My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Bertemu keluarga Kaisar



Denis terlihat keluar dari rumah yang sama besarnya dengan rumah utama. Dia mengendarai mobil sportnya menuju kampus.


Sedangkan Sofia yang masih duduk di kelas dua belas, Sekolah Menengah Atas. Terlihat naik ke atas motor matic kesayangannya, lengkap dengan helm pink, warna senada dengan bebek besi itu.


Keduanya melandas, meninggalkan rumah dengan pengawasan pengawal pribadi masing-masing. Penjagaan Denis dan Sofia semakin diperketat, sejak kejadian mobil Denis yang meletus saat bersama Airish.


"Sofia, hati-hati," ucap Denis saat mereka berpisah di pertigaan jalan. Denis membawa kijang besinya ke arah kanan, sedangkan Sofia ke arah kiri.


Gadis itu mengulum senyum dari balik kaca spion, lalu mengacungkan jempolnya ke arah Denis, dan keduanya benar-benar terpisah.


Dan hal tersebut tidak lepas dari pengawasan dua pasang mata, yang setia mengikuti pergerakan keduanya. Hari ini, rencana untuk mendekati keluarga Kaisar akan mereka coba.


Sementara di belahan bumi yang lain. Kaisar tengah memeluk tubuh Airish dari arah belakang, lelaki itu senantiasa mengikuti langkah Airish kemanapun gadis itu pergi.


"Sayang, sampai kapan kau akan terus seperti ini? Kau bilang ingin pergi menemui keluargamu?" keluh Airish, merasakan beban berat di punggungnya semakin menjadi, setelah ia mengatakan ingin pergi kuliah, entah kenapa Kaisar malah bersikap manja seperti ini.


"Benar, tapi aku tidak rela berpisah denganmu, Sweetie. Belum pergi saja rasanya aku sudah rindu," rengek Kaisar, dan Airish terkekeh merasa lucu, ada-ada saja tingkah vampir satu ini.


"Suamiku belajar menggombal dimana? Kenapa jadi pintar seperti ini?" ledek Airish.


Kaisar memutar tubuh Airish, hingga netra mereka bertemu pandang. Lelaki itu menangkup kedua sisi pipi Airish, dan mengecup bibir itu sekilas.


"Sweetie, aku tidak sedang menggombal, aku serius. Bagaimana kalau kau ikut denganku?" tawar Kaisar, Airish menangkap pergelangan tangan Kaisar dan berusaha menurunkannya, meski hal itu tidak membuahkan hasil.


"Apa? Lalu bagaimana dengan kuliahku, Sayang?"


"Ambil cuti saja bagaimana? Aku ingin mengenalkanmu pada mommy dan daddy."


"Apa bisa begitu? Yang ada aku tidak lulus-lulus."


"Ayolah, Sayang. Aku tidak bisa pergi tanpamu."


"Tapi—"


"Sejak kapan kau jadi pembangkang seperti ini?" potong Kaisar cepat, dia mengunci pergerakan Airish di depan lemari pakaian, dan sedikit menghimpitnya, alhasil Airish tidak bisa lari kemana-mana.


"Hah, okey. Aku akan pergi bersamamu. Tapi hanya kali ini, selebihnya aku tidak ingin membolos kuliah lagi. Kau mengerti kan, Sayang?"


"Yeah. Hanya kali ini, Sweetie." Kaisar menciumi bibir Airish, melumaatnya lembut hingga pertautan itu semakin terasa dalam. Kaisar mengangkat tubuh mungil itu naik ke atas meja rias.


Airish meremass-remass dada Kaisar, dan sedikit mendorong tubuhku lelaki itu, saat Kaisar hampir meminta lebih dari ini.


"Sayang, kalau kau terus seperti ini, sepertinya kita tidak akan jadi pergi," gumam Airish sambil mengelap bibirnya yang basah, membuat lelaki tampan itu terkekeh.


Lantas Kaisar menurunkan Airish, dan membiarkan gadis itu untuk bersiap. Bersiap untuk menemui keluarga vampirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dibawa terbang ke atas awan, dengan kekuatan yang Kaisar miliki, hingga tak berapa lama kemudian Airish dan Kaisar sampai di pedalaman hutan, tempat dimana keluarga vampir lelaki itu tinggal.


Detik selanjutnya, dua pasang kaki itu mulai menapak di bumi, Airish mengulum senyum, dan Kaisar melangkah sambil menggandeng tangan Airish untuk masuk ke dalam rumah.


Suasana di sana nampak begitu asing bagi Airish, berbeda sekali dengan pulau yang Kaisar miliki, tetapi sejauh ini, selama ada Kaisar, Airish tidak memiliki ketakutan apapun.


Kaisar dan Airish masuk ke dalam rumah, seperti biasa keluarganya tengah berkumpul menikmati darah segar hasil berburu mereka saat pagi hari.


Awalnya Airish sedikit terkejut, tetapi genggaman tangan Kaisar yang terasa semakin erat, membuat Airish tersadar bahwa suami dan keluarganya bukanlah makhluk biasa.


Tak berbeda jauh dengan Airish, Kibrit, Elena dan yang lainnya juga ikut terperangah. Bisa-bisanya Kaisar membawa seorang manusia dengan begitu sembarangan, apalagi sampai melihat mereka tengah meminum darah, yang tak lebih dari makanan mereka selama ini.


