My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
DOR!



Kaisar membaringkan tubuh Airish di atas ranjang dengan hati-hati. Tidak ada siapapun selain mereka. Karena Kaisar sudah meminta Joni untuk pergi.


"Tuan..." Gumam Airish, dengan mata yang masih setia terpejam. Bibirnya tampak semakin memucat.


Kaisar mengambil gelas diatas nakas, berniat memberikannya pada Airish. "Sweetie, minumlah." Ucap Kaisar.


Namun, yang terdengar dari bibir mungil itu hanyalah sebuah rintihan. "Dingin, Tuan." Airish mengepalkan tangan, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.


Mendengar itu, Kaisar mengecek suhu tubuh Airish. Dia langsung tersentak, karena kening Airish terasa sangat panas.


Dia benar-benar sakit.


Dengan tergesa Kaisar membuka kancing kemejanya, merasa tak sabar, ia langsung menariknya begitu saja, hingga bulatan kecil itu berjatuhan di atas lantai.


Lelaki itu membaringkan tubuhnya di samping Airish. Dan melakukan hal yang sama terhadap gadis itu, ia membuka pakaian bagian atas Airish, hingga menyisakan penutup di kedua bulatan indahnya saja.


Ini hal yang ia tahu, ketika seseorang mengatasi demam.


"Bertahanlah, Sweetie."


Lantas, detik selanjutnya. Kaisar merengkuh pinggang ramping itu, masuk ke dalam dekapannya. Panas dalam tubuh Airish seketika menjalar, tetapi ia yakin, dengan Airish memeluk tubuhnya yang dingin, suhu tubuh gadis itu akan kembali seperti semula.


Skin to skin.


*********


Satu jam kemudian.


Pelan, gadis itu mulai membuka kelopak matanya. Dan hal yang pertama kali dia lihat adalah dada bidang Kaisar yang terbuka.


Airish berkedip beberapa kali. Menyadari Kaisar bertelanjang dada, pun dengan dirinya, membuat pipi Airish seketika merona.


Suhu tubuhnya berangsur normal. Namun, ada apa dengan posisi ini. Kenapa dia memeluk Kaisar? Bahkan sangat erat.


Saat itu juga ingatannya kembali. Ia jatuh pingsan, lantas apa Kaisar yang membawanya kemari?


Dan pertanyaan-pertanyaan itu berhenti, saat ia merasa dagunya terangkat. Airish menengadah. Kedua netra itu bersitatap, terkunci cukup lama, hingga Kaisar yang lebih dulu memulai semuanya.


'Ugh'


"Kau sudah lebih baik?" Tanya Kaisar seraya menarik selimut untuk menutup bahu polos Airish.


Gadis itu mengangguk pelan. Ia memang sudah merasa lebih baik sekarang.


"Apa masih ada sesuatu yang kau rasakan?" Tangan besar itu mengusap-usap surai hitam milik Airish, menariknya pelan lalu menciuminya.


"Aku sudah tidak apa-apa, Tuan. Terimakasih sudah merawatku." Balas Airish, melihat Kaisar yang seperti ini, membuat hatinya merasa tak aman.


Benarkah ada sebuah ketulusan dalam hubungan ini? Tidak, Airish masih belum mempercayai itu. Ia selalu berpikir sewaktu-waktu Kaisar bisa mencampakkan dirinya.


Bukan sekarang, tapi nanti. Dan pada saat itu terjadi, dia tidak mau berkubang dalam rasa kekecewaan yang mendalam, karena terlanjur mencintai lelaki yang ada di hadapannya ini.


Rasa itu tidak boleh tumbuh. Bagaimana pun caranya, ia tidak boleh ada. Jika memang Airish tidak mau kecewa pada akhirnya.


"Ada nominal yang harus kau bayar, Sweetie. Semuanya tidak gratis." Ucapan Kaisar membuat bibir itu langsung mencebik.


Cih, tebakanku benarkan?


"Apa itu, Tuan? Aku harus melakukan apa untukmu?" Airish dengan binar mata polosnya bertanya.


Kaisar mencondongkan tubuhnya, untuk berbisik. "Menurutlah jangan pernah membantah."


Lelaki itu bangkit, lantas membuang selimut yang menutup tubuh Airish ke atas lantai. Gadis itu langsung terkesiap, dengan bola mata melebar.


Kaisar sudah mengungkung tubuhnya, mengunci hingga ia tidak bisa lari kemana-mana.


Apa yang akan dia lakukan? Bahkan aku baru saja pulih.


Kaisar tahu arti tatapan mata Airish. Gadis itu pasti tengah berpikir yang macam-macam. Lelaki itu mengusap pipi Airish dengan lembut, hingga gadis itu bergerak kegelian.


"Berbaliklah, aku akan memijatmu."


Eh!


Dia mau memijatku?


"Tidak perlu. Kau tidak perlu memijatku, Tuan." Tolak Airish. Ia sudah paham, kalau ia menyetujui ide itu, pasti akan semakin banyak pula Kaisar meminta bayaran.


Ini sama sekali tidak gratis, ada harga yang harus ia berikan kepada lelaki itu.


Kaisar menekan tubuhnya, menindih Airish. "Masih tidak menurut? Mau aku melakukan yang lain?"


Cih, aku selalu serba salah jika bersamanya. Menolakpun rasanya percuma.


