My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Lautan darah



Kaisar dan Airish menitipkan Aiden pada kedua orang tuanya, karena mereka akan pergi ke rumah utama. Jika memang benar apa yang dikatakan Aiden, sudah dipastikan semua orang yang ada di sana ada dalam bahaya.


"Mom, Dad. Aiden ingin ikut," ucap Aiden sambil memegangi baju yang Airish kenakan, padahal Kaisar sudah mewanti-wanti anaknya itu agar tidak ikut campur dalam masalah besar ini.


Kaisar berjongkok dan meraih pundak Aiden. Di sedikit membenahi surai kecoklatan milik putranya itu.


"Boy, ini berbahaya. Percayalah Mommy dan Daddy akan cepat kembali," jelas Kaisar, berharap Aiden akan mengerti.


Meski dia sangat ingat dengan ramalan itu, tak dipungkiri baik Kaisar maupun Airish begitu takut terjadi sesuatu pada putranya itu.


"No, Dad! Aiden bisa menjaga diri, pokoknya Aiden ingin ikut." Aiden melipat kedua tangannya di depan dada. Keras kepala.


"Boy, please! Aiden tunggu mommy dan daddy di rumah saja yah, kita berburu lagi bersama grandpa Kibrit," Elena ikut menimpali, dan membujuk Aiden, dia begitu paham dengan kekhawatiran Airish dan juga Kaisar.


"Yeah, Boy. Kita juga bisa membuat rumah pohon dengan aunty Rose dan uncle Jack." Kibrit mengangkat tubuh kecil Aiden, dan menatapnya dengan kesungguhan.


"Really?"


"Of course, Baby."


Dan akhirnya bocah vampir itu mengangguk meski dengan bibir yang sedikit mencebik. Dia terpaksa merelakan kepergian kedua orang tuanya.


Kaisar dan Airish mengulum senyum dan bernafas lega, mereka berdua mengecup pipi Aiden bergantian. Sebelum keduanya benar-benar meninggalkan hutan, menuju rumah utama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tanpa menunggu waktu lama Kaisar dan Airish sudah sampai di kediaman keluarga Hadev. Dan mereka berdua begitu terperangah, karena apa yang dikatakan Aiden benar adanya, beberapa serigala tengah menyerang rumah besar itu.


Tanpa pikir panjang Kaisar dan Airish langsung melesat ke dalam sana, suara letusan senjata saling bersahut-sahutan, beberapa pengawal Kaisar tengah mencoba menghadang para serigala itu menggunakan pistol.


Sementara di dalam rumah, para pelayan begitu ketakutan. Memori ibu Oh langsung berlarian pada waktu di mana terjadinya pembantaian.


Dia dan Fenita langsung membawa Denis dan Sofia untuk bersembunyi dengan mengunci satu kamar, yaitu kamar Sofia yang berada di lantai dua.


"Kak Denis, Sofia takut," ucap Sofia dengan bibir yang terus bergetar, dia memeluk lututnya sendiri begitu erat.


Ibu Oh dan Fenita yang merasa kasihan, kompak memeluk Sofia agar gadis itu tenang. Dalam hati Fenita begitu yakin, bahwa semua ini adalah perbuatan Dewa.


"Sabar ya, Nona. Tuan Kaisar pasti datang," ucap ibu Oh sambil mengelus bahu Sofia.


"Iya, Sofia bersabarlah. Kakak pasti datang untuk menyelamatkan kita semua," Denis ikut menimpali, dia sedari tadi mondar-mandir di dalam kamar tersebut. Dia begitu bingung, karena dirinya tak mampu melakukan apapun.


Pelan, Sofia mengangguk. Sementara dalam hati mereka terus berdoa, semoga Kaisar lekas datang dan mengusir pada serigala itu.


Di luar sana, beberapa pengawal tergeletak bersimbah darah akibat dicabik-cabik habis oleh manusia serigala itu, Kaisar mendengus dia tak mengerti mengapa Dewa melakukan ini semua.


Kaisar dan Airish melesat, dan mulai ikut bertarung, keduanya tak peduli lagi pada wujud asli mereka, yang terpenting sekarang seluruh penghuni rumah utama dapat mereka selamatkan.


