
Setelah pembicaraan itu, Denis dan Sofia sepakat untuk tidak mempermasalahkan siapa Kaisar, yang akan mereka yakini, bahwa Kaisar adalah kakak lelaki mereka, kakak yang selalu menjaga mereka, dari dulu hingga kini.
Mereka tidak peduli, meski Kaisar adalah makhluk yang berbahaya sekalipun, buktinya selama belasan tahun hidup bersama lelaki itu, Kaisar tidak pernah melakukan apapun.
Namun, Kaisar tetap tidak bisa untuk tetap tinggal di rumah utama, setelah urusannya dengan Dewa selesai, lelaki itu akan membawa Airish pergi bersamanya.
Kedua remaja itu tidak bisa apa-apa, menahan Kaisar sama saja mereka berusaha memecahkan batu dengan kedua tangan, mustahil.
Pagi ini, Kaisar pamit pada Airish untuk pergi ke luar kota, ada pekerjaan yang harus dia urus di sana, bersama sang asisten, Joni.
"Jaga dirimu baik-baik, Sweetie. Aku akan pergi selama dua hari, dan selama itu jangan sampai ada sesuatu yang terjadi padamu." Ucap Kaisar mewanti-wanti.
"Iya, Sayang. Aku pastikan aku akan baik-baik saja. Begitu juga dengan kau, kau harus pulang dalam keadaan tidak kekurangan apapun." Airish sedikit menyisir rambut Kaisar, merapikan surai lelaki itu.
Cup!
Kecupan singkat Airish berikan. Kaisar mengulum senyum, lalu menelusupkan tangannya di belakang leher, diantara riapan rambut Airish yang tergerai indah.
Dan detik selanjutnya, Kaisar menyergap bibir mungil itu, dengan sedikit kasar, Kaisar menyesap tak sabaran, lalu melesakkan lidahnya ke dalam mulut Airish.
Lelaki itu merasa tak rela untuk meninggalkan istrinya, waktu dua hari, cukup menjadi waktu terlama dia tidak bisa bertemu dengan Airish.
Rindu sudah menyapa.
Kaisar menarik lidah Airish untuk disesapnya, lelaki itu sangat menikmati pagutan itu, hingga dia melupakan Airish yang sudah tersengal-sengal, Airish memukul dada Kaisar dengan keras, menyadarkan lelaki itu.
Dan secepat kilat, Kaisar melepaskan pautan bibir mereka. Kaisar menyeringai tipis, sedangkan Airish mencebik dengan nafas terengah-engah.
"Kau hampir membunuhku," cetus Airish.
Kaisar terkekeh, lalu mengusap lembut bibir Airish yang memerah akibat perbuatannya.
"Itu tanda aku sudah lebih dulu merindukanmu, Sweetie. Aku pergi dulu yah." Kaisar mengecup puncak kepala Airish cukup lama.
Sekali lagi, lelaki tampan itu pamit dengan wajah tak rela, sementara Airish senantiasa mengulum senyum, melepas kepergian Kaisar hingga di halaman rumah.
******
Selama Kaisar di luar kota, aktivitas Airish hanya seputar berkuliah dan rumah utama, tidak ada lagi yang gadis itu lakukan, meski Zoya terus mengajaknya untuk ikut kegiatan di kampus mereka.
Seperti hari ini, malam nanti adalah kepulangan Kaisar, dan Airish akan menyiapkan diri untuk menyambut suaminya itu.
"Ai, lo beneran nggak mau ikut gue ke bazar?" tanya Zoya, kini mereka tengah berjalan keluar dari kelas.
Pelan, Airish menggeleng. "Nggak, Zoy. Aku langsung pulang kaya biasa." ucapnya.
Dan Zoya tidak bisa memaksa Airish lagi, dia hanya menepuk bahu sahabatnya beberapa kali, lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Setelah itu, Airish mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah. Jalanan cukup terlihat lengang, Airish memutar lagu untuk menemani perjalanannya.