Lelaki itu memberikan ruang untuk Airish, agar gadis itu dapat bergerak. Dengan patuh, Airish membalikkan tubuhnya. Dan detik selanjutnya, Airish benar-benar merasakan tangan besar Kaisar memijat kakinya.


Hah, kenapa dia melakukan ini? Apa sebenarnya yang dia mau? Gadis itu merasa pusing sendiri dengan sikap Kaisar kepadanya. Kadang terlihat baik, kadang pemaksa. Bahkan tak jarang, lelaki itu mengancam menggunakan keluarganya.


Airish begitu menikmati pergerakan tangan itu di atas tubuhnya. Hingga tak terasa, tangan itu tiba-tiba sudah berlarian di atas pantatnya.


"Tuan..."


"Ada apa?"


"Yang itu tidak perlu." Protes Airish.


"Tapi bagiku perlu, Sweetie. Ini sejenis pengembangan."


Cih, pengembang? Memangnya pantatku itu roti apa? Tapi yasudahlah, terserah dia saja.


Hingga sesi pijat-memijat itu habis. Tubuh Airish benar-benar merasa lebih baik sekarang. Ia seperti mendapat kekuatannya kembali, Airish terduduk, menggerak-gerakkan anggota tubuhnya hingga berbunyi 'krek.


Sedangkan Kaisar terlihat melucuti pakaiannya. Berniat untuk membersihkan tubuhnya. Namun, sebelum masuk ke dalam kamar mandi, dia menarik lengan Airish. "Sekarang gantian ya, pijat aku di dalam sana."


Eh!


*******


Sore hari, Kaisar mengajak Airish keluar dari kamar. Gadis itu berjalan sambil menunduk, merasa malu sendiri dengan kejadian yang baru saja ia alami.


Apa? Memijat apanya? Jelas-jelas dia? Mengibas-ngibas tangan, tidak terima.


"Hei, kenapa jalanmu lamban sekali? Apa perlu aku gendong?" Cetus Kaisar setelah berbalik, melihat Airish yang tertinggal jauh di belakang.


Tujuan mereka saat ini adalah tempat khusus latihan menembak.


Airish mengangkat kepalanya. Melihat Kaisar sudah melayangkan tatapan tajam, ia segera bergegas, berjalan cepat hingga tepat berada di samping lelaki itu.


Kaisar menautkan jari jemari mereka, lalu kembali melangkah. Di depan sana, para pengawal tengah beristirahat, ada Harith dan juga Leela.


Sedangkan Joni langsung berlari ke arah Kaisar, begitu melihat Tuannya sudah keluar dari dalam kamar, sejak siang.


"Tuan, kita mau apa kesini?" Tanya Airish, saat mereka sudah sampai di sebuah ruangan, yang memiliki banyak sekali koleksi pistol-pistol berjajar.


Dari mulai yang panjang, hingga yang terpendek. Sepertinya ada semua disana.


"Pilihlah satu." Ucap Kaisar, tak menanggapi pertanyaan Airish.


Kali ini, ia sendiri yang akan mengajari gadis itu cara menembak yang benar.


Airish nampak ragu, ia semakin dibuat bingung dengan ini semua. Namun, sekalipun bertanya, ia yakin, Kaisar tidak akan pernah menjawabnya.


"Cepat pilih! Kau mau menembak atau ku tembak?" Cetus Kaisar tak sabaran. Melihat Airish hanya bergeming, mematung di tempatnya.


Cih, aku kan memang sudah ditembak olehmu beberapa kali. Ishh, Airish apa yang kau pikirkan, bukan menembak itu! Bergumam sendiri, protes sendiri.


Akhirnya, Airish memilih satu diantara pistol-pistol itu. Pistol yang terasa nyaman saat dalam genggaman, tidak terlalu kecil, tidak pula terlalu besar.


Tak membuang-buang waktu, Kaisar menarik lengan Airish, hingga berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas, khusus untuk latihan tembak-menembak.


Lelaki itu memperlihatkan terlebih dahulu, memberi contoh disertai sedikit penjelasan. "Jangan sampai terkejut dengan bunyinya, atau pelurumu akan melesat, dan tidak tepat sasaran." Kaisar membidik dengan satu mata menyipit dan siap menarik pelatuknya.


Lalu... Dor! Crank!


Tepat, peluru yang Kaisar tembakan memecahkan botol kaca yang ada di depan sana.


Airish terperangah dengan kemampuan Kaisar. Kenapa begitu tepat sasaran? Pantas saja dia mengancam akan menghabisi keluargaku, ternyata dia mempunyai kemampuan ini? Apa, apa dia juga jago bela diri?


Kaisar memposisikan tubuhnya di belakang Airish, ia mengangkat tangan itu, mengarah ke depan sana. Sebuah apel, ya Airish harus menembak itu.


"Rileks, dan tarik pelatuknya." Ucap Kaisar memberi titah.


Namun, bukannya tenang, Airish justru bertambah gugup, tangannya gemetaran, seolah tidak sanggup.


"Sweetie, tenanglah." Kaisar menciumi leher itu beberapa kali, lalu menggenggam kedua tangan Airish siap untuk menembak bersama.


Kaisar mulai menghitung, sedangkan Airish memejamkan matanya, hingga di hitungan ketiga...


Dan...


DOR!