
Setelah Martin dipindahkan ke ruang perawatan, Airish duduk di samping lelaki paruh baya itu, dia terus menggenggam erat tangan Martin dan menempelkannya di pipi.
Sedangkan Kaisar berdiri, dan dengan setia mengelus puncak kepala Airish.
"Sweetie, bagaimana kalau kau makan dulu," bujuk Kaisar, karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
Selain Airish belum makan, Kaisar juga ingin mengalihkan pikiran gadis itu. Dia tidak mau Airish terus terpuruk, dan akhirnya jatuh sakit.
Airish bergeming, tidak memberi respon apapun. Untuk pertama kalinya, dia tidak mendengarkan ucapan Kaisar, dia mengabaikan suaminya itu.
Joni yang duduk di sofa yang ada di ruangan itu, hanya mampu diam dan memperhatikan interaksi keduanya. Dia tidak bisa memberi saran apapun, apalagi tentang membujuk seorang wanita, hah rasanya lebih baik dia mundur saja.
Dia bukan ahlinya.
"Sweetie, ayolah, sedikit saja." Kaisar tidak menyerah.
"Aku tidak lapar," balas Airish lemah. Di terus menatap sekujur tubuh sang ayah yang tidak berdaya, banyak alat-alat medis yang menancap di sana, untuk menyokong kehidupan lelaki paruh baya itu.
Pelan, Kaisar meraih dagu Airish, lalu membawa wajah itu agar menatapnya. Sukses, pandangan mereka bertemu.
"Sweetie, lapar atau tidak, kau harus tetap makan, karena selain aku takut kau sakit, kau juga tidak akan bisa menjaga ayahmu dengan baik," ucap Kaisar dengan sorot mata penuh kelembutan. Dan terdengar begitu tulus, dia benar-benar tidak bisa melihat Airish yang seperti ini.
Dan bias kelembutan itu sampai ke relung hati Airish. Bagai tersihir, gadis itu mengulum senyum kecil.
Lagi-lagi dia merasa beruntung memiliki Kaisar, orang yang setia menemaninya, di saat dia benar-benar membutuhkan pundak untuk bersandar.
"Kau benar, aku harus makan agar aku sehat, dan bisa menjaga ayah." Akhirnya Airish menekan egonya, dia mengecup sekilas tangan keriput Martin, lalu melepaskannya.
Airish bangkit, dan Kaisar langsung meraih tangan gadis itu.
"Joni sudah membelikanmu banyak makanan, jadi kau harus menghabiskannya." Kaisar mengajak istrinya untuk duduk di sofa, tempat dimana Joni berada.
Menyadari itu, Joni buru-buru berdiri, lalu mengambil posisi di sudut ruangan.
Kaisar mengambil bungkus makanan yang Joni letakan di atas meja. Dia sama sekali tak mengizinkan Airish untuk menyentuh makanan itu.
Kaisar mengangkat sendok, lalu menyuapi Airish dengan senang hati. Lelaki tampan itu mengulum senyum, saat Airish tidak menolak ataupun memprotes apa yang dia lakukan.
Rasanya gadis ini sudah melangkah semakin jauh ke dasar hatiku.
Hingga makanan itu tandas, Kaisar mengusap sudut bibir Airish menggunakan ibu jarinya. Lalu menyerahkan satu gelas air putih. Dengan cepat Airish meraihnya.
"Habis ini, segera hubungi Kakak dan ibumu. Kau perlu berjaga bergantian dengan mereka." Ucap Kaisar seraya membereskan sisa-sisa makanan yang ada di meja.
Lihat, demi seorang gadis bernama Airish, untuk seumur hidupnya, dia melayani seseorang.
Dia bukan lagi raja di depan gadis itu, melainkan seorang budak yang dengan suka rela memberikan jiwa dan raganya.
Mendengar itu, Airish bergeming, dadanya kembali bergemuruh, dia menggenggam erat gelas ditangannya, seolah ingin menghancurkannya.
Mengingat Jane dan Fenita membuat matanya kembali berkaca-kaca, dengan amarah yang memuncak, hingga ke ubun-ubun.
"Hei, ada apa?" Tanya Kaisar seraya mengambil gelas itu dari tangan Airish.
Kaisar menggeser tempat duduknya, agar lebih dekat dengan Airish. Dia memegang kedua bahu Airish, dan air muka gadis itu sama sekali tak berubah. Masih memerah menahan marah.