Namun, saat tak sengaja matanya melirik ke arah kiri, terlintas sebuah bayangan tubuh wanita yang begitu dia kenal, Airish mengurangi kecepatan mobilnya, lalu melihat ke arah spion untuk memastikan.
Dan benar saja, dia tidak salah, orang yang tengah berlari tergesa-gesa itu adalah ibu tirinya, Fenita. Tapi kenapa?
Tiba-tiba rasa ibanya kembali menelusup, dia melihat Fenita masih berusaha lari meski tertatih-tatih dengan kaki telanjang.
"Bu," panggil Airish.
Fenita tak menggubris, dia seperti ketakutan dan terus berlari, sementara di belakang sana, dua orang berbadan besar tengah mencari-cari dirinya.
Airish yang melihat itu mulai paham, sepertinya Fenita sedang memiliki masalah dengan orang-orang tersebut. Meski dia tidak tahu jelas, masalah yang seperti apa.
Gadis itu berlari cepat untuk menyusul Fenita, sebelum Fenita ditangkap oleh dua orang berbadan besar itu, dia harus lebih cepat membawa wanita paruh baya itu untuk kabur.
"Bu," panggil Airish, dan kali ini Fenita menoleh, dia terperanjat sekaligus bersyukur ketika melihat Airish ada di belakang tubuhnya.
Dengan wajah pias, dan nafas yang terengah-engah Fenita langsung menggenggam pergelangan tangan Airish. "Ai, tolong Ibu, Ibu takut Ai, Ibu takut." ujarnya dengan menangis, sedangkan tubuhnya gemetar hebat.
"Sebenarnya ada apa, Bu?" tanya Airish, sambil sesekali menoleh ke belakang.
"Jane, Jane bersekutu dengan manusia serigala. Ibu sangat takut, makanya ibu kabur." Wanita paruh baya itu sesenggukan, wajahnya benar-benar tidak menunjukkan sebuah kebohongan.
Sepertinya dia baru tahu, siapa Dewa sebenarnya.
Dan Airish percaya itu, gadis itu mengangguk lalu membawa Fenita lari, sementara di belakang sana, dua orang itu masih mengejar Fenita.
Airish mengambil senjata dari balik bajunya, dan menarik pelatuk begitu mereka melewati jembatan yang memiliki sungai deras di bawah sana.
Hal itu membuat dua orang itu murka, tanpa berpikir Airish itu siapa, mereka membalas tembakan Airish, hingga letusan senjata api, saling bersahutan begitu saja.
Airish membawa Fenita sembunyi di balik pepohonan yang tumbuh dengan liar di sisi jalan, tak hanya Airish yang melawan kedua orang itu, pengawal yang diperintahkan untuk mengikuti Airish ternyata ikut andil.
Namun, gadis itu belum bisa bernafas dengan lega, karena rekan-rekan kedua orang itu ikut bermunculan. Airish meneguk ludahnya, dia melirik ke salah satu pengawal Kaisar.
Dan lelaki itu memberi kode agar Airish melarikan diri, begitu mereka mengangkat senjata.
Dor! Dor! Dor!
Saat itu juga Airish menarik tangan Fenita untuk kembali berlari, tetapi dari arah yang tidak diduga, Airish mendapat serangan.
Dor!Dor!
Tepat, timah panas itu mengenai lengan Airish, hingga genggaman tangan Fenita dengan cepat terlepas, Airish merasakan sesuatu yang menyakitkan, dan dia tidak bisa tinggal diam.
"Ai, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Fenita cemas, dan Airish menggeleng cepat.
Dia kembali menarik pelatuk, dengan cepat dia melesatkan peluru-peluru itu ke berbagai penjuru arah, dimana para badjingan itu bersembunyi.
Dan suara letusan tiba-tiba memekik, mata Airish melebar sempurna, sementara tubuhnya tersentak begitu satu peluru bersarang pada salah satu bahunya.
"Airish!"
"Nona!"
Terlambat, Airish tersungkur jatuh ke atas tanah dengan bersimbah darah.