan. Dulu, sebelum aku menjadi makhluk seperti ini, aku adalah putra mahkota yang memiliki indera ke-enam. Sampai akhirnya terjadi pembantaian oleh pengkhianatan Pamanku. Aku lari dari istana bersama beberapa pengawal, mereka melindungiku dengan nyawa, namun sayang, para pengkhianat itu berhasil membabat habis seluruh pengawal yang menjagaku, aku terus berlari tanpa arah tujuan, sedangkan batinku diselimuti ketakutan, sampai akhirnya aku tiba di sebuah rumah tua, dan aku bertemu Kibrit di sana, dia Daddyku," jelas Kaisar apa adanya.


Dia masih ingat betul saat kakinya penuh luka, karena menyusuri hutan dengan kaki telanjang. Dan Kibrit serta Elena lah yang menolongnya.


"Daddymu? Apa dia juga seorang vampir?"


Kaisar mengangguk. "Dari pertama kali aku melihatnya, aku langsung bisa menebak siapa dia. Dan aku memintanya untuk menjadikanku vampir seperti dirinya. Karena aku ingin membalas dendam, aku tidak sudi istana di pimpin oleh para badjingan itu."


"Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu, Tuan? Apa mereka selamat?" Airish semakin bertambah penasaran.


Pertanyaan Airish membuat Kaisar membeku, dia langsung teringat dengan kedua orang tuanya yang mati dengan begitu mengenaskan.


Seperti seekor hewan, dengan keji sang Paman memenggal kepala ayah dan ibunya, bahkan anggota tubuh mereka tidak lagi lengkap.


Dan dari situlah, lahir kebengisan dan kekejamannya. Dia tidak lagi segan untuk menghukum orang dengan tangannya sendiri, julukan raja neraka memang benar-benar patut ia dapatkan.


Bahkan sang Paman mati di tangannya, dia menarik sendiri satu persatu anggota tubuh itu. Saat itu, dia tidak peduli jeritan pilu lelaki yang hampir masuk usia paruh itu, yang ia tahu, dia adalah pembunuh kedua orang tuanya.


"Mereka semua mati," lirih Kaisar. Entah sudah berapa lama dia memendam ini, akhirnya ada seseorang yang mau mendengarkannya.


Tidak sekalipun, Kaisar menunjukkan sisi lemahnya di depan keluarga. Dia selalu tampil kuat, bak singa yang menjadi raja hutan. Gagah, dan pantang dikalahkan.


Airish mengulurkan tangannya, mengusap punggung kekar suaminya. Dan tak segan lagi untuk memeluk hangat lelaki itu.


"Kau pasti melalui hari-hari berat yah." Sedikit demi sedikit, Airish bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Kaisar. Terlalu sulit, rumit bahkan menyedihkan.


Bahkan rasanya lebih berat dari kehidupannya.


Pelan, dia mengecup puncak kepala Airish dalam, hingga gadis itu menengadah, dan tatapan mereka kembali bertemu.


"Lalu bagaimana bisa kau mengenal manusia?"


Mendengar pertanyaan itu, Kaisar bergeming sesaat. Tidak mungkinkan, dia memberitahu Airish, bahwa dia sengaja mendekati manusia untuk menjalankan misi, mencari darah suci?


"Tuan?" Panggil Airish, melihat Kaisar yang hanya bergeming, dengan kemelut pikirannya.


Kaisar menoleh, sambil mengusap surai hitam Airish, dia mulai bercerita. Tentunya dibubuhi sedikit kebohongan.


"Aku tidak sengaja bertemu Tuan besar waktu itu, aku sedang mencari darah segar dari hewan-hewan di hutan. Aku terlalu bersemangat hingga menyusuri hutan yang sering disinggahi manusia. Saat itu Tuan besar sedang berburu dengan para pengawalnya, dan mereka menemukan aku. Dan seperti sebuah reinkarnasi, keluarga manusiaku juga dibantai oleh sekelompok orang. Tapi aku masih beruntung, karena aku bisa menyelamatkan Denis dan Sofia, mereka adik yang aku jaga dengan segenap nyawa."


Mendengar itu, Airish semakin dibuat kagum. Ternyata, ada sebuah penyebab mengapa dia bertindak kasar, dan tidak memberi ampun pada musuh-musuhnya.


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Tapi sekuat tenaga dia tidak ingin menangis, seolah ingin memberi Kaisar kekuatan, dia terus mengeratkan pelukannya.


"Tapi pada saat itu, ibu Oh bilang kau masih kecil?" Airish mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Itulah perbedaanku dengan vampir lain, Sweetie. Daddy merancangku dengan sangat baik, dia memberikan ramuan yang benar-benar membuatku merasa hebat. Aku bisa mengubah diriku sesuai dengan usiaku hidup di tengah-tengah manusia, dan aku juga bisa memakan makanan mereka, tapi tidak banyak, karena jantungku bisa beku."


Mulut Airish mulai menganga. Dia tidak menyangka, akan bertemu bahkan menikah dengan seorang vampir seperti Kaisar.


"Lalu berapa umurmu sekarang?"


"Eum... lima ratus tahun,"


Lagi, mulut Airish semakin menganga lebar, dia mengedip beberapa kali, dia tidak salah dengar? Kaisar berumur lima ratus tahun, dan masih setampan ini?


Gadis itu benar-benar merasa tengah berada di negeri dongeng. Dimana, dia menjadi Tuan putri yang dicintai oleh si buruk rupa, yang ternyata seorang pangeran yang sangat tampan.


Ya, aku menunggu selama ini untuk darah suci.


"Itu artinya, aku menikah dengan Kakek tua?" Cetus Airish dengan bola mata yang berbinar lucu, Kaisar terkekeh mendengar pertanyaan Airish.


Dia mengusak gemas hidung gadis itu, dan berlabuh mencium bibirnya. "Kau benar, akulah Kakek yang tampan."


Airish mencebik, lalu memukul keras dada Kaisar. "Percaya diri sekali."


"Kau sudah berani kepadaku sekarang? Kau ingin dihukum?"


Mendengar kata hukum, Airish langsung menjauh dari tubuh Kaisar, tetapi secepat kilat, Kaisar sudah menarik Airish, hingga gadis itu naik ke atas tubuhnya.


Mata Airish membulat, sedangkan tubuhnya tidak bisa bergerak, karena Kaisar menguncinya, Airish semakin mencebik, dan hal itu membuat Kaisar semakin gemas.


"Aku akan menghukummu, Sweetie." Ucap Kaisar sebelum bermain di bibir ranum itu, tak sempat protes, Kaisar benar-benar mulai menghukum Airish, dengan hukumannya yang manis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo bacanya dihayati yah, biar paham. Kalo nggak paham juga nanti tak kasih anu😂😂😂😂


Kasih aku semangat dengan komen-komen gokil kalian😍😍😍


Salam anu👑