"Kai," panggil Kibrit, mereka kompak berdiri dengan mata membulat tak percaya.


"Helo semuanya," sapa Kaisar. Dia menarik Airish yang bersembunyi di belakang tubuhnya, merangkul bahu gadis itu, dan satu tangannya menarik dagu, agar Airish menatap satu persatu keluarganya.


Airish meneguk ludahnya kasar, dia memandangi para vampir itu secara bergantian. Wajah mereka terlihat pucat, dengan raut cemas dan tegang.


"Sweetie, mereka semua keluargaku, itu artinya mereka juga keluargamu," ucap Kaisar tanpa ragu.


Semua mahluk itu kembali dibuat bingung oleh ucapan Kaisar, Rose sampai melipat keningnya, dengan kedua alis yang bertaut.


Sedangkan salah satu dari mereka begitu yakin, bahwa gadis yang dibawa oleh Kaisar adalah si pemilik keabadian, sebuah rahasia yang pernah ia dengar.


Untuk mencairkan suasana yang tampak menegang, Elena mendekat ke arah Airish dan Kaisar, dalam jarak satu meter aroma darah Airish begitu terasa sangat manis dan menggiurkan, tetapi sebisa mungkin dia tahan.


Wanita itu mengulum senyum. "Kai, apa dia istrimu?" tebak Elena.


Kaisar mengangguk mantap, dia mengulum senyum dan mengecup salah satu pipi Airish. "Yes, Mom. She is my wife, dia cantik bukan?"


Elena mengusap kepala Airish, lalu melirik ke arah Kibrit, wanita itu yakin Kaisar benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu, dan telah membongkar jati dirinya.


Apa aku bilang? Batin Kibrit.


"Sangat, dia sangat cantik, Kai. Kau tidak salah pilih," puji Elena, membuat Airish tersenyum malu-malu, dia melirik Kaisar, sekali lagi lelaki itu mengecup pipi Airish.


Lantas Elena menarik lengan Airish untuk bergabung, wanita itu mendudukkan Airish diantara dirinya dan juga Rose.


Sedangkan Kaisar duduk di samping sang ayah, Kibrit.


"Sayang, kau sudah tahu bukan kami itu siapa?" tanya Elena pada Airish, dia ingin memastikan Kaisar benar-benar sudah menceritakan semuanya pada gadis itu.


Pelan, Airish mengangguk. Dan semua mahkluk pucat itu tersenyum lega, tetapi tidak untuk satu lelaki diantara mereka, dia hanya menarik sudut bibirnya ke atas, dengan tatapan sinis, sedangkan kepalanya mulai memikirkan sebuah rencana untuk mendapatkan darah Airish.


"Kai sudah bercerita banyak tentangmu, namamu Airish kan? Nah, Airish kenalkan, aku Elena, aku adalah Ibunya Kai." Lalu Elena mengenalkan satu persatu anggota keluarganya, hingga putri bungsunya yaitu Rose.


Aroma darah Airish terasa semakin menguar-nguar, dan hal itu membuat Jack tidak tahan, dan dia memilih untuk keluar.


"Hei, ada apa dengannya?" tanya Rose dengan raut kebingungan.


"Biasalah, dia kan suka tidak tahan dengan aroma manis yang sangat kentara, dasar lemah!" cibir Chris, dengan mencebikkan bibirnya.


"Benarkah? Dia masih seperti itu?" Kaisar ikut buka suara, dan dibenarkan oleh Kibrit.


"Masih sulit untuk melatih indera penciumannya," jelas Kibrit, membuat Airish merasa tidak enakan, ia yakin, lelaki itu lebih memilih menyingkir karena ada dirinya di sini, gadis itu menunduk, dia belum terbiasa dengan situasi seperti ini.


Kaisar yang paham, lantas menyuruh Rose untuk mendekatkan diri pada kakak iparnya itu. Gadis itu dengan senang hati mengajak Airish untuk bermain, dia menarik lengan Airish dan membawanya untuk berkeliling ke hutan.


Sementara Kaisar mengajak kedua orang tuanya untuk mengobrol.


"Kakak ipar, apa kau begitu mencintai Kak Kai?" tanya Rose, kini mereka tengah memetik buah yang tumbuh liar tak jauh dari rumah mereka, buah yang tidak pernah mereka sentuh.


Mendengar pertanyaan itu, degup jantung Airish tiba-tiba menggila, pipinya berubah merona. Lidahnya kelu, dan entah kenapa hati Airish membenarkan hal itu.


"Wah, jadi benar kau mencintai Kakakku?" ledek Rose, sambil menusuk-nusuk gemas pipi Airish, membuat gadis itu semakin tersipu.


Tak tahan, Airish melengoskan wajahnya, dan berpindah tempat, dia membelakangi Rose, dan menyibukkan diri memetik buah kembali.


Rose terkekeh geli, sama halnya dengan Airish dia pun membelakangi gadis itu, dia menceritakan masa-masa hidupnya bersama Kaisar dengan riang, meski tidak ada tanggapan apapun dari Airish, tetapi ia yakin pasti kakak iparnya itu tengah tersenyum-senyum.


Hingga Rose tak menyadari, bahwa tubuh Airish sudah diseret secara paksa dan dibawa kabur entah kemana.