"Mereka sudah tidak peduli pada Ayah." Lirih Airish dengan sorot mata menajam.
Bahkan Martin hampir saja mati, akibat kelakuan saudara tirinya itu. Dan di saat ia meminta pertolongan, Jane dan Fenita justru pergi, dan memilih tidak peduli.
Kali ini, aku benar-benar tidak bisa bertoleransi.
"Apa maksud perkataanmu, Sweetie?" Tanya Kaisar dengan menyelidik. Dia mencoba mengarungi pikiran Airish.
Dan Airish mulai menceritakan semuanya. Tentang kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu, dari mulai Jane yang menanyakan tentang Roger, sampai kejadian yang hampir saja merenggut nyawa Martin.
Semua Airish ceritakan secara rinci tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Dia benar-benar sudah muak dengan Jane.
Mendengar itu semua, seketika tangan Kaisar mengepal kuat, gigi gerahamnya saling beradu hingga rahang itu mengeras.
"Kalau begitu, jangan tahan aku lagi." Ucap Kaisar dengan menggebu dan nafas yang memburu.
"Aku akan memberi mereka pelajaran yang setimpal," sambungnya.
Namun, bukannya setuju Airish malah memeluk erat lengan Kaisar, dia menggeleng dengan lelehan air mata yang mengalir deras.
Bukan, bukan berarti dia lemah, dia hanya ingin mengatakan bahwa air mata ini adalah air mata terakhirnya. "Tidak perlu, karena aku sendiri yang melakukannya."
Mendengar itu, Kaisar justru terperangah. "Sweetie, apa kau bercanda?"
Sekali lagi, Airish menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bercanda, selama ini aku memang terlalu lemah di hadapannya. Dia bahkan tidak bisa disebut sebagai manusia, dia lebih kejam darimu, Tuan. Kau hanya menghukum orang yang bersalah, tapi dia, dia bahkan ingin membunuh ayahnya sendiri, kesalahan ini benar-benar tidak bisa aku maafkan. Aku akan membalasnya, aku ingin membuatnya sadar, bahwa apa yang dia lakukan itu salah besar," jelas Airish panjang lebar.
Dan tiba-tiba Kaisar mengangkat satu sudut bibirnya. Dia suka Airish yang seperti ini, dan dia akan mendukung penuh keinginan istrinya itu.
"Aku akan mendukungmu, Sweetie. Ingat, balasan setimpal bagi orang yang berbuat salah, bukanlah kematian, tapi hukum dia secara perlahan dengan penyesalan. Hingga dia lelah sendiri untuk menjalani hidup ini. Dan jangan gunakan hati, tapi pakai logikamu, hati hanya akan membuatmu lemah," ucap Kaisar.
Dan Airish mengangguk.
"Ini baru wanitaku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di bumi belahan lain.
Jane dan Fenita baru saja masuk ke dalam sebuah kafe. Mereka kabur dari rumah, dengan membawa barang-barang berharga, semua surat penting telah mereka kantongi.
Rencananya, hari ini mereka akan menjual rumah yang mereka tempati. Dan disinilah mereka akan bertemu sang pembeli.
Merasa langkahnya direstui, begitu Jane membuka harga, rumah yang cukup besar itu, langsung dipinang oleh seseorang.
"Ibu tenang saja, setelah ini kita pindah ke luar kota dan hidup bahagia." Ucap Jane meyakinkan Fenita.
Sudah lama dia menunggu hari ini datang, dimana Martin sekarat dan dia bisa mengambil seluruh harta warisan, tanpa adanya pembagian dengan Airish.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Fenita hanya mengangguk, patuh pada sang anak.
Hingga tak berapa lama kemudian, datanglah sosok lelaki dengan tubuh tegap, dan aura yang menyeramkan.
Dia melangkah dengan arogan, sedangkan di belakangnya ada dua pengawal berbadan besar.
Dan tanpa permisi, salah satu pengawal itu menarik kursi di depan Jane, hingga sang Tuan bisa duduk di sana.
"Tuan, maaf. Apa anda orang yang akan membeli rumah saya?" Tanya Jane dengan matanya yang menelisik penampilan lelaki di depannya.
Cocok, terlihat seperti orang berada.
Dengan mengangkat satu sudut bibirnya, lelaki itu mengangguk, lalu mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, aku Dewa Aaron."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kasih bonus foto Tuan Kaisar.
Jangan lupa mampir juga ke karya Kakakku 😍