
"Siapa kau?"
Airish menunjuk Kaisar dengan jari telunjuknya yang bergetar. Matanya bergerak menelisik tubuh tegap yang kerap membuatnya terbuai itu, di melirik ke arah cermin dan Kaisar secara bergantian, dan lelaki itu hanya menatapnya penuh tanya.
Ingatan Airish seketika berputar-putar. Bagai kaset yang tengah disetel ulang, kejadian-kejadian aneh itu memenuhi kepalanya.
Hingga membuat otaknya serasa ingin meledak.
"Jawab aku, siapa kau sebenarnya?" Pekik Airish dengan air mata yang sudah tumpah. Dia terisak-isak, dan meremas kuat kepalan tangannya.
Sumpah demi apapun, dia benar-benar tak habis pikir dan merasa kacau melihat kenyataan ini, berharap dia bermimpi, namun nyatanya, dia masih bisa merasakan sakit, saat dia menggigit bibirnya sendiri.
"Sweetie, apa yang kau bicarakan?" Kaisar buka suara, lalu mencoba meraih tangan Airish.
Namun, dengan cepat gadis itu menepis kasar tangan Kaisar, lalu kembali menatap tajam. "Harusnya aku yang bertanya, drama apa yang sedang kau mainkan, Tuan Kaisar? Jawab aku, siapa kau sebenarnya?"
Pelan, Kaisar melangkah mendekati tubuh Airish, tetapi saat itu juga Airish mundur, hingga membentur meja rias. Tubuhnya terkunci, dan beringsut takut.
"Airish jangan membuatku marah." Suara Kaisar sedikit meninggi, dia belum menyadari kenapa Airish bertingkah seperti itu padanya.
Yang dia tahu, Airish menolak sentuhannya.
Tangis Airish kembali pecah, dadanya sudah naik turun. Dengan bahu yang berguncang hebat. "Lihatlah ke arah cermin!" Pinta Airish, dan Kaisar menurut, matanya menatap lurus ke depan. Dan saat itu juga, dia menyadari bahwa bayangannya tidak ada di sana.
Kaisar kembali menatap Airish, dan pandangan mereka bertemu.
Sial! Sepertinya di luar sedang ada bulan purnama.
Karena setiap bulan purnama tiba, bayangan tubuh Kaisar tidak akan bisa dilihat oleh manusia.
"Katakan! Siapa kau sebenarnya!" Teriak Airish dengan terisak kencang. Dia benar-benar merasa dibodohi, bahkan di saat hatinya mulai terbuka untuk lelaki satu ini.
Bolehkah dia kecewa sekarang? Bolehkah dia marah pada Kaisar?
Kaisar meneguk ludahnya kasar. Lalu kembali menggapai tangan Airish, dan lagi-lagi gadis itu menolak keras, sebelum Kaisar menjelaskan semuanya, dia tidak mau disentuh lelaki itu.
"Sweetie, aku akan memberitahumu, tapi berjanjilah untuk tetap tinggal di sisiku."
Mata Airish membulat sempurna, sedangkan lelehan air matanya terus membasahi pipi mulus itu, semakin turun hingga ke dagu.
"Apa kau bilang? Kau sudah menipuku, dan kau ingin aku tetap tinggal di sisimu. Tidak akan!" Airish mendorong dada Kaisar kuat, tetapi tubuh lelaki itu tetap berada di posisinya.
"Airish!" Tegur Kaisar.
"Apa? Alasan apa sampai kau menginginkanku untuk bertahan? Apa yang kau cari dariku Tuan Kaisar?" Airish menengadah, dengan uraian air mata.
"Apapun itu, aku tidak akan melepaskanmu," ucap Kaisar penuh penekanan.
"Terserah, aku akan tetap pergi."
"Kalau begitu, kau akan menyaksikan sendiri kematian keluargamu."
Deg!