Airish melawan satu serigala yang menyerangnya tiba-tiba, dia berguling ke tanah, sementara Kaisar pun ikut membabi-buta, tendangan serta pukulan tak terelakkan, dia layangkan begitu saja tanpa pikir panjang.


Dia akan mencoba masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi kedua adiknya, tetapi para serigala itu tak memberi Kaisar kesempatan.


Dan selama itu, Dewa belum juga terlihat, Kaisar begitu yakin, ada rencana yang di susun lelaki itu, dia dan Airish tidak boleh lengah.


Satu serigala kembali menyerang Airish saat wanita itu tengah mengatur nafasnya, Kaisar yang melihat itu sontak saja memberikan tendangan keras, hingga serigala itu tersungkur ke atas tanah.


"Berhati-hatilah, Sweetie," ucap Kaisar, dan langsung dijawab anggukan oleh Airish.


Tak lama dari itu, para pengawal Kaisar yang baru datang dengan dipimpin oleh asisten Joni, ikut merenteti para serigala bengis itu, persenjataan semakin lengkap, tak tanggung-tanggung mereka membawa senjata laras panjang yang dikenal begitu canggih.


Sekali tembak maka akan langsung bisa mengoyak habis sasaran yang ditujunya.


Seperti tak mau kalah, para pengawal Dewa pun terlihat bertambah banyak, mereka datang dengan seringai mengejek, serta pistol di tangan masing-masing.


Seketika rumah itu seperti lautan darah, di setiap sudut dan bumi yang mereka pijak, penuh dengan noda merah, akibat pertempuran itu.


Hingga tiba-tiba, Denis, Sofia, ibu Oh dan Fenita, keluar dengan mulut yang dibekap, di belakang mereka ada Jane dan beberapa pengawal Dewa yang menodongkan senjata ke kepala mereka.


Kaisar kalah cepat, hingga kedua adiknya berhasil ditangkap oleh wanita sundal itu.


"Berhenti!" Teriak Jane begitu nyaring.


Dan dengan patuh, semua makhluk yang ada di sana mengentikan perkelahian mereka. Mereka kompak menatap ke arah Jane, dan Joni langsung mengangkat senjatanya ingin menghabisi wanita yang dia anggap siluman itu.


"Jon, turunkan senjatamu!" ucap Kaisar memberi perintah, mendengar itu, dengan perlahan Joni menurunkan senjatanya.


Meski tak dipungkiri, dia benar-benar muak dan ingin segera menghabisi Jane, apalagi saat melihat Sofia terus menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Kaisar baik-baik, tetapi sorot matanya begitu mengintimidasi.


Ditanya seperti itu, Jane menyeringai lalu terkekeh, seolah ada sesuatu yang lucu.


"Kau yakin akan mengabulkan keinginan kami?" tanya Jane, lalu menekan pistol yang dia arahkan tepat di kepala Sofia.


Gadis itu semakin menangis, sementara otot-otot dalam tubuhnya terasa lemas.


"Cepat katakan apa yang kalian inginkan!" Pekik Kaisar.


Dia begitu paham, bagaimana takutnya Sofia, Denis dan kedua wanita paruh baya itu, sebisa mungkin, akan dia pastikan bahwa mereka akan baik-baik saja.


Dan langkah pertama yang harus dia lakukan adalah mengetahui apa yang sebenarnya tujuan musuhnya.


"Panggil anakmu kemari!" ucap Jane dengan lantang, membuat semua orang terperangah, pasalnya mereka tidak tahu bahwa Kaisar telah memiliki seorang anak.


Mendengar itu, Airish sontak saja mengepalkan tangannya geram, dia langsung maju ke depan dengan amarah yang tiba-tiba memuncak. "Untuk apa kau menginginkan putraku?"


Jane berdecih melihat tingkah Airish yang terlihat pemberani. "Aku akan menghabisinya."


"Kurang ajar!"


Airish hendak melesat, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti, dan mereka semua dikagetkan dengan tiga kepala yang menggelinding begitu saja, dan kepala-kepala itu adalah milik pengawal Dewa yang menyandera ibu Oh, Denis dan Fenita.


Mata Kaisar dan Airish terbelalak lebar, dengan apa yang mereka lihat.


"AIDEN!!!" panggil Airish dan Kaisar kompak.