My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Diganggu



Dengan badan yang sedikit remuk redam, Airish berangkat ke kampus. Tak berniat untuk membolos sedikitpun.


Pagi ini Kaisar berhasil membawanya ke puncak nirwana tertinggi. Meski awalnya terasa sangat sakit, tapi perlahan lelaki itu membuatnya melayang-layang.


Airish terus menggigit kuat bibir bawahnya tak ingin meloloskan suara-suara aneh. Tetapi Kaisar justru tak membiarkan itu, ia terus mencumbu tubuh Airish, hingga benteng pertahanan gadis itu runtuh.


Dia membebaskan Airish berekspresi di bawah tubuhnya. Hingga lelehan kenikmatan yang menjalar, mereka raih sama-sama.


Entah kenapa, pipi Airish selalu merona diiringi rasa panas jika mengingatnya.


Ah, seharusnya aku tahu, siap tidak siap hal ini akan terjadi. Tapi kenapa aku terus memikirkannya.


Ya Tuhan, ingatanku kenapa selalu tertuju dengan hal itu, itu dan itu terus.


Beberapa kali Airish memejamkan mata seraya memukul-mukul kepalanya. Dan itu semua tidak lepas dari pengamatan Zoya, gadis itu kembali selepas membeli burger, mendapati Airish yang seperti itu, Zoya menebak Airish sedang ada masalah.


Zoya tahu semua tentang Airish dan Kaisar. Gadis itu sendiri yang menceritakannya. Zoya hanya menjadi pendengar setia, atas setiap keluh kesah Airish yang tak mampu dibagi pada siapapun. Termasuk keluarganya.


Gadis itu menyerahkan satu burger ke arah Airish. "Kenapa lo?"


Pelan, Airish melirik ke samping, tempat dimana Zoya sudah mendudukkan dirinya. Ia meraih burger tersebut.


Dengan cengiran khasnya, Airish menggeleng. Tetapi fokus Zoya teralihkan, ia terus memandangi leher jenjang Airish yang menyembulkan warna merah.


"Leher lo kenapa?" Sontak Airish meraba lehernya. Sebelum berangkat ia sempat memakai foundation, tetapi kenapa Zoya masih melihatnya juga.


"Aku nggak apa-apa, Zoy." Ia melirik sana-sini, dan semakin terlihat gugup.


Dan itu semua sukses membuat Zoya semakin curiga, pasti ada yang disembunyikan oleh Airish.


Dengan gerakan cepat, Zoya merapatkan tubuhnya, menganalisa leher Airish. "Zoy, aku beneran nggak apa-apa."


"Diem Ai. Lo nggak bisa bohongin gue, lo tuh anak kelewat jujur." Zoya mengusap-usap leher Airish. "Aw!" Keluh Airish, merasa Zoya mengusapnya dengan kuat.


Ternyata benar dugaannya, Airish memakai foundation untuk menutupi bercak merah itu.


"Sial, orang itu ngelakuin apa sama lo?" Sentak Zoya. 20 tahun menjadi gadis baik-baik yang tidak pernah mengenal lawan jenis, membuat Zoya merasa tabu dengan hal-hal itu.


Reflek, Airish menutup lehernya dengan kedua tangan. Ia menggeleng, dan dijawab pelototan mata Zoya.


"Zoy dia nggak ngelakuin apa-apa." Dan si Airish yang pemalu, tidak dapat jujur tentang sesuatu yang telah Kaisar lakukan kepadanya.


"Gue nggak percaya ya Ai. Jujur dia Kdrt sama lo?" Cetus Zoya, wajahnya memerah menahan marah. Bahkan burger yang baru sempat ia makan jadi terabaikan.


"Nggak Zoy nggak."


"Terus kenapa leher lo merah-merah kaya gitu, dan lo nutupin itu semua dari gue, takut gue khawatir iya? Asal lo tahu, kita itu sahabatan udah lama, apapun yang lo rasain, gue juga merasakan hal yang sama." Zoya malah mengoceh kemana-mana.


"Gue nggak bisa diem aja kalo lo di kaya giniin!"


"Sumpah, dia nggak ngelakuin apa-apa."


"Lo tuh bener-bener yah, jangan so ngelindungin dia deh, walaupun gue cewek, lumayanlah jotosannya." Siap dengan tangan terkepal, berniat memukul Kaisar.


"Tapi dia nggak ngelakuin itu sama aku."


"Terus leher lo kenapa?" Sentak Zoya untuk yang kesekian kali.


"Tanda cinta." Lirih Airish.


Eh!


**********


"Hari ini aku membebaskanmu, karena aku akan pergi ke luar kota, terserah kau mau pulang ke rumah kecilmu, atau ke rumah utama. Yang terpenting, jaga dirimu Sweetie."


Itu adalah ucapan terakhir Kaisar sesaat sebelum Airish pergi ke kampus, dengan usapan lembut di kepala, Kaisar izin pergi ke luar kota.


Gadis itu hanya mengangguk, dan ia berencana untuk pulang ke kontrakan. Karena ia tidak mungkin berada di rumah utama terus-menerus. Sedangkan barang-barangnya tertinggal di rumah kecil itu.


Airish menepikan kijang besi pemberian Kaisar di depan halaman yang cukup sempit itu, setelah merasa telah mengunci pintu mobil dengan benar, ia masuk ke kontrakan dan merebahkan diri sejenak.