"Lagi-lagi kau mengancamku? Kenapa kau tidak bunuh aku saja? Kenapa kau selalu menggunakan mereka sebagai kelemahanku. Kau benar-benar badjingan Tuan Kaisar, terlepas siapapun Kau. Aku membencimu." Pekik Airish seraya memukul-mukul dada suaminya.
Nafasnya terengah, dengan buncahan kekecewaan yang mendalam.
"Airish, kau dengar baik-baik. Itu semua karena aku tidak ingin kau pergi dariku."
Biar saja, Kaisar menjilat ludahnya sendiri. Karena kenyataannya, terlepas tentang darah suci, dia tidak rela kalau Airish meninggalkannya.
"Tapi kenapa? Berikan aku alasannya, kenapa kau selalu membuat teka-teki Tuan Kaisar, bahkan aku tidak pernah bisa memecahkannya. Kau terlalu sulit untuk aku tebak." Cerca Airish, tangannya terkepal, dia berhenti memukuli Kaisar.
"Karena aku tidak bisa melihat kau bersama orang lain, aku tidak bisa melihat tubuhmu disentuh oleh pria manapun, kecuali aku. Itukan yang ingin kau dengar dariku?"
Bukannya senang, Airish malah semakin sakit mendengarnya. Seolah rasa ini hanya sepihak, dan Airish yang begitu menginginkan pernikahan ini sempurna.
Dengan gerakan cepat dia mengelap pinggiran matanya, sekali lagi, dia mendorong kuat tubuh Kaisar. Berhasil, dengan cepat dia melangkah untuk pergi meninggalkan lelaki itu.
Namun, belum ada beberapa langkah, tubuh itu sudah ditarik secara paksa, Kaisar memeluk erat tubuh Airish.
Meski gadis itu terus memberontak, Kaisar tidak peduli sama sekali, yang terpenting sekarang adalah Airish tidak pergi.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu, Sweetie. Terlepas siapapun aku, aku tidak akan menyakitimu, aku justru akan menjagamu."
Airish diam membisu. Tubuhnya membatu dengan tangis yang terdengar tersedu-sedu, menyiksa dada Kaisar. Sekeras apapun otak warasnya menolak, namun nyatanya hati itu tetap luluh untuk lelaki satu ini.
Hingga cukup lama keheningan itu tercipta, akhirnya Airish buka suara. "Kalau begitu, beritahu aku, beritahu aku siapa kau sebenarnya. Aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi lagi."
Pelan, Kaisar mengangguk. Sama halnya dengan Airish, dia pun merasa aneh dengan sikapnya ini. Entah kenapa dia tidak suka mendengar Airish membencinya.
Dia ingin Airish terus berada di sampingnya.
"Kau sudah berjanji untuk tidak lari dariku, ikut aku, dan jangan takut," ucap Kaisar.
Pelan, Airish mengangguk. Entah benar atau tidak keputusannya ini. Yang terpenting adalah, keluarganya selamat. Ayah yang telah merawatnya bisa tetap hidup, meski dia harus terus terjerat dengan cinta seorang Kaisar.
Dan blash!
Tubuh keduanya menghilang. Hingga tepat di sebuah hutan di pulau tersebut, kaki mereka kembali menapak di tanah. Di bawah pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Sinar bulan purnama nampak terang benderang. Aroma darah suci dari tubuh Airish menguar. Membuat Kaisar benar-benar tidak bisa melepaskan gadis itu dari pelukannya.
Kaisar mengendus-ngendus leher jenjang Airish. Hingga gadis itu merasa geli, dan menggeliat. "Tuan, apa aku sudah boleh membuka mata?" Tanya Airish.
Dan seketika itu juga, Kaisar tersadar. Dia menarik wajahnya dari ceruk leher putih itu, aroma khas yang sangat memabukkan, berhasil membuat Kaisar melayang.
"Bukalah," ucap Kaisar.
Pelan, Airish membuka kelopak matanya, netra itu menyipit. Dan memperhatikan alam sekitar, gelap dan sunyi, hanya ada sinar bulan yang menerangi, dan suara dedaunan yang tertiup angin, saling bergesekan.
