
Malam itu Kaisar langsung membawa Airish pulang ke rumah utama. Rencananya, setiap seminggu sekali, lelaki itu akan membawa istrinya ke pulau tersebut.
Di kampus, Airish langsung dicerca banyak sekali pertanyaan oleh Zoya, tetapi Airish hanya bilang, kalau sekarang dia bekerja menjadi sekretaris pribadi Kaisar.
Kemarin ada perjalanan luar kota, itulah alasan yang diberikan oleh Airish untuk sahabatnya.
Sepulang dari kampus, Airish berencana untuk mampir ke kontrakan, ia akan mengemas barangnya sedikit demi sedikit, untuk dibawa ke rumah utama.
Karena dia sudah memutuskan untuk pindah.
Ia memarkiran kijang besi itu tepat di depan pintu. Memudahkannya untuk memindahkan barang-barang. Sebisa mungkin, Airish tidak mau merepotkan Kaisar, meskipun lelaki itu berkali-kali menawarinya.
Airish baru saja masuk ke dalam kamar. Mengambil tas besar dan meletakkannya diatas ranjang.
Namun, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kontrakannya. Ketukan tidak sabaran, membuat Airish penasaran.
"Apa itu, Tuan?" Gumam Airish sambil melangkah.
Tanpa curiga gadis itu memutar gagang pintu. Lalu. "Hmpt." Mulut Airish langsung dibekap oleh seseorang.
Gadis itu meronta, memukul dan mencakar punggung tangan tersangka. Sedangkan kakinya terseret, terbawa oleh langkah besar itu.
Di kamar, akhirnya Airish bisa lepas. Dia membulatkan mata, menatap seorang lelaki yang tidak dikenalnya.
"Siapa kau? Jangan macam-macam denganku." Pekik Airish dengan nafas terengah, sedikit demi sedikit dia mundur. Tubuhnya langsung gemetar hebat.
Sedangkan lelaki itu hanya menatap mesuum, dan menyeringai setan.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku ingin, Kaisar si keparattt itu, merasakan apa yang aku rasakan, kehilangan sesuatu yang amat disukainya." Berbicara dengan angkuh. Mendekat, mencoba meraih pergelangan tangan Airish.
Ya, dia adalah anak dari kepala divisi keuangan, yang Minggu kemarin mati terbunuh oleh pengikut Dewa.
Merasa kehilangan sumber uangnya, membuat dia frustasi, ia tidak bisa lagi berjudi dan minum-minuman seperti yang selama ini ia lakukan.
Maka dari itulah, dia berniat ingin balas dendam. Ia ingin balas dendam pada Kaisar menggunakan gadis di depannya.
Kemarin, sebelum Airish pergi, dia sudah mengintai rumah kontrakan ini.
Sadar akan situasi berbahaya, Airish berusaha lari ke ruang tamu. Namun, belum ada beberapa langkah, ia merasa tangannya tercekal.
Airish menoleh. "Lepaskan aku!" Pekiknya.
Dan seseorang itu hanya tersenyum sinis, mendengar pekikan Airish. Dengan cepat, ia menarik lengan Airish lalu membantingnya di atas ranjang.
Tidak sabaran, lelaki itu membuka kaos yang melekat di tubuhnya. Airish membelalakkan matanya, ia menggeleng dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Mau apa kau brengsekk?" Teriaknya seraya beringsut takut.
Lelaki itu mendekat, Airish mencengkram kuat sprei, sedangkan tubuhnya sudah ditindih oleh badan besar itu.
"Tubuhmu sangat indah, Nona. Sayang bukan jika aku tidak mencicipinya, sebelum kau mati." Tangan itu menyentuh lembut pipi Airish.
Namun berbeda, gadis itu merasa tersayat.
"Badjingan!" Teriak Airish dengan suara yang gemetar.
Mendengar itu, satu tamparan keras Airish terima. Air matanya semakin bercucuran, dengan tangan yang mulai terkunci.
Tetapi dia tidak menyerah, ia terus meronta-ronta. "Jika Tuan, tahu ini, dia pasti akan membunuhmu, ingat itu kau badjingan."
Dalam hatinya Airish terus memanggil nama Kaisar. Sedangkan lelaki itu semakin menyeringai, merasa tertantang.
Ia melepaskan cekalan tangannya, berganti mencengkram kuat bahu Airish. Lalu terdengar suara 'brat' baju yang Airish kenakan robek.
Airish memberontak keras, lantas menendang kepunyaan lelaki itu dengan keras. Setelah berhasil terlepas, Airish berniat kabur. Namun, kakinya tersandung, hingga ia jatuh tersungkur.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan meringis, lelaki itu menjambak rambut Airish dari belakang. Menariknya kembali ke arah ranjang.
