
Teriakan Airish dan Kaisar semakin membuat mereka semua terperangah. Tanpa mereka duga, Aiden menyusul mereka ke rumah utama.
Sementara Jane yang melihat para pengawalnya meregang nyawa dengan begitu mudahnya, tanpa pikir panjang menekan pistol yang ada di tangannya, siap menembus kepala Sofia. Gadis yang sudah menangis tersedu-sedu di tempatnya.
Namun, secepat itu pula Fenita segera menarik tangan Jane dan mengarahkan pistol itu ke dadanya.
Dor!
Sebuah bunyi tembakan terdengar nyaring, dan tak berapa lama kemudian tubuh Fenita ambruk seketika. Karena timah panas itu, tepat mengenai jantungnya.
Detak itu berhenti.
Dia berharap dengan melakukan ini semua dosa-dosanya di masa lalu bisa tertebus. Dia ingin melakukan sesuatu yang menurutnya baik, sebelum dia meninggalkan dunia.
"Ibu!" teriak Airish dengan mata yang membulat sempurna.
Jane pun sama terkejutnya, dia tidak menyangka Fenita akan melakukan itu semua, wanita itu melindungi orang lain, dan mengorbankan nyawanya.
Dan hal itu digunakan dengan sangat baik oleh Aiden, bocah vampir itu melesat dan menendang dada Jane hingga wanita itu melayang dan berakhir tersungkur di atas tanah setelah menabrak dinding pagar.
Sedangkan Ibu Oh, Denis dan Sofia segera didorongnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ck, sialan!" umpat Jane dengan memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.
Tak tinggal diam, seluruh pengawal Dewa langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Aiden, bahkan para serigala bengis itu siap menyerang dengan tidak sabaran, semua tatapan mereka begitu membunuh, menandakan kebencian yang mendalam.
"Cepat serang anak itu!" Pekik Jane marah. Dia sangat yakin, kalau bocah itu adalah anak dari Kaisar dan Airish.
Seketika letusan senjata kembali terdengar riuh. Menyerang Aiden tanpa ampun, tubuh kecil itu dengan lihainya melompat kesana-kemari untuk menghindari peluru yang terus melesat ke arahnya.
Dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melawan, bahkan tembok dinding rumah besar itu hancur seketika karena rentetan tembakan itu.
Dan Kaisar tidak membiarkan itu, para pasukannya kembali melawan, sebisa mungkin dia akan menarik Aiden agar tidak ikut campur lagi. Dia tidak ingin keselamatan bocah vampir itu terancam.
"Sweetie, kau mau apa?" Kaisar menarik tangan Airish yang akan melesat ke arah Aiden, tanpa memperdulikan keselamatannya.
"Aku harus melindunginya, Sayang. Putra kita tidak bisa berada di sini! Ini bahaya." Airish menghempaskan tangan Kaisar begitu saja, hendak meneruskan niatnya.
Aiden tersenyum smirk ke arah kedua orang tuanya sambil memutar ekor serigala itu sekuat tenaga, dia membuat tubuh serigala gempal itu menjadi sebuah tameng, dan setelah puas bermain-main, Aiden melemparkannya ke sembarang arah.
Bruakkk!!!
Tubuh serigala itu menabrak pagar rumah, hingga tembok pagar itu hancur.
"Berhati-hatilah, Mom. Jangan khawatirkan, Aiden," pekiknya.
Seperti bukan apa-apa, Aiden kembali ke medan pertempuran, dia menghalau apapun yang melesat ke arah tubuhnya, Airish dan Kaisar hanya saling pandang, sepertinya mereka tidak bisa menghentikan Aiden, dan akhirnya kedua orang itu lebih memilih untuk melawan kembali pasukan Dewa.
Pertarungan itu terus berlanjut hingga malam mulai menjelang, senja telah lenyap. Gurat kemerahan itu berganti malam purnama yang terang benderang.
Dan malam ini adalah purnama ke tujuh, tepat harusnya darah suci diambil sebagai pengagung keabadian.
Namun sayang karena gadis berdarah suci itu justru sudah menjadi seorang vampir, dan keabadian itu mengalir pada bayi yang telah dilahirkannya, kematian Aiden malam ini, akan menjadikan seseorang yang telah membunuhnya, pemilik keabadian di jagat raya.
Para mayat yang tertembak berjatuhan semakin banyak. Namun, baku tembak itu terus memenuhi ruang di rumah besar itu, suara kaca yang pecah serta suara letusan senjata api tak berhenti bersahut-sahutan.
"Akhhh!" Airish memekik karena sebuah timah panas telah berhasil bersarang di bahu kirinya. Sedari tadi para anak buah Dewa merenteti Airish dengan senjata laras panjang mereka.
Termasuk Jane juga di sana, dia sangat senang jika melihat wanita itu terluka, apalagi mati di tangannya.
"Sweetie!!!"
"Mommy!!!"
Aiden dan Kaisar kompak berteriak, setelah mendengar pekikan Airish, tetapi wanita itu dengan cepat menggeleng, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun, Aiden dan Kaisar tidak akan percaya begitu saja. Kedua lelaki keras kepala itu hendak melesat ke arah Airish. Mereka tidak akan bisa melihat wanita yang mereka cintai itu terluka.
Secepat kilat tubuh mereka berhembus, tetapi secepat itu pula seekor serigala berhasil menyerang tubuh Aiden, sementara Kaisar di serang dua serigala sekaligus.
Leher Aiden dicengkeram cukup kuat, entah bersembunyi di mana, tiba-tiba Dewa datang, dan langsung mendapatkan sasarannya.