"Untuk apa kita kesini?" Tanya Airish, dengan wajah yang tampak serius, memperhatikan Kaisar.
Sebelum menjawab, Kaisar lebih dulu menyelipkan anak rambut Airish ke belakang telinga, lalu mengecup puncak kepala gadis itu.
"Setelah ini kau akan tahu," ujar Kaisar lalu melepas pelukannya. Berjalan menjauh dari tubuh Airish.
Lalu slap!
Kaisar menghilang. Airish yang memperhatikan dengan begitu seksama, nampak begitu terkejut. Dan keterkejutan itu semakin bertambah, saat dia merasakan tengkuknya dikecup dengan basah.
"Aku di belakangmu, Sweetie," bisik Kaisar. Airish langsung menoleh, tetapi tidak ada siapapun.
"Kau salah, aku di sebelah kiri," lagi, Airish menoleh ke sebelah kiri, dan dia kembali tidak mendapati Kaisar di sana.
Hingga tubuhnya tertarik ke depan, dia menengadah, Kaisar sudah kembali merengkuhnya. Lelaki itu tersenyum tipis.
Dan detik selanjutnya, senyum tipis itu berganti dengan seringai. Kaisar menunjukkan dua taringnya yang tajam.
Hampir saja Airish berteriak, tetapi secepat kilat Kaisar membungkam mulut gadis itu.
Airish bergeming, awalnya dia kira akan takut. Namun ternyata, apa yang Kaisar tunjukkan hanya membuatnya terkejut.
"Kau bisa menebak siapa aku?" Tanya Kaisar, menatap teduh dua bola mata Airish yang tengah bersinar.
"Kau_"
"Kau vampire?"
"Kenapa kau bisa menebak seperti itu?"
"Semua yang ibu Oh ceritakan, sepertinya membuatku mudah untuk menebak siapa kau sebenarnya, Tuan."
Lagi, Kaisar tersenyum tipis. Dan dia mengangguk. Membenarkan perkataan Airish.
Reflek gadis itu membekap mulutnya, dengan bola mata yang membulat sempurna. Jadi benar? Suaminya adalah salah satu dari mahkluk penghisap darah?
"Kenapa? Kau takut?"
Dan dengan cepat Airish menggeleng. "Aku hanya terkejut." Balasnya terbata.
"Kau ingin lihat kehebatanku? Aku akan menunjukkannya di depanmu."
Kaisar berlari cepat. Seperti asap yang terbawa angin, hanya menyisakan kabut yang berkelebat, dan brak! brak! brak!
Tiga pohon langsung tumbang sekaligus akibat tendangan Kaisar. Dan salah satu pohon itu, hampir saja jatuh menimpa tubuh Airish, tetapi bagai kilat menyambar, Kaisar langsung menghadang dan menepisnya, melindungi gadis itu dari bahaya.
Dan hal itu semakin membuat Airish merasa takjub. Dia merasa tengah berada di dunia halu dan tipu-tipu, namun saat Kaisar kembali menarik tubuhnya, dan membawanya terbang.
Akhirnya Airish sadar, bahwa semua ini nyata. Kaisar, suaminya bukanlah manusia biasa. Melainkan sosok makhluk yang bangkit dari kematian, dan kini menjadi raja neraka di bumi jagat raya.
"Benarkah kau suamiku?" Tanya Airish, seraya menikmati semua yang Kaisar tunjukkan kepadanya.
Kaisar mengulum senyum, dia mengangguk lalu berbisik. "Yeah, I'am your husband. And your husband is a vampire."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tamat... eh engga deng 🤣🤣🤣
Minta dukungannya dong, dengan like, komentar sebanyak-banyaknya...
Huhu itu benar-benar menjadi moodbosterku🤧🤧🤧
Salam anu👑
Nih ada dua karya kakak ku yah, yuk mampir