Di sisi lain, karena mendapat pesan dari sang istri, yang meminta izin untuk berkemas di kontrakan. Kaisar langsung meminta Joni untuk mengantarnya kesana.
Tepat di ambang pintu. Kaisar mendengar sayup-sayup suara tangis istrinya.
"Lepaskan aku brengsekk! Tuan tidak akan mengampunimu! Lepaskan aku!" Pekik Airish yang masih berusaha meronta. Ia merasa sakit di sekujur tubuhnya, karena terpelanting sana-sini.
Tanpa babibu, Kaisar masuk ke dalam sana. Matanya membulat sempurna, dengan apa yang dilihatnya.
"Brengsekk! Keparatttt!" Makinya.
Lantas dengan gerakan cepat, Kaisar mencengkram kuat leher lelaki yang hendak melecehkan istrinya tersebut.
Menariknya secara paksa lalu 'bugh' tubuh lelaki itu membentur tembok. Dengan amarah yang memuncak, Kaisar mendekat, tanpa segan lelaki itu melayangkan bogem mentahnya.
Tak sempat mengelak, tubuh lelaki itu sudah menghantam lemari milik Airish, hingga lemari itu ambruk. Tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Ia meringis.
Tetapi semua itu belum berhenti, karena Kaisar terus membabi-buta. Ia menghajar wajah lelaki itu tanpa ampun. Hingga wajah itu tak lagi berbentuk.
Tendangan Kaisar berikan, membuat tubuh itu kembali terpelanting ke sisi ranjang. Sebelum Kaisar kembali mendekat, Airish yang merasa ketakutan langsung memeluk lengan kekar suaminya.
Air matanya kembali menderas. "Cukup, aku mohon, Tuan. Aku takut." Ucapnya sesenggukan.
Kaisar menatap Airish intens, ia bisa melihat dengan jelas, luka lebam di seluruh wajah cantik gadis itu. Dan hal itu semakin membuatnya murka.
Kekesalan itu sudah mencapai puncak ubun-ubun. Satu tangan Kaisar merengkuh pinggang Airish, membawa tubuh itu masuk ke dalam dekapannya.
Lalu... Dor! Dor!
Tanpa belas kasih, Kaisar menembak kedua kaki lelaki itu. Dia menatap sinis.
"Dasar badjingan! Keparattt! Akan aku pastikan kau mendapat sesuatu yang setimpal atas tindakanmu ini. Menjijikkan!" Cibir Kaisar.
Sedangkan lelaki itu sudah tidak sadarkan diri. Ia merasakan tubuhnya remuk redam. Semua tulangnya terasa hancur, akibat pukulan telak Kaisar serta timah panas yang menembus dagingnya.
Kaisar mengangkat tubuh Airish. Membawanya masuk ke dalam mobil. Tanpa Kaisar pinta, Joni pasti sudah tahu apa yang menjadi tugasnya.
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa aku membawamu ke pulau itu?" Tanya Kaisar, menarik kepala itu bersandar di dadanya. Dan mengusap-usapnya dengan penuh kelembutan.
Sementara Airish yang mendengar itu, langsung bisa berpikir. Ternyata inilah alasannya, ini jawaban atas segala pertanyaannya.
"Sekarang kau tinggal di sisiku, Sweetie. Ada banyak orang yang berniat menghancurkan aku, bahkan menginginkan aku mati. Dengan mereka melihatmu bersamaku, mereka pasti ikut mengincarmu. Jadi aku ingin, setidaknya kau bisa melindungi dirimu sendiri. Dengan begitu, aku akan merasa lebih tenang." Ucap Kaisar panjang lebar.
Dan lagi-lagi Airish membenarkan hal itu. Dia mulai sadar, bahwa kehidupan orang-orang besar tidak semudah seperti yang ia bayangkan.
Bahkan terkadang nyawa sebagi taruhannya.
"Kau mengerti?" Tanya Kaisar.
Pelan, Airish mengangguk. Lalu tanpa segan, melingkarkan tangannya di tubuh Kaisar, di dalam dekapan lelaki itu, Airish merasa aman dan nyaman.
"Tuan?"
"Hem."
"Orang tadi terluka parah. Bagaimana kalau dia mati?"
Kaisar meraih dagu Airish, mengangkatnya pelan. "Jangan terlalu baik, Sweetie. Kau tidak akan mampu membalas mereka, jika sikapmu seperti ini."
Lalu cup!
Awalnya hanya sekedar ingin mengecup. Namun, ternyata kenyataan tak sesempit itu.
Ayo berikan dukungan kalian 😍😍😍