Hari mulai menggelap, tanda malam sebentar lagi akan menyapa. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, sedangkan lampu mulai menyala menerangi jagat raya.


Tak terasa hingga jam 8 malam, Airish baru saja terbangun. Ia sedikit terkejut, karena tertidur sangat lama. Mungkin karena merasa lelah.


Lantas, dengan gerakan malas, gadis itu beranjak dari atas ranjang. Membersihkan tubuhnya dan mencari makanan untuk mengisi perutnya yang kelaparan.


Selesai sudah ritual malamnya, Airish kembali merebahkan tubuh ramping itu. Menghadap ke kanan, seraya memainkan ponselnya.


Dan berkali-kali seperti itu, saat pandangan mata Airish teralihkan, bayangan itu selalu datang.


Lagi, keanehan berikutnya suara jendela di ketuk-ketuk dari luar. Airish beringsut semakin takut, menyembunyikan diri dibalik selimut.


Dari luar sana, angin berhembus kencang, menusuk ke pori-pori terdalam menyisakan suasana yang terasa semakin mencekam.


Airish memegangi dadanya yang terasa berdetak dengan kencang. Dan tiba-tiba suara auman serigala terdengar.


Gadis itu membekap mulutnya, baru kali ini ia mendengar suara binatang buas itu mengaum, bahkan terasa sangat dekat dengan lokasinya.


Ya Tuhan, kenapa rumah ini jadi terasa menyeramkan.


Beberapa hari tidur bersama Kaisar, nyatanya membuat gadis itu merasa kesepian sekarang. Ditambah hal-hal yang mengganggunya, kalau saja boleh ia meminta, ia akan meminta Kaisar datang menjemputnya.


Tep!


"Arghh." Airish berteriak saat listrik rumah itu padam, nafasnya memburu, dengan cepat ia terduduk dan menyalakan flash ponselnya.


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Ia menyorot ke seisi ruangan, kosong, kosong dan kosong. Tidak ada siapapun.


Dan keringat dingin itu semakin bermunculan, saat dari arah belakang Airish merasa ada yang menyentuh bahunya.


Glek!


Mata gadis itu membulat sempurna, ia menggigit kuat bibir bawahnya, ingin rasanya ia berteriak, tetapi seolah tidak diizinkan suara itu tercekak.


Dadanya naik turun, seiring rematan di bahu itu terasa semakin kuat. Ia berniat menoleh, sebenarnya mahkluk seperti apa yang berada di dalam kamarnya, tetapi ia tidak memiliki keberanian sama sekali.


Tubuh Airish bergetar hebat, dan ia hanya bisa mematung, tak mampu untuk bergerak.


Sedangkan dalam hatinya ia terus menyebut nama Kaisar, entah kenapa malah nama itu yang terus menerus ia sebutkan.


Hingga saat usapan lembut di pipinya, ia merasa sesuatu yang menyentuhnya tadi memiliki bulu yang sangat lebat.


Tubuh Airish meremang.


Dan...


Tok tok tok


Pyarrrrrr!


Lampu kembali terang, makhluk itu menghilang dan nafas Airish langsung tersengal-sengal. Ada sebuah kelegaan.


Sedangkan di luar sana, suara gedoran pintu terdengar semakin tidak sabaran.


Dengan kaki yang terasa lemas, Airish memberanikan diri, melangkah menuju pintu dengan kaki yang tersendat-sendat.


Ia meraih gagang pintu, dan klek!


"Tuan!" Pekik Airish lalu menghambur ke pelukan Kaisar. Tidak peduli jika lelaki itu akan memarahinya, Airish hanya merasa akan lebih tenang jika memeluk lelaki itu.


Rasa takut membuat Airish lupa akan segalanya. Bahkan ia lupa kalau tadi pagi lelaki itu izin pergi ke luar kota.


"Tuan, aku takut." Adunya pada Kaisar, ia terisak kecil, dan terus membenamkan wajahnya di dada lelaki itu.


Sedangkan Kaisar mengusap punggung Airish memberikan ketenangan.


"Memangnya ada apa?" Tanyanya.


"Tadi ada makhluk yang menyeramkan, tangannya berbulu, dan dia mencoba menggangguku. Tapi saat kau datang, dia tiba-tiba menghilang." Jelas Airish.


Mendengar itu, mata Kaisar langsung menyalang, ia mengepal kuat tangannya, yakin makhluk yang telah mengganggu wanitanya, adalah seekor serigala.


Bedebah, kau Dewa!


Dengan gerakan cepat, Kaisar mengangkat tubuh Airish, lalu membaringkannya dengan pelan di atas ranjang, lalu tanpa meminta izin lelaki itu berniat keluar.


"Tuan mau kemana?" Menghalau langkah Kaisar.


"Diam disini, aku akan mencarinya."


Meski tidak percaya Kaisar bisa melakukannya, tetapi gadis itu tetap mengangguk.


Tanpa apapun lagi, Kaisar berlari secepat kilat. Dan dalam gelapnya malam, tubuh tegap itu terbang dengan merubah diri menjadi seekor kelelawar.


Berusaha mengejar Dewa, yang ia yakini masih berada di sekitar mereka.