
Saat Rose menyadari tidak ada respon apapun dari Airish. Lantas gadis vampir itu menoleh, dan benar saja, tidak ada Airish di sana. Dia mencoba mencari kesana kemari, tetapi kakak iparnya tersebut tak kunjung ia temukan.
Bahkan aroma darah Airish tak lagi tercium.
Rose berubah cemas, dia begitu takut, hingga dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Dengan sekali hempasan gadis itu sudah berada di ruang tamu, di sana hanya ada kedua orang tuanya dan juga sang kakak, Kaisar.
"Rose, ada apa Sayang?" tanya Elena, tidak biasanya dia mendapati wajah sang putri begitu cemas seperti ini, seolah dia tengah mengkhawatirkan sesuatu.
Tak menanggapi pertanyaan Elena, gadis itu justru menatap kakak lelakinya dengan penuh rasa bersalah.
"Kak," panggil Rose pada Kaisar.
"Ada apa? Di mana Airish?" semua mahluk pucat itu bangkit, mereka menunggu jawaban Rose.
Ditanya seperti itu, Rose semakin kalang kabut, dia meneguk ludahnya kasar. "Kakak ipar hilang, Kak. Aku tidak tahu dia di mana? Aroma darahnya bahkan tidak tercium sama sekali." Jelas Rose apa adanya, dia sedikit terbata karena takut akan terkena amukan Kaisar.
Mendengar itu, netra Kaisar langsung menungkik tajam, dia mengepalkan tangannya kuat, hingga akar-akar dalam tubuhnya seketika mencuat. Tanpa ba bi bu lelaki bengis itu langsung berlari secepat mungkin, sumpah demi apapun dia sangat khawatir.
Sedangkan Kibrit serta dua wanita berbeda generasi itu mengekor di belakang.
Kaisar tidak akan memaafkan dirinya sendiri, kalau sampai dia datang terlambat, dan Airish tidak terselamatkan.
Tidak!
Sementara di sisi lain, Airish dibawa terbang semakin menjauh, masuk ke pedalaman hutan, dimana tidak akan ada seorang pun yang dapat menemukannya. Tubuh gadis itu gemetaran, sedangkan dia terus meronta dengan air mata yang menderas.
Sekuat apapun tubuhnya bergerak, nyatanya tak mampu mengalahkan kekuatan vampir yang telah membawanya kabur itu. Yang ada, tubuh Airish kesakitan, dan tak menghasilkan apapun.
"Lepaskan aku! Apa maksudmu membawaku kemari?" pekik Airish saat mereka baru saja menapak di bumi, tubuh Airish dikunci dari belakang, tetapi dia tahu siapa yang telah menguncinya.
Dia tidak tahu apa salahnya, hingga salah satu saudara Kaisar berbuat seperti ini padanya. Nafas Airish memburu, dadanya naik turun dengan cepat, menahan buncahan emosi yang sebentar lagi meluap.
"Nanti kau akan tahu," bisik lelaki itu tepat di telinga Airish, dia menyeringai setan, akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan dengan begitu mudah.
Airish mencoba mengatur nafasnya agar dia lebih tenang, meski begitu sulit ia rasakan.
"Apa kau tidak takut pada Kakakmu? Kau membawaku tanpa izinnya!" cetus Airish. Gadis itu begitu yakin, sekarang Kaisar sedang mencarinya.
Tatapannya begitu nyalang, dengan air muka tak ramah. Sementara Airish, bisa melihat dengan sangat jelas orang yang ternyata begitu picik, memainkan sebuah drama.
"Apa peduliku? Dan ku rasa, dia tidak akan menolongmu. Kenapa kau percaya diri sekali?" cibirnya, dia begitu menikmati wajah ketakutan Airish.
"Apa maksudmu?" tanya Airish dengan bibir yang tak berhenti bergetar. Degub jantungnya terasa semakin kuat, dalam hatinya dia terus memanggil nama Kaisar, memohon pada Tuhan agar lelaki itu lekas datang.
"Kenapa? Apa kau tidak tahu tujuan kakakku mendekatimu?" Lelaki itu memajukan wajahnya, hingga hembusan nafasnya terasa menampar wajah Airish.
Sejenak gadis itu bergeming, dan bergumam, "Tujuan?"
"Tentu saja, kakakku memiliki tujuan untuk mendekatimu, memangnya kau berharap apa? Dia mencintaimu? Hah, omong kosong! Dia tidak mungkin mencintai seorang manusia, dia itu raja iblis, dia tidak memiliki belas kasih. Dan kau_"
Dia menunjuk wajah Airish.
"Kau hanya akan menjadi keabadiannya, suatu saat kau akan dibunuh oleh kakakku, karena yang dia butuhkan hanya darahmu, bukan kau."
Deg!
Jantung Airish terasa berhenti berdetak. Tatapannya mengabur karena air mata yang siap meluap. Dia menggigit bibir bawahnya begitu kuat, sedangkan kedua tangannya membentuk kepalan, dia berusaha tidak mempercayai ucapan lelaki di hadapannya.
Tidak, Kaisar tidak mungkin berbuat seperti itu padanya.
Tetapi bagaimana jika semua itu adalah kebenaran? Lantas apa yang akan dia lakukan?
"Kau pasti berbohong!" meleleh sudah bulir bening itu membasahi pipi mulusnya. Rasanya begitu menyesakkan, sampai-sampai dia tidak bisa bernafas dengan leluasa.
"Untuk apa aku berbohong? Apa keuntungannya? Bahkan menghabisimu adalah hal yang mudah bagiku! Dan sekarang, saatnya aku yang menjadi pemilik keabadian, bukan lagi Kaisar!"
Seketika mata lelaki itu berubah memerah, dengan kedua taring yang menajam, siap mengoyak daging mangsanya.
Netra Airish membulat sempurna, saat lelaki itu mencondongkan wajahnya. Sedangkan tubuh Airish membeku, dia tidak bisa melawan dan seolah pasrah begitu saja.
"Chris!!!!!"